
Sesampainya dirumah Aera mengurung diri didalam kamar yang di kuncinya.
Tanpa ada hordeng yang terbuka, tanpa lampu atau tumblr yang menyala. Aera membiarkan gelap berada memenuhi ruang kamarnya menjadikan kesedihan dan semua rasa sakit ini tertuang diantara gelap yang memeluknya.
Aera menyalakan lagu dengan kencang nya, tanpa hansed yang biasa dikenakan.
Dalam kencang nya lagu yang menyala Aera menderu tangisan dengan histeris nya, meluapkan, menumpahkan semua yang berada dirasakan.
Tapi tetap saja deru tangis Aera lebih menjadi histeris dari pada sebelumnya, sampai suara musik yang sudah dinyalakan kencang sekali pun masih dapat membuat mama mendengar deru tangisan Aera dengan jelas.
Ada yang benar-benar jelas dirasakan mama akan apa yang dirasakan Aera, rasa sakit, patah dan kehancuran.
Harus dengan apa untuk dapat menguatkan Aera.
Ruang dan waktu sekedar itu yang saat ini dapat mama berikan.
"Bertahan sayang, semua akan baik-baik saja"
Gumam mama.
Didalam kekacauan nya saat ini banyak moment kebersamaan nya dengan mba Ana yang kembali teringat dan direka ulang dalam ingatan nya. Semua hal, dari satu hal ke hal yang lain, terlalu banyak hal manis yang Aera lakukan bersama dengan mba Ana. Bagaimana mungkin Aera dapat melupakan nya.
Terlebih dengan rasa akan kehilangan seseorang yang seharusnya berada menjadi sosok Ayah untuk Aera.
Menebus kesalahan dan hal hal pahit yang membuat Aera harus merasakan nya dalam belasan tahun.
Berada menggantikan waktu yang terbuang sekedar untuk penantian yang Aera lakukan.
Memberikan penjelasan akan sebuah rasa, cinta layaknya seorang Ayah kepada putri nya.
Menciptakan hal hal manis dan menyenangkan sekedar untuk ada nantinya dalam ingatan dan di kenang setiap kali rindu dirasakan.
Hening, terlalu hening meski Aera mencoba menciptakan kebisingan.
Semua seruan, suara suara yang terdengar seolah terabaikan, terlewatkan begitu saja seperti hembusan angin yang berlalu. Karna seramai apapun tempat Aera berada tetap sepi yang dirasakan nya. Kesendirian yang berada dilalui nya, satu persatu orang-orang yang seharusnya berada untuk Aera pergi meninggalkan nya.
"Dandelion"
Seru Aera menjadi ingat dengan bunga itu. Menjadi sesuatu menjadi keinginan nya.
Aera meraih handphone untuk menelfon Azka.
"Hallo Za"
Seru Aera dengan suara tidak bersemangat dengan nya yang masih begitu kacau.
"Hallo Aera, suara lo kenapa?"
Azka yang langsung dapat mengenali suara Aera yang menjadi berbeda dari biasanya, serak dan tidak bersemangat.
"Mau temenin gua kesatu tempat?"
"Kapan Ra?"
"Sekarang"
"Nanti malem aja gimana, gua udah janji soal nya, harus jemput temen gua dirumah sakit"
Tut... tanpa berbasa basi Aera langsung mematikan handphone nya.
Tidak lama setelah Aera mematikan Titan menelfon.
"Hallo Ra? Lo kenapa ngga masuk sekolah?"
Lanjut Titan dengan to the poin.
"Bisa temenin gua kesatu tempat, sekarang?"
"Lo baik baik aja kan?"
Titan yang juga mendengarkan suara Aera yang terdengar berbeda dari biasanya.
"Gua jalan sekarang ya"
Lanjut Titan mematikan handphone dan bergegas cepat untuk pergi menemui Aera.
Sesampainya Titan dirumah mama menemui nya.
__ADS_1
"Saya mau jemput Aera Tan"
Jelas Titan kepada mama nya Aera.
"Jemput Aera?"
Tanya mama melebarkan tatapannya, tidak memahami dengan Aera yang akan pergi dengan situasi saat ini.
"Tadi Aera minta di anter pergi"
"Pergi kemana?"
Tanya Mama terus memastikan.
"Ngga tau Tan"
"Kamu tau Aera sedang berduka"
Titan terkejut, menggelengkan kepalanya pelan.
"Saya ngga tau Tan"
"Hari ini Aera kehilangan pengasuh yang sudah di anggap seperti Kaka untuk nya juga kehilangan Ayah yang sudah lama berpisah dengan nya. Kondisi Aera sedang sangat tidak baik Tante minta tolong buat kamu jagain dia ya, hibur dia dan bujuk dia buat makan"
Minta Mama kepada Titan.
Ada yang ikut dirasakan Titan setelah tau dengan apa yang saat ini tengah Aera rasakan.
"Baik Tan"
Dengan tatapan dan ekspresi yang sudah berbeda.
Aera sudah hampir sedari tadi berada di tangga mendengarkan pembicaraan mama dan Titan.
Aera menghampiri Titan dan Mama dengan celana pendek dan kaos polos dengan wajah pucat dan mata sembab nya.
"Aera pergi ma"
Pamit Aera sebelum berlalu mendahului Titan.
"Maaf Ra gua baru denger kalo_"
"Ngga perlu di bahas Tan"
Minta Aera tanpa menoleh untuk menatap Titan.
"Mmmm.."
Titan mengangguki, mengiyakan apa yang menjadi permintaan Aera.
"Kita mau kemana?"
Tanya Titan memastikan.
"Padang rumput yang penuh dengan ilalang, lo tau dimana tempat nya"
Titan terdiam memperhatikan Aera.
Sebelum akhirnya mengangguki nya.
"Gua tau"
"Kita kesana"
Jelas Aera.
Titan mengangguki dengan cukup lama Titan memperhatikan Aera sebelum mengembalikan tatapan nya pada jalanan.
Aera menyadarkan kepala dengan sedikit dimiringkan disisi kaca mobil, sesekali air mata nya masih saja menetes.
"Mau gua nyalain musik?"
Aera mengangguki nya, tanpa lebih dulu menoleh menatap Titan.
Teng.. teng.. teng.. terdengar alunan piano yang sendu.
"Sorry sorry ini sisaan tadi gua, biar gua ganti ya"
__ADS_1
Respond Titan dengan cepat dirasa musik yang dinyalakan nya hanya akan memperkeruh suasana hati Aera saat ini.
Aera menoleh menatap Titan, dengan menggelengkan kepalanya.
"Gua suka lagu ini"
Ujar Aera menikmati alunan piano yang begitu menyentuh dan meresap di hatinya.
"Apa judulnya"
Lanjut Aera masih berada menatap Titan begitu tidak bersemangat.
"Garden Of Dreams"
Jelas Titan menatap Aera.
Aera kembali menyandarkan kepalanya dan kembali memiringkan nya.
"Taman mimpi"
Ucap Aera pelan mengartikan judul dari alunan piano yang tengah di dengarkan nya.
"Pertemukan Aera dengan mba Ana sesering mungkin dalam mimpi, setidaknya biarlah rindu ini sedikit terobati"
Batin Aera, kembali membuat Aera menjatuhkan tetesan air mata.
Setelah cukup lama melaju Aera dan Titan sampai di tempat dengan hamparan rerumputan dengan dipenuhi ilalang dan terdapat danau disisi jauh dari jalanan, benar benar menakjubkan.
Kali pertama Aera berada di tempat seperti ini, ada yang menjadi tenang dan lega seketika, ada yang meluntur dari batin nya, kesedihan dan kekecewaan.
"Lo bisa tunggu disini aja, gua ngga mau terlalu banyak ngerepotin lo Tan"
Minta Aera sudah berada lebih depan dari posisi Titan.
Titan mengangguki nya.
Aera melangkah, satu langkah, dua langkah dengan tatapan yang berada memandangi menikmati pemandangan yang ada. Rerumputan dengan ilalang yang menjadi bergoyang dengan angin yang sering kali mendorong nya.
Dalam batin, dalam rindu nya Mba Ana berada diantara angin angin yang memeluk nya saat ini.
Sudah jauh langkah nya dari keberadaan Titan sebelumnya, Aera berhenti dengan tatapan kosong yang berkaca kaca.
"MBA ANA!"
Teriak Aera kencang.
"Aera rindu mba, Aera harus gimana tanpa mba?"
Kacaan yang akhirnya tertumpah dengan derasnya.
Titan tiba tiba menarik Aera dan membawa Aera untuk berada dalam pelukan nya.
Aera dibuat terkejud dengan apa yang saat ini Titan lakukan.
Aera mencoba mendorong Titan untuk melepaskan Aera dari dekapan nya yang kencang.
"Titan"
Seru Aera dengan Titan yang bersikeras menahan Aera untuk berada didalam pelukan nya.
"Ra, ini bukan lo tapi buat diri gua sendiri. Gua mau memberi tempat saat ini buat lo"
Titan dengan memejamkan matanya, menciptakan kehangatan dan menyalurkan kekuatan untuk Aera.
"Gua ngga perlu ini Tan"
Jelas Aera masih berada dengan menahan diri akan deru dan tangis nya.
"Brenti buat terlihat baik baik aja Ra"
Aera terpaku diam sebelum akhirnya melepaskan rasa sedih yang semula sudah berada di tahan nya.
Dengan ikut memeluk Titan Aera menangis dengan derasnya.
"Gua ngga kuat untuk ini Tan, gua takut, gua ngga bisa tanpa mba Ana, dan gua kecewa dengan seseorang yang seharusnya ada buat menebus semuanya, dia malah lebih dulu pergi gitu aja tanpa mengatakan sepatah kata pun"
Curah Aera, mengutarakan apa yang berada menjadi unek unek nya, dalam tangisan dan dalam dekapan Titan.
__ADS_1
"Mungkin memang dari awal dengan seperti ini akhir yang harus lo hadapin. Nangis dan curahin semua nya, setelah nya lo harus kembali jadi Aera yang kuat"
Titan mengelus pundak Aera yang berada dalam dekapan nya, menyalurkan banyak kekuatan. Ikut merasakan, memahami dengan seperti apa rasa sakit, keterlukaan yang saat ini Aera hadapi dan rasakan.