
Sampai dirumah Aera menjatuhkan tubuhnya untuk berada duduk diruang tamu dengan pintu yang dibiarkan terbuka.
Mba Ana menghampiri setelah didengarnya suara dengan pintu yang terlihat terbuka.
"Aera"
Seru mba Ana, terlihat Aera yang tengah terduduk lemas dengan kepala yang disandarkan kebelakang pada sofa.
Aera mengangkat kepalanya sekedar tersenyum juga melihat keberadaan mba Ana yang tengah memperhatikannya.
"Mm?"
Mba Ana melebarkan tatapannya setelah dilihat pipi Aera yang terlihat memar.
"INI KENAPA?"
Sentak Mba Ana khawatir, sudah berada duduk di samping Aera dengan memperhatikan pipi Aera yang terluka.
Aera tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"Ngga papa ko mba, cuman luka dikit ngga sengaja jatoh di kamar mandi dan kepentok pintunya"
Jelas Aera berbohong. Akan sangat tidak menyenangkan jika harus menceritakan semuanya kepada Mba Ana.
"Tunggu sebentar mba ambil kompresan ya"
Dengan cepat mba Ana bangun dari duduknya akan bergegas cepat.
Langkah nya dihentikan Aera untuk menahan mba Ana.
"Ngga perlu mba, udah di obatin juga ko tadi di UKS, Aera cape mau istirahat ngga papa ya mba"
Dengan Aera yang tersenyum manis ikut bangun dalam tangan nya yang masih memegangi pergelangan tangan mba Ana.
"Hhhh..."
Mba Ana menghelai nafas dengan melepaskan tangan Aera untuk berada di pegang nya.
"Baik baik ya, kamu Istirahat kalo ada apa apa cerita, ngga harus sekarang setidaknya jangan sampe kamu nyiksa diri kamu sendiri, mba ngga mau itu"
Aera tersenyum mengangguki, dirasakan hangat tangan nya dalam genggaman mba Ana juga dengan kata kata manis yang didengar menguatkan nya.
"Makasih ya mba"
Mba Ana mengangguki, melepaskan pelan tangan Aera untuk membiarkan Aera meninggalkan nya.
Aera merebahkan dengan pejaman matanya yang dirasa melelahkan juga pusing dengan banyak hal yang saat ini berada sangat penat dirasakan dalam kepala nya.
Aera kembali membuka pejaman matanya setelah didengar notif pesan masuk didengar.
✉1 Caca.
"Keluar Ra, gua didepan rumah lo"
Aera melebarkan tatapannya dengan pesan masuk dari Caca.
Aera bergegas bangun, melihat dari jendela, sekedar memastikan keberadaan Caca.
"Beneran kesini?"
Gumam Aera yang memperhatikan Caca dari balik jendela nya. Dilihat Aera Caca yang masih menggunakan seragam sekolah.
Aera bergegas turun untuk menemui Caca.
"Lo ngapain kesini?"
Tanya Aera dalam langkah nya menghampiri Caca.
__ADS_1
"Kenapa? Ngga suka banget kaya nya gua dateng"
Dengan posisi keduanya yang sudah saling berhadapan dengan jarak yang dekat.
"Ngga gitu Ca"
Aera dengan senyuman nya, sekedar melunturkan prasangka Caca kepadanya.
"Iya iya, apapun itu lah, nih.."
Caca yang menyodorkan sebuah kantong kecil yang sedari tadi dibawanya.
"Apa ini?"
Aera yang meraih nya dari tangan Caca.
"Salep buat mereda nyeri sama buat ngilangin bekas memarnya"
Jelas Caca dengan apa yang dibawanya. Sengaja dibelikan Caca sebuah obat, mengingat wajah Aera yang memar dan terluka.
Aera terpaku diam tersenyum memperhatikan Caca dengan apa yang dilakukan untuk nya.
"Makasih, tapi ngga perlu lo sampe repot-repot kaya gini. Gua ngga suka hutang budi sama orang"
"Bukan hutang budi, tapi bales budi. Secara karna lo muka gua masih baik baik aja"
Jelas Caca dengan penjelasan nya.
Alasan sebenarnya karna Caca merasa khawatir dengan keadaan Aera. Bukan sekedar fisik nya saja yang terluka, batin nya juga.
Aera semakin melebarkan senyumnya setelah dengan apa yang dipastikan nya.
Berhutang budi hanya akan mempersulit Aera nantinya, batin Aera.
Hutang budi menjadikan seseorang berada dengan beban dan tuntutan, dan Aera tidak suka akan itu.
"Makasih Ca"
Caca tersenyum mengangguki.
"Ngga mau masuk dulu"
Tawar Aera.
"Ngga usah, gua ada urusan lain"
Caca beranjak menuju motor nya yang terparkir tidak jauh dari posisinya.
"Hati hati Ca"
Dengan Caca yang melaju pergi dari hadapannya.
Aera mengoleskan salep yang Caca bawakan untuk nya.
Setelah nya memperhatikan dirinya dari gambaran cermin, yang memperlihatkan sosok nya. Terlihat senyum tipis dengan mata yang menjadi berkaca dalam batin yang kembali merasakan rasa sakit.
Kehilangan, Aera kembali merasakan sakit nya. Setelah seseorang yang tidak pernah ada, seperti hilang tanpa lebih dulu mengajari arti sebuah kehilangan, hanya mengajari keterpurukan dengan rasa sakit yang mendalam. Sampai akhirnya Aera diberi rasa sakit yang sama tapi dengan hal yang tidak dipahami dengan seperti apa harus menghadapi nya.
Hari ini Aera merasakan nya, kehilangan salah satu sahabatnya. Seseorang yang semula berada menjadi bagian dari diri dan hidupnya. Masih begitu singkat pertemuan dan kebersamaan yang ada, tetapi kisah tetap lah kisah sesingkat dan sederhana apapun, nanti nya akan menjadi berarti seiring kita menikmati.
Jika dijelaskan rasanya sakit, ada yang menjadi tidak nyaman dalam dada dan bagitu sesak.
Dengan apa dan seperti apa Aera harus membenahi nya. Menyusun dan membuat keadaan kembali baik seperti sedia kala.
Aera merebahkan tubuhnya di antara kedua mata yang berada tertuju akan langit langit kamar, tetapi tidak dengan pikiran dan hatinya, kedua nya tidak ikut tertuju tetapi berada melayang layang dengan banyak nya prasangka dan upaya.
Aera terpejam beberapa saat sekedar membiarkan salep yang sudah di oleskan nya berkerja, sebelum kembali bangun, mandi dan bersiap.
__ADS_1
Aera sudah rapih terlihat cantik seperti pada biasanya, dengan untaian rambut panjangnya yang tergerai.
Saat berada keluar dari rumah, tampak seseorang yang tidak lagi asing untuk Aera.
"Caca"
Seru Aera akan keberadaan Caca duduk di atas motor besarnya, berada di halaman rumah Aera.
Caca tersenyum menyapa keberadaan Aera.
"Lo ngapain lagi?"
Tanya Aera memastikan.
"Mau temenin gua makan?"
Jelas Caca akan alasan keberadaan nya.
Aera terkekeh melebarkan tatapannya dengan apa yang Caca katakan.
"Hah?"
Singkat Aera tidak memahami.
"Kenapa emang nya? Ngga boleh apa? Gua juga kan mau deket sama lo, punya banyak kesan baik yang sama sama kita lakuin kedepan nya, dan juga buat sekarang"
Caca dalam senyuman nya.
Aera terhanyut dengan tingkah Caca yang aneh, tetapi lebih aneh nya lagi Aera tersenyum menyukai nya.
"Tapi gua ngga bisa kalo sekarang Ca, gua harus temenin Sia sahabat gua yang lagi dirawat dirumah sakit"
Tolak Aera dengan alasan nya.
Sudah rapih dengan tujuan untuk menemui Sia.
"Kalo gitu terserah gua juga ngga akan maksa, tapi... lo yakin mau jenguk temen lo dengan kondisi wajah lo yang masih memar kaya gitu, bukan nya malah bikin dia khawatir ya?"
Aera kembali dibuat terkekeh dengan kata kata yang Caca katakan dipikir ujar Caca ada benar nya.
Tanpa dijelaskan Sia akan langsung tau dan memahami kenapa dan dengan siapa sampai wajah nya menjadi memar dan terluka.
Akan sangat menganggu untuk pemulihan kondisi Sia, jika harus dibuat khawatir memikirkan pertikaian Aera dengan Fina.
Terlebih dipahami Aera dengan batin Sia yang masih menginginkan Fina untuk berada tetap menjadi sahabat nya.
"Mmm.. kemana kita?"
Aera tersenyum mengangguki, mengiyakan dengan ajakan Caca.
"Makan seblak"
Jelas Caca tersenyum dengan lebarnya.
"Seblak?"
Tanya Aera kembali dibuat terkekeh sekali lagi dengan Caca dan segala hal unik yang tidak biasa dari dirinya.
"Tau kan makanan seblak?"
"Tau, cuman gua belom pernah makan"
"Kalo gitu gua akan bikin lo jatuh cinta sama makanan kesukaan gua ini, Buruan naik"
Perintah Caca, antusias dengan ceria nya.
"Hhhh..."
__ADS_1
Aera menghelai tawa dengan keberadaan Caca dan kata kata yang sering kali membuat nya turut senang.
Keduanya berboncengan diatas motor besar dengan perempuan imut yang berpenampilan seperti laki laki yang menjadikan nya sangat cantik dan begitu keren, ada yang tiba tiba mulai menerobos masuk sekedar menjadikan Caca sesuatu yang berbeda.