Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
45


__ADS_3

Semua siswa 12 akuntansi 1 sudah berada di lapangan dengan seragam olahraga yang dikenakan.


"Setelah pemanasan kita lanjutkan sesi basket yang kemaren belom selesai"


Jelas Pak Uus dihadapan siswa yang sudah berbaris rapih.


Setelah melakukan pemanasan sesi pertandingan basket dilanjutkan dengan Aera yang ikut bermain.


Dengan bola basket yang tidak lagi asing karna Titan menjadikan Aera bermain dengan baik dapat mengimbangi dengan pemain lain nya yang sudah sangat pandai bermain. Setelah beberapa saat permainan dimulai tidak ada satupun yang memberikan bola kepada Area, seolah tidak mempercayai Aera yang sudah dapat bermain. Dengan kesabaran yang sudah habis di detik detik terakhir permainan Aera berhasil merebut bola dari lawan dan membawanya sendiri untuk dilemparkan nya ke ring dan tembakan nya pun tepat pada sasaran.


Aera menjingkrak begitu senang nya.


Permainan selesai Aera dan Titan dipanggil pak Uus untuk menghadap nya.


"Nah kan enak kalo bisa main, saya juga ngga perlu naik darah terus"


Pak Uus tersenyum tangan nya yang berada di pinggang.


Aera tersenyum memperlihatkan deretan giginya.


"Iya pak,maaf"


"Bagus Tan, terimakasih ya sudah nyelsain tugas dari bapak dengan baik"


"Iya pak"


Titan menoleh mempertemukan tatapannya dengan Aera, keduanya sama sama tersenyum.


"Kalo gitu bapak tinggal ya"


Pak Uus berlalu meninggalkan Aera dan Titan.


"Berkat gua tuh"


Cetus Titan dengan sisa sisa senyum di wajahnya.


"Iya tau"


"Ngga ada acara makasih atau apa gitu?"


"Hhhh"


Aera mengehelai nafas menatap tajam Titan.


"Ada mau nya juga kan ujung ujungnya"


Cetus Aera dengan judes.


"Ya iya lah emang ngajarin lo gampang apa"


Aera tersenyum.


"Iya iya nanti gua telaktir di kantin"


Dengan Fina yang memperhatikan Aera dan Titan dari jauh, dan dengan Sia yang memperhatikan Fina yang tengah memperhatikan Aera dan Titan.


"Ngga jadi berarti apa apa ya buat lo meski persahabatan kita udah berantakan kaya gini"


Dengan Fina yang mengikuti Aera.


"Hhhhh..."


Aera menghelai nafas sebelum menoleh dengan suara yang sangat dikenali nya .


"Kenapa Fin?"


Dengan posisi Aera yang sudah menghadap Fina.


Fina mendekatkan posisi nya kepada Aera untuk lebih dekat jarak keduanya.


"Ngrasa sakit aja dengan lo yang menikmati ini semu"


"Lo berharap gua minta maaf dan nurutin semua kemauan lo?"


"Mmmm"


Singkat Fina mengiyakan dengan tatapan tajam penuh kemarahan.


"Gua minta maaf, gua minta maaf Fin"

__ADS_1


"Jadi sekarang lo akan menuruti permintaan gua"


Fina dengan tersenyum menjadi senang dengan permintaan maaf yang Aera katakan.


Aera ikut tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Gua ngga akan nurutin permintaan lo"


Tegas Aera.


"Tiga tahun kita sama sama, kita seneng seneng dan ketawa bareng bareng tapi dalam tiga tahun itu belum juga menjadikan kita mengenal satu sama lain, dari sekedar nama dan apa yang disukai karena persahabatan lebih dari itu. Nama persahabatan itu emang ngga cocok buat kita Fin terlebih dengan kali ini lo bela belain perasaan suka lo sampe tega memperlakukan gua seseorang yang lo bilang sahabat dengan cara kaya gini"


Lanjut Aera dengan tersenyum menjelaskan nya.


Fina tersenyum dan tertawa sebelum mengayunkan tangannya untuk menampar Aera.


"Prak.."


Tamparan begitu kencang nya mendarat dipipi kiri Aera.


"FINA!!!"


Teriak Sia yang menyaksikan nya, menghampiri Fina dengan kesalnya.


"Lo udah gila?"


Tegas Sia dengan memegangi Aera yang tertunduk kesakitan.


"Kenapa? Lo mau belain dia"


"Jelas! Lo udah kelewat batas tau ngga!"


Tegas Sia dengan lantang dan tatapan tajamnya.


"Hhhhh.."


Fina menghelai nafas.


"Lo bisa bilang gua kelewat batas karna lo ngga tau gimana rasanya! Lo ngga akan bisa ngomong kaya gini kalo nantinya lo udah ngerasain sendiri"


Ucap Fina, mendorong Aera sebelum pergi.


Aera tersenyum dengan pipinya yang terlihat merah.


"Ngga papa ko Sia"


Kita ke UKS sekarang ya.


Aera tersenyum mengangguki, menahan sakit di pipinya.


Sia mengompres pipi Aera dengan kain yang diisikan es batu di dalam nya.


"a.."


Gretu pelan Aera kesakitan.


"Sakit banget ya Ra"


Sia yang menatap Aera dengan khawatir nya.


"Ngga banget ko cuman dikit"


Aera memperhatikan Sia yang mengompres nya dengan begitu hati hati.


Aera ingat dengan apa yang dikatakan Fina sebelum pergi.


"Mmm kalo apa yang dikatakan Fina Bener gimana?"


Lo Lanjut Aera.


Sia menghentikan tangan nya yang tengah mengompres Aera.


"Kalo nantinya gua akan ngerasain sendiri, cinta segitiga sama lo?"


Sia dengan sedikit tersenyum, memperjelas pertanyaan Aera.


"Ya mungkin itu takdir"


Lanjut Sia kembali mengompres Aera.

__ADS_1


"Terus lo akan gimana?"


"Ikutin gimana kemauan gua, tapi yang jelas gua ngga akan sampe nampar lo gini, gua akan melakukan  banyak cara untuk tetep mempertahankan persahabatan kita"


Lanjut Sia dengan serius nya menatap Aera.


"Mmm sosweet"


Aera dengan tatapan haru nya.


"Lagi serius lu bikin becanda"


Dengan Sia yang menekan kencang pipi Aera yang merah dengan kompresan.


"a sakit *****"


Gretu Aera kembali kesakitan dengan Menatap kesal Sia.


"Kata nya sakit nya dikit"


"Bodo amat lah, ngeselin lo emang"


"Tapi sayang kan?"


Dengan Sia yang memeluk Aera.


Aera tersenyum memperlihatkan deretan giginya tidak tahan dengan perlakuan Sia kepadanya.


Aera pergi ke kantin menghampiri Titan dengan kesepakatan yang sebelumnya telah di buat.


Aera duduk di hadapan Titan.


Titan menatap tajam pipi Aera yang terlihat merah.


"Pipi lo kenapa Ra?"


Aera memegangi pipinya.


"Ah ini tadi becanda sama Sia tapi malah kepentok tembok"


"Tapi keliatan nya kaya bekas tamparan gitu"


"Masa sih? Tapi bener ini kepentok ko"


"Tapi udah lo obatin"


"Udah sama Sia. Eh iya lo mau makan apa, bebas deh gua yang tlaktir"


"Bener ya"


Titan dengan tersenyum nya.


Setelah dengan banyak pesanan yang dipesan kantin menjadi lebih ramai dengan banyak orang yang memperhatikan Aera dan Titan yang duduk semeja dan saling berhadapan.


"Tan lo makan sendiri aja ya, orang pada ngeliatin nya aneh"


Titan dengan memperhatikan sekeliling.


"Aera sama Titan jadi keliatan berduaan terus ya"


Cetus seseorang yang tengah memperhatikan keduanya.


Titan bangun dan meminta pesanan nya untuk dibungkus.


Titan pergi dengan membawa pesanan nya yang sudah dibungkus dengan menarik tangan Aera untuk ikut dengan nya.


"Mau kemana"


Aera dengan melebarkan tatapan nya.


Aera dan Titan pergi ke atap sekolah sekedar menikmati makanan nya dengan tenang.


"Lebih enakan disini kan?"


Tanya Titan menikmati makanan nya dengan menoleh memperhatikan Aera.


Aera tersenyum mengangguki nya.


Sesekali diam dengan sedikit senyum dan tawa tetapi bersama dengan Titan adakalanya menyenangkan. Dalam diamnya dia memahami dalam sesekali dia tersenyum dan tertawa dia mengimbangi.

__ADS_1


__ADS_2