
"Mau kemana Aera?"
Tanya Mama memastikan, menghentikan Aera yang baru menuruni tangga sudah dengan rapih pakaian yang dikenakan nya.
Aera menatap mama, tersenyum tipis.
"Aera mau kemakam mba Ana ma"
Ekspresi mama menjadi berbeda mendengar akan kemana Aera pergi.
"Mama temenin ya, sebentar mama ambil tas"
Spontan mama antusias untuk ikut menemani Aera, khawatir jika akan terjadi hal hal yang tidak diinginkan.
"Ngga usah ma, Aera sendiri aja"
"Tapi Aera mama_"
Belum selesai dengan ucapan nya Aera sudah lebih dulu memotong ucapan mama.
"Aera mau sendiri, mama ngga perlu khawatir, Aera baik baik aja, Aera juga udah habisin sarapan nya kan. Mama istirahat dari kemaren mama ngurus semuanya sendiri. Aera baik baik aja ma"
Perjelas Aera memahami dengan mama yang mengkhawatirkan nya.
Mama menghampiri Aera dan mengusap rambut Aera seperti biasanya.
"Janji sama Mama kalo kamu akan baik baik aja"
Aera mengangguki nya, dengan tatapan kosong yang hampa.
"Aera janji ma"
"Kalo gitu kamu hati hati ya"
Mama melepaskan tangan nya dari rambut Aera. Membiarkan Aera untuk pergi sendiri.
Sepanjang jalan yang panjang Aera berada melangkah di sisi jalan dengan tatapan kosong yang sesekali menjadi berkaca-kaca.
Aera menghentikan sebuah taksi untuk mengantarkan nya pergi.
Didalam taksi Aera menyadarkan kepala nya, dengan kacaan air mata yang kembali berjatuhan dengan tatapan kosong nya di antara kaca mobil yang memperlihatkan banyak hal yang dilewati.
Dari kaca depan supir taksi terus saja memperhatikan Aera yang menderas dengan tetesan air matanya, terheran dengan apa yang tengah terjadi.
Tidak ingin mengganggu atau membuat penumpang nya merasa tidak nyaman, supir taksi pun memilih untuk tetap diam.
Sampai akhirnya Aera meminta turun di depan toko bunga yang tidak begitu jauh dari pemakaman.
"Mau cari bunga apa ka"
Sapa penjaga toko bunga menghampiri Aera.
"Saya ingin mengunjungi pemakan"
Jawab Aera dengan sudut sudut matanya yang kembali berkaca.
"Kami ada bunga mawar dark crimson, bunga yang sering di pakai untuk berkunjung ke pemakaman"
Ajak pemilik toko kesisi dimana bunga mawar dark yang di jelaskan nya berada.
Aera membuntuti nya yang kemudian tertuju begitu saja dengan mawar cantik berwarna kehitaman.
__ADS_1
"Ini mawar dark crimson"
Perjelas pemilik toko dengan menunjukan sederet bunga mawar dark crimson.
"Mawar dark crimson ini memiliki arti perpisahan, dan melepaskan"
"Saya pilih yang ini"
Tunjuk Aera begitu saja, dengan tawaran penjaga toko.
"Baik akan langsung saya persiapkan"
"Buatkan saya dua buket ya"
Lanjut Aera kepada pemilik toko.
"Akan saya siapkan"
Sembari menunggu pesanan nya di bungkus Aera diam terpaku terus memperhatikan mawar dark crimson.
"Aera kembali memutuskan mba, kembali dengan pilihan yang Aera buat"
Gumam Aera pelan.
Setelah dengan dua buket bunga mawar Aera berjalan menuju pemakaman mba Ana.
"Aera dateng mba"
Seru Aera saat tiba di pemakaman mba Ana tersenyum dengan lebarnya dengan tatapan yang berkaca.
Aera berjongkok dekat dengan papan nama mba Ana, meletakkan satu buket bunga yang dibawanya disamping papan nama sedangkan satu buket yang satunya lagi berada di pangkunya.
"Gimana cantik kan mba bunga nya?"
"Mba Ana tau, ini adalah hal pertama kali yang bikin Aera sehancur ini. Mba pergi gitu aja tanpa mengucapkan selamat tinggal dengan bersamaan sama Ayah seseorang yang selama ini ada begitu dekat dalam mimpi Aera. Kalian pergi gitu aja"
Tes... lagi dan lagi, terus dan terus air mata Aera berjatuhan dengan deras nya.
"Banyak hal yang belum sempat Aera katakan, banyak hal yang belum Aera lakukan buat mba, buat bales semua kebaikan mba Ana, kasih sayang dan waktu yang berharga, untuk semua hal yang mba Ana lakuin dan berikan buat Aera. Aera belum membalas satu hal pun untuk itu"
"Mba selalu mempercayakan banyak hal sama Aera, dengan itu Aera selalu berusaha menjadi dengan seperti apa mba mempercayai Aera. Sama seperti sebelumnya, mba selalu percaya untuk keputusan yang Aera buat disetiap hal hal buruk dan tidak menyenangkan yang terjadi dan di alami Aera.
"Terimakasih untuk semuanya mba. Yang tersisa saat ini adalah permintaan mba. Untuk Aera membiarkan dan merelakan dengan apa yang meninggalkan Aera"
"Hari ini..."
Aera tehisak, sampai terserak serak suaranya dengan tumpahan air mata yang tidak lagi dapat di kendalikan nya.
"Aera memutuskan untuk melepaskan dan merelakan kepergian Mba Ana, pergi lah gapai tempat yang indah untuk mba Ana beristirahat dan menyaksikan Aera dari atas sana"
Aera terjatuh dari posisi berjongkok nya, menutupi wajahnya dengan dua telapak tangannya.
Seseorang datang dan mendekap Aera.
Aera membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya untuk memastikan siapa seseorang yang saat ini berada mendekap nya.
Keberadaan Titan yang saat ini mendekap Aera sama seperti kemarin Titan kembali ada untuk Aera memberikan dekapan hangat untuk Aera.
Aera membiarkan Titan untuk berada mendekapnya. Aera menangis didalam dekapan Titan, tersandar dalam dadanya.
Setelah cukup lama berada dalam dekapan Titan, dan setelah menjadi lebih tenang Aera melepaskan diri dan bangun dari duduknya dengan celana yang dikenakan nya menjadi sedikit kotor.
__ADS_1
"Selamat jalan mba Ana,Hanarum. Terimakasih banyak untuk banyak hal, dan untuk segala hal"
Lanjut Aera mengutarakan kalimat terkahir nya dalam hati.
Titan meletakkan satu buket bunga yang sebelumnya berada di bawanya.
Setelah beberapa saat tertunduk mengirim doa untuk mba Ana Titan mempertemukan tatapannya kepada Aera.
"Lo ngapain kesini?"
Tanya Aera setelah menjauh beberapa langkah dari makam Mba Ana. Memperhatikan Titan dengan seragam sekolah yang dikenakan nya.
"Gua khawatir sama lo"
Perjelas Titan dengan alasan keberadaan nya.
Aera menatap Titan dengan tatapan yang berbeda. Beberapa hal atau bahkan setiap hal yang Titan lakukan untuk nya selalu menjadi berarti untuk Aera. Terlebih disaat saat terpuruk seperti sekarang ini.
"Tau dari mana gua disini?"
"Tadi gua kerumah, dan nyokap lo kasih tau kalo lo disini"
Aera kembali melanjutkan langkahnya di ikuti dengan Titan.
"Lo mau kemana lagi?"
Tanya Titan memastikan, kemana Aera akan pergi.
Aera diam tidak menjawab pertanyaan Titan. Sampai akhirnya Aera menghentikan langkahnya didepan sebuah makam.
"Ini makam ayah gua Tan. Seseorang yang pergi bersamaan dengan mba Ana"
Perjelas Aera dengan keberadaan nya saat ini dan dengan sebuah makam di hadapan nya.
Meretak dan meretak ikut patah merasakan dan tau bagaimana hancurnya Aera dengan semua hal yang saat ini di sajikan dan dirasakan nya.
Seolah ikut sakit merasakan dan tau akan ini semua.
"Aera dateng yah"
Seru Aera dengan kembali menjatuhkan Air matanya, meletakkan satu buket bunga yang sama dengan buket yang diletakan di makam Mba Ana.
"Sama sekali ngga terfikirkan sama Aera bahwa selama setahun terakhir yang datang dan ada dalam mimpi Aera itu adalah Ayah. Apa ini alasan kenapa Ayah selalu membuat Aera lupa dengan wajah Ayah setiap kali Area terbangun dan tersadar dalam mimpi Aera. Karna pada akhirnya Ayah memang tidak akan pernah datang, dan mengetahui sosok Ayah yang sebenarnya hanya akan membuat Aera semakin terluka"
"Kenapa tidak bertahan sedikit lebih lama, setelah menjelaskan banyak hal, dengan begitu Aera akan tau dengan seperti apa setelah ini. Membiarkan semua seperti sedia kala seolah tidak terjadi apa apa, atau tetap mencari banyak hal untuk menggambarkan Ayah dalam ilusi Aera untuk Aera dapat mengenang dan merindukan Ayah. Harus seperti apa Aera yah"
"Mencari banyak hal untuk lo bisa menggambarkan sosok ayah lo sebenernya dalam ingatan lo. Dengan begitu setiap kali lo merindukan nya, membutuhkan keberadaan nya lo bisa mengingat dengan seperti apa sosok nya"
Jawab Titan, memberikan apa yang menjadi pendapat nya.
Aera menoleh mengalihkan tatapannya untuk menatap Titan.
"Apa gua sanggup setelah dengan semua kenyataan ini"
"Lo pasti sanggup, lo hanya butuh waktu"
Perjelas Titan, yakin dengan bagaimana Titan mengenal Aera.
Hembusan angin kencang membuat sebuah bunga terjatuh dari pohon nya. Berada mendarat di antara rambut Aera diatas lengan kanan nya.
Aneh nya Aera merasakan bahwa jatuh nya bunga yang mengenai nya adalah pemberian Ayah untuk nya. Menjadikan apa yang dikatakan Titan menjadi nyata untuk Aera mewujudkan nya.
__ADS_1
Aera tersenyum menatap kembali makan Ayah.
"Aera akan mencari banyak hal tentang Ayah, menyimpan dan mengingat nya dalam ingatan dan hati Aera. Berada bahagia lah diatas sana bersama mba Ana yah, perhatian Aera dari atas sana"