
Aera keluar menghampiri Sia yang sudah menunggu nya.
Terlihat Sia yang tengah sibuk memainkan Handphone.
"Gua kira abis ujan ujanan semalam pagi nya ngga akan masuk karna sakit?"
"Gua mah ngga alay"
Jawab Sia memberikan helem dengan satu tangan nya, sedangkan satu tangan lain nya memegangi handphone masih tertunduk sibuk memainkan nya.
"Lo lagi ngapain sih?"
Aera memperhatikan Sia sembari mengenakan helem.
"Grup kelas lagi rame"
"*Rame kenapa?"
"Kepo*"
Dengan Sia yang mengangkat kepalanya memasukan handphone dalam kantong seragam nya dan menyalakan motor nya.
"Yah jelas dasar"
Cetus Aera yang membuat keduanya tersenyum.
Dengan Aera yang memasuki kelas yang masih cukup sepi terdapat beberapa yang tengah piket dan dengan Titan yang tengah sibuk membaca.
Aera duduk meletakan tas dan mengeluarkan handphone dari dalam tasnya.
Titan menghampiri dengan buku yang dibawanya.
"Tugas matematika udah?"
Aera menggelengkan kepala tanpa ekspresi.
"*Tugas sebanyak itu mana selesai kalo cuman dua hari"
"Nih*"
Titan dengan menyodorkan buku yang dibawanya kepada Aera.
Aera meraih nya.
"Buku apaan?"
"Jawaban dari tugas yang Bu Ega kasih"
Aera melebarkan tatapan nya dengan begitu senang.
"*Seriusan lo kasih liat gua?"
"Mau ngga? Kalo engga gua ambil lagi*"
"Mau dong, mau banget"
Aera yang tersenyum memperlihatkan deretan giginya kepada Titan.
Titan menjadi ikut senang melihat Aera yang tampak senang dengan apa yang ditawarkan nya.
Sekedar ucapan terimakasih dari Titan karna Aera telah menjadi pendengar yang baik dan mengerti dirinya.
Aera segera membuka tas mengeluarkan buku tugas matematika dan satu bolpoin.
"Kalo gitu gua pinjem dulu ya? Gua mau ngerjain di kantin nanti langsung gua balikin kalo udah selesai"
Dengan Aera yang sudah bangun dari duduknya dengan dua buku yang sudah di pegangnya.
Titan mengangguki dengan tersenyum.
__ADS_1
Aera memesan es teh sembari menemani nya untuk mengerjakan tugas yang masih cukup banyak untuk di kerjakan.
Dengan tugas yang hampir selesai di salin tiba tiba ada yang terlintas dalam pikiran nya.
"Ini tugas kan tugas hukuman. Cuman gua yang disuruh ngerjain? Gimana ceritanya Titan udah ngerjain semua dengan soal sebanyak ini"
Gumam Aera menjadi bingung dengan sesuatu yang saat ini tengah dipikirkan nya.
"Apa Titan sengaja ngerjain buat gua?"
Masih dengan gumam nya dengan prasangka yang tiba tiba singgah di kepalanya.
Aera menggeleng gelengkan kepala nya.
"Ngga lah ngga mungkin ya kali seorang Titan suka sama gua. Itu hal tergila sih yang pernah ada di kepala gua"
"Udah gila lu ya ngomong ngomong sendiri"
Sia yang menghampiri tengah menikmati minuman kotak nya.
Aera terpaku diam dalam lamunan memikirkan nya.
"WOY RA!"
Teriak Sia tepat di kuping Aera.
Spontan Aera seperti tersetrum dengan begitu terkejut nya.
"***** ***** kuping gua. Sialan lo"
Aera yang menoleh menatap tajam Sia dengan penuh kekesalan dengan memegangi telinganya yang dirasa pengang.
"*Lagi bengong aja gua kira kan lo kesambet"
"Iya, gua kesambet! Kesambet sama lo monyet*"
"Dih marah"
Aera dengan tersenyum menahan emosinya.
"Lagi ngapain?"
Sia dengan memperhatikan beberapa buku yang terbuka dihadapan Aera.
"Ngerjain tugas, udah ah gua mau ke kelas ribet ada lo"
Aera dengan membereskan buku-bukunya.
Aera mengembalikan buku Titan dengan menghampiri ketempat duduk nya.
"Makasih Tan"
Aera tersenyum dengan menyodorkan buku milik Titan.
"*Tugas ini cuman gua kan yang disuruh ngerjain sebagai hukuman gua waktu itu"
"Iya lo doang*"
Titan mengangguki memperhatikan Aera.
"Terus ko lo bisa punya jawaban nya?"
Dengan senyum yang memudar di wajah Aera.
"Mmmm..."
Titan dengan melebarkan tatapan,canggung.
"Selamat pagi anak anak"
__ADS_1
Dengan guru bahasa Indonesia yang memasuki kelas.
Aera menatap Titan dengan prasangka sebelum akhirnya membuang tatapan nya setelah didengar sapaan guru yang masuk di kelas, Aera kembali ketempat duduk.
Titan tertunduk sesaat setelah Aera kembali ke tempat duduknya.
Bel istirahat berbunyi dengan Aera yang akan meninggalkan kelas Titan menghentikan langkahnya dengan berdiri dihadapan Aera.
Aera hanya diem menatap Titan, menunggu dengan apa yang akan di sampaikan.
"*Mmm gua sengaja ngerjain tugas itu karna gua tau lo ngga akan selesai"
"Buat apa sampe segitu nya*"
"Ngga ada maksud lain sekedar balas Budi. Lo udah memberikan ruang buat gua dateng ke lo kalo gua mau cerita dan gua juga mau melakukan hal yang sama, gua ngga mau ngeliat lo kesusahan sendiri"
Jelas Titan dengan ekspresi yang sering kali diperlihatkan nya, datar dengan begitu dingin nya.
Aera menarik kedua sudut bibirnya. Melunturkan prasangka di kepalanya mengenai Titan.
"Ngga perlu segitu nya Tan, gua ngelakuin itu tulus ko"
"Karna lo tulus gua mau bales walaupun sedikit"
Titan yang kali ini dengan senyum tipisnya.
"Makasih ya karna lo tugas gua jadi selesai deh"
Aera dengan tersenyum begitu lebar nya.
Prasangka yang singgah dengan Titan yang Aera pikir menyukai nya. Tidak ada yang salah dengan prasangka, karna itu terjadi dan ada begitu saja. Tidak ada salahnya sekalipun Titan menyukainya, hanya saja Aera menjadi dekat dan peduli dengan nya tidak mengharapkan terjadi nya perasaan antara keduanya.
Tengah berhadapan di kelas yang sudah sepi kedua sahabatnya Sia dan Fina mempergoki Aera yang tengah berhadapan dengan Titan dengan keduanya yang sama sama tersenyum.
Titan berlalu begitu saja dengan ekspresi datar nya saat Sia dan Fina tepat di belakang Aera. Aera menoleh dengan Titan yang berlalu dilihatnya kedua sahabatnya yang tengah memperhatikan nya dengan tatapan penuh.
"Kenapa?
Tanya Aera dengan tatapan kedua sahabatnya.
"Lo ngapain?"
Tanya Sia dengan apa yang baru saja dilihat nya.
"Ngga ngapa ngapain ngobrolin tugas"
Jelas Aera.
Fina diem memperhatikan dengan raut ekspresi yang sudah berbeda.
"Aneh deh gua sekarang ngeliat lo berdua"
Sia dengan tatapan curiga.
"Aneh gimana sih ngga usah mikir ngga jelas deh. Udah ayo makan gua laper nih"
Dengan Aera yang lebih dulu meninggalkan kedua sahabatnya.
Sia menoleh memperhatikan Fina, tampak tidak bersemangat dengan ekspresi yang sudah berbeda.
"*Lo kenapa?"
"Laper*!!"
Singkat Fina dengan judes nya dan berlalu meninggalkan Sia begitu saja.
"Punya temen dua ngapa gini banget ya"
Gumam Sia kepada dirinya sendiri dengan menggeleng gelengkan kepalanya sebelum membuntuti kedua sahabatnya.
__ADS_1
Perasaan itu ada disadari atau tidak disadari semua terjadi begitu saja letak nya ada didalam dada mungkin dibagian hati seseorang.