
Hari hari sebelumnya setelah bel pulang sekolah berbunyi akan ada dua perempuan yang menunggu Aera di depan kelas. Di antara kelas kelas yang lain kelas 12 akuntansi 1 lah yang pulang nya sedikit lebih lama. Alasan nya karna guru merasa nyaman dan tentram saat mengajar di kelas 12 akuntansi 1 dibandingkan dengan kelas kelas lain nya. Ada yang tampak asing dan berbeda dari biasanya. Hanya Sia yang tengah berdiri di depan pintu menunggu Aera keluar kelas.
Aera bangun dari duduknya memperhatikan Sia dari jarak yang masih jauh keduanya. Rasanya sedih jika dirasakan, bagaimana pun kehilangan seseorang yang telah lama terbiasa ada bersama kita bukan lah hal yang sederhana, tetap saja membekas sekecil apapun lukanya.
"Lama kebiasaan"
Sia dengan judes nya setelah Aera berada dekat di hadapan nya.
"Jangan salahin gua lah salahin aja gurunya"
Balas Aera tersenyum.
Sia sekedar menatap sinis Aera sebelum tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"Dibikin nunggu lama tapi masih aja mau nungguin, the best banget sih kamu"
Aera dengan merangkul kencang Sia.
"Iya lah mana ada yang kaya gua"
Sia tertawa ikut merangkul Aera.
Aera tertawa mengeratkan tangan yang berada di pundak Sia.
Keduanya melangkah dengan langkah yang sama pelan nya dengan irama tawa yang terdengar begitu ramai terkunci dengan rangkulan satu sama lain.
Begitu menyenangkan dan begitu bersyukur dengan apa yang saat ini berada dekat dalam genggaman nya, untuk Aera dan Sia.
"Ada kedai es krim yang baru buka deket ko dari sini, mau kesana ngga?"
Tanya Sia sudah berada di perkiran.
"Boleh tuh, yuk"
Aera tersenyum mengiyakan.
Setelah kurang dari 10 menit melaju dengan sepeda motor yang dikendarai pelan keduanya sampai di depan kedai es krim yang cukup ramai.
Pelayan mengantarkan 2 mangkuk es krim ke meja Aera dan Sia, tersenyum begitu ramah nya.
"Ini pesanan nya ya"
Dengan pelayan yang meletakan mangkuk di meja.
"Makasih"
Aera tersenyum begitu ramahnya.
"Maaf, saya boleh kenalan sama Kaka nya?"
Tanya pelayan dengan menunjuk Aera.
"Saya?"
Tanya Aera memastikan.
"Iya sama mba nya, boleh ngga?"
Tanya si pelayan malu malu.
"Boleh dong"
Aera tersenyum dengan mengulurkan tangannya.
"Aera"
Tengah berjabat tangan dengan si pelayan.
"Saya Adong"
Dengan pelayan yang menyebutkan namanya.
Aera dan Sia melebarkan tatapan nya menahan tawa dengan nama yang didengar nya.
"Mas Adong"
Dengan Aera yang menarik tangan nya.
"Jangan panggil mas, manggil aja Aa"
"Hah? Ah iya Aa"
__ADS_1
Aera yang menuruti nya tidak ingin membuatnya semakin panjang.
"Itu ada pelanggan gih layanin sana"
Cetus Sia bermaksud mengusir nya, sebelum es krim nya mencair karna terlalu lama berbincang dengan nya.
"Kalo gitu Aa tinggal dulu ya"
Ucap Adong sebelum kembali.
"Hhhh.."
Aera menghelai nafas sedikit dibuat terkejut dengan apa yang baru saja dihadapi nya.
Sedangkan Sia tengah sibuk dengan tawanya yang begitu menggelitik begitu lucu.
"Ngga cuman orang nya,namanya juga kelewat lucu sumpah"
"Udah makan es krim lo, buruan cabut nanti keburu balik kesini lagi ngga bisa pulang yang ada kita"
"Kita lu aja kali, lu kan yang pacar nya Aa"
"Ngomong sekali lagi gua lempar pake es krim lo ya"
Aera dengan galak nya, memasukan es krim kedalam mulutnya menghabiskan nya dengan cepat.
Tidak dibutuhkan waktu yang lama untuk Aera dan Sia menghabiskan es krim, saat bangun dari duduknya Adong kembali menghampiri.
"Yah udah mau pergi ya"
Aera yang kali ini memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
"Mmm udah mau pulang mau ngerjain tugas"
"Gitu ya, padahal belom sempet ngobrol ngobrol"
"Udah ya kita mau pulang Aa"
Tegas Sia dengan menarik tangan Aera.
"Duluan ya a"
Pamit Aera dengan langkah nya yang cepat.
Adong yang memperhatikan keduanya pergi.
"Salah lo ngajak gua kesini"
Cetus Aera kesal.
"Ko salah, bukan nya bersyukur lo karna gua lo jadi punya gebetan baru"
Sia dengan mengenakan helem nya.
"Buat lo"
Aera sudah berada di belakang Sia.
Keduanya kembali melaju dengan kencang nya.
"Kita kemana lagi nih"
Tanya Sia.
"Pulang aja cape mau tidur"
Jawab Aera dengan memperhatikan pemandangan yang dilewatinya.
Setelah turun dengan Sia yang kembali melaju Aera berpapasan dengan seorang nenek yang baru saja keluar dari rumahnya. Nenek itu berpenampilan cukup rapih tetapi terlihat begitu lesu dengan mata sembab nya.
Nenek itu terus memperhatikan Aera bahkan sampai memperlambat langkahnya.
Sudah berlalu melewati Nenek tersebut Aera kembali untuk menemuinya.
"Saya Aera nek"
Sapa Aera tersenyum dengan begitu ramah.
Nenek itu balas tersenyum tanpa berniat memperkenalkan dirinya.
"Nenek habis cari siapa?"
__ADS_1
Tanya Aera penasaran.
"Nayara, saya cari Nayara"
Jelas Nenek.
"Mama jam segini emang ngga ada dirumah nek"
"Mama?"
Tampak terkejut dengan kata Mama yang Aera ucapkan.
"Iya, Nayara itu mama saya"
Aera yang menatap keheranan dengan ekspresi yang sudah berbeda di wajah nenek.
"Hhhh"
Nenek menjadi lemas dan begitu pucat bahkan hampir terjatuh kehilangan keseimbangan nya.
"Nenek ngga papa, kita masuk dulu ya"
Aera dengan memegangi nenek untuk menahannya
"Ngga papa saya ngga papa"
Nenek itu melepaskan tangan Aera yang memegangi nya, berlalu meninggalkan Aera dengan wajah pucat gemetar nya.
Aera melebarkan tatapan nya menatap bingung dengan nenek yang pergi begitu saja tampak terkejut dengan apa yang tidak Aera pahami.
Aera masuk kedalam rumah dengan mba Ana yang tengah membereskan cangkir di ruang tamu.
"Udah pulang Ra"
Mba Ana menoleh dengan Aera yang membuka pintu.
"Iya mba, itu barusan siapa mba"
"Ngga tau cari ibu, katanya ada perlu"
Mba Ana berlalu untuk kedapur meletakkan cangkir.
Aera membuntuti nya dengan lebih dulu meletakkan tas di meja makan.
"Tadi Aera kepapasan dan ngobrol dikit, pas Aera bilang Nayara itu mama Aera dia langsung kaget pergi gitu aja"
Cerita Aera dengan membuka kulkas dan menuangkan air dingin di gelas.
Mba Ana yang tengah mencuci piring pun terkejut mendengar kan apa yang diceritakan Aera sampai air yang mengucur terabaikan begitu saja.
Aera menoleh setelah menenggak setengah air yang digelasnya, dilihat nya Mba Ana yang terpaku kaku diam seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Mba, mba Ana"
Teriak Aera menyadarkan mba Ana.
"Hah, ah iya Ra kenapa?"
Mba Ana yang tampak terkejut setelah disadarkan Aera.
"Itu airnya"
Aera menunjuk air yang mengucur begitu saja.
"Eh ya ampun"
Mba Ana yang langsung meletakan piring yang semula tengah di bilas nya dan memutar keran mematikan airnya.
Aera memperhatikan mba Ana dengan tatapan penuhnya.
"Mba Ana kenapa?"
"Ngga ngga papa"
Mba Ana tersenyum di tatapan nya yang berbeda.
"Mba angkatin jemuran dulu ya"
Mba Ana yang meninggalkan Aera begitu saja.
"Kenapa aneh gitu sih"
__ADS_1
Gumam Aera dengan mba Ana yang sudah meninggalkan nya.