Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
23


__ADS_3

Ketiga nya kembali ke sekolah saat bel pulang sekolah telah berbunyi, saat siswa lain nya keluar sekolah ketiganya Aera, Sia, dan Fina malah menyelinap masuk agar tidak ketahuan dengan pak satpam.


Setelah ke kelas nya masing masing untuk mengambil tas, Aera memisahkan diri untuk berlatih basket dengan Titan karna ini hari terakhir nya Titan mau mengajari.


"Lo pada pulang duluan ya, hari ini gua ada janji latihan sama Titan"


Jelas Aera dengan kedua sahabatnya yang tengah memperhatikan nya.


"Latihan lagi? Masih sama Titan?"


Fina dengan tidak bersemangat.


"Mmm, ini hari terakhir ko"


Aera yang mengangguki pertanyaan Fina.


"Yaudah gua balik duluan, kalo nanti mau dijemput lo telfon gua aja"


Lanjut Sia sebelum berbalik pergi meninggalkan Aera.


Aera hanya tersenyum mengangguki.


Bergegas cepat untuk berganti pakaian dan pergi sebentar untuk membeli dua botol minuman di kantin.


Dilihat Aera Titan yang sudah berada di lapangan dengan memainkan bola basket.


"Khem"


Dehem Aera sekedar membuat Titan tau keberadaan Aera.


Titan menghentikan permainan nya dan menatap Aera.


"Gua boleh langsung latihan"


Tanya Aera memastikan masih dengan dua botol minuman yang dibawanya.


Titan mengangguki tanpa ekspresi.


Aera meletakan dua botol minuman dan menghampiri Titan.


Titan melemparkan pelan bola basket kepada Aera.


"Lanjut yang kemaren, nanti baru di tambahin bagian bagian berikutnya"

__ADS_1


Aera memainkan bola basket, sudah tidak begitu asing di mainkan oleh kedua tangan nya. Titan yang mengajari dengan sederhana tapi sangat membantu, capat di pahami dan di mengerti Aera. Setelah hampir satu jam memainkan nya, Aera meletakan bola basket untuk mengambil minum rasa nya sudah lelah dan begitu haus, dengan Titan yang tengah memperhatikan.


Aera menyodorkan satu botol lain nya kepada Titan.


Titan meraih nya tanpa mengucapkan terimakasih. Tidak di harapkan pula oleh Aera, sudah tau dengan benar bagaimana respon nya.


Aera menikmati minum nya sembari duduk meluruskan kakinya, beristirahat sebentar untuk mengumpulkan kembali tenaganya.


"Khmm..soal kemaren"


Titan yang mengeluarkan kata-kata tanpa menatap Aera.


Aera menoleh memperhatikan,dan paham dengan maksud Titan.


"a.., soal kemaren gua minta maaf, ngga seharusnya gua ikut campur dan gua bener bener ngga sengaja liat itu semua"


Titan masih diam tanpa mengangguki.


Aera menarik kedua sudut bibirnya dengan rasa bersalah.


"Kemaren lo sempet bilang, kalo gua butuh temen buat cerita lo siap buat dengerin"


Lanjut Titan kali ini menoleh menatap Aera dengan sorotan mata yang berbeda dari biasanya.


Aera yang mengangguki.


"Ah.. iya lo boleh cerita kalo lo mau gua siap dengerin nya. Dan lo bisa percaya ko sama gua"


Lanjut Aera menatap Titan dengan serius nya.


"Mmm.. gua percaya"


"Gua anak kedua dari dua bersaudara, terlahir sebagai penerus sebuah perusahaan. Kaka gua yang seharusnya menjadi penurus memilih untuk keluar rumah dan menjalani hidup dengan cara dia sendiri, gua mau kaya Kaka gua tapi gua takut sampe akhirnya gua hidup dengan penuh kendali, tuntutan dan aturan sampe rasanya cape gua melupakan banyak hal yang gua suka. Bener kata lo rasa nya sakit saat kita terluka tapi orang lain taunya kita baik baik aja"


Titan dengan bicara nya yang panjang, seperti bukan dirinya Titan yang Aera kenal dengan tatapan sendu yang terlihat dari sorotan matanya.


Aera mendengarkan nya dengan baik, seolah ikut merasakan.


"Itu hidup lo, apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi gimana lo menentukan nya. Menuruti boleh tapi jangan terpaku itu hanya akan nyiksa lo"


Jawab Aera dengan pendapat dan nasehat nya.


Titan merekah senyum tipis setelah mendengar jawaban Aera.

__ADS_1


"Makasih udah memahami gua, Aera"


Aera tersenyum memperlihatkan deretan giginya dengan di ikuti tawa.


"Mm kan bagus kalo senyum gitu"


Titan melebarkan senyuman nya.


"Udah siap maen basket lawan gua"


Titan yang sudah berdiri di tengah lapangan.


"Mmm siapa takut"


Aera yang bangun dan menghampiri Titan


Bahkan untuk setiap manusia sekalipun memiliki titik lelah dalam permasalahan nya masing-masing.  Beberapa memaksakan lelah nya, beberapa lagi memilih berhenti sejenak, dan beberapa lagi benar-benar berhenti dan menggantikan jalan nya.


Dengan apa yang dilihat tidak selamanya dapat disimpulkan sama dengan arti yang sebenarnya.


Mereka yang terkesan baik baik saja malah menjadi orang orang rapuh yang mencoba untuk kuat.


Mungkin mereka menyadari bumi yang di tinggali tidak menjadi tempat untuk nya saja tapi juga untuk mereka.


Menata hati menyiapkan rasa dan berupaya jauh lebih baik untuk menghadapi hari hari sulit berikutnya. Dari pada hanya diam terobsesi dengan prasangka prasangka gila yang memenuhi isi kepala.


Aera dan Titan keluar dari lapangan di dului oleh Aera dengan Titan yang membuntuti. Titan terus saja memperhatikan dengan sesekali ikut tersenyum memperhatikan Aera, ada irama tidak biasa dari detak jantung nya.  Aera pun sesekali menoleh merasakan Titan yang terus aja memperhatikan nya.


"Lo ngeliatin gua terus"


Aera yang menghentikan langkahnya, berdiri menghadap Titan.


"Hah?"


Titan yang diam menatap bingung Aera.


"Lo ngeliatin gua?"


Aera yang memperhatikan dengan melebarkan tatapan nya dengan tingkah Titan yang menjadi tidak biasa.


"Lu kan posisi nya ada di depan gua, bukan berarti gua ngeliatin lu kan"


"Mmm iya sih"

__ADS_1


Aera yang mengangguki pelan.


__ADS_2