Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
94


__ADS_3

Setelah semua hal hal buruk membuat Aera terpuruk. Banyak nya air mata yang berjatuhan, sesak nya dada yang dirasakan, dengan waktu yang menjadi sangat melelahkan.


Aera memutuskan dirinya dengan apa yang telah di putus kan nya.


Setelah melepaskan, dan merelakan sekarang saat nya Aera mencoba menata hati dengan banyak hal nya.


Menata dengan apa yang menjadi keinginan Aera untuk berada kedepan nya dalam hidupnya di waktu setelah ini.


Aera duduk terpaku menyadarkan kepala nya didalam mobil, dengan Titan yang duduk berada disebelah Aera.


Keduanya sama sama terdiam, dengan Titan yang sengaja memberikan keheningan sekedar Aera dapat menenangkan dirinya lebih dulu.


Titan yang tiba tiba membuka pintu dan pergi keluar meninggalkan Aera tanpa mengatakan apapun.


Saat berada sendiri dalam mobil, Aera meraih handphone nya dari dalam tas.


Menelfon mama dengan diawali tarikan nafas yang panjang.


"Hallo ma"


Seru Aera saat setelah panggilan nya tersambungkan dengan mama.


"Hallo Aera, kenapa nak? Kamu baik baik aja kan"


Mama yang kembali dibuat khawatir dengan Aera yang tiba tiba menelfon nya.


"Aera mau tau alamat rumah nek Parsiah"


Aera dengan to the poin akan apa yang menjadi alasannya menelfon mama.


Kedua matanya kembali menjadi berkaca.


"Untuk apa Ra?"


Tanya Mama memastikan, dengan nada suara yang didengar Aera menjadi berbeda.


"Ada banyak hal yang Aera harus tau ma"


"Kamu masih inget kan janji kamu sama Mama?"


"Aera janji ngga akan melakukan sesuatu yang bikin Mama khawatir"


Setelah mendapat kan alamat nek Parsiah dan setelah menyelesaikan pembicaraan dengan mama Aera mematikan telfon nya.


Memasukan kembali handphone dalam tas nya meski di sadari Aera dengan banyak nya notif pesan masuk dan panggilan tidak terjawab, Aera mengabaikan nya begitu saja.


Titan masuk dengan dua cangkir kopi yang dibawanya.


"Lo baik baik aja?"


Tanya Titan setelah masuk melihat Aera yang tengah mengusap pipi nya dari jejak jejak air mata yang masih dapat dilihat Titan dengan jelas.


"Mmmm"


Aera mengangguki nya, mengartikan dirinya baik baik saja.


"Gua beliin lo kopi, biar lo lebih rileks, lo mau?"


Dengan Titan yang menyodorkan satu cangkir kopi dari dua cangkir yang dibawanya.


Aera mengangguki nya, meraih satu cangkir yang disodorkan kepada nya.


"Makasih Tan"


Seru Aera menatap Titan.


Cuaca yang semula baik baik saja, menjadi mendung dengan menjatuhkan rintikan gerimis.

__ADS_1


Aera dan Titan masih berada di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari pemakaman.


Menikmati secangkir kopi diantara rintikan gerimis yang berjatuhan dipermukaan bumi.


"Gimana Ra? Apa masih terlalu sakit atau udah lebih baik?"


Tanya Titan membuka obrolan diantara kehilangan yang sebelumnya ada di antara keduanya yang sama sama diam.


Aera menoleh menatap Titan, menghelai nafas dengan menarik kedua sudut bibirnya dengan kedua tatapan nya yang kembali berkaca.


"Semua masih sama aja, gua masih perlu buat memaksakan semuanya, memaksa diri gua buat tetep bertahan, memaksa diri gua buat tetap kuat, belum ada yang baik baik aja"


Curah Aera menjelaskan dengan apa yang dirasakan nya.


Titan menatap Aera dengan tatapan hangat.


"Semua akan kembali dengan keberadaan nya, dan lo akan kembali baik baik aja"


"Apa dengan cara gua belajar mencintai lo gua bisa balas semua yang udah lo kasih buat gua, semuanya terlalu berarti Tan"


Dengan Aera yang kembali dibuat luluh akan apa yang Titan lakukan, akan apa yang Titan katakan, semuanya menyentuh Aera. Lantas akan sangat tidak adil jika Aera tidak memberikan sekedar membalas semua yang Titan lakukan.


Titan tersenyum menatap Aera dengan apa yang dikatakan nya.


"Apa dengan cara lo belajar mencintai gua, ketulusan bisa gua dapetin"


Aera terdiam, tidak dapat mengatakan apa apa lagi. Karna Aera tidak dapat menjelaskan atau bahkan menjanjikan apapun akan ketulusan.


"Jangan terlalu mikirin gua, fokus aja buat nyelsain masalah lo ya"


Lanjut Titan dengan meminum kopi yang hampir menjadi dingin karna cuaca.


Aera tersenyum tipis mengangguki nya.


"Lo mau gua anterin ke tempat lain, atau mau langsung gua anter pulang"


"Bisa anter gua ke satu tempat"


Minta Aera.


Titan mengangguki dengan langkah menyalakan mobil nya, melaju kencang kemudian.


Setelah cukup lama melaju kencang, keduanya sampai di sebuah teras milik sebuah rumah yang tinggi dan begitu mewah.


Aera turun di ikuti dengan Titan.


Tanpa bertanya atau mengatakan apapun, Titan hanya diam dan mengikuti Aera.


"Ting.. Tong..."


Dengan Aera yang membunyikan bel yang berada di siapakan di sisi pintu.


Aera berbalik membelakangi pintu, menunggu seseorang membukakan pintu untuk nya.


"Siapa?"


Seru nek Parsiah setelah membukakan pintu dengan dua orang yang dilihatnya.


Satu pria yang sudah menundukkan kepalanya memberikan sapaan kepada nya, dan satu perempuan yang masih berada membelakangi nya.


Aera berbalik setelah mengenali suara yang dikenalinya.


"Aera"


Seru nek Parsiah, langsung memeluk Aera dengan eratnya.


Aera membalas pelukan nek Parsiah dengan hangat,  dengan keduanya yang sama sama menumpahkan air mata dalam pelukan keduanya.

__ADS_1


"Maaf karna Aera baru dateng sekarang nek"


Seru Aera setelah dengan pelukan keduanya yang dilepaskan.


"Ngga papa sayang, kamu udah dateng sekarang pun nenek udah sangat bahagia"


Belas Nek Parsiah dengan mengusap pipi Aera.


Aera menderu dengan tangisan nya, sembari memegangi tangan nek Parsiah yang berada di pipinya, setelah Aera ingat dengan mba Ana dengan kebiasaan mba Ana yang mengusap pipinya.


"Ayo masuk sayang"


Ajak nek Parsiah menggandeng Aera.


"Gua tunggu di mobil ya"


Seru Titan, tidak ingin mengganggu keduanya.


Aera mengangguki nya, sebelum ikut masuk dengan tarikan nek Parsiah.


Aera duduk berdampingan dengan nenek, saling menatap dan memperhatikan untuk beberapa saat.


"Aera boleh tau, dengan seperti apa sosok Anan, ayah Aera"


Lanjut Aera. Keberadaan nya bukan sekedar ingin menemui nenek, tetapi untuk mencari tau dengan seperti apa sosok ayah kandung nya.


"Sebentar ya sayang"


Nenek bangun dari duduknya, beranjak masuk di satu ruangan.


Saat kembali sudah dengan satu album foto yang dibawanya.


Nenek kembali duduk di samping Aera, membuka dan memperlihatkan isi dari dalam album yang dibawanya.


Memperlihatkan sosok anak kecil dari dalam album foto di halaman pertama.


"Ini Anan saat dia masih kecil nak"


Jelas nek Parsiah dengan siapa sosok anak kecil yang saat ini tengah Aera perhatikan.


Aera tersenyum dengan tetesan air mata yang terus saja berjatuhan entah dengan sekeras apapun Aera mencoba untuk menahan dan membendung nya.


Membalik halaman kedua, ketiga, dan berikutnya, seolah mengikuti pertumbuhan sosok Anan, mulai dari kecil sampai dengan sosok nya dalam foto yang saat ini tengah di perlihatkan nenek kepada Aera.


"Aera ngga sangka ternyata Ayah setampan ini"


Tersenyum dalam kacaan air mata memperhatikan dengan sangat tampan sosok ayah yang sebenarnya. Tidak lagi dengan menggambarkan sosoknya dalam ilusi, sekarang Aera tau dengan baik dengan seperti apa sosok nya.


"Mmm dia sangat tampan, sampai memiliki anak secantik ini"


Nenek yang kembali mengusap pipi Aera.


"Boleh Aera tau masa lalu ayah dengan mama dan dengan saat kali pertama adanya Aera"


Nenek terdiam dengan apa yang diminta Aera. Sebelum akhirnya nenek mulai mengatakan yang sebenarnya.


"Anan, dan Mama kamu Nayara mereka berdua tidak saling mencintai, hanya saja ketidak sengajaan mereka lakukan dengan tidak sadar sampai akhirnya Nayara hamil kamu nak"


Nenek menghentikan dengan apa yang tengah di sampaikan nya, sekedar untuk meluapakan lebih dulu dengan tangisan nya yang menderu ramai.


Begitu dengan Aera yang tertunduk lemas mengetahui semuanya.


Keberadaan nya yang terlahir bukan karna keinginan tetapi karna kesalahan, dengan nya yang ada dan tumbuh tanpa adanya cinta sejak awal. Sesak dengan sesuatu yang dirasa tengah menggerogoti hatinya, begitu menyakitkan.


"Lari dari tanggung jawab nenek dan Anan pergi jauh, di lain sisi Nayara tidak menuntut pertanggung jawaban dari Anan karna Nayara berusaha untuk menggugurkan nya. Entah bagaimana setelah nya nenek mendapat kabar jika kamu terlahirkan tumbuh menjadi gadis yang cantik"


Nenek tertunduk membungkam mulut nya, terhisak hisak setelah menyelesaikan dengan apa yang menjadi kenyataan sebenarnya.

__ADS_1


Aera mencoba tetap tenang di antara air mata yang terus saja berjatuhan, deruan tangis nya di bungkam sampai membuat sesak dalam dada nya.


__ADS_2