
Setelah karyawan Azka sudah berada di Cafe, Aera di antar pulang oleh Azka dengan menggunakan motor yang sama dengan motor yang saat itu mengantarkan Aera ke sekolah.
Belum lama melaju Aera sudah menyenderkan kepalanya kembali tertidur di pundak Azka.
Menjadi pribadi yang ceria tidak sepenuhnya mudah, adakalanya sangat melelahkan. Setiap perasaan seseorang silih berganti dengan keadaan dirinya, begitu pun untuk waktu tidak selalu sama keadaan di dalamnya. Menjadi melelahkan dengan pribadi yang ceria karna segala hal dan keadaan seolah ikut menuntut untuk tetap tersenyum dan tertawa di hadapan banyak orang, tanpa memperdulikan atau bahkan lupa dengan perasaan dan rasanya sendiri.
Tetapi berbeda dengan bersama Aera semua terpapar apa adanya, segala senang dan ceria memang benar ada dan dirasakannya.
Aera perempuan yang tampak aneh dan tidak konsisten terlebih dengan tatapan nya yang dipenuhi amarah dan kesedihan. Aera tampak begitu rumit, senyum nya, ceria nya, dan sesekali tempramen dan kekosongan nya semua tampak nyata di satu pribadi.
Banyak rasa yang di tahan nya, ada saat saat dimana dia memperlihatkan perasaan yang ada namun dapat berubah dalam sekejap mata, begitu tidak konsisten dalam mengendalikan dirinya.
Azka menarik tangan Aera untuk dilingkarkan di perut nya, sekedar menahan Aera agar tidak terjatuh.
Cukup pelan Azka mengendarai motor, tidak ingin sampai mengganggu tidur Aera. Tampak begitu lelah terlebih dengan kantung mata yang terlihat panda tidak seperti biasanya.
Semula hanya satu tangan nya yang melingkar di perut Azka tetapi tiba tiba Aera melingkarkan kedua tangannya masih dalam pejaman Aera memeluk Azka dengan erat, menyamankan posisi nya.
Azka tertundak sesaat memperhatikan Aera yang memeluknya dengan erat.
Azka membiarkan, sendiri nya pun tidak keberatan dengan apa yang dilakukan Aera, karna Azka merasa nyaman dan memahami dengan Aera yang membutuhkan nya.
Saat bertemu Aera pagi tadi di jalan, dengan Aera yang tertunduk menghelai nafas beberapa kali, dan saat Aera menatap Azka, glagat nya yang berbeda, Azka sudah memahami ada yang tengah terjadi dengan Aera.
Saat seseorang memaparkan keadaan baik dan ceria nya bukan berarti dia baik baik saja. Tatap matanya dan rasakan kekosongan dan perbedaan nya, semua akan lebih jelas dari sekedar kata "baik baik saja".
Ada kalanya untuk beberapa orang atau malah untuk setiap orang saat mengatakan 'baik baik saja' dia berbohong, bukan karna tidak membutuhkan sandaran dan di dengarkan, hanya saja dia ragu, malu atau malah takut jika malah keterbukaan nya menjadi bahan tertawaan untuk orang yang salah dia percayai. Ada banyak orang yang bertanya bukan karna dia memperdulikan nya tetapi sekedar ingin tau dengan rasa penasaran nya.
Sudah berada di teras rumah Aera dengan mba Ana yang tengah menyapu di depan.
Mba Ana menghampiri Azka yang baru saja mematikan motornya, dilihatnya Aera yang tertidur di pundak Azka.
"Siang mba Ana?"
Sapa Azka masih dengan posisi nya menahan Aera.
"Iya siang, ini Aera kenapa?"
Berada di samping Aera ikut memegangi nya.
__ADS_1
"Ketiduran mba, mau saya bangunin aja atau mau saya gendong kedalam?"
"Di gendong masuk aja bisa ngga?"
Memperhatikan Aera yang tampak begitu nyenyak terlelap seperti orang yang kelelahan.
"Bisa mba, mba bantuin tahan Aera sebentar ya biar saya bisa pindahin di punggung saya"
Sudah berada di gendong Azka dalam tidur, tidak menyadari dengan apa yang Azka lakukan kali ini untuk nya.
Menidurkan Aera dengan begitu hati hati dan menyelimuti nya.
Azka keluar dengan di antar mba Ana sampai di depan pintu, keduanya berhadapan.
"Makasih ya udah mau repot repot anterin Aera"
"Sama sama mba kalo gitu saya pamit"
"Hati hati ya"
Beranjak dari rumah Aera untuk kembali ke kafe. Tetapi dalam perjalanan nya sebuah mobil mewah dengan seseorang didalam nya yang Azka kenalin hampir membunya celaka. Dari arah yang sama mobil itu terus saja berusaha menyerempet motor Azka, untung saja Azka dapat menghindari nya. Mobil itu yang kembali melaju dengan kencangnya, mengabaikan Azka.
Azka menepi memperhatikan mobil mewah itu melaju kencang hilang dari pandangan nya. Azka menghelai nafas dengan tatapan dan ekspresi yang sudah berbeda.
Hamparan gelap, Aera kembali ketempat ini untuk kesekian kalinya.
Aera melangkah mengikuti kemana jejak kakinya. Terhenti saat Aera melihat sebuah ruangan kecil yang begitu redup dengan seorang pria yang tengah berbaring tidak sadarkan diri.
Dalam pejaman ketidak sadarnya pria itu menetaskan air mata tepat saat Aera sudah berada di sampingnya.
Entah apa yang terjadi dada Aera menjadi sesak dirasakan nya, tatapan nya ikut menetes deras dengan Aera yang memperhatikan nya. Semakin lama memperhatikan dadanya semakin sakit dirasa. Aera terjatuh dengan dadanya yang sudah begitu sakit tidak tertahan.
Aera bangun membuka mata dengan terkejud nya. Dadanya dirasa tidak nyaman terlebih dengan keringat yang bercucuran di kening Aera.
"Hhhhh...hhhhh..."
Aera duduk terdiam dalam lamunan memikirkan dengan apa yang sebenarnya terjadi, aneh nya saat terbangun Aera tidak dapat mengingat wajah pria yang terbaring tidak sadarkan diri dalam mimpinya.
"Mmm udah bangun?"
__ADS_1
Mba Ana saat membuka pintu dan melihat Aera yang tengah duduk dengan tatapan kosongnya.
"Aera?"
Mba Ana diabaikan, dengan Aera yang belum menyadari keberadaan nya.
"Hey"
Mba Ana ikut duduk di hadapan Aera. Memperhatikan Aera yang tengah terdiam dalam lamunan nya.
"Mba Ana"
Melebarkan tatapan nya saat sadar mba Ana sudah berada di hadapannya.
"Mikirin apa sampe bengong gitu, mba sampe di cuekin"
"Maaf mba, Aera ngga tau kalo ada mba"
Aera dengan tersenyum.
"Iya ngga papa, kamu mandi terus makan"
"Mmm"
Aera tersenyum mengangguki.
Mba Ana tersenyum bangun dari duduknya.
"Oh iya ko Aera tiba tiba udah ada di kamar ya mba?"
Tanya Aera ingat saat terakhir masih berboncengan bersama Azka.
"Kamu di motor nyender terus tidur, Azka sampai bawa motor sambil megangin kamu dan udah sampe dia juga yang gendong kamu masuk"
Jelas mba Ana sebelum berbalik keluar.
Pipi Aera yang berubah memerah mendengar penjelasan mba Ana, tersenyum begitu lebar dengan memperlihatkan deretan giginya.
"Kalo dipikir pikir gua udah sering banget ngerepotin dia"
__ADS_1
Gumam Aera pada dirinya sendiri.
Tampak nyata keberadaan seseorang yang berada untuk nya. seperti menjaga dan memberikan ketulusan yang ada. Setelah diberikan banyak kebaikan ingin rasanya Aera membalas dengan banyak hal yang sudah Azka berikan dan lakukan untuknya. Terlebih akan nalurinya yang terus meminta nya untuk memberikan sesuatu untuk Azka bukan sekedar membalas budi tapi lebih dari pada itu.