
Terbaring di atas tempat tidur dengan tatapan kosong, di antara kamar nya yang gelap karna lampu kamar yang belum dinyalakan, hordeng dan jendela pun belum Aera tutup setelah matahari terbenam, menjadikan malam semakin berada dekat.
Hal konyol yang dilakukan nya kepada Titan terus saja kembali terulang ulang dalam pikiran nya. Menjadi sesak dan begitu malu setiap kali mengingat hal konyol yang dilakukan nya.
Berada celah menjadikan Sia, Azka berada masuk dalam pikirannya.
Perkara melepaskan dengan mba Ana dan Ayah yang pergi dan hilang, Tuhan sudah membuat Aera berada kembali dengan perkara rumit dan sulit. Dimana Aera harus memilih dan kembali membuat keputusan, persahabatan nya kah atau cinta nya.
Tetapi ada yang salah di rasakan Aera.
Persahabatan? Sia menjadi berbeda, menjadi jauh dari pandangan dan genggaman nya. Terlebih disaat keberadaan Aera tengah terpuruk rapuh seperti ini, dia malah mengutarakan prasangka yang tidak benar adanya. Menjadikan Aera beranggapan Sia meragukan nya, Sia tidak lagi mempercayai nya dan Sia menjadikan Aera asing dengan Sia yang tidak mengenal dengan seperti apa Aera.
Cinta? Perasaan nya terhadap Azka, entah lah Aera mulai meragukan pengakuan nya. Setelah tau Azka mengabaikan dirinya karna Sia, dan dengan Titan yang malah berada disisi nya, dan menguatkan nya.
Terlebih dengan tekad Aera yang berani mencium Titan begitu saja.
"Tok..tok.. tok..."
Mama mengetuk pintu kamar Aera dengan membawakan nampan berisikan bakpao dan segelas susu.
Aera yang tengah terdiam dalam pikiran nya pun tersadar menoleh menatap ke arah pintu.
"Mama bawain bakpao sama susu, kamu makan ya?"
Seru Mama, belum dengan Aera yang menjawab ketukan nya.
Aera masih berada dengan posisi nya, terbaring sekedar menoleh dan memperhatikan pintu tanpa beranjak untuk membukanya, menyaut ucapan mama pun tidak.
"Aera?"
Seru Mama memastikan.
Mama pun terdiam sesaat, memahami dengan Aera yang masih berada kecewa kepadanya.
"Yaudah kalo emang kamu ngga mau buka pintu nya, ngga papa. mama taro nampan nya di depan pintu, kamu makan ya jangan sampe ngga dimakan"
Meletakkan nampan tepat di depan pintu, memperhatikan pintu kamar Aera sebelum beranjak pergi turun.
Ada yang menjadi sesal, ada yang dirasakan Aera seperti rasa bersalah telah mengabaikan Mama tanpa membiarkan nya untuk lebih dulu menjelaskan. Jika dipikirkan lagi, mama mungkin awal dari semuanya bermula tapi bukan berarti mama tidak menjadi terluka tidak menjadi korban dari ini semua. Seharusnya Aera lebih mengerti setelah dengan semua yang Aera ketahui. Seharusnya Aera lebih membuka telinga dan hati untuk mendengarkan dengan hal hal yang akan menambahi, melengkapi dari semua cerita yang sudah diketahui nya. Berada ikut mendekap mama seharusnya yang Aera lakukan.
Aera beranjak bangun membuka pintu mengambil nampan yang berada tergeletak dibawah, untuk dibawa Aera kembali turun.
Aera menghampiri mama yang tengah duduk termenung di ruang tamu dengan tatapan nya yang tertunduk dalam lamunan.
Mama menoleh menatap Aera setelah dengan suara nampan yang diletakkan di atas meja.
"Aera"
Seru Mama menatap Aera yang berada duduk di samping nya, menjadi tidak mengerti dengan Aera yang membawa kembali turun nampan yang diberikan nya.
"Kenapa ngga dimakan?"
Lanjut Mama memastikan.
"Kita makan sama sama ya"
Seru Aera dengan meraih dua bakpao dari atas nampan, satu untuk nya satu lagi disodorkan kepada mama.
Mama tersenyum meraih nya.
__ADS_1
"Makasih ya sayang"
Seru Mama dengan tatapan nya yang menjadi berkaca-kaca.
Aera tersenyum mengangguki nya.
"Jadi Om Adnan itu_"
Belum selesai dengan kalimat nya Aera sudah lebih memotong ucapan mama.
"Kita bahas itu nanti ya, sekarang kita makan bakpao nya dulu, mumpung masih anget"
Aera dengan tersenyum menatap mama kembali dengan tatapan hangat nya.
Mama tersenyum mengangguki nya.
Keduanya mulai melahap dua bakpao dengan lahap nya. Rasa hangat dan manis dirasakan keduanya, begitu pun untuk hubungan yang mulai dirasakan kembali membaik, dengan Aera yang mengalah dengan rasa egois nya.
"Mama cuman beli segini?"
Tanya Aera dengan mulut nya yang tengah sibuk mengunyah dengan bakpao yang berada penuh didalam mulut nya.
"Mama beli banyak ko, biar mama ambil sekalian kita minum soda pasti enak"
Mama beranjak bangun dari duduknya, menjadi ceria dan kembali bersemangat.
Aera tersenyum lebar mengangguki nya.
Mama kembali dengan nampan yang berbeda, berisikan bakpao yang masih terlihat hangat dengan asap yang masih dapat dilihat Aera. Dan dengan satu botol cukup besar berisikan soda dengan dua gelas.
"Wow"
Seru Aera ikut menjadi senang dengan sajian lezat kesukaan nya.
Aera menyandarkan kepalanya di pundak mama dengan meluruskan kaki nya di atas sofa.
"Nah mama bisa ceritain semuanya sama Aera"
Setelah dengan perut nya yang kenyang dan dengan sandaran hangat, begitu nyaman dirasakan, sekarang saat nya Aaera mendengarkan dengan seperti apa cerita sebenarnya. Agar dirinya tidak terus menjadi marah dan kecewa kepada mama.
Mama menarik kedua sudut bibirnya, sembari mengusapi rambut Aera.
"Om Adnan itu memang Kaka nya Mama, dulu saat jaman nya Mama sekolah mama begitu akrab dengan Adnan, dan Hanan ayah kamu. Adnan dan Hanan mereka berdua bersahabat dengan sangat baik, melebihi seorang sodara. Sampai akhirnya kesalahan kami lakukan tanpa sengaja, menjadikan semua berantakan. Dan akhirnya kami memilih untuk berada sendiri sendiri, dan baru baru ini Om Adnan datang menghawatirkan mama dan merindukan mama"
Mama mencoba kuat, menahan tangis dan mengendalikan diri, memperlihatkan dirinya baik baik saja di hadapan Aera.
Ada yang mengenai hatinya setelah dengan apa yang mama ceritakan.
Ikut menjadi sakit dan terlalu, membayangkan bagaimana hari hari sulit yang mama lalui seorang diri dengan keberadaan dirinya didalam perut mama.
"Lantas kenapa mama ngga mengenal kan Om Adnan dengan kenyataan nya?"
"Mama pikir semua akan menjadi semakin rumit, dan menjadikan kamu menciptakan banyak pertanyaan jika mama memberi tahu kamu kalo Om Adnan Kaka nya Mama"
"Mama cuman ngga mau, banyak hal menjadikan kamu pusing memikirkan nya"
Aera kembali diam, memahami dengan penjelasan dan alasan yang mama berikan.
Aera bangun dari posisi nya, dan menatap mama.
__ADS_1
"Maafin Aera ya ma, yang ngga memahami niat baik mama"
Seru Aera dengan rasa bersalah nya.
Apa yang mama lakukan hanya mencoba memberikan yang terbaik untuk Aera.
"Engga papa sayang, kamu udah mau denger dan ngertiin mama sekarang, mama udah seneng ko"
Seru Mama dengan menjatuhkan air matanya, sembari mengusap pipi Aera.
Aera ikut mengusap pipi mama sekedar mengusap air mata yang berada jatuh dipipi.
Aera yang kemudian memeluk mama dengan erat nya.
Kunci sebuah hubungan adalah, terbuka dan saling mendengarkan. Menjadi seberapa dekat apapun tanpa keterbukaan semua seperti bangunan yang saling berada berdampingan dengan tembok tembok tinggi yang menghalangi.
Setelah dengan suasana haru yang mereda dan dengan pelukan keduanya yang dilepaskan, Aera kembali ke posisi nya, berada menyenderkan kepalanya dipundak mama dengan meluruskan kaki nya.
"Ma?"
Seru Aera.
"Mmm?"
Jawab Mama sembari mengusap lembut kepala Aera.
"Mana yang lebih berarti buat Mama? Sahabat kah, atau cinta kah?"
Tanya Aera berada kembali ingat dengan persoalan nya yang melibatkan Sia dan Azka.
"Dua duanya sama pentingnya, dan sama berarti nya"
Lanjut Mama dengan jawaban yang sesuai dengan apa yang berada dipikirkan nya.
"Kalo mama harus milih salah satunya, mana yang akan mama pilih?"
Mengutarakan, menceritakan lebih banyak kepada mama. Menjadikan mama sebagai seseorang yang Aera percaya untuk menggantikan keberadaan mba Ana.
"Mmmm, mama akan pilih mana yang lebih mama butuhkan, entah itu cinta, entah itu sahabat"
"Sahabat yang ingin mama pilih, meraguakan mama, menjadikan mama seperti orang asing dalam padangan nya. Sedangkan cinta, seseorang yang mama cinta adalah seseorang yang dicintai juga oleh sahabat mama, dia juga berada dekat dan menjadi seseorang yang dibutuhkan oleh sahabat mama. Lantas harus bagaimana mama menanggapi nya?"
Tanya Aera, setelah dengan pertanyaan nya menjadikan hatinya seperti meretak sakit dirasakan.
Mama tersenyum tipis, memahami dengan alasan Aera menanyakan hal seperti ini kepadanya. Karna Aera berada dalam keadaan yang baru saja Aera ceritakan.
"Mama akan membiarkan, memilih salah satu diantara dua keraguan akan menjadikan hati tidak akan tenang dengan seperti apapun yang menjadi pilihan"
Aera kembali bangun menatap mama dengan tatapan penuh nya.
"Itu artinya mama akan kehilangan dua duanya"
"Mungkin iya, mungkin juga tidak"
Mama tersenyum menatap Aera, dan kembali mengulurkan tangan nya untuk mengusap pipi Aera.
"Jika memang keduanya hilang itu artinya dua dua nya bukan untuk mama, tapi kalo salah satu tetap ada atau bahkan dua dua nya tetap ada buat Mama itu artinya dua duanya berada mementingkan mama. Tapi kalo kita bersikeras memilih salah satunya, itu mungkin akan menjadi dampak untuk satu yang lain nya, dan mungkin akan menjadi berkepanjangan. Jadi mama mau ambil yang sederhana nya aja"
Jelas mama dengan kata-kata panjang nya.
__ADS_1
Aera tersenyum menatap hangat mama. Menjadi terbuka dan bercerita kepada nya menjadikan Aera merasa lebih lega.
Kata kata yang mama katakan dipahami Aera dengan sangat baik.