Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
9


__ADS_3

Bel masuk kelas berbunyi, siswa dan ketiga manusia yang tengah berbincang setelah menghabiskan makanan nya harus membubarkan diri untuk kembali ke kelas masing-masing.


Semula masih berjalan berdampingan berjejer sebelum Fina menghentikan langkahnya dan memisahkan diri dari kedua sahabatnya.


"Lo pada duluan aja gua mau ke toilet dulu"


Fina yang kemudian berbalik membelakangi dan bergegas pergi,di antara rasa tidak nyaman dalam perasaanya.


"Gua juga ah mau ke toilet, lu mau ikut?"


Lanjut Aera setelah memperhatikan Fina yang berlalu.


Sia mengerutkan dahi menatap Aera dengan tatapan sinis nya.


"Kencing kencing aja sono ngapain ngajak ngajak"


"Yah setres! Nanti giliran ngga di ajak di sangka ngga inget temen"


Jelas Aera balik kesal.


"Yah ****** aja, ngapain ngajak ke toilet? ? Minta di cebokin lo?"


Sia tertawa dengan setiap kata 'setres' yang Aera ucapan.


"Cebokin dong, mau"


Aera tersenyum dengan ucapan nya yang terdengar manja.


"Cabut ke lo sono enek banget deh"


Kali ini Sia dengan tatapan serius nya.


Aera terdiam dengan tatapan tajam dan rasa kesal juga emosi yang sudah memanas. Tangan nya yang kemudian terangkat cepat terarahkan ke bagian lengan tangan Aera dan di cubit kencang sampai Sia terklojot kesakitan.


"Becanda doang ya ampun Ra, sakit banget ini, bawaan nya masih geregetan aja kalo masih berasa, pengin bales gitu"

__ADS_1


Sia yang tengah menahan sakit juga menahan emosinya, niatnya bercanda malah dibuat seperti ini. Kelemahan nya di lengan tangan nya malah dibuat senjata untuk Aera.


Aera tertawa diantara rasa lega dengan emosi yang mereda juga rasa iba melihat Sia yang kesakitan. Setelah beberapa waktu bekas cubitan Aera akan berbekas biru dengan kadang sakit nya pun masih tertinggal dengan beberapa hari.


"Makan nya besok besok jadi orang jangan kebanyakan becanda, udah gua mau toilet"


Aera berbalik bergegas menyusul Fina ke toilet.


"Dasar manusia ngga jelas"


Teriak Sia kesal dengan menahan sakit.


Aera menghentikan langkahnya berbalik menatap Sia dengan tersenyum.


"Bodo Amat"


Singkat Aera yang kemudian kembali berbalik melanjutkan langkahnya.


Fina tengah berdiri bercermin menatap diri nya di cermin di depan Westefel.


Fina baru menoleh menatap Aera setelah mendengar krucukan air yang tengah di mainkan Aera.


Aera ikut menoleh tersenyum memperhatikan Fina. Jadi tatapan Fina pada cermin hanya tatapan semu karna terisi penuh dengan lamunan sampai Fina tidak menyadari kehadiran Aera yang bahkan sempat berdiri di belakangnya.


"Kenapa?" Mood nya lagi ngga enak?"


Lanjut Aera to the poin, dengan pertanyaan yang mewakili rasa peduli khawatir juga penasaran nya.


"Biasa aja"


Singkat Fina dengan tatapan kosong dan ekspresi datar nya.


Penjelasan singkat yang menjadi kalimat biasa yang di ucapkan Fina sebagai perwakilan untuk perasaan nya yang sedang tidak baik namun tidak ingin dijelaskan nya.  Kalimat yang sangat Aera tidak suka, kalimat sederhana yang sering kali mematahkan kata kata yang sudah di sajikan nya.


Aera terdiam mendengar jawaban Fina, setelah nya mengangguki dan mengalihkan tatapannya untuk menatap dirinya dari cermin.

__ADS_1


"Perasaan itu menyebalkan, berubah ubah dengan mudahnya meski kadang hanya karna satu perkara sepele. Tetapi di balik mudahnya kita merasakan perasaan yang berubah-ubah bisa menjadikan kita lebih peka dengan perasaan sendiri atau pun perasaan orang lain"


"Ngerti apa sih lo soal perasaan, soal kepekaan? Udah pernah atau udah sering buat peka sama perasaan orang lain atau setidaknya sama perasaan orang terdekat lo deh, ngga guna kalo cuman bisa ngerti perasaan sendiri tapi ngga bisa ngerti perasaan orang lain"


Fina yang kali ini memaparkan dengan jelas kemarahan nya, dengan ekspresi yang sudah berbeda dengan jawaban yang di ucapkan dengan cepat.


"Hah..?"


Singkat Aera terkejud dengan Fina yang menjadi emosi.


Fina terdiam memejamkan matanya seketika dengan menghelaikan nafas.


"Lo kenapa? Gua ada salah? Ada nyinggung lo? Atau apa? Lo kenapa?


Aera dengan pertanyaan pertanyaan nya. Memperhatikan Fina dengan bingung nya.


"Ngga papa Ra, sorry gua ga ada maksud. Ngga usah terlalu lo pikiran ya"


Lanjut Fina menghadap Aera, menatap hampa dan kosong dengan tatapan nya.


Aera mengendalikan diri memahami Fina yang mungkin saja memang sedang memiliki masalah. Aera tersorot menatap dengan tatapan penuh rasa, dengan senyum tipis di wajahnya.


"Lo tau kan, diluar dari kehidupan gua yang sebenarnya, gua cuman punya Sia dan lo. Apapun yang saat ini memenuhi isi kepala lo, Gua berharap itu bukan satu hal yang buruk yang bisa buat persahabatan ini jadi berantakan"


Aera lebih dulu membuang tatapan nya dari Fina sebelum bergegas keluar meninggalkan Fina.


Waktu menjadi wadah dan tempat untuk setiap kisah dan juga rasa.


Tidak selama nya indah tidak pula selama nya baik baik saja, silih berganti seperti itu lah peraturan nya.


Semua akan kembali dengan apa dan seperti apa kita menanggapi dan menjalani setiap hal. Tetapi jangan jadikan hal yang tidak menyenangkan menjadi alasan untuk merusak sebuah hubungan, terlebih persahabatan jangan pernah. Sudah susah payah menyatukan diri satu dengan beberapa lengkap dengan kepribadian yang berbeda, bertahan bukan hanya untuk sehari tapi sampai bertahun-tahun. Akan percuma jika putus sebuah hubungan karna suatu alasan.


Aera menghelai nafas sesak. Apa ada kesalahan yang dibuatnya sampai membuat Fina menjadi seperti ini, dugaan yang saat ini memenuhi isi kepalanya. Ketakutan jika karna ini persahabatan nya menjadi tidak baik.


Seperti ini lah Aera, terlalu menanggapi banyak hal dengan perasaan dan prasangka terkadang atau sering kali di ikuti dengan ketakutan yang tidak beralasan. Pikirannya terlalu jauh untuk setiap hal yang melintas dalam pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2