
Aera bersiap untuk pergi dengan Azka sesuai rencana.
Aera tampak cantik dan rapih dengan rok pendek dengan motif kotak kotak bergaris warna abu abu dengan garis garis coklat dan hitam dengan atasan rajut lengan panjang warna merah marun yang di masukan di dalam rok.
Dilengkapi dengan tas selempang warna hitam. Rambut yang tergerai seperti biasa tetapi kali ini Aera mencatok nya dibagian ujung rambut sekedar membuat rambut nya sedikit bergelombang.
Jam 18:00 Azka mengetuk pintu, dengan mba Ana yang membukanya.
"Malam Mba"
Sapa Azka tersenyum begitu ramah.
"Malam"
Mba Ana yang balas tersenyum.
"Mau keluar sama Aera ya?"
Tanya Mba Ana memastikan.
"Iya Mba"
"Masuk dulu, mba panggilin Aera nya"
"Disini aja mba, Makasih"
Mba Ana yang tengah memanggilkan Aera, Azka menjauh menunggu Aera di teras rumah dekat jalanan.
"Ko nunggu nya disini, kenapa ngga masuk"
Aera menghampiri Azka yang tengah membelakangi nya saat ini.
Azka berbalik menatap cantik Aera, begitu sempurna tampilan nya malam ini.
"Beda"
Singkat Azka tersenyum, melontarkan sebuah kata.
"Hah?"
Singkat Aera tidak paham dengan ucapan Azka.
"Kenapa tampilan gua aneh ya"
Lanjut Aera dengan tatapan Azka yang memperhatikan nya.
"Mmm, jauh lebih cantik"
Aera tersenyum memperlihatkan deretan giginya, degup jantung nya berirama kencang setelah mendengar Azka yang memuji nya.
"Mau jalan sekarang?"
Aera dengan menoleh ke kanan dan kiri mencari mobil atau motor Azka.
"Kita pake taksi, ngga papa kan"
__ADS_1
Jelas Azka setelah melihat Aera yang menoleh kekanan kekiri.
"Mmmmmm, kita jalan kaki aja"
Minta Aera dengan tersenyum.
"Mm? Serius mau jalan kaki? Tampilan lo udah perfek gitu"
Azka dengan melebarkan tatapan nya.
"Emang nya kenapa? Udah ayo jalan keburu malem nanti"
Keduanya menyusuri jalanan dengan langkah yang sama. Di isi dengan begitu banyak obrolan dan sering kali dengan candaan.
"Sorry ya Ra gua ngajakin lo jalan tapi malah jalan kaki gini"
Azka dengan rasa tidak enak nya.
"Pasti lo nyesel jalan sama gua"
"Mmm tadi nya sempet kaget dikit, lo ngajakin gua keluar tapi ngga bawa kendaraan apa apa. Ini pertama kali nya sih"
Jelas Aera dengan sedikit tertawa.
"Sorry ya Ra"
Azka dengan menghentikan langkahnya, menghadap Aera.
"Dari awal gua ngliat lo yang ngga biasa dengan kebiasaan lo yang selalu senyum dan ketawa dengan mudah nya, lo yang terkesan baik dan ramah karna itu gua kasih nomor Handphone gua dan akhirnya gua mau keluar jalan sama lo"
"Sorry_"
"Dannn.. Sekarang pun lo bikin gua menatap lo dengan cara yang beda. Saat lo ngikutin gua di JPO, dan saat sekarang ini, aneh. Gua maafin lo, kenapa? Karna setiap jalan dan ngobrol sama lo, gua ngrasa nyaman. Lo asik, lo nyenengin dan lo pendengar yang baik"
Aera dengan mempertemukan tatapan keduanya menatap dengan waktu yang cukup lama.
Keduanya kembali melanjutkan langkahnya berhenti di sebuah warung lesehan. Keduanya memesan dua jagung bakar dengan dua mangkuk sekuteng. Duduk bersebelahan beralaskan tikar di atas rerumputan.
Azka melepaskan jaket nya untuk menutupi rok Aera yang terlalu pendek.
"Makasih"
Ucap Aera setelah Azka menutupi roknya dengan jaket.
"Kalo menurut lo, gua gimana"
Tanya Aera dengan kepalanya yang di tenggakan sedikit sekedar untuk memperhatikan hamparan langit gelap dengan beberapa bintang.
"Unik, menarik"
Azka dengan jawaban singkatnya, ikut mendengakan kepala nya memperhatikan hamparan langit.
Aera segera menoleh menatap Azka penasaran dengan penjelasan nya.
"Unik nya? Dan menarik nya?"
__ADS_1
Azka ikut menoleh mempertemukan tatapan nya dengan Aera.
"Unik nya dari kepribadian lo. Sedangkan menariknya dengan lo yang begitu sempurna dan cantik"
Aera melebarkan senyuman nya, kali ini ada yang tidak biasa. Dugup jantung nya yang berirama kencang.
"Emang kepribadian gua gimana?"
"Ini pesanan nya ya mas,mba silahkan dinikmati"
Penjual dengan menyuguhkan pesanan, meletakkan nya di atas meja di hadapan Aera dan Azka.
Azka yang langsung menyendoki sekuteng menikmati nya tetapi lebih dulu ditiupnya karna masih sangat panas.
"Ko ngga di jawab"
Aera yang memperhatikan Azka menikmati pesanan nya.
"Kapan kapan aja di jawab nya"
Dengan sesendok sekuteng yang sudah masuk di mulutnya, dengan kacang yang sedang dikunyah. Rasanya gurih, manis dan begitu hangat suasana dan suguhan yang dinikmati sangat lah serasi.
"Ko kapan kapan, kenapa ngga sekarang aja"
Aera yang mengabaikan pesanan nya sibuk dengan rasa penasaran, masih memperhatikan Titan.
"Stok topik pembicaraan biar next time bisa keluar lagi"
Jelas Azka menjeda sebentar dirinya yang tengah menikmati sekuteng, sekedar untuk menatap Aera dengan senyum tipis nya.
Aera terdiam tidak lagi berbicara, menikmati sesaat dengan sorotan mata Azka yang menatap nya.
Aera tertuju dengan pesanan nya, memakan jagung bakar dengan kembali berbicara dengan obrolan lain nya.
Apa yang menarik dari mereka yang sering kali menuang senyum dan tawa dengan begitu mudahnya.
Ini untuk kebanyakan orang bukan untuk semua orang. Banyak dari mereka mudah tersenyum dan tertawa dengan menahan diri atas semua luka dan bahkan derita yang mungkin saja sedang dihadapi nya.
Alasannya sederhana mereka hanya ingin terlihat baik baik saja tanpa ada satu pun orang yang menertawai nya karna sebuah luka dan derita yang ada.
Semua manusia terlahir sebagai orang baik, tetapi saat tumbuh dan dewasa banyak yang menjadi seseorang yang suka menjatuhkan, melukai atau lebih parahnya lagi bahagia di atas penderitaan orang lain. Karna itu manusia sering kali memiliki musuh dalam persinggahan nya di bumi.
Ada banyak cara untuk mempertahankan diri tanpa mendendam. Sederhana nya introspeksi, menjadi yang lebih baik dan bertahan untuk baik baik saja.
Setelah cukup lama terpaku di atas sebuah tikar dengan pesanan yang sudah habis di nikmati keduanya kembali berjalan sembari menikmati gulali yang dibuat seperti gumpalan serabut. Rasanya begitu manis dan cepat meleleh saat di makan.
"Gimana rasanya manis kan kaya gua gini loh"
Aera yang memperhatikan Azka yang sedang mencicip gulali yang dipegangi nya.
"Mmm manis banget iya kaya lo Ra"
Azka yang mengangguki dengan tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
Aera mendengar nya malah tertawa di ikuti pula oleh Azka yang ikut tertawa.
__ADS_1
Orang asing yang menyenangkan, saat ini pandangan Aera kepada Azka.
Dia yang ikut tertawa dan mendengarkan tanpa tau seperti apa kehidupan Aera yang sebenarnya, rasanya sempurna, kenapa? Karna dapat tertawa bercerita dengan leluasa tanpa perlu merasa malu dengan dirinya dan takdir hidup nya.