
Aera dan Adnan berhenti disebuah kafe. Keduanya duduk disatu meja dan saling berhadapan.
"Kamu mau apa?"
Tanya Adnan kepada Aera.
Aera yang semula berada dengan tatapan nya yang tertunduk, mengangkat pandangan nya dan menatap Adnan.
"Apa aja"
Seru Aera dengan singkat.
"Dua latte"
Seru Adnan kepada pelayan yang sudah berada berdiri di samping meja nya.
"Ada lagi?"
Tanya pelayan setelah mencatat pesanan Adnan.
"Itu aja dulu"
Pelayan berlalu, tidak dibutuhkan waktu yang lama untuk kembali dengan nampan berisikan dua cangkir latte seperti yang dipesankan Adnan.
"Silahkan"
Seru Pelayan setelah meletakkan dua cangkir kopi di hadapan keduanya.
"Diminum"
Seru Adnan dengan keduanya yang sebelumnya sama sama terpaku diam.
Aera menarik kedua sudut bibir nya, mesti tanpa senyum yang di uraikan.
Maraih cangkir putih di hadapan nya dan menyeruput kopi dengan begitu pelan, sembari meniupi nya beberapa kali.
Begitu pun dengan Adnan yang ikut menyeruput kopi nya.
"Kenapa jam segini kamu malah keluyuran, sambil ngelantur ngga jelas lagi. Emang nya kamu ngga sekolah?"
Tanya Adnan setelah meletakkan kembali cangkir nya di atas meja, memperhatikan Aera dengan menyandarkan bahunya.
"Ada kala nya seseorang memang butuh beristirahat bukan?"
Jawab Aera kembali dengan uraian senyum nya, dengan jawaban yang seolah mewakili atas dirinya.
"Mmm"
Adnan terpaku melebarkan tatapannya dengan jawaban Aera barusan.
"Hhhe..."
Menghelai tawa setelah dipahami maksud dari ucapan Aera.
"Kamu ini emang pandai berbicara ya"
Cetus Adnan sembari tersenyum.
"Itu pujian atau hinaaan?"
Pertanyakan Aera dengan tidak memahami maksud cetusan Adnan kepada nya.
"Tergantung anggapan kamu"
"Jadi Aera juga boleh beranggapan atas permintaan Aera yang sebelumnya belum dijawab dan om malah ngajak Aera kesini itu artinya om akan menuruti nya, akan tetap tinggal disini disamping mama"
Terobsesi untuk benar menjadi hilang, beranggapan jika hilang nya nanti akan mempertemukan Aera kepada mba Ana dan Ayah. Dan untuk semua luka dan derita yang berada di rasakan nya akan hilang begitu saja.
"Setelah nya, kamu yang akan pergi"
Tidak habis pikir, benar dengan Aera yang tengah depresi sampai seolah mulai hilang akal atau benar menjadi tulus akan keinginan gila nya itu.
Aera tersenyum mengangguki nya, dengan sorot mata yang berkaca.
"Kamu sadar dengan apa yang menjadi keinginan kamu saat ini"
__ADS_1
"Kenapa? Om beranggapan Aera udah mulai gila?"
Mengartikan dengan maksud dari pertanyaan Adnan, tersenyum dengan memperlihatkan deretan giginya.
"Kalo bukan karna kamu yang mulai gila, keinginan kaya gini ngga mungkin ada"
Aera terdiam melunturkan senyumnya, dengan batin yang bergumam. Sejatinya seseorang yang dapat memahami dan mengerti kita adalah seseorang yang sudah pernah merasakan rasa sakit dan seperti apa berada di tempat yang sama.
Adnan, Titan, Azka atau siapapun yang mengatakan mereka mengerti Aera, mereka tidak benar benar mengerti, mereka sekedar paham tetapi tidak mengerti.
"Mmm"
Aera yang semula diam, mengangguki akan apa yang Adnan katakan.
"Aera depresi, hilang akal, dan sekarang seperti nya sudah mulai gila. Bahkan saat ini rasanya Aera ingin tertawa"
Lanjut Aera kembali tersenyum dengan lebarnya bahkan dengan tawa yang di perlihatkan nya saat ini, dengan tatapan yang kembali berkaca.
"Hhhhh...."
Helai nafas Aera setelah nya.
Aera yang kemudian bangun dari duduk nya.
"Kamu mau kemana?"
Tanya Adnan setelah dilihat nya Aera yang bangun dari tempat duduk.
"Aera harus pergi. Terimakasih buat kopi nya. Sama satu hal lagi, anggap aja Aera barusan emang lagi gila"
Seru Aera tersenyum, yang kemudian berlalu pergi.
Seperti tidak pernah melangkah lurus kedepan dengan baik, selalu saja menghentikan langkahnya setelah berada cukup jauh dari tempat nya berlalu. Kembali memejamkan matanya, menarik nafas dan menghembuskan nya untuk beberapa kali dengan cepat, dengan sesak yang dirasakan.
Setelah merasa lebih lega Aera pergi dengan mengenakan bus, pergi ke satu tempat.
Dalam perjalanan nya, didalam bus yang tidak terlalu ramai karna bukan jam orang-orang berangkat atau pulang bersekolah dan bekerja.
Duduk disisi kanan dekat jendela dengan sinar matahari yang mengenai nya, menyilaukan bola matanya. Sesekali Aera memejamkan matanya, dalam pejaman yang dirasakan hangat dan dengan pejaman yang bukan lagi gelap yang dilihat melainkan hamparan kosong yang dipenuhi cahaya terang.
Saat saat yang menyenangkan terlebih ditambahi dengan handset yang dikenakan dan senandung lagu melow yang didengarkan.
Momen yang tidak menyenangkan membawanya bertemu dengan seseorang. Mengingat itu menjadikan Aera senang, tersenyum senyum bahagia. Meski dilain sisi dalam hatinya ada yang meretak hampir patah, dengan pilihan yang telah Aera tentukan.
Menentukan bukan sekedar memilih, tapi juga memastikan ini itu dan mempertimbangkan. Mengesampingkan hatinya demi banyak hal nya.
Aera turun setelah sampai di halte yang sudah dekat dengan tempat yang akan di datangi nya.
Butuh berjalan kedalam beberapa menit untuk benar-benar sampai di tempat itu.
Setelah benar benar sampai Aera hanya berdiam diri didepan tempat itu, tempat yang merupakan cafe milik Azka.
Diam dan hanya memperhatikan, dengan pikiran, rindu dan banyak hal yang saat ini tengah dirasakan, bahkan batin nya kembali bergumam.
"Azka kenapa gua harus kecewa karna lo? kenapa harus lo yang Sia suka? kenapa malah Titan bukan lo yang selalu ada buat gua?"
Tertunduk setelah nya, merasakan kacaan air mata yang menggenang penuh dan mulai berjatuhan.
Azka yang baru saja meletakkan pesanan di meja pelanggan, menoleh dan menatap keberadaan Aera diluar sana tengah tertunduk.
Azka meletakkan nampan disembarang meja, dan bergegas keluar menemui Aera. Setelah berada dekat dengan Aera, Azka melihat tundukan yang saat ini berada Aera lakukan karna Aera yang tengah menangis. Menjadi ikut sakit dan terluka melihat Aera seperti sekarang ini. Menghampiri tanpa suara atau seruan, Azka langsung membawa Aera untuk berada dalam pelukan nya.
Aera memejamkan matanya, tau dengan siapa orang yang berada memeluknya. Berada dengan kedua tangan yang teruntai, tidak membalas untuk ikut memeluk Azka. Tapi Aera berada menderu dengan tangisan nya didalam pelukan.
"Jika ada kesempatan buat gua nebus saat saat gua ngga ada disaat lo butuh gua, gua pasti akan lakuin banyak hal, agar perasaan kecewa lo hilang karna gua"
Seru Azka dengan dekapan nya yang erat untuk memeluk Aera.
"Maafin gua Aera"
Lanjut Azka dengan perasaan sesal dan bersalah nya.
Aera mendorong Azka dengan pelan untuk melepaskan diri dari pelukan nya.
"Hhhhh.."
__ADS_1
Menghelai nafas sesak sembari mengusap kedua pipinya yang sudah dibasahi dengan banyak nya air mata yang berjatuhan.
"Maaf buat apa? Emang lo salah apa?"
Sekedar berbicara kepada Azka pun menjadikan matanya terus berkaca.
"Karna udah buat lo kecewa, karna ngga ada disaat saat keterpurukan lo, karna udah buat persahabatan lo sama Sia jadi ngga baik lagi"
Azka dengan kedua matanya yang juga menjadi berkaca.
"Gua minta maaf, Aera"
Seru Azka sekali lagi.
"Lo beneran minta maaf buat itu semua?"
Tanya Aera, sekedar memastikan dan setelah nya..
"Gua beneran minta maaf Aera. Andai waktu bisa berjalan mundur gua akan menata semuanya lebih baik lagi, gua ngga akan buat lo seperti sekarang ini"
"Tapi sayang nya ini bukan dunia dongeng Ka, dimana waktu ngga bisa berputar sesuka hati lo. Gua ngga akan menyalahkan lo atas apapun, atau menyalahkan siapapun. Kalo pun ada yang perlu di salahin itu gua, entah atas duka, rasa sakit, atau cinta segitiga ini"
Kata kata yang dikatan Aera menjadi kesal akan dirinya sendiri, akan keputusan yang sudah di tentukan dan masih berada ragu dalam benak nya.
"Kalo lo beneran minta maaf sama gua, apa boleh gua minta satu hal sama lo?"
Bersikeras dengan pilihan dan keputusan, dan semua dipertanyakan Aera lebih dulu sekedar mengulur waktu untuk menata hati nya.
"Mmm, apapun yang lo minta akan gua penuhi, Aera. Kalo itu bisa bikin lo maafin gua"
Aera mengulurkan tangan nya, menyentuh wajah Azka dengan tangan nya. Tersenyum Aera dengan begitu manis dan cantiknya meski dengan tetesan air mata yang berjatuhan.
"Wajah ini adalah milik laki laki yang pernah ada di hati gua. Ada banyak hal yang udah gua miliki bersama dia"
Azka menahan tangan Aera dengan memegangi nya.
"Apa maksudnya? Pernah ada di hati? Apa itu artinya gua udah ngga lagi ada di hati lo saat ini"
Aera menarik tangan nya untuk terlepas dari Azka.
Tersenyum dan mengangguki.
"Permintaan gua, lupain perasaan kita satu sama lain. Karna udah ada orang lain yang menerobos masuk kedalam hati gua dan menyingkirkan keberadaan lo. Semua bukan salah lo tapi salah gua yang ngga bisa buat jaga hati gua sendiri dan membiarkan siapapun untuk masuk kedalam nya. Lagi pula ada Sia yang jauh lebih mencintai lo saat ini dari pada gua"
Azka tertegun sejenak, seperti mimpi buruk yang tertampar kasar dengan kata kata Aera saat ini. Kaku seperti ingin bangun dari semua, tapi benar adanya.
"Aera"
Seru lirih Azka.
"Lo udah bilang kan akan nurutin apa yang menjadi kemauan gua. Dan ini kemauan gua. Maafin gua Azka"
Kembali menjatuhkan air matanya, dengan bibir yang masih memaksa untuk tetap tersenyum.
"Jaga diri lo baik baik ya"
Seru Aera yang kemudian berbalik melangkah menjauh dari Azka.
Azka mengejar Aera, menarik tangan nya dan membawa Aera untuk kembali dalam pelukan nya.
"Kenapa harus gaya gini, Aera?"
Aera kembali menumpahkan tangisan nya, kali ini sampai terhisak sesak.
Beberapa saat berada didalam pelukan Azka, Aera mendorong Azka untuk melepaskan nya.
"Apa karna Titan? Dia laki laki yang udah berhasil menyingkirkan keberadaan gua di hati lo"
Aera terdiam sibuk dengan tangisan nya, tidak tau dengan apa yang harus di katakan nya.
"Kalo bener Titan, lo salah melepas gua cuman karna dia. Lo tau dia siapa? Dia adik gua Aera, gua Kaka nya. Gua terusir dari rumah atas pilihan gua sendiri, dengan kepergian gua dari rumah menjadikan Titan memikul beban, tanggung jawab yang seharusnya gua yang menanggung nya. Dan saat ini dia ngeluluhin hati lo itu karna dia ingin merasa menang dari gua bukan atas perasaan tulus nya"
Deg... jantung nya melemah seketika bahkan dirasakan hampir berhenti berdetak. Seolah lemas tidak bertenaga, menjadi sangat terkejud dengan apa yang Azka katakan.
Aera menggeleng gelengkan kepala nya dengan tatapan yang menjadi kosong.
__ADS_1
"Ngga, ngga mungkin, Titan yang gua kenal ngga kaya gitu"
Aera berbalik dan kemudian berlari pergi dengan sangat kencang nya.