Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
15


__ADS_3

Gelap dan sepi, untuk sering kali Aera harus kembali ketempat ini. Tempat menakutkan yang meminta nya untuk datang.


Seseorang  menghampiri di antara gelap yang menyelimuti. Tidak memperlihatkan dengan jelas, hanya sesosok seorang pria yang dapat dilihat Aera.


"Dimana saya?"


(Dimana saya.. saya..saya) pantulan suara Aera.


Suara Aera menggema, seolah memantul di setiap sudut yang tertutup hamparan gelap.


Aera memutar pandangan nya, mengikuti jejak-jejak pantulan suara.


"Jangan siksa saya?"


Pelan suara pria yang berdiri di hadapan Aera, terdengar begitu menyedihkan.


"Saya tidak menyiksa siapapun"


(Saya tidak menyiksa siapapun..pun..pun..pun) Pantulan suara Aera.


Hanya suara nya yang menggema memantul. Wajah Aera pucat lemas gemetar ketakutan.


"Lepaskan saya, atau ikut dengan saya"


Lanjut pria tersebut, dengan perlahan lebih mendekatkan dirinya dengan Aera.


Aera memilih diam, takut dengan suara nya yang akan menggema bila kembali berbicara.


Tangan nya yang tiba-tiba di genggam erat dan dibawa pria itu lari.


Aera hanya diam membisu, menangis ketakutan, dengan berusaha melepaskan tangan nya dari genggaman pria tersebut. Pria tersebut terus berlari menarik tangan Aera dengan erat.


Sebuah cahaya seolah menerobos masuk, membuat tangan Aera terlepas dari cengkraman. Pria yang menarik tangan Aera pun hilang seketika dari hadapan nya.


"Ghhhhhhhhhhhh...ghhhhhhhhhhhh"


Aera membuka mata,diam dengan terpaku kaku, menarik nafas panjang di antara dekugupan jantung nya yang begitu kencang.


Mba Ana yang tengah membuka hordeng jendela pun terkejut melihat Aera, menghampiri dengan cepat.


"Aera? Aera bangun sayang, Ra, Aera"


Mba Ana dengan menepuk kedua pipi Aera.


"Ughhhhhhhhh"


Aera buka tidak sadar, dia hanya sedang terkejud,merasakan lelah dan dekup jantung nya yang kencang. Aera menghelai nafas panjang.


"Kenapa Ra? Mmmm? Minum dulu ya"


Mba Ana membantu mendudukan Aera dan menyodorkan segelas air putih.


"Kenapa, bisa kaya tadi kenapa Ra, ini juga kamu keringetan sampe basah gini"


Menatap dan memperhatikan Aera dengan begitu khawatir.


Aera mengusap tetesan keringat di keningnya, dan memperlihatkan nya.


Aera menggeleng kepala nya dengan pelan.


"ngga tau,mimpi atau kenyataan, bahkan rasa nya benar-benar nyata"


Ucap Aera pelan dengan tatapan nya yang kosong, memperlihatkan dan memegangi pergelangan tangan nya.


"Kita ke dokter sekarang ya, mba anterin"


Aera mengangkat pandangan nya menatap mba Ana.


"Ngga usah Mba, Aera mau berangkat sekolah aja"


"Aera"

__ADS_1


Tegas mba Ana,khawatir.


Aera tersenyum, berniat meredakan kekhawatiran yang dirasakan mba Ana.


"Aera cuman mimpi buruk mba, Aera lari jauh banget sampe Aera tersesat dan ngga tau gimana caranya buat pulang"


Jelas Aera, menggambarkan kejujuran yang ada dengan caranya sendiri, tidak memperjelas bagaimana mimpi yang sebenarnya.


"Mba masih lemes loh Ra, masih syok liat kamu kaya tadi"


Aera tersenyum memperhatikan deretan giginya.


"Cuman prank,dikit"


Mba Ana bangun sembari menghelai nafas dan menyubit lengan tangan Aera.


"Aaa.. sakit mba"


Gretu Aera kesakitan.


"Balasan karna udah bikin mba mau jantungan kaya tadi. Kalo becanda jangan kaya gitu ah mba ngga suka ya"


"Iya mba, maafin Aera ya udah bikin mba Khawatir dan ketakutan kaya tadi"


"Hhhh"


Mba Ana mengehelai nafas, tersenyum tipis.


"Yaudah mandi, rapih rapih mba tunggu di bawah"


Aera tersenyum manis, mengangguki.


Aera kembali memperhatikan pergelangan tangan nya, kali ini sembari di putar putar pelan pergelangan tangan nya, merasakan sakit yang memang nyata.


"Hantu?"


Tanya Aera pelan, dengan mengerutkan dahinya.


"Mana ada sih"


"Bodo amat lah"


Gretu Aera kesal.


Adakalanya sesuatu memang nyata hanya saja tergambar dalam ruang alam bawah sadar. Dimana kita tidak menyadari atau tidak mengakui apa yang di minta dan di inginkan perasaan terdalam kita.


Aera yang tengah terduduk di kursi depan rumah, sudah siap untuk berangkat sekolah tetapi Sia belum juga menjemput nya.


"Sia belom jemput juga"


Tanya mba Ana menghampiri.


"Beloman, mana udah siang lagi"


Jawab Sia dengan ekspresi wajah yang mulai kesal.


"Di telfon coba"


Aera yang mengeluarkan handphone dari kantong seragam nya.


"Halo, Sia? Dimana? Udah jam berapa? Kesiangan nanti ngga di bolehin masuk"


Crocos Aera jengkel, setelah tersambung kepada Sia.


"Iya Ra, sorry gua lupa ngasih tau lo, ban motor gua bocor ini gua baru sampe di bengkel mau langsung naik ojek ke sekolah"


"Ah lo ngga jelas banget deh, terus gua gimana"


"Jangan kaya orang susah apa, kendaraan kan banyak"


"Lo yang bikin susah" 

__ADS_1


"Namanya juga cobaan Ra"


"Iyaaa, yaudah"


"Hati hati Aera"


Tut.. sambungan di matikan.


"Sia ngga bisa jemput?"


Tanya mba Ana memastikan.


"Ban motor nya bocor mba. Aera langsung berangkat aja ya"


Aera dengan mengambil tas yang tergeletak di atas meja.


"Pesen taksi online aja ya, mendung takut ujan di jalan nanti"


"Nunggu lagi dong mba, Aera naik bus aja ya"


"Yaudah hati hati ya"


"Dah Mba"


Aera tersenyum dengan bergegas lari.


Setelah beberapa saat menunggu bus di halte hujan deras turun di ikuti dengan datangnya bus.


Setelah masuk di dalam bus Aera mengusap kepala dan seragam yang terkena beberapa tetesan hujan.


Bus penuh dengan semua kursi yang diduduki, bahkan Aera pun tidak bisa mendapatkan pegangan untuk menahan keseimbangan nya, karna itu Aera mendorong penumpang lain disaat bus mengerem secara mendadak.


"Maaf maaf"


Aera setelah tidak sengaja mendorong dirinya ke sisi belakang.


Satu pegangan di hadapan nya yang semula di genggam tiba tiba tangan nya menepi menyisakan sedikit bagian dan menyodorkan nya kepada Aera.


Aera meraihnya, satu pegangan tersebut di isi dua genggaman tangan, satu tangan Aera dan satu tangan milik seseorang di sisi kanan Aera.


Aera menoleh berniat akan berterimakasih, tetapi Aera di buat tercengang dengan seseorang yang tidak asing.


Aera tersenyum dengan pria yang saat ini tengah tersenyum memperhatikan Aera.


"Ketemu lagi kita?"


Kali ini deretan giginya memperlihatkan kharisma yang begitu mempesona.


Aera menatap nya dengan seksama.


"Azka?"


Aera memastikan.


Pria yang menemukan handphone Aera yang kemaren sempat terjatuh di bus. Tidak di sangka akan kembali di pertemukan di tempat yang sama.


Azka tersenyum mengangguki.


"Ngga nyangka bisa ketemu lagi"


Aera dengan tersenyum.


"Mmm, di tempat yang sama"


Lanjut Azka melengkapi ucapan Aera.


Aera tersenyum memperhatikan deretan giginya.


"Makasih ya, buat kemaren juga buat sekarang"


Aera yang memperlihatkan pegangan nya dengan sodoran wajah nya.

__ADS_1


Azka kembali tersenyum mengangguki.


__ADS_2