Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
32


__ADS_3

Tengah asik menonton TV ditemani mba Ana seseorang mengetuk pintu dengan mba Ana yang membukakan nya.


"Saya mau anter paket atas nama Aera"


"Sudah dibayar?"


Mba Ana dengan menerima kotak berukuran sedang.


"Sudah Ka, maaf saya antar nya kesorean ada masalah tadi di jalan"


Mba Ana mengangguki nya.


"Ra paket kamu nih"


Dengan menyerahkan nya kepada Aera.


"Paket? Paket apaan?"


Bingung Aera dengan memperhatikan kotak yang sudah berada di tangan nya.


"Atas nama Aera katanya"


Jelas mba Ana.


"Tapi Aera nggga ada mesen apa apa mba"


Dengan mencari letak nama pengirim nya.


"Langsung buka aja coba"


Aera merobek bungkusan kotak dan membukanya berisikan lampu tumblr berukuran cukup panjang.


Aera tersenyum memperhatikan, tau siapa yang memberikan nya.


"*Ini dari Sia mba"


"Lampu tumblr*?"


"Iya mau buat Aera pasang di kamar. Kalo gitu Aera pasang dulu ya"


Aera berlari ke kemarnya dengan membawa gulungan lampu tumblr yang akan dipasang nya di kamar.


Aera mematikan lampu di kamar nya tampak indah dan berkedip kedip dengan lampu tumblr yang menyala dengan banyak warna.


Aera merebahkan tubuhnya sembari memperhatikan lampu lampu tumblr yang telah terpasang di dinding kamar nya.


✉ Indirasia


"Gua di depan nih buruan turun kita makan ayam gepuk"


"10 menit gua turun, ganti baju bentar"


Balas Aera bergegas cepat bangun untuk berganti baju.

__ADS_1


"Ko ngga chat dulu kalo mau nyamper"


Dengan Aera yang tengah menghampiri Sia.


"Perlu banget emang? Kalo ngga mau gua sendiri?"


"Ko lu ngga jelas ya"


Sinis Aera.


Sia menyengirkan giginya.


"Bercanda. Udah ayo jalan?"


"Eh iya paket nya udah sampe thanks ya"


Aera dengan tersenyum begitu manis.


"*Mmm, gimana bagus ngga?"


"Bagus dong kalo Sia yang beliin mah*"


Aera yang kali ini memperlihatkan deretan giginya.


Sia tersenyum melihat perempuan yang tengah dibonceng nya tersenyum begitu senang.


Gerimis yang terjadi beberapa saat lalu menjadikan jalanan menjadi tampak sepi. Aera dan Sia sampai di tempat makan ayam gepuk dengan memesan satu potong ayam bagian dada dengan satu potong ayam bagian paha dengan tambahan tempe, tahu dan lalapan. Menikmati dan menghabiskan makanan tidak dibutuhkan waktu yang lama,dengan perut keduanya yang sedang lapar.


Setelah dari tempat makan ayam gepuk keduanya beralih ke sebuah cafe dengan menyusuri jalanan yang kembali gerimis rasanya menjadi begitu dingin terlebih dengan Aera dan Sia yang menggunakan kaos pendek. Rintikan gerimis menembusi baju keduanya.


Kedua nya Aera dan Sia memesan dua cangkir kopi. Dinikmati pesanan nya dengan menikmati rintikan gerimis. Meninggalkan kopi nya dimeja dan mendekatkan diri sekedar menadangi rintikan grimis untuk jatuh diantara telapak tangan Aera dan Sia. Aera menyipretkan air hujan yang menggenang di telapak tangan nya dibuat sampai membasahi wajah Sia.


"Nih tuh rasain"


Aera yang menyipretkan genangan air di tangan nya.


Sia tersenyum dengan mengelap wajahnya.


"Anjirr"


"Nih balasan gua"


Lanjut Sia yang membalas Aera.


Beberapa pengunjung yang tengah berada di meja nya masing-masing memperhatikan Aera dan Sia dengan tingkah yang mereka lakukan.


Sia balik membalas dengan menatap dengan judes. Ditatap dengan begitu judes nya oleh Sia membuat nya menjadi menunduk dan mengalihkan pandangannya.


Aera dan Sia tertawa memperhatikan.


"*Dia takut kali sama lo?"


"Ngga tau aja gua baik nya kaya gimana ya Ra*"

__ADS_1


"Mmm baik banget sampe tangan gua gatel mau ngeplak lo"


Aera tertawa dengan mengeplak lengan Sia.


Aera dan Sia tenang dengan candaan dan tawa yang mereda duduk dengan menaikkan kakinya untuk ikut berada di kursi sekedar memberikan kehangatan, sembari menikmati kopi yang telah di pesan nya.


Sekedar menghabiskan secangkir kopi saja membutuhkan waktu yang tidak sebentar karna sibuk dengan obrolan candaan dan tawa yang merekah di antara keduanya Aera dan Sia.


Ada beberapa hal yang tidak dapat di jelaskan dengan sekedar kata atau sajak kalimat. Sekalipun di jelaskan akan tertata begitu rumit, akan di mengerti oleh mereka yang memberi dan untuk nya yang menikmati. Tawa dan bahagia kedua hal yang tampak sederhana namun sulit di jelaskan.


"Eh iya tumben Fina ngga ikut? Apa ngga lo ajak"


Tanya Aera yang belum tau dengan alasan apa kali ini Fina tidak ikut gabung dengan keduanya.


"Gua beloman cerita ya? Dia lagi kumat. Biasa ada masalah nya sama siapa ngenain nya kesemua orang"


"Lu chat dia apa gimana?"


"Tadi kan gua kerumahnya dia keluar udah cemberut kesel gitu, terus di ajakin nya malah diem aja yaudah gua cabut"


"Ngertiin kali aja dia lagi ada masalah"


Sia mengangguki tanpa ekspresi.


Habis dengan secangkir kopi yang di pesannya dengan waktu yang sudah cukup lama di habiskan keduanya bergegas bangun untuk pulang meski masih dengan rintikan gerimis.


Keduanya Aera dan Sia melaju kencang dengan rintikan gerimis tiba-tiba di tengah jalan berubah menjadi hujan dengan derasnya.


"Kita neduh dulu apa gimana"


Tanya Sia dengan suara nya yang tidak kalah kencang dengan derasnya hujan.


"Lanjut aja kita ujan ujanan"


Jawab Aera dengan memeluk kencang Sia dengan begitu kedinginan.


"Lu enak ***** mata sama muka gua perih"


Dengan tetesan hujan yang seolah terjatuh kencang menusuk bahkan menampar pipi dan wajah Aera.


"Udah sih nanggung"


Aera dengan mengeratkan pelukannya.


Dalam dingin dan sepi di antara jalan yang panjang ditengah guyuran hujan dan gemuruh petir dua perempuan bersama saling mengaitkan.


Pertemuan yang akhirnya menjadikan keduanya bersama karna perasaan sayang dan saling membutuhkan.


Untuk waktu dan keadaan terus lah baik baik saja dan terus lah menciptakan keutuhan untuk Aera dan Sia.


Untuk hari hari panjang berikutnya tetap lah baik baik saja, jangan biarkan salah satu diantara kami terluka apalagi sampai melukai.


Kita diperuntuk Tuhan ada untuk saling menguatkan dan memberikan, lantas jika saling melukai nantinya akan seperti apa salah satu dari mereka atau bahkan keduanya.

__ADS_1


Untuk Aera ruang gelap yang semula adalah hidupnya diterobos Sia dengan membuka paksa pintu yang mengunci Aera dengan kegelapan didalamnya. Dengan itu karna itu ruang gelap tidak lagi gelap dengan cahaya yang selalu menerobos masuk melalui pintu yang dibuka Sia. Dengan itu pula banyak hal mulai memasuki memberi kehidupan yang nyata untuk Aera, bahkan semua menjadi sangat ramai tidak lagi sepi seperti sebelum adanya Sia.


Jika memang pada akhirnya Aera tetap tidak bisa membalas semua kebaikan nya setidaknya Aera ingin tetap ada di samping Sia.


__ADS_2