Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
101


__ADS_3

#101


"Tadinya gua kira lo udah baik baik aja, karna terlihat lebih banyak senyum di wajah lo"


Seru Titan setelah berada berjalan berdampingan keluar dari pemakaman.


"Belom membaik sama sekali Tan. Cuman gua mau menyapa keberadaan lo dengan sekedar memberikan senyuman gua"


Jawab Aera menghentikan langkahnya, menjadikan posisi nya dengan Titan menjadi saling berhadapan.


"Banyak hal yang udah lo kasih buat gua, jadi gua juga mau memberikan balasan walaupun cuman sekedar senyum yang emang ngga berarti apa apa. Cuman gua mau memberikan sapaan hangat dan manis itu aja"


Jelas Aera menatap kedua mata Titan.


"Itu juga udah lebih dari cukup. Lo tau senyuman yang lo kasih buat gua itu, berarti"


Lanjut Titan mempertemukan tatapannya dengan Aera. Seperti dua tatapan yang terikat satu sama lain.


Keduanya menjadi tersenyum tipis kembali melanjutkan langkahnya.


"Sia.... Sia ternyata juga suka sama Azka"


Seru Aera tanpa menoleh menatap Titan.


Ada yang menjadikan dirinya ingin bercerita dan menjadi terbuka dengan Titan. Karna didengarkan dan bersama Titan menjadikan semua nya dirasa lebih baik.


Titan menjadi terkejud dengan apa yang didengar nya, langkah nya sampai terhenti dengan tiba-tiba, menoleh menatap Aera untuk mendengarkan lebih jelas maksud dari perkataan nya.


"Maksudnya?"


"Gua mencintai laki laki yang sama dengan Sia sahabat gua. Hal yang sebelumnya terjadi diantara gua, lo dan Fina. Apa mungkin ini karma buat gua atas apa yang terjadi sebelumnya"


Aera yang kembali menghentikan langkahnya, ikut menoleh menatap Titan.


"Karma atas apa Aera? Apa emang nya yang udah lo lakuin?"


Tegas Titan menatap tajam Aera.


"Karna menjadi penghalang buat lo dan Fina"


"Penghalang untuk apa? Dari awal lo tau kan siapa orang yang gua suka. Ini bukan karma, emang Tuhan udah menentukan jalan nya kaya gini"


"Apapun itu. Lantas kenapa Tuhan menjadikan satu persatu kesulitan ada buat gua, Titan"


Seru Aera dengan penegasan kata kata yang di ucapkan nya, menjadikan kacaan matanya kembali dirasakan nya.


"Karna Tuhan tau lo bisa, lo perempuan hebat Aera. Ngga semua orang bisa berada di posisi lo"


Dengan Titan yang memegangi kedua lengan tangan Aera.


"Dan gua pun ngga mau berada di posisi ini"


Gretu Aera dengan suara sendu.


Titan menghampiri Aera menjadikan posisi keduanya lebih dekat dengan Titan yang menjadikan Aera berada dalam pelukan ny. Mengusap punggung Aera memberikan kekuatan seperti yang pernah Titan lakukan kepada Aera.


Berada dalam pelukan Titan dengan tatapan kosong, Aera memejamkan nya merasakan kehangatan yang Titan berikan dengan kekuatan yang juga disalurkan untuk nya.


Disaat-saat seseorang berada menjadi menangis karna terluka, seseorang akan menjadi sulit untuk menceritakan, untuk menjelaskan dengan apa dan karna apa dirinya menjadi terluka. Karna itu banyak diantara lain nya menjadi mengabaikan alasan nya karna tidak dapat memahami dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi tidak untuk beberapa orang, tidak untuk Titan yang tidak perlu menjadikan pemahaman untuk mengerti seseorang. Uluran, pelukan, dekapan, usapan semua yang berada menjadikan kehangatan dan tempat untuk mereka berada meluapakan tanpa perlu berbicara dengan begitu pun mereka sudah dapat menjadi lega.


Setelah Titan melepaskan pelukannya Aera menatap Titan dengan sendu, tersenyum manis menjadikan lekukan mata panda nya terlihat menjadi sangat jelas, dengan Aera yang kurang tidur dan terlalu banyak menangis.

__ADS_1


Saat keduanya berada saling menatap dan memperhatikan, tiba tiba hujan deras jatuh ke bumi.


Titan dengan cepat meraih tangan Aera untuk dibawanya berlari, berteduh.


Tetapi Aera menahan dirinya, memegangi tangan Titan yang berada menggenggam satu pergelangan tangannya.


"Aera ujan, nanti lo sakit kita neduh sekarang"


Seru Titan dengan Aera yang terdiam menahan diri.


"Titan? Gua mau seneng seneng di bawah ujan sama lo"


Seru Aera dengan alasan dirinya menahan Titan untuk berada di bawah hujan yang semakin deras berjatuhan.


Titan kembali berada di posisi nya, di hadapan Aera.


"Tapi lo janji sama gua?"


"Janji untuk apa?"


"Luapain semuanya buat saat ini aja, lepasin semuanya buat saat ini, nikmatin saat ini dan seneng seneng. Dengan gitu gua mau lo sedikit merasa lega"


Lanjut Titan, menjadikan permintaan Aera dimanfaatkan untuk nya. Untuk menjadikan Aera sedikit terobati.


Aera tersenyum menghelai nafas dengan sebuah janji yang Titan ingin untuk Aera mengiyakan nya.


"Mmm, gua janji. Gua akan lupain semua nya dan seneng seneng buat saat ini"


Aera mengangguki dengan tersenyum.


Keduanya sudah menjadi basah dengan guyuran hujan yang membasahi nya.


Diantara rintikan hujan yang berjatuhan menganai kedua nya menjadikan Titan dan Aera mengurai senyum dan tawa.


Aera benar melepaskan semuanya menjadikan tawa yang berada tulus dirasakan, semua menjadi dapat dilakukan kerna keberadaan Titan untuk nya.


Aera berlari, menari nari, merasakan rintikan hujan menjadikan nya seolah mba Ana berada diantara rintikan hujan itu, diantara rintikan hujan yang mengenai dan memeluk nya.


Diantara Aera yang menelentangkan tangan nya untuk berada menarik di awang-awang Titan meraih satu tangan nya untuk berada di genggam nya.


Ikut menari bersama Aera menikmati canda tawa, dengan rasa dingin dari hujan yang mengguyur nya.


Menjadikan hari ini, hari dimana Aera seperti kembali menikmati hidup nya.


Titan berada menghentikan dirinya untuk menatap Aera lebih dekat, begitu pun Aera menikmati kedua mata Titan yang indah yang berada menatap nya.


Titan tersenyum dengan melingkar kedua tangannya di pinggang Aera. Memeluk Aera dan mengangkat Aera untuk berada mengambang dalam pelukan Titan.


Aera menjadi terkejud dengan apa yang Titan lakukan, Aera tersenyum menikmati nya, kembali menelentangkan kedua tangan nya berputar dalam pelukan Titan dan dalam kakinya yang berada mengambang dengan Titan yang mengangkat nya.


"Aaaaaaa........"


Aera berteriak kencang meluapakan semua yang berada terkubur dalam di hati nya.


Setelah beberapa saat Titan menurunkan Aera dan melepaskan nya. Mendekatkan dirinya, menjadikan wajah keduanya berada begitu dekat dengan Titan yang menempelkan hidung nya dengan hidung Aera di lengkapi dengan kedua tangan Titan yang memegangi wajah Aera.


"Semua akan baik baik aja Aera, lepasin semuanya, buat semuanya kembali lega"


Seru Titan lirih.


Aera tersenyum tipis, berada dengan nafas Titan yang dirasakan nya begitu dekat dengan tatapan yang ikut berada menjadi sangat dekat, menjadikan detak jantung nya berdegup dengan kencang.

__ADS_1


Dengan perlahan Titan mendekatkan bibirnya kepada Aera, entah apa yang membuat Aera menjadi terpaku memejamkan matanya.


Saat hampir berada menyatu Titan menahan dan menjadikan Aera untuk berada di peluk nya.


Aera terpaku membuka mata, tidak mengerti dengan Titan yang mengurungkan niatnya. Dan tidak mengerti dengan Aera yang seolah pasrah dan bahkan mengharapakan nya.


"Hhhhh.."


Aera mengehelai nafas pelan, menggeleng gelengkan kepala nya pelan dalam pelukan Titan.


"Mau minum kopi?"


Tawar Titan setelah melepaskan pelukannya dari Aera.


Aera mengangguki tanpa ekspresi.


"Tunggu di dalam mobil ya, biar gua beliin dulu"


Berada di dalam mobil menunggu Titan yang tengah pergi membelikan kopi untuk keduanya.


Setelah kembali masuk kedalam mobil dengan dua cangkir kopi yang di bawa Titan. Titan menyodorkan satu cangkir kopi kepada Aera, dan meletakkan milik nya, untuk Titan kembali keluar.


Titan keluar membuka garasi mobil untuk mengambil dua handuk untuk mengeringkan dirinya dan untuk mengeringkan Aera.


Setelah kembali masuk kedalam mobil Titan kembali menyodorkan salah satunya untuk Aera. Titan terpaku diam dengan Aera yang memperhatikan dirinya sedari tadi dengan tatapan yang berbeda.


"Kenapa?"


Tanya Titan memastikan, sambari mengeringkan rambut nya.


Aera menggelengkan kepalanya, membuang tatapan nya dari Titan, mengenakan handuk untuk mengeringkan rambut nya.


"Aera?"


Seru Titan memahami dengan Aera yang menjadi berbeda, ada yang berada di pikirkan nya.


Aera kembali menoleh menatap Titan.


"Kenapa lo ngga..."


Aera menghentikan perkataan nya, dan menggeleng gelengkan kepala nya.


Titan tersenyum tipis memahami maksud dan dengan Aera yang menjadi berbeda.


"Ngga ada hak gua buat ngelakuin itu sama lo Aera"


Aera mendekatkan dirinya kepada Titan, dalam beberapa saat bibirnya berada menyatu dengan bibir Titan.


Titan menjadi begitu terkejud dengan keberadaan bibir Aera yang saat ini berada menyatu dengan bibir nya.


Menjadikan nya begitu tegang dengan jantung nya yang berdegup kencang.


"Ini hak gua, jadi gua berhak buat lakuin ini"


Seru Aera setelah berada melepaskan ciumannya dari Titan.


Menyandarkan kepalanya, memejamkan matanya dengan menoleh ke sisi jendela mobil, menghindari bertatapan dengan Titan.


Dalam sandaran dan pejaman nya, Aera bergumam memenuhi batin nya. Benar-benar tidak disadari dengan alasan apa Aera melakukan hal gila yang baru saja dilakukan nya kepada Titan.


Titan fokus mengemudi dengan suasana canggung yang tidak menyenangkan yang dirasakan nya.

__ADS_1


__ADS_2