Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
58


__ADS_3

Kembali pulang kerumah dengan membawa semua hal tentang Titan yang masih berada penuh di kepalanya, benar benar melelahkan.


Apa yang terakhir diperjelas adalah keputusan nya. Kembali seperti sediakala. Biarlah perkara perasaan ini mengalir dan berjalan dengan sendirinya.


Meninggalkan cafe dengan cangkir kopi Titan yang masih utuh. Lebih dulu bergegas kebagian kasir untuk membayar pesanan nya.


"Saya mau bayar untuk pesanan saya"


Membuka tas ransel untuk mengeluarkan dompet nya.


"Pesanan nya sudah dibayar sama pacar mba nya tadi"


Jelas pegawai kasir.


Aera melebarkan tatapan terkejud dengan Titan yang dibilang sebagai pacarnya.


"Ah gitu ya, Makasih"


Aera mengangguki, memasukan kembali dompet kedalam tas nya.


Saat meninggalkan Aera Titan menyempatkan untuk kekasir membayar dua cangkir kopi yang Aera pesan. Setelah dari kasir pun Titan menyempatkan untuk memperhatikan Aera beberapa saat.


Sudah 9:50 tetapi jalanan masih tampak ramai karna malam Minggu. Yang sering Aera lihat dalam langkah nya mereka yang tengah menggandeng pasangannya.


"Lulus nanti anak kita jadi apa ya pah?"


Suara akan pertanyaan dua pasangan suami istri yang tengah bergandengan melewati Aera dengan pertanyaan yang Aera dengar.


Aera kembali ingat dengan mama yang sempat akan menguliahkan nya keluar negeri. Apa yang sebenarnya menjadi keinginan atau sesuatu yang disebut cita cita, Aera belum memikirkan nya sama sekali. Untuk kuliah atau pun tidak, belum terfikirkan. Benar bener masih menjadi wadah kosong yang siap diisi dengan apa yang menjadi keinginan Aera nanti.


Aera terhenti di penjual bakpao. Ingat dengan mba Ana yang sangat menyukai bakpao dengan rasa yang sama dengan kesukaan Aera.


"Saya mau bakpao nya dong pak"


"Mau berapa neng"


"Mmm mau 6"


" Eh 8 aja, 5 rasa coklat dan 3 rasa stroberi"


Melihat bakpao yang melumerkan slai stroberi dari dalam nya membuat Aera ingat dengan seseorang yang sangat menyukai stroberi, mama. Apa salahnya membelikan mama, kali saja nanti saat Aera pulang mama sudah berada dirumah.


"Ini ya neng, jadi 40 ribu semuanya"


Aera memberikan uang 50 ribuan setelah dengan kembalian nya Aera bergegas pulang. Tidak ingin bakpao yang panas ini menjadi dingin karna terlalu lama dibiarkan.


"Mba Ana, mba?"


Panggil Aera sudah berada di ruang makan dengan bakpao yang diletakkan di atas meja.


"Kenapa Ra?"


Semula tengah sibuk dengan buku besar dan tertunduk dalam konsentrasi nya. Tapi buyar seketika setelah didengar Aera yang berteriak teriak memanggil nya.


"Tada"

__ADS_1


Aera kembali mengangkat bakpao yang berada di atas meja untuk memperlihatkan nya kepada Mba Ana.


"Bakpao"


Singkat mba Ana tersenyum senang. Mengenali dengan bungkusan dan harum hangat yang tercium nya.


"Wah banyak banget beli nya Ra"


Setelah bungkusan bakpao dibuka membebaskan asap dari bakpao yang masih sedikit panas.


"Mm yang ini coklat semua kalo yang ini stroberi kali aja nanti mama mau"


Jelas Aera menunjukkan bagian-bagian nya.


"Enak nya makan bakpao sambil minum kopi, gimana?"


"Aera udah ngopi diluar, Aera air dingin nya aja ya mba"


"Yaudah mba ambilin dulu ya"


Mba Ana kembali dengan secangkir kopi hitam kesukaan nya dan dengan segelas air dingin. Keduanya dengan segera menikmati bakpao dengan lahap nya. Bukan karna lapar tapi karna rasa dan empuk nya, ada kisah yang menyenangkan dibalik keduanya yang mencintai bakpao dengan segenap rasa.


Jadi hari itu setahun yang lalu tepatnya Aera dan mba Ana baru berpergian dan akan pulang tapi saat di tengah jalan tiba tiba hujan deras. Keduanya berteduh di sebuah pos pinggir jalan bersama dengan si pedagang bakpao yang baru keluar dan ingin berjualan. Hujan deras bertahan dengan lama membuat perut mba Ana dan Aera yang kosong menjadi sangat lapar tidak tertahan. Sampai akhirnya keduanya membeli bakpao niat nya sekedar untuk mengganjal perut tapi malah ketagihan dengan rasanya, sampai masing masing menghabiskan lebih dari 5 bakpao.


Ditengah mulut Aera yang sedang sibuk mengunyah bakpao, Aera teringat akan sesuatu dan menjadi penasaran dengan mba Ana.


"Mba Ana punya cita-cita?"


"Mmm? Cita cita?"


"Kenapa emang?"


"Mau tau aja. Soal nya Aera ngga kepikiran sama sekali mau jadi apa setelah lulus nanti"


"Mmm"


Mba Ana tertawa dengan melebarkan tatapan nya.


"Artikan dulu apa itu cita cita baru nanti kamu memahami diri kamu sendiri dan menyadari apa yang di inginkan"


Jelas Mba Ana sampai menjeda makan nya.


Aera terdiam memahami perkataan mba Ana barusan, kata demi kata yang di ucapkan di simak dan di artikan dengan baik oleh Aera.


"Terus cita cita mba apa?"


Lanjut Aera dengan pertanyaan sebelumnya.


"Penulis"


Singkat Mba Ana tampak serius dengan tatapan nya yang penuh arti.


"Penulis? Ah pantesan mba suka nulis di buku yang tebel itu"


Gumam Aera ingat dengan mba Ana yang beberapa kali dilihatnya tengah sibuk menulis dalam buku yang cukup tebal.

__ADS_1


Mba Ana tersenyum mengangguki nya.


"Berarti nanti kalo udah selesai Aera boleh dong baca"


"Mmm kamu akan jadi orang pertama"


Karna buku besar itu emang diciptakan untuk Aera.


Aera tersenyum senang mendengarnya.


"Mmm pantes ya mama ketuk pintu ngga ada yang bukain, ternyata lagi asik ngobrol sambil makan bakpao"


Mama yang menghampiri Aera dan mba Ana di meja makan.


Mba Ana bangun dari duduknya dan langsung menyapa majikan nya.


"Maaf Bu, saya bener bener ngga denger ibu ketuk pintu"


"His saya nungguin tau, kalo gitu boleh ngga kalo saya ikutan gabung"


Mama dengan wajah serius yang tengah menahan tawanya memlihat epresi mba Ana yang tegang.


Aera merekah senyum dengan lebarnya. Bangun dan menarik kursi untuk mama.


"Mm harus dong, duduk samping Aera"


Mama menoleh menatap Aera yang tampak senang dan begitu antusias dengan kehadiran nya. Hal yang sederhana menjadi hal yang baru di miliki dan dirasakannya. Penyesalan, rasa bersalah terkuak dalam kebahagiaan nya saat ini.


Mama duduk dan kembali tertuju kepada Mba Ana.


"Udah duduk, saya hanya becanda ko, lagi pintu nya tadi ngga di tutup, duduk"


"Tapi Bu_"


"Duduk ngga papa"


"Duduk aja mba, kapan lagi kan kita kumpul kaya gini"


Bujuk Aera untuk mba Ana kembali duduk.


Mba Ana tersenyum kepada majikan nya juga kepada Aera.


"Wah stroberi"


Setelah tertuju dengan bakpao rasa stroberi.


"Mm sengaja Aera beli buat Mama, mama kan suka banget sama rasa stroberi"


Lanjut Aera tampak begitu ceria dan menikmati kebersamaan asing yang tengah terjadi dengan begitu akrab nya.


Mama meraih satu bakpao dengan rasa stroberi dan mulai memakan nya.


Manis dan masih terasa hangat. Seperti takdir sedang berbaik membiarkan nya merasakan hal yang hangat dan manis seperti kebersamaan nya saat ini.


Putri nya Aera seseorang yang sempat dilukai dan di abaikan nya menjadi sesuatu yang begitu menghangatkan.

__ADS_1


Setelah ini benar benar tidak akan di sia siakan lagi. Semua akan dibenahi dengan cara yang tidak akan melukai Aera. Tidak keberatan sekali pun harus dirinya yang terluka asal jangan Aera. Mulai mengenal putri nya sendiri setelah sekian lama membuat nya merasa sangat beruntung dengan putri yang ceria dan begitu baik yang dimilikinya.


__ADS_2