Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
115


__ADS_3

Hari yang baru datang kembali, dengan pagi yang sama dan kesan yang selalu berbeda.


Sekarang setelah dengan hari hari yang kemarin kali ini Aera selalu dapat bangun pagi dengan tepat. Tanpa perlu adanya alaram yang berbunyi, tanpa cahaya yang menerobos masuk menyilaukan matanya lebih dulu atau tanpa suara dan tangan yang menepuk lengan nya.


Karna dengan malam yang panjang pejaman nya masih menjadikan nya tetap sadar dan terjaga. Meski dengan malam malam seperti itu Aera menjadi tersiksa sendiri. Mungkin mata dapat beristirahat dengan pejaman nya tapi tidak dengan otak dan pikiran yang terus bekerja memikirkan ini dan itu.


Dengan mata yang sudah terbuka, menatap dengan tatapan penuh diantara langit langit kamar di atasnya. Seolah diatas sana ada uraian akan banyak hal untuk ini dan itu. Aera masih bersikeras akan keinginan nya yang konyol. Harus dengan apa dan seperti apa menanggapi nya. Disatu sisi menjadi berat hati untuk meninggalkan mama dan Titan, setelah dengan banyak hal yang sudah keduanya lakukan untuk nya.


"Tok..tok..


Aeraa.."


Seru Mama mengetuk pintu kamar Aera, berniat membangunkan nya untuk Aera dapat bersiap untuk sekolah.


Aera menoleh kearah pintu setelah dengan ketukan dan suara mama yang didengar nya.


"Apa mama tetap akan memaafkan Aera jika Aera memilih dengan keinginan itu"


Gumam Aera dalam batin yang bergumam.


"Aera? Kamu belum bangun ya?"


Seru Mama sekali lagi dengan kamar Aera yang masih begitu hening di denger nya.


Aera beranjak dari tempat tidur, membuka selimut yang semula menutupi nya.


Dan membukakan pintu untuk Mama.


"Aera udah bangun ko ma"


Seru Aera setelah membukakan pintunya.


"Hari ini kamu sekolah kan?"


Tanya Mama tersenyum, mengusap kepala Aera.


Aera membalas tersenyum dengan lebarnya, sembari mengangguki nya.


"Iya ma Aera sekolahnya ko hari ini"


"Yaudah kamu mandi,mama siapin sarapan nya"


Aera kembali mengangguki dengan senyum lebarnya.


Aera harus mandi dan bersiap, setelah nya mengenakan seragam sekolah. Meski sebenarnya hari ini Aera tidak ingin bersekolah. Hanya saja jika Aera berada tetap dirumah hanya akan menjadikan mama khawatir dan terus memikirkan nya. Dengan begitu mama tidak akan dapat fokus dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya.


Setelah dengan seragam dan dengan rapih nya Aera turun membawa tas sekolah nya.


"Pagi mah"


Seru Aera dengan sapaan nya setelah berada sampai dimeja makan dengan Mama yang baru selesai menata hidangan di atas meja.


"Pagi sayang"


Balas mama dengan senyum lebarnya, keceriaan dan tatapan yang selalu tersorot penuh sayang didalam nya.


"Mama anterin ya?"


Seru Mama setelah dengan keduanya yang selesai bersarapan.


Aera tersenyum tipis menggelengkan kepalanya.


"Ngga ma, ngga usah. Nanti Aera di jemput ko"


"Sama Titan?"

__ADS_1


Tebak mama dengan seseorang yang akan menjemput Aera.


Aera tersenyum mengangguki nya.


"Dia emang aga kaku dan dingin gitu ya anak nya"


Seru Mama dengan membereskan piring nya, sembari tersenyum senyum memperhatikan Aera.


Setelah sedikit tau mengenai Titan dari beberapa kali pertemuan nya.


"Mm, emang dia kaya gitu orang nya ma. Tapi dia sebenarnya baik banget ko"


Lanjut Aera memaparkan dengan baik seperti apa Titan dalam pandangan nya. Seseorang yang menjadi begitu akrab dengan nya. Dan seseorang yang hampir tau banyak hal mengenai diri nya.


Mama terpaku memperhatikan Aera dengan tatapan penuh nya.


"Kamu suka Titan?"


"Mm, Aera suka sama Titan mah, tapi sayangnya Aera tidak di perbolehkan untuk menyukai nya"


Kembali tersenyum tipis, mengangguki. Adakalanya apa yang di ingin malah berada ditempat dengan garis yang menghalangi dari keberadaan kita sendiri. Atau sebaliknya, keduanya yang memisahkan dan memasang garis panjang untuk menghalangi nya. Apapun itu semua terjadi menjadikan dua hal tersebut berada terpisah.


Alasan sederhana untuk Aera sendiri. Dengan garis atau bahkan dinding kokoh yang berada dipasang nya untuk menghalangi diri nya dengan Titan. Semua dilakukan hanya agar Titan tetap baik baik saja, tanpa perlu menjadi terluka akan dirinya.


Apa jadinya jika Aera berada meraih hati yang sudah Titan berikan kepadanya. Dan setelah diterima dan ditetapkan di hati nya, kemudian Aera pergi meninggalkan nya dan membawa hati yang sudah diberikan kepada nya, dengan waktu yang akan sangat panjang. Bukan kah jika seperti itu akan sama sama melukai keduanya, Aera juga Titan.


Jadi memang dengan ini lah keputusan yang dirasa menjadi jalan yang sudah tepat.


"Kenapa? Apa karna dia ngga suka sama kamu ?"


Dengan ekspresi yang menjadi berbeda.


Aera tersenyum dengan lebarnya, bahkan menampakan deretan giginya.


"Siapa sih yang ngga suka sama anak mama yang satu ini"


Tersisa senyum tipis dengan tatapan yang berbeda setelah dengan menatap tempat duduk itu.


Hari hari yang sudah berlalu belum juga menghapuskan sedikit pun jejak dan sosok keberadaan mba Ana disetiap tatapan matanya. Duka dan luka yang dirasakan nya pun belum juga membaik sedikit pun. Karna itu setiap hari dan waktu setelah itu semua adalah mimpi buruk dengan rasa sakit yang begitu nyata dirasakan nya. Itu salah satu alasan dimana Aera ingin menyerah, karna perasaan ini perlahan tapi pasti mulai membunuh nya.


Mama ikut tersenyum, bahkan dengan helain tawanya. Menghampiri Aera dan menata menjadikan rambut yang sudah tergerai indah menjadi lebih rapih lagi.


"Itu karna pesona yang kamu miliki itu berbeda, kecantikan yang sempurna. Siapa yang tidak akan luluh dengan putri kesayangan mama yang satu ini"


Wajah yang cantik, fisik yang sempurna, hati yang baik, dan wajah yang selalu dipermatai dengan senyum dan ceria. Siapa yang tidak akan terpesona akan itu.


"Tentu ma, semua terpanah setiap kali menatap Aera"


Lanjut Aera dengan seruan nya, menjadikan keduanya tertawa.


Jika setiap perasaan tidak perlu di perlihatkan dengan apa yang sebenarnya dirasakan, sama seperti Aera sekarang ini. Apa itu artinya selamanya Aera seperti rapuh yang mencoba tetap utuh. Rapuh dalam perasaan nya, mencoba tetap utuh dengan apa yang diperlihatkan nya.


Jika sudah menjadi aturan dan keseharusan untuk Aera seperti itu, itu artinya tidak perlu lagi adanya ingin, harap dan sebagainya. Jika pada akhirnya apa yang di inginkan, di harapkan bahkan yang diperjuangkan tetap akan menjadikan Aera berada di posisi seperti sekarang ini dengan semua rasa yang berada di dalamnya.


"Kalo gitu Aera berangkat ya ma"


Pamit Aera dengan mencium tangan mama.


Mama tersenyum mengusap kepala Aera. Seperti menjadi kebiasaan dengan kenyamanan tersendiri setiap kali berada mengusap kepala Aera dengan rambut yang begitu lembut nya.


Dalam usapan nya, ada doa yang dipanjatkan dan ada harap yang disemogakan. Semua diucapkan mama setiap kali berada mengusap kepala Aera atau sekedar membelai rambutnya.


Dengan menggunakan taksi Aera pergi kesatu tempat yang menjadi rutinitas di kunjungi nya. Tidak ada Titan, atau dijemput oleh nya, dan tidak juga berangkat sekolah. Semua yang dikatakan nya adalah kebohongan dan alasan belaka.


Bukan tidak menghargai mama, atau tidak memikirkan perasaan mama jika tau Aera membohongi nya. Hanya saja Aera tidak ingin menjadi beban pikiran jika mama tau Aera membolos sekolah untuk keduakalinya secara berturut-turut. Mama akan menjadi tau dengan Aera yang tengah berlari menghindari banyak hal, tau dengan Aera yang tengah tidak baik baik saja.

__ADS_1


Begitu pun jika Aera berada dirumah seorang diri, seperti kemarin mama akan menjadi khawatir kepada nya.


Ada beberapa keputusan yang berada dipilih dengan kebohongan, tapi kebohongan bukan lah kebohongan selama itu tidak terbongkar. Kebohongan itu bisa menjadi sekedar dongeng, atau cerita biasa selagi hanya diri sendiri yang tau akan itu.


Ungkapan yang sedikit tidak masuk akal dan tidak biasa, hanya saja tiba tiba berada terlintas dipikiran Aera saat berada masuk kedalam taksi.


"Maafin Aera mah"


Gumam Aera setelah dengan menyandarkan kepalanya. Selalu saja disandarkan setiap ada tempat yang tepat. Bukan tanpa alasan itu karna kepala nya yang dirasa berat dengan setiap hal yang berada memenuhi isi kepala nya.


"Iya?"


Seru supir taksi dengan ucapan yang Aera katakan, dan didengarkan nya kurang begitu jelas.


"Bukan apa apa pak"


Seru Aera masih berada dengan sandaran kepala nya dan kali ini kedua mata nya pun ikut dipejamkan.


Aera mengangkat kepalanya setelah berada beberapa saat dalam sandaran dan pejaman nya.


Menolehkan kepalanya kepada kaca mobil dan memperhatikan banyak hal yang dilewati nya, yang dilihat Aera dari kaca mobil.


"Brenti, brenti. Brenti sebentar pak"


Seru Aera menegakkan posisi duduknya setelah didapati penjul bakpao di dekat halte jalan.


"Saya mau beli bakpao sebentar ya pak"


Perjelas Aera kepada supir taksi, sebelum Aera beranjak turun.


"Baik neng"


Jawab supir taksi yang memperhatikan Aera dari kaca didepan.


"Bungkus rasa coklat dua, dan di satu bungkusan lagi empat dua rasa coklat dan dua rasa strawberry"


Minta Aera dengan pesanan nya kepada si penjual bakpao.


"Jadi 30 ribu semua nya"


Seru penjual kepada Aera dengan harga yang harus dibayarkan setelah dua kantong plastik diberikan nya.


"Ambil aja kembalian nya pak"


Seru Aera yang menyodorkan uang 50 ribuan.


Aera kembali masuk kedalam taksi dan kembali melaju pergi. Didalam taksi yang sudah kembali berjalan, Aera membuka kantong yang hanya berisikan dua bakpao. Dimakan dan dinikmati nya dengan sangat lahap, sembari memperhatikan bakpao yang berada tangah dimakan nya.


Didalam mulut yang berada penuh dengan bakpao yang tengah dikunyah nya, tiba tiba Aera menangis, menderu dengan menahan suaranya.


Rasa yang sama, hangat dan begitu manis. Tapi tidak lagi dapat dinikmati dengan suasana yang sama seperti sebelumnya, seperti sedia kala. Kini semua tersisa sekedar sebagai kenangan yang benar pernah menjadi ada. Atau hanya akan di ingat nya sebagai mimpi karna terlalu menyakitkan, meski dengan kenangan manis sekalipun. Kenangan tetap akan menjadi menyakitkan, semanis apapun yang berada dikenang setelah dengan hal buruk yang berada merusak itu semu, rasa patah atas kehilangan.


"Neng, neng kenapa nangis?"


Tanya pak supir memperhatikan Aera dari kaca depan, setelah dengan suara yang didengar nya.


Aera menggelengkan kepalanya.


"Ini rasanya terlalu enak"


Perjelas Aera.


Pak supir melebarkan tatapannya setelah dengan jawaban yang Aera katakan.


"Tadi ngomong sendiri, sekarang tiba tiba nangis karna makan bakpao. Bukan orang gila kan ya? Dari tampilan nya sih anak SMA tapi kenapa jam segini masih keluyuran di luar sekolah"

__ADS_1


Gretuan pak supir dalam hatinya, tidak dapat memahami dan mengerti akan pelanggan nya kali ini.


Sekedar menggeleng gelengkan kepala, saat kembali memperhatikan Aera.


__ADS_2