
Aera dan Sia sudah berada di parkirkan untuk pergi bersenang-senang sekedar menghibur Aera, sekedar menenangkan diri.
Baru akan naik ke atas motor handphone Aera berdering dengan panggilan masuk dari Titan.
"Bentar Sia gua angkat telfon dari Titan"
Sia melebarkan tatapan nya sebelum mengangguki.
Aera menjauh beberapa langkah dari Sia.
"Hallo"
Setelah panggilan tersambung.
"Kenapa Tan?"
"Lo nggak masuk kenapa Ra?"
"Ngga papa gua cuman kesiangan aja"
"Mm gua kira kenapa napa, yaudah kalo gitu"
"Yaudah ya"
Tut...
Sambungan terputus dengan Aera yang mematikan.
Baru akan kembali kepada Sia handphone Aera kembali berdering dengan telfon masuk dari Azka.
"Bentar bentar"
Ucap Aera kepada Sia sebelum mengangkat telfon dari Azka.
"Hallo Ka"
Aera dengan tersenyum.
"Hallo Ra. Lo ada butuh apa apa gitu"
Azka menghawatirkan Aera.
"Ngga ko, ini juga mau keluar sama sahabat gua"
"Gitu ya, bagus deh kalo gitu"
"Jangan terlalu mikirin gua, gua ngga mau sampe keberadaan gua malah bikin lo jadi repot"
Aera dengan tatapan serius nya.
"Mmm semua terjadi gitu aja, ngga repot sama sekali ko"
"Aera buruan!"
Teriak Aera yang sudah kesal terlalu lama dibuat menunggu.
"Udah dulu ya Ka, gua di tungguin"
"Iya Ra"
Tut...
Masih cukup pagi untuk matahari menjadi sangat terik hari ini.
Aera memiringkan kaca spion sekedar untuk memperlihatkan wajah Sia.
"Ke satu tempat, dimana lo pasti suka"
Sia dengan menoleh sebentar memperlihatkan senyuman nya kepada Aera melalui kaca spion yang terarahkan kepada nya.
Sia, mba Ana mereka menjadi sisi persinggahan untuk setiap luka Aera. Jika bukan karna keberadaan nya akan bagaimana Aera melanjutkan hari hari patah yang melelahkan.
__ADS_1
Untuk Sia, Aera hanya cangkang kosong dengan ornamen indah yang berharga.
Begitu kosong sampai Sia ingin berada untuk mengisi nya.
Ornamen indah, tampak begitu unik dan berbeda. Untuk setiap orang yang memandang nya akan dibuat jatuh cinta.
Bagaimana tidak berharga? Begitu istimewa dengan sayang dan selalu ingin menjaganya.
Sebuah cangkang yang berhasil tinggal didalam hatinya.
"Wah"
Tampak begitu indah dan sangat memukau dengan apa yang saat ini menyajikan kedua matanya.
Setelah hampir satu setengah jam menyusuri jalanan dengan sepeda motor keduanya Aera dan Sia sampai di sepanjang jalan yang menampakan hamparan laut biru.
"Sia, ini bagus banget"
Aera sampai tidak berkedip dengan waktu yang tidak sebentar.
Sia tersenyum dengan Aera yang menikmatinya.
Setelah memarkir motor nya Aera berlari menuju hamparan pasir putih yang dipeluk gulungan ombak dengan sangat cantiknya.
Aera terhenti dengan kakinya yang sudah berpijak di antara pasir putih yang begitu lembut. Tatapan nya terus di ikuti dengan senyuman yang terus merekah tiada lelah.
"Gimana bagus kan? Suka kan?"
Dengan Sia yang menghampiri nya.
"Mmm suka, suka banget Siaaa"
Aera berlari, menoleh kepada Sia dengan begitu girang nya.
Aera berlari dengan melepas sepatu putih yang semula dikenakan nya, menenteng nya dan membawanya lari.
Kedua kaki Aera berlari menyentuh hamparan pasir yang dalam beberapa waktu akan dikenai ombak.
"Ra tungguin"
Teriak Sia mengejar Aera.
"Hhhhhh.."
Aera berhenti dengan nafas nya yang sudah tidak stabil, begitu ngap, lelah.
"Hhhhh...
Tidak berbeda dengan Sia, yang tertunduk memegangi lututnya.
"Minum es kelapa yuk"
Sia dengan nafas nya yang tidak beraturan menunjuk gubuk berukuran sedang yang menjual es kelapa.
"Mmm"
Aera mengangguki dengan kelelahan nya.
Setelah membasahi tenggorokan nya yang begitu kering akhirnya haus dan lelah pun membaik dengan cepat nya.
"Cape serius"
Aera tertawa menatap Sia.
"Tapi seru kan"
Sia tersenyum melihat Aera yang tampak ceria dan menikmati nya.
"Seru banget, ini namanya liburan mendadak"
"Berterimakasih lo sama gua"
__ADS_1
Aera menatap Sia dengan tatapan serius dengan arti, tersenyum tipis begitu manis.
"Mmm makasih, hari ini bahkan untuk jutaan detik yang menjadi berarti karna lo"
"Mau duduk di sana?"
Sia dengan menunjuk pinggir pantai.
Keduanya berpindah tempat duduk dengan dua kelapa yang ikut dibawanya.
Duduk bersebelahan dengan menghadap hamparan laut dan langit keorenan yang tampak begitu dekat.
Sia menoleh menatap Aera memperhatikan nya dengan ikut tersenyum.
Memberikan apa yang menjadi berharga untuk perempuan rapuh yang saat ini berada di dalam pandangan nya membuat Sia menjadi ikut berarti dan merasakan sesuatu yang menyentuh dalam perasaan nya.
"Kenapa harus lo yang berada di titik ini Ra, kenapa perempuan seceria lo harus menyembunyikan jiwa yang rapuh didalamnya"
Tanya Sia dalam batin nya.
"Semua terjadi begitu aja Sia, tidak terduga dan sangat melelahkan"
Aera yang semula tertuju menikmati hamparan yang begitu indah, menoleh seketika dengan apa yang terlintas dalam benaknya.
Sia melebarkan tatapan nya, seolah gumam nya dalam hati didengar dan dijawab Aera.
Aera tersenyum menatap Sia sebelum kembali meletakkan tatapan matanya pada ombak di laut yang biru dan di langit yang berwarna keorenan, terus berpindah tatapan nya bergantian dari kedua sisi itu.
"Gua mau menjadi lupa Sia?"
"Kenapa? Buat apa?"
Sia yang dengan terus memperhatikan Aera.
"Karna cape, buat banyak hal yang udah terlalu sulit buat gua hadapin"
"Melupakan itu artinya lo bersedia diam menjalani semua dengan baik baik aja tanpa tau dengan banyak hal yang seharusnya lo tau"
Sia dengan serius nya.
"Apa sulitnya untuk itu, jauh lebih baik dari pada tau semua yang justru lebih menyakitkan"
Aera terus menaruh senyum kosong pada setiap kata kata yang dikatakan nya.
"Jadi apa yang sebenarnya lo mau? Kalo emang lo ngga siap dengan kenyataan apa yang nanti akan lo hadapin kenapa ngga brenti disini aja lagi pula semua nya juga terlalu menyakitkan kan buat lo, brenti kalo emang lo ngga butuh kenyataan yang sebenarnya. Tapi sebaliknya kalo emang lo butuh kejelasan dengan semua pertanyaan dan prasangka lo, lo bertahan lo hadapin semuanya dan lo juga harus siap dengan apapun kenyataan nya"
Kesal dibuat dengan Aera yang seolah pasrah dan tampak menjadi seperti orang bodoh yang tidak berdaya di hadapan Sia.
Aera terkekeh dengan Sia yang berbicara dengan cepat nya, kata kata yang didengar dengan cepat diserap oleh otaknya sampai membuat matanya berkaca.
"Lo tau apa kesalahan terbesar lo"
Aera menatap tajam Sia dengan begitu serius nya.
"Apa?"
Singkat Sia.
"Lo ngebuat gua bergantung sama lo. Setelah ini akan seperti apa gua tanpa lo"
Air mata Aera terjatuh, meski sudah ditahan nya tetap saja tidak bisa suasana dan keadaan membuat nya terhanyut.
"Gua ada buat lo Ra. Kalo pun nantinya kita ngga sama sama lo tetep akan bisa bertahan, malah akan jauh lebih kuat. Gua tau lo, seseorang yang akan menjadi lebih kuat setiap kali dipatahkan. Lo tau kenapa saat ini lo merasa ngga berdaya? Karna lo terlalu lama dirasa sakit yang sama, ditusuk dengan pisau yang sama dan lo cuman berdiam diri pasrah gitu aja"
"Terus gua harus gimana?"
"Dan sekarang lo tanya lo harus gimana? Mana Aera yang gua kenal? Aera yang gua kenal punya banyak akal dan perasaan yang luas, coba tanya sama diri lo sendiri apa mau nya dan seperti apa memulai nya"
Tangisan nya meluap dengan deru yang kencang, memeluk Sia dengan begitu erat nya. Terus dibuat beruntung memiliki nya. Harus dengan apa menjaga Sia untuk tetap berada untuk nya. Seiring waktu takut akan kehilangan menjadi sangat dekat dengan kebahagiaan yang lebih sering dirasakan.
Karna seperti itu kenyataan dan keharusan nya.
__ADS_1