
Sudah sampai di kedai kecil pinggir jalan yang begitu ramai, Aera dan Caca duduk berhadapan setelah dengan dua mangkuk seblak dan dua es teh di pesan nya.
Seblak adalah makanan Indonesia, umumnya adalah makanan khas dari Sunda, Jawa Barat yang bercita rasa gurih dan pedas yang terbuat dari kerupuk basah yang dimasak dengan sayuran dan sumber protein seperti telur, ayam, boga bahari atau olahan daging sapi, dimasak dengan bumbu tertentu.
"Emang se'enak itu ya rasanya? Sampe tempat nya seramai ini?"
Tanya Aera memperhatikan sekitar, kedai yang penuh terisi dengan ramai nya.
"Lo suka pedes kan?"
Tanya Caca, sekedar mematikan nya lebih dulu.
"Suka, suka banget, kenapa?"
"Kalo gitu lo akan nyesel karna belum pernah coba makanan yang satu ini"
Aera tersenyum memperlihatkan deretan giginya dengan Caca yang menjelaskan dengan antusias nya.
"Iya iya, gua akan berterimakasih kalo pada akhirnya gua dibuat jatuh cinta dengan makanan yang satu ini"
Caca tertawa dengan obrolan keduanya.
"Eh iya seseorang yang berantem di atap sama kita itu Fina kan? Lo berdua ada masalah apa"
Tanya Caca dengan tawanya yang mereda, tersenyum memperhatikan Aera dengan serius nya.
"Mm???"
Aera dibuat terkejud dengan pernyataan Caca, membuat nya membulat kan tatapan nya sekedar untuk menatap Caca dengan tajam.
"Kenapa emang?"
Tanya Aera dengan serius nya.
"A... ngga ada alasan apa apa sih gua cuman sekedar tanya karna penasaran"
Jelas Caca ikut menegang dengan Aera yang menjadi serius setelah dengan pertanyaan nya.
"Pertanyaan gua salah ya?"
Caca sekedar memastikan nya.
"Hhh.."
Aera menghelai nafas mengendalikan diri sekedar dengan rasa tersinggung yang tiba tiba dirasakan nya.
"Mmm sorry Ca"
Aera dengan rasa bersalah sudah menjadikan suasana yang semula ceria menjadi menegang kan seperti saat ini.
"Ah iya ngga Ra, gua harus nya ngga nanya hal ini"
Caca dengan ekspresi yang berbeda.
Aera terdiam memperhatikan Caca dengan sesuatu yang dipikirkan nya dalam waktu yang singkat.
"Fina,, beberapa saat yang lalu, dia sahabat gua lebih tepatnya gua bertiga, gua, Sia dan Fina. Kita bertiga bersahabat sampai akhirnya terjadi perselisihan yang bikin gua sama Fina jadi kaya sekarang. Gua bersikeras sama keputusan gua dan Fina bersikeras dengan keinginan nya"
"Kenapa ngga ada satupun salah satu diantara lo berdua yang mau buat ngalah. Dari apa yang gua liat lo seseorang yang bertindak akan banyak hal dengan alasan nya"
Caca terpaku menjadi serius memperhatikan Aera mendengarkan dengan seksama apa yang diceritakan Aera.
__ADS_1
"Mmm gua punya alasan kenapa gua bersikeras dengan keputusan gua. Tapi sekarang gua merasa kehilangan, gua ngga tau apa yang jadi keputusan gua ini hal yang emang bener atau malah sebaliknya"
Aera yang akhirnya menjadikan kedua tatapan nya berkaca, di antara sudut matanya.
"Seenggaknya lo udah memutuskan, jangan terlalu pusing beranggapan menyalahkan apa yang udah jadi keputusan lo, itu malah bikin lo tertekan"
Sedihnya, rasa yang semula terhanyut dalam suasana karna ingat dengan yang ada seketika menjadi terjeda dengan Aera yang dibuat sadar sekedar dengan apa yang dikatakan Caca.
"Makasih Ca"
"Kalo emang lo ngrasa berterimakasih, lo yang harus bayar ini semua"
Caca dengan kembali tersenyum dengan pelayan yang mengantarkan pesanan keduanya.
"Hhhhe..."
Aera yang kembali tertawa, membiarkan kacaan air mata kembali masuk ketempat nya semula.
"Mm gua yang bayar, lo bisa makan sepuasnya"
Aera yang tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
Setelah menggeru tawa, keduanya mulai menikmati sajian pesanan yang sudah tertata di hadapan nya.
"Mmm.."
Seru Aera saat kali pertama menikmati sesuap seblak. Mendarat dengan rasa yang begitu menyatu dengan selera nya.
"Waw, ini serius enak loh Ca"
Setelah sesuap seblak tertelan dengan baik.
"Iya iya, his.. "
Keduanya kembali melanjutkan, menikmati seblak dengan lahap nya.
Keringat sudah mulai terlihat di kening keduanya, dengan rasa pedas yang dinikmati. Keduanya masih sangat lahap memakan nya, sesekali dengan obrolan dan candaan dengan Caca yang sering kali memulai nya.
"Uaahhh..."
Helai Caca dengan begah nya memegangi perutnya setelah dua mangkuk seblak dihabiskan nya.
"Wah, lo emang punya banyak kejutan"
Seru Aera kembali dibuat terkejud dengan Caca yang selalu memiliki kejutan dibalik kecantikan dan keimutan nya.
Caca tersenyum dengan tawa yang tergambar diwajahnya.
"Baru jam segini, lo mau langsung gua anter balik atau mau lanjut seru seruan"
Tawar Caca setelah melihat jam tangan, sekedar memastikan jam berapa sekarang.
Aera tersenyum manis menatap Caca.
Dalam batin nya, Caca sering kali meminta atau sekedar menawarkan sesuatu yang dengan lebih dulu memastikan nya kepada Aera. Pribadi yang menyenangkan, juga tidak se'enak nya, membuat Aera merasa sangat mudah menyesuaikan rasa asing yang sebelumnya dirasakan menjadi keakraban.
"Mmm,,, kemana kita?"
Aera yang mengiyakan, dan balik bertanya.
Fina yang baru akan masuk kedalam kedai menghentikan langkahnya dengan senyum sinis memperhatikan Aera dan Caca yang tengah duduk berhadapan dengan ceria yang terlihat diantara keduanya. Fina merogo saku celana untuk mengeluarkan handphone sekedar untuk memfoto keberadaan Aera dengan Caca.
__ADS_1
Caca teralihkan tidak lagi menatap Aera, tatapan nya berada lurus kedepan dengan tatapan penuh nya.
Aera yang ikut menoleh sekedar memastikan dengan apa Caca terpaku.
"Waw... jadi dia yang nantinya akan gantiin posisi gua? Atau mungkin dia yang nantinya akan gantiin posisi Sia"
Dengan Fina yang sudah berada di samping meja Aera dan Caca.
Aera kembali kepada posisi nya, menatap dan memperhatikan Fina.
"Maksud lo?"
Tanya Aera, sekedar meminta Fina untuk memperjelas maksud dari ucapan nya.
"Gua rasa lo ngga **** kan ya sekedar buat memahami maksud gua?"
Fina yang malah bertanya balik.
"Gua udah pernah peringatin lo kan, buat ngga ganggu Aera lagi"
Sela Caca ikut berbicara.
"Gua ngga ada maksud buat ganggu, gua cuman mau makan ngga sengaja liat lo berdua, dan gua menghampiri sekedar untuk menyapa kalian, cuman tiba tiba ada hal yang jadi penasaran dikepala gua, jadi gua tanyain aja langsung sama Aera, dimana salah nya?"
Crocos Fina, dengan senyum yang memenuhi ekspresi nya.
"Kita pergi sekarang Ca"
Dengan Aera yang langsung bangun dari duduknya.
"Mana Aera dengan kata kata tajam nya? Kenapa? Mau keliatan so baik didepan temen baru lo?"
Fina semakin meriah dengan senyum juga tawa yang kali ini di ikut sertakan dalam bicaranya.
Tatapan Aera yang semula sempat teralihkan, kembali berada untuk menatap Fina dengan tajam nya.
"Dendam? Mau sampai kapan perasaan itu ada dalam diri lo?"
Tanya Aera dengan serius nya.
"Kemaren, sekarang dan bahkan besok, lo akan tetep sama dengan perasaan engga bahagia juga kesendirian. Tau kenapa? Karna sesuatu yang salah berasa dalam diri lo"
Lanjut Aera kembali dengan kata kata yang diperuntuk untuk menusuk Fina dengan tajam nya.
"Hhhhhe.."
Fina menghelai tawa, dengan beberapa hal yang tiba tiba menjadi sesak dirasakan.
"Kenapa? Bener apa yang gua bilang?"
Tanya Aera dengan tersenyum tajam.
"Baik baik ya, keberadaan lo, hidup lo ngga cuman sekedar untuk kemaren dan hari ini"
Lanjut Aera dengan senyum yang meluntur, kembali memperlihatkan keseriusan diwajahnya.
"Ayo Ca"
Aera yang bergegas mengajak Caca untuk ikut pergi dengan nya.
Fina terdiam dengan semua kata kata yang Aera katakan yang saat ini berada memenuhi ruang kepala nya, dirasa batin dan pikiran nya menolak untuk menyalahkan semua yang dikatakan Aera, tertusuk tajam hatinya.
__ADS_1