Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
106


__ADS_3

Aera berada membawa dirinya setelah berlari meninggalkan Sia dan keluar dari sekolah dan sampai di depan makam mba Ana.


Berada duduk tanpa alas mengelemprak begitu saja tidak memperdulikan dengan roknya yang akan menjadi kotor.


Didepan makam mba Ana, Aera tertunduk menangis meluapkan semuanya, terhisak hisak sampai rasanya menjadi sangat sesak.


"Bukan bunga yang sekarang Aera bawa mba. Tapi keadaan kacau yang saat ini mengacak-ngacak Aera"


Gumam Aera dalam tangisan nya.


"Harus gimana Aera sekarang mba?"


Lanjut Aera memejamkan matanya, menjatuhkan air matanya, merasakan sesak yang semakin jelas di rasakan nya.


Hari hari panjang yang dipenuhi duka dan luka yang berada saat ini di jalani Aera.


Ceria dan bahagia tidak lagi ada untuk itu, entah ketulusan atau sekedar kepura puraan. Orang orang yang berada menjadikan Aera perlu untuk tersenyum dan ceria sekarang tidak lagi berada menggenggam nya, dengan itu tidak menjadikan Aera untuk perlu berpura-pura menjadi baik baik saja.


Setelah berada cukup lama menghabiskan air matanya, menjadi lebih tenang dengan menyisakan hidung dan kedua mata yang menjadi merah. Aera bangun dari lemprakan nya, kembali menatap makam Mba Ana sebelum Aera beranjak pergi.


Aera berada di makam Anan, ayah nya.


Berdiri dengan rok kotor nya, menatap makam Ayah dengan tatapan sendu.


"Ayah?"


Seru Aera lirih.


Adnan yang baru akan mengunjungi makam Anan untuk kali pertama nya. Setelah belasan tahun tidak lagi bertemu Adnan akhirnya bertekad untuk mengunjungi makam Anan.


Langkah nya terhenti dengan sosok perempuan yang dikenalinya, Aera.


Aera yang berada berdiri tertunduk memperhatikan makam Anan dengan seragam sekolah yang dikenakan nya.


"Lihat Aera sekarang Yah"


Lanjut Aera berseru dengan gumam nya.


"Apa setelah ini Aera akan terus menjadi seperti sekarang ini"


Lanjut Aera kembali bergumam, melanjutkan kata katanya yang terjeda jeda dengan perasaan sesak yang tengah di rasakan dan di kendalikan nya.


"Menjadi seperti apa?"


Seru Adnan yang semula berada dibelakang Aera memperhatikan dan mendengarkan gumaman nya.


Aera terpaku diam, mengrnali dengan suara yang baru saja di denger nya.


"Menjadi korban yang selalu di salahkan, seperti dengan apa yang anda lakukan sebelumnya terhadap saya"


Jawab Aera dengan tundukan nya, tanpa lebih dulu menoleh sekedar memastikan dengan seseorang yang berada saat ini di samping nya.


Bahasa baku yang Aera pergunakan, sekedar menjadikan Adnan selayaknya orang asing untuk nys


Adnan menjadi tersenyum dengan Aera yang sudah tau dengan keberadaan nya tanpa lebih dulu menoleh memastikan nya.


"Kamu mengenali tau ini saya, tanpa lebih dulu menoleh menatap nya"


Kali ini Aera mengangkat tundukan nya dan menoleh menatap Adnan.


"Entah lah, aneh nya saya selalu menjadi ingat dan mengenali dengan orang orang yang menjadikan saya terluka. Seolah olah mereka tinggal didalam kepala saya. Dan saya sangat membenci itu"


"Sejak awal kamu memang berbeda sama seperti Anan"


Seru Adnan melebarkan senyumnya.


"Apa ini waktu yang tepat untuk saya menanyakan beberapa hal"


Ada yang menjadi beberapa hal saat ini berada menjadi pertanyaan dalam benak Aera. Rasanya benar untuk menanyakan nya secara langsung kepada Adnan, untuk mendapatkan jawaban dan kejelasan nya.


"Silahkan"

__ADS_1


Seru Adnan mempersilahkan.


"Bukan saya yang salah, tapi anda selalu menyalahkan saya, kenapa?"


Seru Aera dengan pertanyaan nya.


"Saya tidak menyalahkan kamu, hanya saja setiap kali saya melihat kamu, melihat mama kamu menderita menjadikan saya ingat dengan semua nya, seolah semua kembali terulang dalam ingatan saya. Sesekali saya tidak dapat mengendalikan diri saya menjadikan saya tidak terkendali menjadi kasar dan seolah membenci kamu"


Jelas Adnan dengan panjang nya, menjadikan ekspresi dan kedua matanya menatap Aera dengan berbeda, terlihat keseriusan tertera.


Itu lah alasan kenapa sebenarnya batin yang terluka tidak dapat dibiarkan begitu saja, untuk beberapa orang mungkin akan dapat sembuh dengan sendirinya. Tetapi untuk beberapa yang lain nya juga luka nya malah akan menjadi lebih sakit dan seketika jika sudah berada tidak dapat menahan nya maka semua akan meluap tidak terkendali.


Aera terdiam mendengarkan dan memahami dengan apa yang Adnan jelaskan dan dengan situasi yang di hadapi nya.


"Om berteman dengan Ayah?"


Tanya Aera dengan pertanyaan selanjutnya, setelah sebelumnya sempat terdiam beberapa saat.


Menjadikan kebakuan dalam bahasa nya sedikit berkurang setelah Aera mendengar dengan apa yang dijelaskan Adnan. Menjadikan Adnan berada menjadi sesuai dengan keberadaan nya dalam pandangan Aera.


"Mmmm.."


Adanan kembali tersenyum dengan mengangguki.


"Berteman, bersahabat, bahakan menjadi seperti keluarga. Bahkan nama kita menjadi kemiripan bukan tanpa sengaja, kita berdua sama sama memiripkan satu sama lain nya"


Lanjut Adnan mengalihkan tatapannya dari Aera untuk menatap makam Anan.


Aera diam, lagi lagi penjelasan hanya dapat didengarkan dan menjadikan dirinya untuk dapat memahami nya.


"Apa kabar Anan? Maaf karna gua baru datang sekarang dan maaf atas semua nya"


Lanjut Anan dalam hatinya.


"Takbir ini, keadaan ini bukan hanya berdampak pada Aera tapi juga kepada Om, apa dengan ini semua ada yang menjadi sesal untuk Om?"


Tanya Aera masih berada terus memperhatikan Adnan.


"Seharusnya menyesali nya, tetapi tidak setelah ingat dengan keberadaan kenangan yang berada tersimpan dalam ingatan Om"


Aera kembali diam untuk kesekian kalinya. Pembicaraan nya dengan Adnan menjadikan hati dan pikirannya ikut berbicara banyak berfikir dengan semuanya.


"Apa dengan kenangan yang Aera ngga punya. Aera menjadi menyesali nya"


Gumam Aera dalam hati.


"Benci lah Anan jika kamu ingin membenci nya"


Lanjut Adnan dengan ucapan nya.


"Kenapa Om bilang gitu?"


Menjadi tidak mengerti dengan Adnan yang malah membiarkan Aera jika Aera ingin untuk membenci Anan.


"Jika Om yang berada di posisi kamu, Om juga akan membenci Anan setelah dengan semua yang terjadi"


Jelas Adanan berandai, mengumpamakan jika dirinya yang berada diposisi Aera.


"Membenci bukan berarti tidak menyayangi. Bencinlah sampai kebencian itu habis dengan sendirinya, setelah ini perasaan rindu tidak perlu lagi bercampur dengan benci dan kecewa seperti dengan apa yang saat ini kamu rasakan"


Lanjut Adnan dengan kata katanya, seolah tau dan memahami dengan seperti apa yang Aera rasakan.


Aera terpaku mendengarkan, hati dan pikirannya seolah membenarkan dengan apa yang Adnan katakan.


"Sekarang boleh giliran Om bertanya?"


Lanjut Adnan setelah memberikan waktu beberapa saat untuk keduanya terhening dengan Aera yang menjadi diam.


Aera menatap Adnan dan mengangguki nya.


"Apa yang diluain pelajar jam segini dengan seragam nya yang menjadi kotor dan berada di pemakaman di jam belajar"

__ADS_1


Tanya Adnan dengan memperhatikan rok Aera yang menjadi kotor.


"Mmmm,"


Glagap Aera menjadi bingung dengan alasan apa yang harus di katakan nya, tidak mungkin mengatakan dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Aera!"


Seru Titan meneriaki Aera dari jarak yang masih cukup jauh diantara keduanya.


Titan yang semula mencari keberadaan Aera di pemakaman mba Ana tapi tidak didapati keberadaan nya, dan benar saja Aera berada di pemakaman Ayah nya.


Aera dan Adnan menoleh dengan suara yang memanggil Aera.


"Titan"


Seru Aera setelah dilihat keberadaan Titan yang saat ini berada menghampiri nya.


"Pacar kamu?"


Tanya Adnan dengan seseorang yang dilihat nya menghampiri dengan seragam sekolah yang sama dengan yang dikenakan Aera.


"Bukan, temen sekelas"


Jawab Aera.


"Pertanyaan yang tadi belum di jawab"


Adnan mengingatkan Aera dengan pertanyaan nya yang terabaikan.


"Ada hal kurang baik yang terjadi, sampai akhirnya ngebawa Aera sampe disini"


Jawab Aera dengan keberadaan Titan yang memperhatikan nya.


"Hhhh..."


Helai Adnan tersenyum kepada Aera.


"Jangan selalu menjadi berlari setiap dengan hal yang tidak menyenangkan yang terjadi"


Seru Adnan, dengan kata kata yang bermaksud untuk menasihati Aera secara tidak langsung.


Adnan mengalihkan tatapannya untuk berada menatap makam Anan.


"Gua pergi ya, lo baik baik disana"


Seru Adnan dalam hatinya.


Yang kemudian berbalik pergi meninggalkan Aera dan satu teman nya.


Baru beberapa langkah beranjak dari tempat nya, langkah nya terhenti berbalik dan kembali menatap Aera.


"Om minta maaf Aera"


Seru Adnan tersenyum.


Aera membalas tersenyum kepada Adnan dan mengangguki nya.


Adnan pergi setelah nya, meninggalkan Aera dan Titan di depan makam Anan.


"Lo baik baik aja?"


Tanya Titan memastikan setelah dengan pria yang baru saja pergi.


"Sorry ya gau bersikap kasar kaya tadi, gua juga ngga bisa kendaliin diri gua"


"Bukan salah lo sepenuhnya Aera, ngga perlu maaf, gua ngertiin lo ko"


"Makasih banyak ya Tan"


Titan tersenyum mengangguki nya.

__ADS_1


__ADS_2