Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
57


__ADS_3

Meninggalkan keramaian beranjak di jalan lurus yang panjang tampak sepi dengan lampu lampu jalanan berwarna kuning redup. Handset kembali Aera kenakan, senandung lagu kembali menemani akan langkah langkah yang membuat nya menembus rasa dingin


Aera mengangkat bungkusan yang berada di pegangnya untuk dapat dilihat nya lebih dekat.


"Udah ada orang lain di hati gua Tan"


Gumam Aera.


Seseorang yang tersakiti malah sekarang harus melukai orang lain. Seseorang yang ingin dikuatkan dengan ruang yang diberikan nya malah menjadi penyia nyiaan.


Aera tidak mengerti apa yang membuat Titan pada akhirnya jatuh hati kepada Aera. Tidak ada yang tampak istimewa, hanya perempuan rapuh yang begitu kosong. Jika beralasan karna Aera yang berada jelas dihadapan nya karna Aera hanya ingin memberi tempat. Semua terjadi karna Aera tau bagaimana rasanya, bukan semata-mata mencoba mengerti dan memahami nya.


"Hhhhh.."


Helai Aera sesak.


"Kenapa harus repot-repot mikirin perasaan orang?"


Gumam Aera lelah dengan Titan yang saat ini memenuhi isi kepalanya, menjengkelkan.


Rasanya benar benar tidak tega membayangkan rasa sakit yang Titan rasakan. Semua terlalu menjadi rumit. Saat ingin dicintai malah terabaikan sampai lelah sendiri. Dan sekarang saat tidak berharap dicintai malah dicintai.


Titan masih berdiri ditempat yang sama belum beranjak sedikitpun. Keramaian dan banyaknya orang yang berlalu lalang benar-benar diabaikan, keramaian yang berlalu sampai tidak dapat menangkap keberadaan nya. Begitu pun dengan Aera. Seseorang yang semula di anggap nya menjadi pintu yang akan membawanya keluar dari sesak dada ini malah manambahkan luka dan rasa sakitnya. Memberikan goresan dengan begitu dalam.


Terpaku kaku kehilangan cahaya redup yang semula menerangi nya. Menjadi benar-benar gelap dalam sekejap. Bukan karna kesalahan hanya karna sebuah perasaan. Bahkan keputusan akan apa yang dirasakan nya adalah kesalahan yang kembali mematahkan nya. Dunia terlalu keras kepadanya.


Tempat yang ingin dijadikan nya sandaran malah mendorong jauh keberadaan nya. Apa yang salah sampai banyak orang melukai, menyisikan nya dalam sepi.


Aera terhenti dengan lagu yang habis didengarkan nya.


"Kembali lah, jika memang ingin pergi setidaknya katakan selamat tinggal jangan berlalu begitu saja. Itu akan sangat melukai. Bukan sekedar karna di tinggalkan tapi karna tidak di hargai"


Sebuah lagu dengan arti yang menegur Aera dengan begitu mengena.


Aera melepaskan handset nya, berbalik mengerahkan tenaga nya untuk berlari kencang. Aera tau dengan baik bagaimana rasa untuk kedua hal itu, ditinggalkan dan tidak di hargai. Lantas kenapa masih dengan tega melakukan semua kepada Titan.


Aera terhenti dengan nafas yang hampir terkuras habis dengan kencang nya Aera berlari. Dengan jarak yang belum begitu dekat Aera melihat Titan dengan tatapan kosong yang tertunduk.


"Hhhh..hhh.."


Aera dengan nafas nya yang masih ngap dirasa. Terkejud dengan Titan yang masih diam berada di tempat yang sama, belum beranjak sejak Aera meninggalkan nya.


"TITAN!"

__ADS_1


Panggil Aera kencang membuat beberapa orang yang mendengar nya ikut menoleh.


Titan terpaku dengan suara yang memanggil nya, suara yang dikenalinya, suara yang beranjak pergi.


Mengangkat pandangan nya dan tertuju seketika dengan Aera yang berada beberapa jarak di depan nya.


Aera menghampiri nya dengan nafas yang sudah mulai stabil.


"Lo ngapain masih disini"


Tegas Aera dengan kesalnya.


"Gua kehilangan cahaya gua Ra"


Gumam Titan tidak bersemangat dengan tatapan sendu yang menatap Aera dengan banyak arti dibalik tatapan nya.


"**** banget sih lo!"


Aera yang semakin dibuat kesal. Gumam Titan semakin membuat nya merasa bersalah.


"Saat orang pergi ninggalin lo harusnya lo kejar dia atau ikut pergi bukan nya malah diem di tempat"


Aera dengan tatapan nya yang menjadi berkaca. Apa yang dilihat nya dari Titan membuat nya seperti bercermin.


Menjadi sosok yang berbeda dari Titan pada biasanya, seperti tengah memperlihatkan kerapuhan yang sudah lama disimpan nya sendiri.


Aera kembali menumpahkan bendungan air matanya. Melangkah pelan menghampiri Titan untuk lebih dekat berada dengan nya. Memeluk Titan yang seperti kehilangan separuh raganya. Hampir menjadi nyawa yang tidak berdaya.


Titan menjatuhkan setetes air mata yang mengenai tangan Aera yang tengah mendekapnya. Rasa bersalah semakin dirasakan saat tangan nya dirasakan basah dengan air mata Titan yang jatuh.


Pelukan semakin di eratkan memberikan Titan kekuatan penuh untuk nya.


Orang-orang yang tengah berlalu lalang tertuju dengan Aera dan Titan yang tengah berpelukan. Beberapa hanya sekedar memperhatikan, beberapa lain nya memperhatikan dengan kata kata yang di ikut sertakan.


"Romantis banget ya"


"Berasa di drama Korea"


Banyak lain kata kata yang di ucapkan dari mereka yang melihatnya.


Setelah selesai dengan pelukan Aera menarik tangan Titan untuk ikut dengan nya. Berhenti di sebuah cafe kecil, dengan memesan dua cangkir kopi. Duduk dengan saling berhadapan. Dengan Titan yang sudah kembali dengan Titan pada biasanya, tampak ekspresi dingin yang telah bernyawa.


"Jangan disalah artikan dengan apa yang gua lakuin barusan"

__ADS_1


Aera berbicara tanpa menatap Titan.


Semua terjadi dengan begitu saja. Sejak Aera berlari menghampiri, marah dan bahkan memeluk Titan, semua terjadi begitu saja. Tidak disesali dengan apa yang telah dilakukan nya. Akan serumit apa setelah ini, dan akan seperti apa mengahadapi nya. Yang sudah sudah saja sangat rumit dan merepotkan.


"Kenapa lo balik lagi?"


Titan yang mengalihkan. Rasa penasaran tercipta dengan apa yang telah Aera lakukan.


"Udah gua bilang gua memandang lo dengan penuh kasihan. Apa yang gua lakuin ngga lebih dari rasa kasihan. Coba kalo gua ngga balik lagi, akan sampai kapan lo berdiri disana"


Aera kembali mempertegas dengan apa yang menjadi kenyataan. Alasan lain nya agar Titan membenci dan tidak lagi menyukainya.


"Karna rasa kasihan lo, lo jadi kembali. Setidaknya gua bersyukur dengan rasa kasihan yang lo miliki"


Titan bersyukur cahaya redup yang semula mati akhirnya kembali hidup. Meski redup Titan akan berusaha membuat nya menjadi lebih terang.


"Hhhhh.."


Lemas Aera dengan ucapan Titan. Tujuan dengan ekspetasi menjadi berlawanan.


Titan tersenyum menatap Aera.


"Makasih ya Ra"


Hatinya menggeretak luluh dengan kata Terimakasih yang Titan katakan. Rupanya benar menjadi berharga untuk Titan dengan apa yang telah dilakukan nya. Menatap Titan membuat sesuatu berada singgah di kepala nya begitu saja.


"Mmm"


Singkat Aera mengiyakan.


"Semua akan kembali seperti sediakala. Akan jauh lebih baik kalo kita udah sama sama tau kebenaran nya. Tapi satu hal yang pasti hati gua tertutup rapat buat lo. Hak lo masih mau suka atau ngga sama gua"


Jelas Aera satu hal yang singgah di kepalanya, menjadi keputusan dan jalan keluar yang lebih baik dari pada berlari menghindari nya.


"Tutup lah dengan baik, karna bisa aja gue menyelinap masuk"


Singkat Titan sebelum bangun dari duduknya.


" Makasih sekali lagi. Dan maaf udah memperlihatkan sisi dari gua yang ngga seharusnya lo liat"


Sisi pribadi yang sebenarnya, rapuh dan kosong itu sisi yang sebenarnya dari seorang Titan yang dingin dan kaku.


"Gua rasa lo butuh sendiri, gua duluan"

__ADS_1


Singkat Titan sebelum bener bener pergi.


__ADS_2