Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
111


__ADS_3

Ungkapan yang belum di jelaskan apa dapat di kata kebohongan. Kembali dibuat patah akan apa yang Aera tidak ketahui, dengan ini harus seperti apa mengahadapi nya.


Aera berlari membawa tangisan, menjadikan orang orang yang dilalui nya terheran ketika melihat Aera yang berlari dengan tangisan nya.


Aera duduk di halte seorang diri dengan tundukan nya, dengan tangisan nya yang ramai, tehisak begitu sesak.


Hancur, kali ini bukan hancur tapi sudah menjadi serpihan yang begitu lembut sampai angin yang tidak begitu kencang pun membawa nya terbang, hilang berhamburan.


"Udah engga ada lagi yang tersisa. Semua nya udah kosong"


Gumam Aera dengan suara serak nya.


Titan yang bolos sekolah saat tau Aera tidak masuk sekolah. Setelah datang kerumah nya dan tidak didapati orang dirumah, Titan keluyuran mencari keberadaan Aera. Saat sudah mencari kesana kesini, Titan melihat seseorang di halte tengah tertunduk dengan tas kecil yang Titan tau itu adalah milik Aera sosok nya pun sama seperti Aera. Titan melaju dengan kencang menghampiri seseorang itu. Segera turun menghampiri Aera berada terpaku diam memperhatikan Aera yang ternyata tengah menangis dalam tundukan nya.


"Aera"


Seru Titan dengan pelan.


Aera semakin menderas dengan tangisan nya dengan suara seseorang yang dikenali nya. Suara milik seseorang yang saat ini berada ditangisi nya.


"Aera"


Seru Titan sekali lagi, dengan Aera yang masih tertunduk mengabaikan.


Aera mengangkat tundukan, menatap Titan dengan tatapan tajam nya.


Titan melebarkan tatapan nya setelah melihat kedua mata dan hidung Aera yang memerah, dengan pipi yang dibasahi banyak air mata.


"Aera? Lo kenapa?"


Titan menghampiri Aera, mendekatkan jarak nya untuk lebih dekat.


Aera kembali menundukan kepalanya Kembali dengan tangisan nya yang ramai kali ini dengan kedua tangan yang berada menutupi wajahnya.


Titan mendekat, berjongkok di hadapan Aera dan menarik kedua tangan Aera yang tengah menutupi wajahnya.


Aera menarik tangan nya sendiri melepaskan kedua tangan dari Titan yang tengah memegangi nya.


"Lepas!"


Sentak Aera dengan kasar nya.


"Aera? Lo sebenarnya kenapa?"


Terheran tidak memahami Aera dengan tangisan dan sentakan nya kali ini.


"Kenapa lo tanya?"

__ADS_1


Aera yang bangun dari duduknya, dan memundurkan langkahnya menjauh dari Titan.


"Apa pedulinya lo sama gua?"


"Maksudnya apa, Aera? Jelas gua peduli sama lo"


Titan bangun dan kembali menghampiri Aera yang menjauh.


"Brenti"


Seru Aera untuk Titan tidak mendekati nya.


"Aera"


Seru Titan, tidak memahami alasan Aera seperti ini kepadanya.


"Kalo lo peduli, kenapa lo ngga bilang dari awal kalo Azka itu Kaka lo. Apa karna lo cuman memperalat gua buat bales dendam sama Azka"


Kata kata yang diucapkan dengan sering jatuh nya air mata, seolah setiap kata setetes air mata, begitu deras nya.


"Hhhh.."


Titan mengehelai nafas, entah karna rasa yang semakin sesak atau malah sebaliknya, menjadi lega karna bukan sesuatu yang berada lebih menakutkan dari pada ini.


"Jadi karna itu lo kaya gini. Soal itu gua bisa jelasin semuanya, Aera"


"Kenapa? Kenapa penjelasan selalu berada setelah gua tau dengan sendirinya, setelah lebih dulu hati gua dibuat patah dan hancur"


Entah sekedar gumam nya semata, atau benar dengan Aera yang mempertanyakan nya kepada Azka.


"Gua ngga kira kalo lo bisa semarah dan sekecewa ini. Gua minta maaf Aera"


Semula Titan memang akan diam, tidak ingin banyak membicarakan akan keluarga nya dan akan dirinya yang bersaudara dengan Azka. Karna untuk nya itu semua begitu memuakan. Permasalahan yang berada dirumah saja sudah begitu tidak menjadikan keduanya akur, lantas harus dibuat tau dengan Azka yang juga menyukai Aera. Bukan kah tidak salah keputusan Titan untuk tetap diam. Tapi Titan tidak tau kalo akhirnya menjadikan Aera kecewa dan terluka sampai seperti sekarang ini.


Aera menjatuhkan tubuhnya, mengelemprak duduk begitu saja. Tatapan nya berada kosong dalam tundukan nya.


"Dan setelah nya akan banyak kata maaf yang terdengar"


Cuaca panas yang tiba tiba menjatuhkan rintikan gerimis dimuka bumi, berada jatuh diantara Aera dan Titan. Seperti nya langit pun ingin memberikan ruang dan rasa untuk keduanya.


Dengan grimis tidak menjadikan banyak orang berlalu-lalang dan memperhatikan keduanya.


Dan rintikan nya, setiap butir air hujan nya adalah rasa akan apa yang saat ini juga dirasakan oleh Aera.


Titan menghampiri dan ikut berjongkok memegangi kedua lengan Aera.


"Coba liat gua?"

__ADS_1


"Aera"


Seru Titan sekali lagi dengan Aera yang masih tertunduk mengabaikan nya.


Aera mulai mengangkat tundukan dan juga tatapan nya.


"Apa di mata lo gua seperti itu? Karna dari sekian banyak orang dalam hidup gua, satu satunya orang yang paling mengerti, memahami dan mengenal gua cuman lo"


Seorang Titan, pria tampan yang semula kaku dan begitu dingin karna ada masalah dalam hidup dan keluarga nya. Ini adalah kali pertama untuk nya bertemu seorang perempuan yang dapat menaklukkan hati nya sampai berada jatuh dibawah. Dan kali pertama Titan merasa hancur setiap berada melihat seseorang itu terluka atau sekedar menjatuhkan air mata.


Aera terpaku untuk waktu yang tidak sebentar, sekedar menatap dan memperhatikan Titan.


"Karna dalam pandangan gua, dari apa yang gua tau lo bukan orang seperti itu. Tapi lagi dan lagi gua dibuat takut akan apapun yang bisa menjadi kesalahan. Dan gua takut, gua takut salah menilai lo"


Perjelas Aera dengan nada bicaranya yang meninggi, menjadikan grimis di hari yang panas berubah seketika dengan gludug petir yang berbunyi dan hujan yang berubah menjadi begitu derasnya.


Sedangkan Aera dan Titan keduanya masih berada terpaku ditempat nya, saling menatap satu sama lain.


"Kalo gitu percaya dengan apa yang lo percaya. Hari ini, detik ini lo meminta gua buat pergi, gua pun akan pergi"


Dengan banyak nya air hujan yang jatuh dan membasahi, menjadikan air mata yang Titan jatuhkan tidak dapat dilihat Aera, dirasakan dirinya sendiri pun tidak.


"Pkkk..."


Aera yang dengan sadar menampar Titan dengan sangat kencang nya. Meluapkan dan melampiaskan rasa kecewa akan apa yang baru saja Titan katakan. Menjadikan Aera seperti tidak dihargai keberadaan nya.


"Kenapa bisa bisa nya lo ngomong gitu. Setelah dengan banyak hal yang gua pikirkan dan pertimbangkan dan ini yang lo bilang. Bahkan gua udah memperjelas sama Azka kalo adanya lo berhasil ada di hati gua dan menyingkirkan posisi nya, tapi ini yang gua denger"


Perjelas Aera dengan rasa kecewa, dan dengan rasa akan dirinya yang seolah tidak di hargai.


"Terus gua harus gimana? Menjelaskan ini dan itu dan setelah nya meminta lo buat percaya. Gua mau melakukan itu, tapi gua ngga mau bikin lo semakin kacau, bikin lo terbebani dengan banyak hal. Gua ngga mau itu Aera, keberadaan gua cuman karna gua mau mastiin kalo lo baik baik aja. Tapi kalo keberadaan gua malah menjadikan sebaliknya, gua lebih baik pergi"


Semula Titan dibuat terobsesi akan harapan dengan perasaan yang dapat terbalas oleh Aera. Tapi setelah banyak hari yang dilewati bersama dengan banyak hal didalamnya menjadikan Titan belajar akan apa itu sebenarnya cinta. Cinta bukan dengan apa dan seperti apa yang kita dapatkan. Tapi dengan apa dan seperti apa kita memberikan tanpa mengharap balasan atau sekedar kembalian.


Beberapa hal memang tidak menyukai cinta seperti itu karna itu hanya akan terkesan seperti terabaikan dan melelahkan. Tapi tidak untuk mereka yang memiliki ketulusan yang sebenarnya.


Dan Titan berada menjadi salah satu diantara mereka. Diantara orang-orang tulus yang memberikan tanpa mengharap balasan. Keberadaan nya hanya ingin berada menjadi pundak untuk Aera bersandar, menjadi telinga untuk setiap kali Aera bercerita, menjadi pelampiasan setiap kemarahan yang dirasakan dan masih banyak lain nya. Tapi jika keberadaan nya malah menjadi alasan dan penyebab Aera bersedih dan terluka maka Titan siap kapan saja untuk mundur, pergi dan menghilang.


Setelah dengan kata kata yang didengar nya kali ini, dengan tatapan yang dirasakan ketulusan nya, menjadikan Aera percaya jika ketakutan dan prasangka juga semua yang Azka katakan tentang Titan adalah sebuah kesalahan.


Aera menarik Titan untuk berada didalam pelukan nya.


"Maaf, gua terlalu takut hal yang sama akan kembali terulang. Dan gua ngga mau lo satu satu nya orang yang saat ini jadi tempat gua terbuka dengan leluasa malah ikut bikin gua terluka"


Titan membalas pelukan Aera dengan sangat erat nya.


"Ngga akan, itu semua ngga akan terjadi"

__ADS_1


Keduanya berpelukan dengan sangat erat diantara derasnya hujan. Rasa dingin yang dirasakan seolah menjadi hangat untuk keduanya yang berada didalam dekapan satu sama lain.


__ADS_2