Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
80


__ADS_3

Caca mendudukan Aera dan meninggalkan nya untuk menemui dokter.


Caca kembali dengan kompresan yang sudah dibawanya.


"Dokter nya ngga ada"


Tanya Aera memastikan dengan Caca yang hanya datang sendiri.


"Gua yang obatin, mau ngejelasin apa sama dokter? Mau bilang kalo di tampar, berantem terus kedengaran sama walikelas"


Dengan Caca yang sudah siap menempelkan kain di wajah memar Aera.


Aera tersenyum tipis menatap Caca.


"Ngga sangka otak lo encer"


"Hhhh.."


Caca menghelai tawa dengan apa yang Aera katakan akan dirinya.


"Lo kira otak gua beku apa"


"Kira"


Singkat Aera tersenyum.


"Udah gua lanjutin sendiri aja, gua bisa lagi"


Aera yang mencoba merebut kain kompresan dari tangan Caca.


"Udah diem aja, anggep aja ucapan makasih karna udh jadi tameng sampe wajah cantik gua masih baik baik aja"


"Jadi muka gua deh yang berantakan"


Caca menjauh kan sedikit posisi wajah nya dari wajah Aera dan memperhatikan nya dengan seksama.


"Mmm masih cantik sih tapi"


"Hhhhh..."


Aera menghelai tawa dengan tingkah Caca dan dengan apa yang dikatakan nya.


"Tapi Ca, lo keterlaluan sampai nendang perut Fina kaya tadi"


Aera kembali serius ingat dengan keadaan Fina setelah tertendang kuat oleh Caca.


Caca terdiam menatap tajam tanpa ekspresi kepada Aera. Ada yang berada saat ini dalam pikirnya.


"Sudah disakiti tapi masih sibuk memperdulikan nya"


Gumam Caca dalam hati.


"Itu pelan ko setelah 3 hari juga baik sendiri"


Jelas Caca, karna ini bukan kali pertamanya menendang perut seseorang.

__ADS_1


"Emang beda sih"


Cetus Aera dengan Caca yang berbeda dari kebanyakan orang yang di temuinya.


"Beruntung lah lo yang ada di feeling gua"


Balik Caca dengan cetusan nya.


"Mmm beruntung"


Aera tersenyum memperlihatkan deretan giginya


Titan menghampiri Fina yang tengah menuruni tangga dengan memegangi perutnya yang kesakitan.


Titan berdiri tepat di hadapan Fina untuk mencegat langkah nya.


"Titan"


Seru Fina dengan seseorang yang berdiri di hadapannya.


"Apa yang udah lo lakuin sama Aera?"


"Lo ngga liat gua juga kaya gini gara gara dia dan murid baru"


Jelas Fina rasa sakit diperut nya menjadi bertambah sakit dengan keberadaan Titan yang datang untuk memastikan karna Aera.


"Peringatan terakhir buat lo! Lo lakuin hal lain sama Aera, urusan nya sama gua"


Tegas Titan sebelum berbalik pergi.


Fina menghelai nafas sesak. Dirasa dunia yang tinggali benar benar tidak adil akan keberadaan nya. Semua hal yang di inginkan nya malah berpihak kepada seseorang yang sudah menghancurkan banyak hal yang dimiliki Aera.


Titan pergi menemui Aera yang berada di UKS.


"Titan"


Seru Aera dengan Titan yang masuk begitu saja tanpa lebih dulu mengetuk pintu.


Caca ikut menoleh dengan Aera yang menyebut nama seseorang.


Menatap keberadaan Titan dengan melebarkan tatapannya.


"Kalo gitu gua masuk kelas dulu deh ya Ra. Gua siswa baru jadi ngga bisa yang nyari gara gara cuman karna ini"


Caca bangun dari duduknya akan kembali kekelas terlebih sudah dengan keberadaan Titan, alasan lainnya tidak ingin menjadi nyamuk ditengah Aera dan Titan yang keduanya memiliki tatapan yang berbeda satu sama lain nya.


"Mmm, ngga papa Ca, Makasih ya"


Aera mengangguki, membiarkan Caca untuk kembali kekelas.


Titan duduk di samping Aera setelah didapati ruangan UKS yang ditinggali berdua. Titan meraih wadah berisikan air dengan campuran es batu dan kain kecil di dalam nya.


"Gua udah ngga papa ko"


Jelas Aera dengan Titan yang mengompres nya.

__ADS_1


"Ngga papa gimana? Sampe memar gini ko"


Ketus Titan dengan rasa khawatir nya.


Jika di jelaskan semua terjadi juga karna dirinya. Karna Fina yang mencintai nya tetapi terabaikan dengan dirinya yang tidak memiliki perasaan kepada Aera.


"Nanti baik sendiri ko, lo jangan berbuat apa apa ya sama Fina. Fina kaya gini juga bukan tanpa alasan. Lo seharusnya bisa ngertiin dia"


Aera yang ingat akan Fina, semua terjadi karna sebuah perasaan. Sedangkan perasaan itu sendiri ada bukan atas keinginan atau tidak di inginkan, datang dengan tiba tiba, begitu saja. Sedangkan semua yang dilakukan Fina semata mata karna Fina tidak tau bagaimana harus memperlakukan perasaan nya sendiri.


"Jadi gua harus diem aja liat lo kaya gini"


Kesal dibuat dengan perkataan Aera. Rasa khawatir nya tidak menjadi apa apa untuk nya.


"Titan, gua ngga mau sampe lo nyakitin Fina. Lo bisa bayangin gimana sakit nya, tersakiti oleh orang yang kita suka"


Perjelas Aera dengan alasan apa kata kata sebelumnya di ucapkan.


Titan menghentikan tangan nya yang tengah mengompres wajah Aera.


"Terus perasaan khawatir gua sama lo gimana"


Aera tersenyum dengan Titan yang sangat mengkhawatirkan nya.


" Gua akan baik baik aja, lo ngga perlu lakuin apa apa, gua ada Sia dan sekarang ada Caca, lo tau dia yang udah nendang Fina sampe kesakitan. Jadi lo ngga perlu lakuin apa apa. Lo bisa obatin gua kalo sewaktu waktu gua ada luka kecil"


Jelas Aera dengan senyum hangat nya.


Titan terdiam memperhatikan Aera.


Bagaimana mungkin perempuan dihadapnya dapat begitu utuh meski dibuat rapuh berkali kali. Semakin dibuat kagum dan jatuh cinta akan pribadi yang dimiliki Aera. Meski sesekali tampak seperti seseorang yang judes dengan emosi nya yang meledak-ledak tetapi sering kali menjadi seseorang yang begitu dewasa.


"Mmm kalo itu mau lo"


Titan mengangguki dan kembali mengompres wajah Aera dengan begitu pelan nya.


"Gua anter pulang?"


Setelah Titan selesai mengompres wajah Aera.


"Ngga usah Tan gua istirahat di UKS aja"


"Yaudah kalo gitu lo istirahat ya, biar gua yang ijin"


"Makasih Tan"


Titan keluar meninggalkan Aera. Aera membaringkan tubuhnya dengan pipinya yang sudah dirasa mulai membaik dengan Titan yang mengompres nya dengan sangat baik.


Aera memejamkan matanya dengan kejadian di atap yang kembali di ingat nya.


"Kenapa kita harus sampe sajuh ini Fin"


Gumam Aera dengan tatapan yang kembali di buka.


Bukan sekedar persahabatan nya yang hancur begitu saja tetapi sekarang satu sama lain mencoba untuk saling melukai. Jika dirasakan begitu menyakitkan. Sesuatu yang semula tertata begitu indah nya dengan waktu yang tidak sebentar, sekarang tersisa kepingan kepingin yang sudah hancur dalam sekejap mata. Apa yang sudah berada sejauh ini untuk Aera dan Fina adalah jalan yang baik untuk keduanya, atau malah sebaliknya. Hal yang terjadi dengan baik saja terus menciptakan kekhawatiran untuk Aera, bagimana jika dengan keadaan seperti ini. Batin dan hatinya penuh akan praduga, khawatir juga ketakutan setiap waktu nya. Hanya diam dan memanjakan banyak doa, harapan dan mengikuti semuanya, berharap semua akan kembali baik baik saja.

__ADS_1


__ADS_2