
Hari ini sesuai dengan janji dan rencana Azka akan bertemu di Rooftop Restaurant. Dengan banyak hal yang sudah di persiapkan, mulai dari penampilan juga sebukus kado yang merupakan gelas putih bergambarkan senja yang sempat Azka beli bersama Aera tanpa sepengetahuan Aera.
Azka keluar dengan menenteng bungkusan yang akan diberikan nya kepada Aera. Keluar untuk menghampiri mobil sewaan nya yang diparkir beberapa jarak dari rumahnya.
"Brakk...."
Saat sudah hampir dekat dengan mobilnya Azka menoleh dengan suara kencang yang begitu nyilu didengar. Azka menoleh dan melihat sebuah motor yang mengalami kecelakaan dengan sebuah mobil. Tampak seseorang berbaring dengan helem yang masih dikenakan nya. Azka terkejud dengan seseorang yang terbaring di atas aspal dengan banyak nya luka menoleh menatap Azka.
"Siaaa"
Teriak Azka berlari kencang menghampiri Sia dengan tidak sadar bungkusan yang berada di tangan nya terjatuh sampai gelas didalamnya pecah.
"Sia sadar Sia, tetap sama gua disini ya"
Azka melepaskan helem yang Sia kenakan dan menyangga kepala nya di atas paha. Sia yang mulia kehilangan kesadaran nya.
"Tolong, tolong bantu saya bawa ke mobil"
Minta Azka dengan beberapa orang yang tengah berkerumunan menyaksikan.
Dengan beberapa orang yang ikut menggotong Sia untuk masuk kedalam mobilnya. Azka melaju kencang dengan sering kali menoleh kepada Sia yang tengah berbaring tidak sadarkan diri di kursi belakang. Semua di abaikan Azka begitu saja tersisa penuh rasa khawatir nya kepada Sia.
Sudah berada dirumah sakit dengan beberapa petugas dan suster yang membawa Sia untuk berada di UGD.
Setelah hampir satu jam ditangani dokter keluar dengan menjelaskan kondisi Sia.
"Cukup banyak pendarahan yang terjadi akibat benturan di kepalanya tapi untung lah semua masih baik baik saja. Dan ada beberapa bagian kaki yang cedera dan terkilir yang akan membuat pasian sulit berjalan tetapi akan membaik dengan cepat tidak perlu ada yang dikhawatirkan"
Jelas dokter setelah keluar dari ruangan dengan menjelaskan kondisi Sia kepada Azka.
Azka ikut membuntuti dengan ranjang Sia yang didorong untuk dipindahkan keruang rawat.
Azka duduk di sebelah ranjang Sia, memperhatikan Sia dengan beberapa peralatan yang terpasang untuk membantu mempercepat pemulihan nya.
Azka tetap berada di ruangan tidak beranjak sedikitpun menemani sampai Sia sadar dan sampai orang tua Sia yang masih berada diluar kota pulang.
Setelah pukul 09:00 Sia belum memberi tanda tanda untuk sadar. Ada yang Azka ingat setelah dirinya melihat jam dinding.
"Aera"
Seru Azka dengan nama seseorang yang saat ini tengah menunggu nya, seseorang yang seharusnya ditemui nya.
Azka memejamkan matanya dengan memegangi kepalanya. Benar-benar tidak tau harus berbuat apa. Satu sisi dirinya khawatir jika Aera masih berada untuk menunggu nya satu sisi lagi tidak dapat meninggalkan Sia dalam kondisi seperti ini seorang diri.
Azka benar-benar dibuat khawatir sampai terus berjalan mondar-mandir dengan memperhatikan Sia berharap akan segera sadar. Untung lah 30 menit setelahnya orang tua Sia datang.
"Ka gimana anak Tante apa kata dokter?"
Tanya Tante Yan dengan memegangi Sia memperhatikan dengan khawatir nya.
"Kata dokter sempet ada pendarahan akibat benturan di kepalanya dan ada sedikit cedera di kakinya tapi kata dokter akan segera baik baik aja"
__ADS_1
Jelas Azka kepada Tante Yan.
"Syukur lah kalo gitu, Sia cepet sadar ya nak"
"Tan saya harus pergi Tante sama Om ngga papa kalo saya tinggal?"
Tanya Azka sebelum beranjak pergi.
"Iya Ka ngga papa ini aja tente sama Om udah sangat berterimakasih kamu udah nolongin dan mau jagain Sia"
"Sama sama Tan, kalo gitu Azka pergi dulu ya Tan"
Pamit Azka dan berlari dengan kencang menaiki mobilnya. Di dalam mobil Azka mencari keberadaan kotak yang berisikan hadiah yang akan diberikan kepada Aera.
Setelah mencari di seisi mobil tidak juga ditemukan bungkusan nya.
"Hhhh.."
Azka menghelai nafas dengan memejamkan matanya setelah ingat dengan bungkusan yang tiba-tiba terlepas saat Azka berlari menghampiri Sia.
Dengan pasrah dan mengabaikan bungkusan Azka melaju kencang untuk menemui Aera.
Azka berlari setelah keluar dari lift mencari memperhatikan disetiap meja untuk menemukan keberadaan Aera.
Terdapat satu meja yang tengah dibereskan oleh pelayan restoran.
"Misa mba, liat ada perempuan tinggi kulit nya putih dan rambutnya panjang, dia sendirian"
"Yang mas maksud mungkin perempuan yang dateng dari sore ya?"
Tanya si pelayan untuk memastikan nya.
"Iya itu"
Jelas Azka membenarkan.
"Perempuan itu dateng dari sore dan belum lama pergi mas"
"Belum lama pergi, kalo gitu makasih ya mba"
Azka kembali berlari turun untuk mencari Aera yang dikatakan pelayan belum lama pergi.
Setelah berlari kesana kesini tidak juga ditemukan keberadaan Aera. Azka berhenti dengan nafas nya yang hampir habis. Membuka handphone dengan tiga panggilan tidak terjawab dari Aera sekitar 15 menit yang lalu. Azka yang kemudian menghubungi Aera, setelah beberapa kali di cobanya tidak juga di angkat.
"Hhhh.."
Azka menghelai nafas dengan rasa khawatir memikirkan Aera juga dengan rasa bersalah sudah sangat mengecewakan nya. Dirasa benar benar bodoh kenapa juga tidak sempat memberikan nya kabar.
Azka mengirim pesan untuk Aera.
"Aera telfon gua kalo lo baca pesan ini, ada yang perlu gua jelasin"
__ADS_1
Azka berlalu akan kembali kerumah sakit memastikan keberadaan Sia. Hampir dekat rumah sakit Azka berhenti di depan toko buah untuk membelikan Sia beberapa jenis buah buahan.
"Hallo Om Tante"
Sapa Azka setelah masuk keruangan Sia.
"Eh udah sadar"
Dengan Sia yang sudah sadar.
"Ko kesini lagi, udah emang urusan nya?"
Tanya Om Ila ayah Sia, dengan Azka yang kembali setelah beberapa saat lalu izin pergi dengan urusan yang perlu diselesaikan.
Azka tersenyum dengan meletakkan buah yang dibawanya di atas meja dekat ranjang Sia.
"Itu di urus besok Om"
"Ngga papa emang nya?"
Tante Yan memastikan.
"Ngga papa Tan, Sia kapan sadar Tan?"
Azka yang kembali memperhatikan Sia.
"Beberapa saat setelah kamu pergi"
"Cepet sembuh ya Sia"
Sia tersenyum tipis di wajah pucat dengan mengangguki pelan.
"Om, Tante lebih baik pulang dulu aja istirahat pasti cape kan habis dari luar kota biar malam ini Azka yang jagain Sia Om dan Tante bisa dateng besok pagi"
Saran Azka dengan Tante Yan dan Om ila yang tampak lesu dan lelah.
"Ngga perlu Ka nanti jadi ngerepotin kamu"
"Ngga repot sama sekali ko Om"
"Sia ngga papa kalo mama sama ayah tinggal?"
Tanya Tante Yan memastikan nya lebih dulu dengan Sia yang keberatan ditinggal atau tidak.
"Mmm.."
Singkat Sia mengangguki. Masih terlalu lemas jika dipaksa untuk berbicara.
"Kalo gitu Om sama Tante pamit dulu ya Ka, makasih ya sekali lagi dan maaf udah banyak ngerepotin"
Pamit Om ila sebelum menuntun Tante Yan untuk pulang.
__ADS_1