
Berada di tempat yang indah bersama seseorang yang berada mengerti dan mengisi.
Sejak tadi malam sampai dengan hari ini semua yang berada untuk Aera menjadi abu abu bahkan begitu hitam. Semua yang kosong menjadi penuh terisi dengan luka dan air mata. Beberapa hal yang seharusnya sangat disyukuri Aera akan keberadaan nya tiba tiba hilang dan lenyap begitu saja.
Aera duduk terpaku dengan tatapan kosong yang sendu. Titan datang dengan sebungkus coklat dan beberapa tangkai bunga Dandelion.
"Katanya ini bisa terbang gitu aja saat lo tiup"
Titan menyodorkan bunga Dandelion tiba tiba di hadapan Aera.
"Dandelion"
Seru Aera meraih nya. Aera meniup dengan sosok mba Ana dan wajah cantik nya yang berada saat ini dalam ingatan nya.
Wuuuhhh...
Dan bunga Dandelion berterbangan meninggalkan kelopak nya.
"Nih"
Titan kembali menyodorkan dengan sebungkus coklat yang juga di bawanya.
Aera menggelengkan kepalanya, untuk menolak nya.
"Katanya rasa manis bisa mengurangi sedikit kesedihan"
Jelas Titan.
Aera terdiam memperhatikan coklat yang di sodorkan sebelum akhirnya Aera mengalihkan tatapannya untuk menatap dan memperhatikan Aera.
Aera meraih nya, bagaimana mungkin Aera dapat menolak nya Titan sudah begitu baik kepanya.
Aera dan Titan duduk berdampingan diantara rerumputan yang dikelilingi ilalang.
Aera merebahkan tubuhnya dengan kepala yang dirasa menjadi berat.
Titan pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Aera.
"Jadi ini rasanya kehilangan orang yang kita sayang"
Gumam Aera dengan tatapan nya yang berada di langit keorenan, berharap di atas sana Mba Ana juga tengah memperhatikan nya.
"Ngga akan ada orang yang baik baik aja dengan rasa sakit nya, kehilangan adalah hal yang menyakitkan dan mematahkan"
Jelas Titan ikut bergumam tanpa menoleh menatap Aera.
Seketika Aera menoleh kepada Titan dengan apa yang dijelaskan nya.
Kebanyakan orang akan bilang "semua akan baik baik saja" tetapi tidak dengan Titan, seperti dia mengerti dengan apa yang Aera rasakan, gumam Aera.
"Jadi harus gimana? Gua dengan rasa sakit ini"
Tanya Aera dengan memperhatikan Titan.
Titan terdiam ikut menoleh membalas tatapan Aera.
"Bertahan, lo tau rasa sakit itu perlahan akan menggerogoti lo adakalanya lo akan menjadi rapuh serapuh rapuh nya. Tapi, kalo lo tau gimana caranya bertahan dan bangkit lo akan menjadi lebih kuat. Saat ini lo cuman butuh waktu Ra"
__ADS_1
Jelas Titan selalu dengan ekspresi datar diwajahnya.
Aera tersenyum tipis dengan mata berkaca-kaca nya, mengangguki dengan apa yang Aera katakan.
Tuhan lagi dan lagi memberi celah untuk sesuatu datang menguatkan diantara luka dan patah nya seseorang.
Kali ini Aera menjadi sangat bersyukur akan adanya Titan dan dengan Titan yang peduli kepadanya.
Untuk Titan berada saling menatap dengan Aera memberi kekuatan untuk nya adalah hal yang menjadi berarti untuk nya. Ingin terus menjadi yang berarti, menjadi tempat untuk Aera bersandar dan bercerita. Memastikan dan memahami setiap hal yang dirasakan Aera dan dengan hal hal yang terjadi kepada nya, bukan karna Aera tapi karna dirinya sendiri.
"Ditempat ini, jauh didalam mimpi beberapa waktu sebelum mba Ana benar-benar pergi dia datang sama seperti lo yang dateng dengan memberikan bunga Dandelion. Kata dia, gua sama seperti bunga itu masih terlalu kecil dan rapuh"
Aera menceritakan dengan mimpi yang berada nyata dalam ingatan nya. Matanya menjadi berkaca kaca karna ingat dengan wajah mba Ana dan semua pesan yang di ucapkan nya.
"Dia bilang, jika pada akhirnya gua sendiri, gua diminta buat melepaskan dan merelakan"
Lanjut Aera dalam tatapan nya menatap Titan air mata nya mulai berjatuhan dengan derasnya.
"Menurut dia gua sama seperti bunga Dandelion yang akan mengalami rapuh dan berhamburan dan menjadi tumbuh di tempat yang baru"
Aera bangun dari duduknya dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menangis Aera dengan deru dan tangis yang begitu deras dan ramai nya.
Titan ikut bangun dan duduk, mendekap Aera untuk berada dalam pelukan nya.
"Kenapa Tan, kenapa Tuhan ambil orang orang yang seharusnya berada buat gua"
Gumam Aera dengan suara yang menjadi serak.
"Karna Tuhan tau lo perempuan yang kuat Ra"
Jelas Titan punggung Aera.
"Gua ngga bisa buat jadi seperti itu. Gua cuman cwe yang lemah yang terbiasa terpaku dengan adanya mba Ana"
Aera yang semakin deras dengan tangisan nya.
"Hey liat gua"
Titan melepaskan dekapannya, memegangi lengan Aera untuk membuat Aera menatap nya.
"Semua orang akan bilang kaya gitu disaat dia terpuruk kaya gini. Lo cuman butuh waktu! Menangis lah sepuas lo! marah lah sepuas lo! Luapin semua nya! Setelah ini lo tata ulang menjadi lembaran yang lebih baik lagi"
Aera melepaskan tangan Titan dari lengan nya dan memeluk Titan dengan sangat erat.
Setelah beberapa saat berada memeluk Titan Aera melepaskan dengan membuang tatapan nya dari Titan, menjadi canggung dan tidak enak hati sudah memeluk Titan dengan se enak nya.
"Gua mau pulang Tan"
Minta Aera menoleh membuang pandangannya dari Titan.
"Mmm"
Titan mengangguki dengan ikut membuntuti Aera.
Setelah sampai di depan rumah Aera turun dengan di ikuti Titan.
"Makasih ya Tan"
__ADS_1
Ucap Aera setelah keduanya saling berhadapan.
Titan tersenyum tipis dengan mengangguki nya.
"Besok balik sekolah gua kesini ya"
Jelas Titan.
"Ngga perlu Tan, apa yang hari ini lo lakuin aja udah lebih dari cukup ko"
Tolak Aera.
"Makasih ya udah mengesampingkan pribadi lo buat ngehibur gua"
Lanjut Aera. Hari ini Titan menjadi pribadi yang sedikit berbeda dari biasanya, lebih banyak berbicara. Apa yang dilakukan Titan sekedar untuk menghibur dan memberi kekuatan untuk Aera.
Titan tersenyum dengan lebarnya menatap Aera, memberikan kehangatan.
"Butuh apa apa kabarin gua ya"
Ucap Titan sebelum kembali masuk kedalam mobilnya.
Aera tersenyum tipis mengangguki nya.
Ada yang dirasa berbeda dengan sangat jelas rasa saat bersama dengan Titan hari ini. Menjadi lebih kuat dan sangat tenang, terlebih dengan Titan yang menjadi pendengar dan penasihat yang baik. Dengan apa Aera dapat membalas keberadaan Titan saat ini.
Aera memperhatikan coklat yang berada di tangan nya yang dibawanya sedari tadi dengan Titan yang memberikan nya.
Baru akan berbalik untuk masuk langkah Aera terhenti akan keberadaan nek Parsiah yang tidak jauh darinya tengah menatap dan memperhatikan nya.
"Aera"
Sapa nek Parsiah tersenyum sebelum beranjak menghampiri Aera.
Aera terdiam tanpa membalas sapaan ataupun senyuman dari nek Parsiah yang saat ini sudah berada di hadapannya.
"Kamu baik-baik aja nak"
Tanya nek Parsiah yang datang untuk memastikan keadaan Aera dengan rindu yang juga dirasakan.
"Apa menurut nenek setelah semua yang terjadi Aera bisa baik baik aja"
Tanya Aera menjadi lebih sensitif akan keberadaan nek Parsiah setelah beberapa hal yang menjadi jelas di ketahui Aera.
"Nenek hanya khawatir nak, nenek rindu"
Jelas nek Parsiah dengan ekspresi bersalah nya.
Aera menoleh membuang tatapan nya dari nek Parsiah.
"Aera capek mau istirahat"
Aera yang berbalik pergi meninggalkan nek Parsiah begitu saja.
"Maafkan nenek Aera"
Gumam nek Parsiah dengan sesal nya.
__ADS_1
Apa yang pernah dilakukan nya di masa lalu, menjadikan hidup Aera menjadi seperti sekarang ini.
Apa yang dapat dibenahi dari kesalahan yang terjadi dimasa lalu, hanya sesal yang tersisa.