
Saat tengah memeluk Aera dengan tangis nya tiba tiba mama melepaskan tangan nya yang semula begitu erat untuk mendekap Aera. perlahan mama memejamkan matanya dan hampir terjatuh karna pingsan, tapi untung nya Aera segera memeluk mama untuk menahan nya.
"Mama! Mama, mama kenapa ma?"
Seru Aera dengan mama yang sudah berada dipeluk dan di tahan nya.
Sia memastikan nya, dilihat mama yang sudah terpejam di atas pundak Aera.
"Aera, mama lo pingsan!"
Sontak Sia menjadi terkejud.
Titan langsung berada memasang diri untuk menggantikan Aera menahan mama dan membopong nya.
"Kita bawa kerumah sakit sekarang"
Arahkan Titan berjalan lebih dulu, dengan Sia yang membantu menyebrangkan nya.
Titan berada menyetir, Sia duduk di depan di samping Titan sedangkan Aera duduk di belakang dengan menyangga mama di pundak nya.
"Ma bangun ma, jangan bikin Aera ketakutan kaya gini"
Aera menjadi sangat panik dengan keadaan mama yang tidak sadarkan diri.
"Tante akan baik baik aja ko, Aera"
Seru Sia menenangkan. Duduk dengan memiringkan posisi nya agar dapat untuk terus memperhatikan Aera.
Saat setelah mobil Titan sampai dan berhenti tepat di depan bagian UGD, Kembali membopong mama keluar dari mobil Titan berteriak memanggil suster dan petugas untuk membawakan ranjang.
Setelah dengan ranjang yang membawa mama di dorong suster dan para petugas masuk kedalam ruang UGD, Aera terdiam di tempat dengan tatapan kosong.
Kembali berada di tempat yang sama. Tempat yang begitu menakutkan dan tidak ingin untuk di pijak nya lagi, setelah dengan apa yang terjadi kepada mba Ana di tempat ini. Di tempat yang sama saat kali terakhir mba Ana berdetak dengan tubuh hangat nya. Aera menjadi lemas bergetar, keringat dingin pun bercucuran karna harus kembali ketempat ini lagi. Aera takut, dan khawatir apa yang terjadi kepada mba Ana akan terjadi juga kepada mama. Kepala nya pun tiba tiba menjadi sangat pusing, menjadikan nya hampir kehilangan keseimbangan.
Titan yang semula memperhatikan Aera pun bergegas untuk menahan Aera yang akan terjatuh.
"Lo ngga papa?"
"Aera lo ngga papa?"
Seru Sia setelah melihat Aera yang hampir terjatuh.
Aera menggelengkan kepala dengan wajah pucat dan tatapan yang begitu sayup.
"Gua takut ada di tempat ini, dan masuk kedalam sana. Di tempat ini mba Ana pergi"
Gumam Aera didalam ketakutan, dan berada dalam sanggaan Titan.
Titan membawa Aera untuk dipeluk nya.
__ADS_1
"Semua akan baik baik aja. Ngga akan terjadi apa apa sama tante. Jangan menyiksa diri lo lagi dengan ini semua, Aera. Jika emang bertahan itu menyakitkan dan terlalu sulit, itu karna lo sendirian dengan semua. Lo ngga mau terbuka dan berbagi sama orang lain. Sengga nya lo cerita ke gua atau pun ke Sia. Untuk dapat memahami dengan apa yang kita ngga tau itu sulit Aera, bukan kita ngga mau ngertiin lo. Tapi pada dasarnya seseorang yang dapat mengerti diri lo sendiri ya hanya lo. Jadi setelah ini cerita dan terbuka sama kita"
Crocos Titan dengan kalimat panjang di ikuti ketulusan didalam nya juga dengan tangan yang menepuk pelan punggung Aera sekedar menjadikan Aera dapat sedikit lebih tenang.
Ucapan Titan kali ini sebenarnya tidak menjadi berarti apa apa, karna Aera yang tidak mendengarkan. Tengah sibuk dengan takut dan khawatir nya.
"Kalo lo ngrasa takut jangan di paksain lo tunggu dan istirahat di mobil, biar gua sama Sia yang tungguin tante"
Aera menggelengkan kepala melepaskan diri nya dari pelukan Titan.
"Gua mau mastiin keadaan mama sendiri. Gua ngga akan tenang sebelum tau dengan apa yang terjadi sama mama"
"Kalo gitu kita masuk sama sama ya. Ngga perlu takut, ketakutan itu ada buat di hadapin. Ada gua yang akan terus di samping lo"
Titan yang meraih tangan Aera untuk di genggam nya dengan erat.
Sia menarik kedua sudut bibirnya membumbuhi dengan senyum tipis.
Menjadi lega dengan keberadaan Titan yang begitu baik dan tulus kepada Aera. Sekalipun tidak ada keberadaan dirinya sekarang tidak akan menjadi apa apa, karna Aera akan baik baik saja.
Aera memaksakan diri akan ketakutan atau yang saat ini dapat dikatakan sebagai trauma. Ketakutan yang dirasakan sebagai akibat peristiwa atau kejadian traumatik.
Dengan di genggam tangan nya oleh Titan, akan keberadaan Sia juga menjadikan Aera berani untuk menghadapi rasa dan ketakutan ini.
Setelah menunggu beberapa saat di depan pintu ruangan UGD, dokter keluar dengan satu suster yang berada di belakang nya.
"Jadi mama saya kenapa dok? Dia baik baik aja kan?"
"Pasien hanya mengalami syok. Tidak ada yang serius, semua baik baik saja"
Perjelas dokter dengan keadaan mama. Tidak ada yang serius dengan Mama yang kehilangan kesadaran, hanya syok yang di alami. Pingsan yang terjadi kepada mama karna mama begitu terkejud dengan apa yang diketahui akan Aera, dan menjadi stres dan ketakutan.
Syok sendiri adalah suatu keadaan gawat darurat dimana terjadi penurunan perfusi ke seluruh organ tubuh. Penurunan perfusi ke seluruh organ tubuh ini dapat menyebabkan jaringan dan sel-sel tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen hingga organ tersebut tidak dapat berfungsi dengan semestinya
"Hhhhh..."
Aera menghelai nafas lega setelah mendengar dokter mengatakan mama yang baik baik saja.
"Jadi sekarang saya boleh masuk kan dok"
"Pasien akan di pindahkan ke ruang rawat, dan untuk sementara jangan di temui dulu agar pasien dapat beristirahat ya"
"Baik dok"
Aera mengangguki dengan senyum tipis yang di uraikan nya.
Setelah mengantar dan memastikan mama beristirahat di ruang rawat, Aera beranjak pergi begitu saja.
Aera duduk tertunduk dengan disangga kedua lengan yang diletakan di atas lutut. Sendirian di lorong diantara ruangan yang kosong dan sepi. Dalam tundukan nya tidak ada hal lain selain menangis yang saat ini di lakukan nya.
__ADS_1
Digerogoti sampai hampir habis pertahanan yang berada dalam dirinya, setelah dengan semua hal yang silih berganti terjadi.
Titan beranjak akan menyusul Aera, namun di tahan Sia.
"Biar gua aja ya"
Seru Sia meminta Titan untuk mengalah kali ini, biar dirinya kali ini yang menguatkan Aera. Meski tidak tau Aera akan menjadi lebih kuat atau malah sebaliknya.
Sia ikut duduk begitu saja di samping Aera.
Aera menoleh memperhatikan dengan seseorang yang berada di sampingnya.
Sia merangkul Aera yang masih berada dalam tundukan nya.
"Sengga nya biar gua lakuin ini. Lupain sebentar aja apa yang tengah terjadi di antara kita. Gua ngga tahan cuman diem aja disaat lo seperti sekarang ini. Buat kali ini biarin dengan apa yang mau gua lakuin dan dengan apa yang mau gua omongin"
Ikut tenggelam bahkan ikut berada terdampar di dasar lautan setelah tau dengan semua yang terjadi dan di hadapi Aera seorang diri. Pantas Aera menjadi marah dan begitu kecewa kepada nya, disaat saat keterpurukan begitu buruk yang terjadi kepada Aera dirinya malah tidak berada di samping nya dan malah mengutarakan tuduhan dan prasangka yang salah dan tidak seharusnya di pikirkan dan di ucapkan.
Aera yang kemudian memeluk Sia dan menumpahkan tangisan nya didalam pelukan. Kembali ditempat yang nyaman di tempat yang menjadi pas untuk nya berbicara banyak hal dan mengutarakan semua.
"Siaa...
Kenapa gua harus melewati ini semua. Kenapa Tuhan menjadikan gua berada dengan takdir sesulit ini Sia. Gua kehilangan mba Ana, gua kehilangan seseorang yang sebelumnya sudah hilang dan tiba tiba keberadaan nya menjadi nyata dan dia mengajari gua dengan akan rasa nya kehilangan ayah yang sebenarnya. Dan gua tau semua akan masa lalu gua. Gua cape dengan isi semua Sia. Sejak awal ngga ada yang baik baik aja, sejak awal seharusnya gua tau dengan semua yang benar akan menjadi lebih rumit dan sulit. Mempercayai ungkapan, akan kebahagiaan yang datang di waktu yang tepat itu adalah kesalahan terbesar"
Crocos Aera dengan panjang nya, mengutarakan sebagian belum semua akan apa yang dirasakan nya.
Titan memperhatikan keduanya, menghampiri sekedar memastikan dengan keduanya yang akur dan baik baik saja mengingat dengan apa yang tengah terjadi diantara keduanya. Menjadi lega dengan keberadaan Sia saat ini yang berada di samping Aera dan ikut menguatkan nya.
Titan kembali meninggalkan memberikan ruang untuk kedua nya
Ikut menjatuhkan air mata dengan curahan Aera di dalam pelukan nya.
"Tuhan kasih ini karna Tuhan tau lo kuat buat menghadapi dan melewati ini semua, Aera"
Selama hidupnya baru kali memang Sia bertemu seseorang sekuat dan setegar Aera. Bagaimana tidak? Tidak ada yang sebaik Aera untuk menyembunyikan keterlukaan dan memperlihatkan dirinya baik baik saja. Terlebih setelah dengan semua yang di hadapi dan di lewati nya, Aera dapat berada sampai di titik ini dan sejauh ini.
"Seseorang yang kuat tidak akan menjadi pasrah dan merasa kalah seperti gua sekarang ini"
"Bukan karna pasrah, keluh, atau perasaan kalah nya yang menjadikan seseorang itu kuat atau ngga nya. Tapi setelah dengan perasaan itu semua dia masih mampu melewati dan menghadapi nya, itu yang namanya kuat Aera. Sama seperti lo yang sebelum sebelum nya, mampu melewati semua nya meski dengan keluh dan keterpurukan seperti apapun"
"Tapi untuk kali ini gua ngga akan menjadi seperti sebelumnya. Kali ini gua bener bener mau berhenti dan tertidur untuk waktu yang panjang dan melupakan semua nya"
Dengan Aera yang melepaskan pelukan dari Sia dan menegan duduk nya sembari memeluk kedua lutut yang ditekuk nya.
"Lantas gimana dengan nyokap lo, gua dan Titan. Ngga, pikirin nyokap lo"
"Lo liat bukan, keberadaan gua malah terus membuat nya tersiksa seperti sekarang ini"
"Apa menurut lo setelah lo pergi dengan pemikiran lo yang gila itu buat buhuh diri dia akan baik baik aja. Bisa jadi dia lebih tersiksa menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi sama lo"
__ADS_1
Aera terdiam membenarkan dengan apa yang Sia katakan. Lantas dengan langkah apa yang benar untuk ini.