Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
121


__ADS_3

Perlahan dan perlahan, setahap dan setahap semua membaik, tertata dan tersusun utuh.


Mama, sahabat dan sekarang dengan cinta. Hal yang berada dimiliki nya kali ini menjadikan Aera benar merasakan hidup.


Bukan lagi hitam, abu abu atau sekedar putih kali ini menjadi warna warni dengan begitu terang nya.


Aera bersyukur akan banyak hal yang telah dimiliki, di dapat dan menjadikan luka nya perlahan mulai membaik. Mungkin semua yang terjadi kali ini atas doa dan keluh yang selalu di panjatkan nya.


Satu Tahun berlalu sejak hari itu saat semua terkuak menjadi kejujuran di depan rumah Aera.


Setelah satu tahun terakhir sudah banyak hal yang dilewati, entah suka maupun duka. Dan di satu tahun terakhir itu Aera banyak sekali belajar, sampai jika di paparkan dengan apa yang sudah di pelajari nya akan menjadi catatan yang sangat panjang. Satu dua buku pun dirasa tidak akan cukup untuk mencatat semua hal yang Aera pelajari.


Ada yang menjadi tegad kuat nya setelah semua. Aera ingin benar menjadi kuat, bukan sekedar seperti rapuh yang mencoba tetap utuh karna menjadi seperti itu sangat melelahkan untuk nya.


Tidak juga berharap dan menuntut orang lain untuk memahami dirinya seperti saat itu. Kali ini Aera ingin mengerti dan memahami dirinya sendiri, jika terlalu sulit untuk itu maka Aera akan berbicara, bercerita dan terbuka. Dengan begitu orang-orang akan mendengarkan dan bahkan mengerti juga memahami terlebih lagi menjadikan jalan keluar jika itu akan kesulitan.


Memang benar guru yang paling tangguh untuk mengajar kan seseorang itu adalah kesalahan nya sendiri, pengalaman nya sendiri dan pemikiran nya sendiri. Sepandai dan semampu apapun seseorang mengajari dan memberi tahu akan sesuatu, tidak akan menjadi berpengaruh apa apa jika yang diberi tau tidak menginginkan dan tidak menghiraukan nya, sia sia saja.


Dan di hari ini, hari ulang tahun Aera yang ke 19 tahun juga perayaan atas kelulusan ketiganya, Aera Sia dan Titan.


Beberapa jam yang lalu ke empat nya begitu sibuk mempersiapkan pesta kecil-kecilan untuk Aera juga untuk kelulusan ketiganya. Bahkan Azka sampai menutup cafe dan meliburkan karyawan nya agar dapat mempersiapkan acara ini.


Aera ikut campur tangan karna dikiranya ini sekedar pesta perpisahan atas kelulusan. Lupa dengan hari ini adalah hati ulang tahun nya. Dengan begitu Aera dibuat terheran dengan banyak nya balon yang harus di pasang nya bersama Titan, karna bagian untuk dekorasi adalah keduanya. Sedangkan Sia dan Azka bagian di dapur, memasak untuk hidangan nanti.


"Kenapa harus dengan sebanyak ini sih balon nya"


Tanya Aera yang sudah menjadi lelah harus meniup balon dengan nafas yang sudah dirasa hampir habis.


Sudah belasan balon yang terisikan dengan nafas nya.


"Kan biar rame, biar makin seru"


Jelas Titan yang tengah memanjat untuk memasangkan balon di sudut sudut atas ruangan.


"Rame sih rame, kesan nya malah jadi kaya acara anak bocah"


Gretu kesal Aera dengan wajah cemberut nya.


Aera menikmati ini, menikmati dirinya yang sekarang. Marah, kesal dan menggerutu bebas sesuka hati dengan menyesuaikan perasaan yang tengah dirasakan nya.


Begitu pun Titan tersenyum begitu lebar menikmati Aera yang menggerutu kesal, menjadikan Aera dengan perasaan yang dirasakan nya. Lega rasanya melihat Aera seperti sekarang ini.


"Orang kan udah canggih apa aja ada sekarang, kenapa ngga pake pompaan sih. Apa jangan jangan sengaja ngerjain gua ya lo pada"


Sinis Aera kepada Titan juga dengan Azka dan Sia yang baru keluar dari dapur untuk meletakkan beberapa hidangan yang sudah siap di sajikan.


"Ngoceh aja heran, kalo ada pompa terus bagian lo ngapain"


Cetus Sia dengan tatapan tajam dengan tawa yang berada di tahan nya. Memang puluhan balon yang di sediakan sengaja dengan Aera yang harus meniup nya. Karna konon katanya semakin banyak balon yang di tiup sendiri semakin banyak harapan yang dapat di panjatkan dan menjadi terkabul oleh si peniup balon.


"Siaa.."


Rengek Aera dengan wajah memelas nya.


"Lo ngga mau kan sahabat lo yang cantik ini mati karna kehabisan oksigen"


Titan turun dari tangga mengambil balon selanjutnya untuk di pasang.


"Kalo lo kehabisan oksigen kan ada gua, gua siap ko kasih nafas buatan buat lo"


Seru Titan dengan senyum lebarnya.


Menjadikan Sia dan Azka tertawa mendengar nya.


"Wah wah, bahaya lo berdua"


Seru Azka dengan ledek nya.


Aera tersenyum lebar tergelitik lucu dengan gombalan atau sekedar candaan yang Titan lontaran.


"His gila lo ya?"


"Gila karna kamu"


Seru Titan yang berada memasang wajah nya begitu dekat di hadapan wajah Aera hanya berada terpisah satu jengkal.


Nek Parsiah masuk setelan seruan nya dan suara pintu terabaikan tanpa adanya jawaban.


Aera menoleh di dapati keberadaan nenek yang tengah memperhatikan nya.


"Prkkk.."


Tampar Aera di pipi Titan, begitu spontan dengan keberadaan Nenek dan dengan wajah Titan yang begitu dekat dengan nya.


"Aw..."


Gretu Titan kesakitan memegangi pipinya.


Nenek dibuat terkejud sampai membulatkan tatapan nya setelah dengan Aera yang menampar Titan. Begitu dengan Sia dan Azka yang juga ikut terkejut dengan keberadaan Nenek dan dengan tamparan Aera.

__ADS_1


"Jangan deket deket jijik tau ngga sih"


Sentak Aera yang kemudian bangun dari duduknya.


"Aeraaa..."


Seru Titan, menatap tajam dengan tangan yang masih memegangi pipinya. Tidak mengerti dan tidak habis pikir dengan apa yang di katakan setelah dengan apa yang di lakukan nya.


Aera membulatkan tatapan dengan mengarahkan Titan untuk menoleh ke sisi kiri nya.


"Kenapa sih Aera?"


Tanya Titan yang tidak memahami maksud dari Aera yang diam dan malah memainkan bola matanya.


"Ah manusia ini"


Gretu Aera didalam hati dengan perasaan kesal nya.


"Ya ampun ada nenek? Nenek sampai kapan ko Aera ngga tau?"


Aera memutuskan untuk melakukan nya sendiri. Berharap nenek tidak mendengar lontaran Titan dan dengan Titan yang semula berada begitu dekat di hadapan wajah nya. Menghampiri nenek dan menggandeng tangan nya.


Titan membulatkan tatapan setelah menyadari dengan maksud dari semua yang Aera lakukan. Menoleh dengan senyum canggung nya.


Begitu pun dengan Sia dan Azka yang menjadi terkejud dengan keberadaan nenek. Tidak tau kapan masuk dan suara pintu masuk yang seharusnya berbunyi dengan lonceng kecil yang di pasang nya, untuk menandai setiap orang keluar masuk. Tapi kali ini tidak, entah memang tidak mendengar nya atau memang lonceng nya yang rusak.


"Titan kenapa di tampar kaya barusan?"


Tanya nenek memastikan dengan perbuatan Aera barusan.


Aera tersenyum memperlihatkan deretan gigi dengan menyipitkan mata nya, menatap Titan dengan perasaan bersalah nya.


"Udah biasa ko nek kita, emang bercanda nya suka kelewatan gitu. Maaf ya Tan kelepasan"


Seru Aera dengan tawanya.


"Ah iya, ngga papa ko. Udah biasa ko nek jadi ngga papa, sembuh sendiri ko abis ini, ngga sakit ini mah"


Jawab Titan dengan kata kata yang di lebih lebihkan sekedar menyinggung Aera.


"Ngga boleh gitu lagi ya kasian kan temen kamu"


Seru Nenek menasehati Aera.


Aera tersenyum mengangguki.


"Iya nek tenang aja ngga akan Aera ulangi lagi ko"


Tanya Aera tidak tau dengan nenek yang akan datang. Ini kan sekedar acara kelulusan bingung saja dengan datang nya nenek.


"Katanya ini acara kelulusan kamu, ya nenek harus dateng dong buat kasih cucuk nenek hadiah"


Nenek dengan mengusap kepala Aera dengan begitu lembut.


Aera tersenyum lebar dengan nenek yang meluangkan waktu dengan mementingkan sekedar acara kelulusan nya.


"Makasih banyak ya nek"


Tersenyum tipis dengan tatapan yang begitu hangat.


"Drttt.. drttt.."


Handphone nenek yang berada di dalam tas bergetar dengan nada dering yang berbunyi.


Nenek mengeluarkan dan memastikan nya, didapati satu panggilan masuk.


"Nenek angkat sebentar ya"


Seru nenek sebelum menjauh mengangkat telfon masuk nya.


"Titan, maaf yaa, maaf banget"


Lirih Aera kepada Titan saat nenek menjauh untuk mengangkat telfon nya. 


Titan diam dengan wajah cemberut kesal menatap Aera dengan tajam nya.


Nenek kembali setelah selesai mengangkat telfon nya.


"Gimana ya Aera, nenek harus pergi sebentar buat mengurus beberapa kerjaan"


Setelah meninggal nya Anan nenek yang harus kembali turun memegang perusahaan nya sampai Aera dapat meneruskan nya.


"Kalo nenek mau pergi ngga papa ko, lagi acara nya belom mulai masih banyak yang belum siap. Iya kan guys"


Jawab Aera.


"Iya nek pergi aja masih lama ko acaranya dimulai"


Seru Sia menambahi, dengan Azka dan Titan yang ikut mengangguki.

__ADS_1


"Yaudah kalo gitu nenek pergi ya"


Dengan nenek yang melambaikan tangan kepada beberapa bodyguardnya. Salah seorang bodyguard menghampiri nenek dengan dua bungkusan yang diantarkan nya.


"Ini buat Aera dan satu lagi buat kalian semua. Ini hadiah dari nenek atas hari bahagia dan kebersamaan kalian"


Sodor nenek kepada Aera dengan satu bungkusan berwarna biru muda dilengkapi dengan pita bagitu cantik dan dengan satu bungkusan berukuran lebih kecil berwarna abu abu kepada Sia yang di peruntuk untuk ke empat nya sebagai hadiah bersama.


"Nenek, Makasih"


Seru Aera memeluk nenek dengan senyuman yang begitu manis terurai kan.


"Makasih banyak ya nek"


Seru Sia dengan yang lain nya.


Nenek tersenyum mengangguki.


"Kalo nanti acaranya mau dimulai dan nenek belum datang kalian mulai saja ya, nenek akan menyusul"


Aera mengangguki dengan yang lain nya.


"Pastikan nenek dateng ya"


Seru Aera.


"Iya sayang, kalo gitu nenek pergi dulu ya"


"Hati hati nek"


Seru Aera dengan nenek yang beranjak pergi.


Memastikan nenek yang pergi Aera beranjak menghampiri Titan dan memegangi pipi bekas tamparan nya.


"Maaf.."


Seru Aera tidak tega melihat pipi Titan yang memerah bekas di tampar nya.


"Gua ini pacar lo atau apa sih, kasar banget deh. Sakit tau ini, nyut nyutan"


Gretu Titan dengan wajah cemberut kesal nya.


"Iya maaf, reflek kan. Tiba tiba nenek udah ada di situ terus wajah lo deket banget sama muka gua. Kalo nenek sampe mikir kita habis ciuman atau ngapa ngapain kan ngga lucu"


Perjelas Aera dengan keterpaksaan dirinya sampai harus menampar Titan.


"Di maafin ngga nih?"


Lanjut Aera dengan Titan yang malah diam dan memperhatikan dengan ekspresi kesal, yang menjadikan Aera semakin kelepek kelepek dengan ketampanan nya.


Titan masih diam tidak menjawab. Menjadikan Aera geregetan sampai akhirnya menyubit kedua pipi Titan, bahkan bekas tamparan nya pun juga dicubit nya.


"Ih gemes deh, kenapa ganteng banget sih pacar gua"


"Aw! Aera!"


Sentak Titan kesakitan.


Aera berlari menghindari Titan uang menjadi semakin kesal kepada nya.


Melihat keduanya yang malah kejar kejaran dan asik bercanda menjadikan Azka dan Sia seperti obat nyamuk di rasakan.


"Udah sayang kita ke dapur aja yuk"


Seru Azka dengan merangkul Sia.


"Yuk ah kesel disini lama lama"


Seru Sia dengan melingkarkan tangan nya di pinggang Azka.


Titan mengejar Aera setelah didapati Aera tertangkap nya Titan mendekap Aera dengan sangat kencang bahkan menjadikan Aera merasa pengap.


"Titan lepas, gua ngga bisa napas ini"


Aera yang tengah bersikeras melepaskan diri dari dekapan Titan.


Saat terlalu mengerahkan tenaga untuk mendorong Titan membuat Aera terlepas bahkan hampir terjatuh.


Tapi dengan Cepat Titan menangkap dan menahan dengan kedua tangan yang dilingkarkan di pinggang Aera. Menjadikan kedua begitu dekat dan saling berhadapan bahkan bukan sekedar wajahnya saja kali ini, tidak juga dengan jarak sejengkal yang memisahkan karna keduanya sudah menempel menyisakan wajah nya yang masih berada terpisah.


Keduanya terpaku menatap satu sama lain dengan serius nya, dengan Titan yang perlahan membuat wajahnya semakin dekat. Dan teng.. keduanya pun berciuman dalam hitungan detik.


Setelah nya Aera mendorong kening Titan kebelakang dengan satu telunjuk nya.


"Lepas!"


"Manis"


Seru Titan dengan bibir Aera yang dirasakan manis dirasa nya.

__ADS_1


"Mau gua tampar lagi"


Seru Aera dengan tawa yang berada di tahan.


__ADS_2