Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
108


__ADS_3

Saat mama pergi bekerja, Aera turun dan ikut pergi setelah dengan penampilan rapih nya. Beberapa saat Aera keluar beranjak pergi, Azka datang mengetuk pintu berniat akan bertemu dengan Aera. Menjelaskan semua yang perlu untuk dijelaskan, menata apa yang salah dengan semua yang berada dikira dan di pandang oleh Aera. Setelah cukup lama mengetuk dan mengucapkan salam, tidak didapat juga jawaban nya.


"Aera pasti udah berangkat sekolah"


Gumam Azka dengan pikir nya.


"Hhhh.."


Menghelai nafas pelan sebelum beranjak untuk pergi.


Satu satunya tempat untuk nya bersinggah saat ini hanya pemakaman mba Ana dan Anan.


Seperti biasanya Aera lebih dulu mampir ke toko bunga yang tidak begitu jauh dari pemakaman. Toko bunga yang sudah di datangi nya beberapa kali.


"Kaka dateng lagi?"


Sapa si penjaga toko bunga, seseorang yang berbeda dari seseorang yang sebelumnya melayani Aera, kali ini hanya seorang gadis atau dapat dikatakan anak perempuan.


Aera pun membalas tersenyum.


"Sekarang Kaka nya mau bunga apa?"


Tanya gadis itu, tau dengan Aera yang datang sering kali untuk membeli bunga.


Di lihat jelas oleh gadis itu, dengan duka yang belum dapat di lepaskan oleh Aera. Gadis itu tau karna Aera yang sering datang ke pemakaman bahkan hampir setiap hari. Rutinitas yang dilakukan oleh orang-orang yang belum ikhlas untuk melepaskan seseorang yang sudah pergi. Bukan sekedar Aera yang ditemui seperti ini, banyak juga untuk yang lain nya. Datang setiap hari karna belum rela di tinggal pergi, atau masih dirasakan berat untuk mengikhlaskan nya.


Aera melihat sekitar, keberadaan nya yang dikelilingi dengan banyak nya bunga yang bermacam-macam. Mencari kali ini bunga apa yang indah dan cocok untuk diberikan kepada mba Ana dan Anan.


"Nama Kaka siapa?"


Seru si penjaga toko kepada Aera.


"Akan lebih nyaman jika aku tau nama Kaka"


Lanjut gadis itu dengan blak blakan nya.


Aera mengalihkan tatapannya, untuk kembali menatap perempuan setinggi bahu nya, dan lebih muda dari pada dirinya. Aera tersenyum mengulurkan tangannya.


"Aku Aera, kalo kamu?"


Ucap Aera dengan nama yang disebut nya.


"Aku Amel, ka"


Seru si penjaga toko yang bernama Amel. Tersenyum dengan tangan nya yang berada berjabat tangan dengan Aera.


"Umur kamu berapa?"


Tanya Aera setelah selesai berjabat tangan.


"Umur Amel 15 ka"


"Aku baru liat kamu, tapi kayak nya kamu udah tau aku"


Lanjut Aera dengan Amel yang seolah sudah mengenal nya.


"Perempuan dewasa yang sebelumnya melayani Kaka beberapa kali itu Kaka nya Amel. Amel sering liat Kaka datang buat beli bunga, bunga bunga itu buat siapa ka, siapa yang dimakamkan di pemakaman di depan?"


Lanjut Amel bertanya tanpa ragu.

__ADS_1


"Hhhe..."


Aera mengehelai tawa dengan Amel gadis cantik yang tampak polos dilihat nya. Bertanya kepada dirinya tanpa ragu, atau dengan perasaan tidak enak nya. Seolah seperti tengah bertanya hal hal biasa. Dengan gaya bicaranya yang terlalu blak-blakan.


Tapi Aera tidak menjadi marah atau tersinggung, tersenyum manis menatap Amel.


"Bunga bunga yang biasa nya aku beli itu untuk Kaka dan Ayah aku. Mereka yang di makamkan di pemakaman di depan?"


Jelas Aera tersenyum, dengan sorot mata yang berbeda.


"Amel turut berduka ya ka"


Seru Amel dengan senyum tipisnya.


"Terimakasih, bisa tolong carikan aku bunga yang bagus"


Amel tersenyum dan segera bergegas dan melihat satu persatu bunga bunga yang ada yang sekiranya akan cocok dan disukai Aera.


"Serahin ke Amel, ka Aera tinggal tunggu rapih nya aja"


Seru Amel bergegas menyiapkan nya dua buket bunga yang sama untuk Aera.


"Tada...



Setelah selesai dengan dua buket bunga yang sama, yang sudah selesai Amel siapkan.


"Gimana bagus kan ka? Ka Aera suka?"


Tanya Amel setelah dengan dua buket bunga yang di pegang Aera.


"Cantik, Mmm aku suka"


"Tapi kenapa mawar putih dan kuning?"


Tanya Aera sekedar memastikan ada alasan khusus atau sekedar menyesuaikan dengan warna yang senada, dengan dua mawar berbeda, putih dan kuning yang disatukan Amel disetiap buket nya.


"Mawar putih artinya duka, dan mawar kuning artinya ceria. Dua hal yang harus sama sama ka Aera lepaskan, dan tinggalkan. Jika keceriaan kemarin ada malah menyakitkan maka biarkan lah untuk hilang dan dilupakan, seperti duka yang saat ini ka Aera juga rasakan"


Jelas Amel, kata kata yang sebelumnya juga dikatakan orang lain kepada nya. Kata kata yang kemudian berada sangat jelas dalam ingatan Amel.


"Amel bicara kaya gini karna Amel pernah ada di posisi ka Aera dan seseorang pernah mengatakan itu dan mengatakan banyak kata kata, saat Amel kehilangan mama dan Ayah. Perasaan yang saat ini ka Aera rasakan rasanya sangat tidak menyenangkan dan menyebalkan. Beberapa kali melihat ka Aera datang dengan sorot mata yang menyedihkan, yang kemudian keluar memperhatikan bunga bunga yang sudah ka Aera beli dengan tatapan berkaca. Amel melihat itu semua ka. Melihat ka Aera mengingatkan Amel dengan perasaan dan kesedihan itu. Amel ngga menyalahkan ka Aera cuman Amel ngga mau Ka Aera terlarut merasakan hal seperti ini"


Lanjut Amel kali ini dengan wajah serius nya, menjadikan Amel menjatuhkan air mata.


"Apa terkesan kurang ngajar karna Amel bicara kaya gini sama Ka Aera. Yang jelas jelas Ka Aera ngga kenal Amel. Amel minta maaf ka"


Sambung Amel masih dengan kalimat nya yang panjang. Memang seperti pribadi yang pandai berbicara, dengan kalimat kalimat yang selayaknya dikatakan orang dewasa.


Aera tersenyum tipis dengan tatapan sendu. Meletakkan kedua buket bunga yang semula berada dipegang nya di atas meja. Kedua tangan Aera terarahkan untuk mengusap air mata di kedua pipi Amel.


"Ka Aera boleh peluk Amel?"


Kesedihan Aera saat ini menjadikan orang ikut kembali terlarut dengan kesedihan masa lalunya. Gadis cantik yang berbicara seolah tengah menegur, mengingatkan dan menguatkan nya.


Aera ingin memeluk, mendekap, dan berterimakasih dengan semua kalimat panjang yang sudah Amel katakan kepada nya.


Amel mengangguki, dan bergegas memeluk Aera lebih dulu.

__ADS_1


Dalam kedua tangan yang berada mendekap Amel saat ini, Aera ikut menjatuhkan air matanya.


Kali ini Aera dibuat belajar jika bukan hanya dirinya yang pernah terluka, dan dibuat terpuruk akan luka dan keadaan. Disisi lain, diluar sana ada banyak orang orang yang terluka, terpuruk dan menderita.


Tapi pada dasarnya, luka adalah luka, rasa sakit tetap lah rasa sakit sebaik apapun seseorang menutupi nya, mengabaikan nya dalam saat saat tertu akan ada kalanya luka itu kembali ada utuh seperti sedia kala.


"Amel, setiap orang itu berbeda, kalo kamu bisa untuk ini. Belum tentu orang lain bisa, belum tentu ka Aera bisa. Karna ka Aera dan beberapa orang diluar sana tidak sekuat dan setegar kamu"


Seru Aera dengan kata kata nya, dengan kalimat atas apa yang sesuai akan dirinya.


"Jadi selama nya Ka Aera akan tetap seperti ini?"


Tanya Amel setelah berada melepaskan pelukannya dari Aera.


Aera tersenyum mengusap air mata di pipi nya.


"Ka Aera ngga tau sayang"


Amel meraih tangan Aera dan memegangi dengan satu tangan nya, menatap Aera dengan beberapa saat.


"Ka Aera bisa menangani ini, Amel jangan khawatir"


Seru Aera tersenyum.


"Amel"


Teriak kaka nya Amel setelah masuk kedalam toko, dan melihat Amel yang tengah memegangi tangan Aera.


"Kaka kan bilang boleh nglayanin pembeli tapi jangan bikin masalah, lepasin"


Seru Kaka nya Amel, memegangi Amel dan menarik tangan Amel untuk melepaskan tangan Aera.


"Maaf ya ka, Amel sedikit ada masalah dengan kejiwaan nya"


Jelas Kaka nya Amel, menjelaskan dengan kondisi Amel yang sebenarnya.


Aera melebarkan kedua matanya dibuat terkejud dengan keadaan Amel yang sebenarnya.


Aera mengangguki, dengan memperhatikan Amel yang berada tertunduk saat ini.


"Terimakasih ya Amel untuk bunga nya, cantik ka Aera suka. Kalo ka Aera dateng lagi Amel buatin yang sama cantik nya ya seperti ini. Terimakasih karna sudah memberikan ka Aera banyak hal hari ini. Ka Aera pergi ya"


Berada meraih tangan Amel dan di genggam Aera didalam kedua tangannya.


Amel tersenyum dengan sangat cantik, dan mengangguki nya.


"Kalo gitu ka Aera pergi dulu ya"


Pamit Aera, dengan meraih kembali buket bunga yang sebelumnya diletakkan di atas meja.


"Hati hati ka"


Tersenyum Amel dengan melambaikan tangannya.


Saat berada keluar dan sudah beberapa langkah meninggalkan toko Aera menghentikan langkahnya, tertunduk memperhatikan buket bunga yang dibawanya.


"Seperti ini luka yang ada pada hati seseorang. Keberadaannya seperti kejutan, datang dan dirasakan tidak terduga. Bahkan untuk gadis kecil yang belum tau banyak hal"


Gumam Aera dalam tundukan dan dalam tatapan nya kepada buket bunga yang dibawanya.

__ADS_1


Katanya keberadaan sakit yang tidak terduga akan membawa seseorang nantinya pada kebahagiaan yang juga tidak terduga. Dapatkah Aera terpaku dengan itu, menjadi kuat dengan harapan yang nantinya benar akan ada sebagai kebahagiaan yang tidak terduga.


Untuk seseorang yang hati nya patah menjadi kepingan, akan kah mampu menciptakan dunia nya untuk kembali utuh seperti sedia kala. Untuk Aera, untuk Amel dan untuk banyak orang diluar sana. Orang orang yang juga terluka sama seperti Aera.


__ADS_2