Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
67


__ADS_3

Keluar dari kelas keduanya Aera dan Sia tampak sama sama sedang gembira dengan mood nya yang tengah baik baik saja. Menyusuri lorong lorong kelas untuk pergi kekantin dengan keduanya yang tengah saling merangkul dengan tawa yang begitu meriah. Langkah nya seketika terhenti dengan seseorang yang tiba tiba menyelak masuk di antara Aera dan Sia. Kedua nya saling menoleh dengan seseorang yang saat ini berada di tengah.


"Fina"


Seru Ara dan Sia terkejud dengan Fina yang berada di tengah keduanya.


Aera dan Sia merenggangkan jarak keduanya sekedar untuk memperhatikan Fina.


Fina diam hanya tersenyum manis memperhatikan satu persatu Aera dan Sia.


"Lo ngapain Fin?"


Tegas Sia.


"Gua kangen lah sama kalian berdua"


Dengan Fina yang kembali menarik Aera dan Sia untuk berada dalam rangkulan nya. Dalam rangkulan kedua nya di ajak untuk ikut melangkah bersama nya.


"Saking rindunya gua sampe menemukan sesuatu yang akan menjadi kejutan untuk kalian berdua"


Dalam langkah dan rangkulan nya, Fina memaparkan sesuatu dengan senyum dan tawa yang seolah menjadi sangat menyenangkan untuk nya.


Sia yang menghentikan langkahnya dan menarik paksa tangan Fina untuk lepas dari pundaknya.


"Maksud lo apa sih?"


Tanya Sia dengan kesalnya.


Aera yang semula hanya diam dan mengikuti, dilepaskan pula tangan Fina dari pundaknya.


"Maksud nya apa gimana sih Sia? Gua cuman mau kasih kejutan aja buat kalian"


Jelas Fina dalam senyum senyum disajikan.


Sia yang memperhatikan nya dengan sinis. Sia tau dengan baik bagaimana karakter Fina, pendendam juga ambisius akan rasa sakitnya. Fina tidak akan tinggal diam hanya sekedar perkataan maaf akan kesalahan yang oranga lain lalukan kepada nya. Dia akan melakukan banyak cara bahkan diluar nalar sekalipun untuk musuhnya orang yang di dendaminya untuk merasakan sakit yang sama dengan apa yang pernah dirasakan nya.


"Ngga usah aneh aneh deh Fin"


Tegas Sia dengan kesalnya.


Seketika tawa Fina meluntur tersisa senyum sinis yang tengah menatap tajam Sia. Fina tidak terkejud dengan semua perkataan Sia, karna Fina sendiri tau bagaimana Sia sangat mengenal karakter nya melebihi dari siapa pun. Yang menjadi luka untuk batin nya disaat seperti sekarang ini, Sia selalu tau bagaimana Fina karna Sia mengenal Fina melebih siapapun. Sakit nya karna Sia tetap pergi memilih Aera yang jelas jelas Aera yang menjadikan semua berantakan.


"Lo tau apa yang aneh, gua kehilangan cinta dan sahabat gua karna satu manusia yaitu dia"


Dengan Fina yang kemudian menunjuk Aera dengan tajam nya.

__ADS_1


"Fin.. kan udah sering kita omongin ini"


Jelas Aera dengan Fina yang masih menatap tajam Aera.


"Lo kehilangan banyak hal karna diri lo sendiri, coba deh buat introspeksi"


Perjelas Sia dengan apa yang seharusnya di mengerti dan dipahami Fina.


"Jangan jadikan orang lain yang menanggung semua, egois lo namanya"


Dengan Fina yang sudah memperhatikan Sia.


Fina menghelai tawa mendengarkan apa yang dikatakan Sia, terutama dengan kata egois yang didengar nya, menyakitkan.


"Lo tau apa yang lebih aneh dan menyenangkan?"


Dengan Fina yang kembali menatap satu persatu Sia dan Aera.


"Kalian terhimpit di segitiga yang menyakitkan"


Jelas Fina dengan senyum lebar nya.


"Fina! Lo ada masalah sama gua, ngga perlu bawa orang lain ataupun Sia"


Tegas Aera yang mulai habis kesabaran nya. Terutama untuk setiap teka teki yang dikatakan nya.


Tegas Fina masih dengan senyum penuh yang terurai diwajahnya.


"Udah Ra ngga usah di ladenin ngga akan ada habisnya"


Sia yang kemudian menarik tangan Aera untuk pergi meninggalkan Fina. Berada dengan Fina lebih lama akan membuat emosi keduanya meledak ledak.


Dalam langkah nya membawa Aera pergi Sia terngiang-ngiang akan perkataan Fina. Yang Sia pahami bukan tanpa maksud Fina mengatakan hal itu. Dan itu semua yang saat ini menjadi masalah untuk dirinya sendiri. Menemukan maksud dari teka teki itu akan membantu nya menjawab semua.


Begitu pun untuk Aera yang punya rasa penasaran yang besar akan banyak halnya. Begitu pun untuk perkataan Fina yang tidak berdasar pun dapat menggugah rasa penasaran nya.


"Kenapa menatap gua layaknya menatap seorang penjahat"


Gumam Fina dalam tatapan kosong yang tengah memperhatikan Aera dan Sia yang mulai menjauh hilang dari tatapan nya.


"Hhh.."


Fina menghelai nafas dalam batin yang dirasakan terluka, sebelum beranjak pergi.


Tawa yang tertuang dalam batin yang terluka rasa nya sakit dan begitu sesak dirasakan. Hanya orang-orang terluka tetapi bungkam dalam sepi nya yang sering kali tertawa meski terluka.

__ADS_1


Rasanya jauh lebih sakit. Dunia yang tengah gelap dirasakan harus memaksa nya untuk tetap tertawa memperlihatkan seolah baik baik saja.


Bungkam dalam luka, tertawa dalam air mata, menjadi hal yang mudah untuk mereka yang sekedar melihat nya.


Aera dan Sia sudah berada di kantin dengan pesanan nya. Aera memesan siomay dan Sia yang memesan mie instan. Keduanya duduk bersebelahan.


"Maksudnya Fina ngomong gitu apa coba?"


Tanya Aera menghadap Sia.


"Ngga usah terlalu dipikirin lah"


Sia yang ikut menoleh menatap Aera.


Meski sebenarnya hatinya merasa tidak nyaman setiap memikirkan perkataan Fina. Tetapi tidak ingin Aera untuk ikut memikirkan nya. Aera jika sudah berpasangan akan jauh kemana mana.


Aera hanya diam mengangguki nya. Pikirnya pun tidak menganggap serius dengan perkataan Fina. Meski sempat menjadi prasangka tapi hanya sekedar lewat begitu saja.


"Eh iya lu kemaren gimana? Pulang naik bus?"


Tanya Sia memastikan Aera pulang dengan baik-baik saja karna dirinya yang tidak sempat mengantar Aera. Merasa bersalah juga kecewa. Tega membiarkan Aera pulang sendiri dan dirinya hanya diam menantikan seseorang yang pada akhirnya hanya membuat nya kecewa.


"Ngga, kemaren ketemu temen gua terus di nganterin gua balik dan kan mampir dulu ke kedai nya Adong, lo tau gimana reaksi nya dia liat gua sama cowo?"


Lanjut Aera yang ingin menceritakan lucu nya Adong kemaren saat melihat Aera bersama dengan Azka.


"Tunggu tunggu, jadi kemaren lo ketemu temen lo dan temen lo itu cowo dan lo berdua mampir ke kedai gitu"


Tanya Sia lebih memperjelas untuk dapat memahami dengan apa yang tengah Aera ceritakan.


"Yaps, dan lo tau gimana reaksi nya Adong pas dia liat gua sama temen gua?"


Aera tampak serius menceritakan nya dengan menikmati sembari merekah senyum dan sering kali dengan tawanya yang ramai.


"Gimana emang nya? Jangan bilang teriak teriakan?"


Lanjut Sia tidak kalah antusias nya. Ikut tersenyum juga tertawa mendengarkan dan bahkan sampai ikut membayangkan nya.


"Dia sampe diem dan pucet gitu pas tau gua sama cowo, dan dia ngira itu pacar gua dia langsung berkaca kaca gitu matanya, ya ampun itu gua ngga tega banget sih sebenarnya"


Sia tertawa begitu ramainya setelah terbawa didalam bayangan nya dengan cerita yang Aera ceritakan.


"Dari awal gua tuh yang udah tau kalo dia tuh suka sama lo, is geli tau ngga mana alay banget"


"His ko ngomong nya gitu"

__ADS_1


"Ya ampun ya ampun hilaf suka lepas aja nih emang mulut"


__ADS_2