
Aera mengantarkan mama kerja sampai di depan rumah.
"Mama berangkat ya"
Pamit mama sebelum masuk kedalam mobilnya.
"Mmm hati hati"
Aera dengan tatapan penuh arti dalam senyum manisnya.
"Makasih ya Aera"
Mama yang tiba tiba meraih satu tangan Aera. Ikut menatap dalam dengan penuh arti didalam sorotan nya.
Menjadi begitu ringan pundak dan langkah nya. Semua yang terjadi dengan begitu tiba tiba memberikan perubahan yang menjadi berarti untuk mama.
Aera tersenyum mengangguki nya. Beberapa hal di pahami melalui kata kata singkat yang mama katakan. Sorotan mata mama memperjelas beberapa hal itu.
"Mama bahagia dengan ini?"
Tanya Aera akan sesuatu yang menjadikan nya penasaran. Pertanyaan yang akan memberikan kejelasan dengan seperti apa Aera akan mempersiapkan hatinya.
"Mm mama bahagia"
Aera tersenyum dengan jawaban yang mama katakan. Memberikan ketenangan akan beberapa hal dalam hatinya. Ikut memegang tangan mama yang tengah memegangi tangan Aera. Setelah ini atau lebih tepatnya setelah beberapa hal lagi Aera akan dapat mengepakan sayap nya untuk terbang bebas menghirup udara dengan leluasa nya. Tidak lagi terkurung dalam sangkar yang gelap dan menakutkan. Tidak lagi merasa sesak dengan banyak hal yang terlalu pengap yang membebani nya.
"Kalo mama bahagia, jangan lagi jadikan keadaan kembali melukai mama"
Teriris perih dengan permintaan Aera akan kebahagiaan nya, seseorang yang sebelumnya menjadi alasan nya terluka dan menderita. Aera mengharapkan kebahagiaan nya. Membuat nya menjadi berkaca penuh dalam matanya.
Dari waktu ke waktu membuat nya semakin merasa bersalah dan ingin segera menebus dengan segala hal yang dapat mengobati Aera. Karna tau dengan baik sebuah luka yang terobati pun akan tetap meninggalkan sebuah bekasan.
"Kalo Aera? Bahagia?"
Lanjut mama balik bertanya, memastikan nya.
"Gimana bisa Aera ngga bahagia ma jika ini adalah hal yang Aera dambakan dalam waktu yang panjang. Dan pada akhirnya semua benar menjadi nyata, karna mama. Makasih ma"
"Maafin mama karna harus buat kamu melewati ini semua"
Bendungan air mata mama yang akhirnya tertumpah juga.
Aera ikut berkaca kaca membendung air mata melihat mama menangis dengan rasa bersalah di hadapannya.
"Mama tau, karna ini Aera sering kali terpuruk, terluka dan terjatuh? Semua itu menjadikan Aera perempuan yang lebih kuat ma. Seharusnya Aera yang berterimakasih"
Hal buruk yang menyedihkan dan menakutkan menjadi hal hal yang akan mematahkan dan menjatuhkan, tapi pada akhirnya akan menguatkan juga. Pembelajaran yang berharga adalah kenangan, masa lalu, keterlukaan, keterpurukan, kekalahan dan banyak hal lain nya.
"Mama ingin tau seluas apa hati mu nak"
Air mata yang semakin deras menetes dengan deru tangis yang tidak lagi dapat ditahan mama.
"Mama menyesal sudah sangat mengecewakan kamu, mama merasa bersalah buat banyak hal yang terjadi"
__ADS_1
Begitu menakjubkan kesabaran yang Aera miliki, menyedihkan membuat mama semakin terluka dengan rasa bersalah nya.
Lanjut mama melepaskan tangan Aera agar dapat mengusap air mata yang terus saja berjatuhan dipipi nya.
"Aera punya hati yang luas karna mama. Kenapa harus merasa bersalah ma? Aera bener baik baik aja, terlebih setelah ini"
Lanjut Aera menegaskan mama untuk tidak menyalahkan dirinya apalagi sampai terluka dengan rasa bersalah nya.
Mama menderu tangisan nya dengan kencang. Ingin sekali rasanya memeluk Aera, tetapi ada yang menahan dengan tameng besar dihatinya.
Aera mendekatkan dirinya membawa mama untuk berada dalam dekapannya, barada dalam pelukan yang erat. Menyalurkan segela kekuatan untuk mama. Dalam pelukannya air mata yang telah dibendung dan di tahan dengan kuat akhirnya terjatuh juga, menetes dan jatuh di pundak mama.
Untuk beberapa saat keduanya dalam pelukan yang erat, terhanyut dalam haru.
Aera melepaskan pelukannya setelah beberapa saat, mengusap jejak-jejak air mata di pipi mama.
"Udah dong nanti luntur semua makeup nya, mama berangkat gih udah terlalu siang ini"
"Padahal masih mau di peluk lebih lama"
Dengan tersenyum tipis, mengembalikan dirinya agar tidak lagi terhanyut dalam suasana.
"Nanti mama pulang kita lanjutin"
Lanjut Aera ikut tersenyum.
Mama mengangguki sembari mengusap rambut Aera sebelum masuk kedalam mobil. Mama berlalu hilang dalam pandangan Aera. Aera tersenyum dengan bekas pelukan mama yang masih dirasa hangat.
Saat akan beranjak untuk masuk seseorang dengan sepeda motornya berhenti di depan rumah dan di hadapan Aera.
Dengan mas mas yang sudah berada di hadapan Aera dengan menyodorkan bungkusan coklat berukuran sedang.
"Paket untuk siapa ya?"
Lanjut Aera sebelum mengambil bungkusan yang telah disodorkan kepada nya.
Mas kurir kembali menarik bungkusan yang disodorkan nya sekedar untuk melihat nama pengirimnya.
"Ini hanya tertulis T.N untuk mba Aera"
Jelas mas kurir sebelum kembali menyodorkan nya.
Aera menarik kedua sudut bibirnya, meraih bungkusan tersebut dengan tau siapa pengirimnya. TN siapa lagi jika bukan Titan.
"Makasih ya mas"
Aera membawa masuk bungkusan dari Titan yang sudah di pegangnya.
Membuka bungkusan nya di dalam kamar.
"Buku"
Seru Aera. Tampak sebuah buku seperti novel setelah bungkusan coklat dirobek Aera.
__ADS_1
"Untuk Ada"
Sebut Aera akan sebuah judul yang tertera di buku yang jelas sebuah novel.
Aera melebarkan tatapan nya untuk memperhatikan novel yang Titan berikan.
"Maksudnya apa coba"
Dengan membolak balikan dan membuka halaman buku dengan cepat memastikan ada sesuatu yang lain atau tidak.
Handphone dalam saku baju tidurnya berbunyi. Panggilan masuk dari Titan. Aera mengangkat nya.
"Ini buat apa, kan lo tau kalo gua kurang suka baca"
Crocos Aera setelah panggilan tersambung.
Titan tersenyum sekedar suara Aera yang didengar nya.
"Gua cuman mau kasih lo sesuatu"
"Ya masa buku"
Aera yang tiba tiba menjadi kesal dengan jawaban Titan yang ingin memberikan nya sesuatu tapi malah buku yang di berikan nya.
"Lo mengharapkan sesuatu selain buku?"
Tanya Titan dengan tersenyum.
"Hah?"
Aera yang terkejut dengan Titan yang menyimpulkan nya.
"Engga,ngga gitu maksud gua"
"Terus apa maksudnya?"
Tanya Titan untuk Aera dapat memperjelas maksud nya.
"Ah rese lo"
Kesal Aera.
"Ngga perlu di baca, simpen aja. Kalo lo ngrasa bosen baru deh"
Lanjut Titan sebelum menutup telfon nya.
Tut...
"Ah.."
Gretu Aera. Menjadi malu hanya dengan jawaban yang diucap dengan asal asalan. Tapi memang ada sedikit harap yang menjadikan Aera menginginkan lebih dari sekedar novel, atau setidaknya selain novel, apa istimewanya dari buku? Jelas jelas Titan tau dirinya tidak suka membaca.
Selalu ada saja hal hal aneh yang dilakukan nya.
__ADS_1
Aera memperhatikan novel yang kembali di perhatikan nya dengan judul yang tidak menyenangkan dibacanya.
Aera meletakan nya di meja sebelum bangun untuk pergi mandi.