
"Makasih banyak ya Tan"
Ucap Aera setelah sampai diantar pulang oleh Titan, dengan menenteng album foto berukuran sedang.
"Mmm"
Titan tersenyum tipis mengangguki.
"Kalo gitu gua balik ya?"
Pamit Titan.
Aera mengangguki, memperhatikan Titan pergi.
"Aera"
Seru Mama yang sudah berada duduk di ruang tamu menunggu Aera sedari tadi.
"Mama ngapain?"
Tanya Aera memastikan.
"Mama nunggu kamu nak"
Jelas mama tersenyum menatap Aera.
Aera terdiam memperhatikan mama dengan seksama.
Batin nya tengah bergumam, menjadikan matanya berkaca-kaca.
"Kenapa mama harus ikut campur tangan menjadikan Aera menderita, terluka seperti sekarang ini"
"Aeraaa?"
Seru Mama dengan Aera yang terdiam menatap nya dengan tatapan yang berbeda.
"Kenapa nak?"
Tanya Mama memastikan.
Bibir Aera sudah bersiap akan mengatakan apa yang ingin dikatakan nya, tapi Aera tetap diam menjadikan gumam nya berada bungkam dalam batin nya.
"Aera mau tau ma dengan alasan apa saat itu mama ingin membuang Aera. Jika pada akhirnya Aera tetap berada tumbuh seperti sekarang ini, Aera ingin tau bagaimana perasaan mama sekarang dengan Aera"
"Ngga papa ma"
Singkat Aera menyadarkan dirinya.
"Apa yang sudah kamu ketahui nak?"
Mama yang seolah memahami dengan tatapan Aera yang menjadi berbeda menatap nya.
"Semuanya"
Singkat Aera.
"Pada akhirnya... jawaban dan penjelasan itu bukan mama yang menyampaikan. Pada akhirnya mama tetap diam sampai sekarang. Dan pada akhirnya Aera tau Kenapa mama_"
Belum menyelesaikan ucapan nya, Aera sudah lebih dulu menoleh membuang tatapan nya sesaat dari Mama, sekedar menjatuhkan kacaan air mata yang kembali berjatuhan.
"Hhhhh..."
Aera menghelai nafas meluapakan tangisan nya.
"Iya mama tetap diam, mengulur waktu sampai akhirnya kamu tau dengan cara kamu sendiri. Mama terlalu malu, menjelaskan dengan sejahat apa diri mama. Mama merasa bersalah, menjadi terluka setiap ingat dengan apa yang sudah mama lakukan, perasaan ini menghantui mama setiap saat Ra"
Mama yang akhirnya menumpahkan air matanya, sesal nya dan mengutarakan, menyampaikan dengan semua yang berada disimpan menyiksanya selama ini.
Aera diam memperhatikan, mendengarkan, membiarkan mama mengutarakan semuanya langsung dengan mulut mama sendiri.
__ADS_1
"Kamu pasti sudah tau semua nya. Dengan kamu yang ada karna sebuah kesalahan, mama berdosa sempat ingin membunuh kamu nak"
Mama tehisak hisak dengan banyak nya air mata yang tertumpahkan.
Begitu pun dengan Aera, ikut terhisak dalam tangisannya. Mendengar semua penjelasan yang sebenarnya dari mulut seseorang yang telah melahirkan, dan memulainya.
"Jadi ini alasan kenapa saat itu Om Adnan bilang kalo aku yang menyebabkan mama menderita dan terluka selama ini. Mama tetap sendiri, kesepian karna aku"
Aera mengutarakan, ingat dengan saat dimana Om Adnan melontarkan kata-kata itu sebelum Aera tertampar oleh mama.
Mama terjatuh tersimpu duduk dengan sanggaan kedua lututnya, tertunduk dalam tangisan di hadapan Aera.
"Mama minta maaf Aera, mama berdosa, mama bersalah. Mama yang memulai semuanya, mama yang menjadikan kamu menderita seperti sekarang ini. Seharusnya mama sadar sejak awal jika bukan mama saja yang Menderita tapi kamu juga. Mama minta maaf Aera"
"Nayara!"
Seru Adnan yang baru saja datang melihat keberadaan Nayara yang berada tertunduk dihadapan Aera.
"Aera apa apaan kamu, buat Mama kamu tertunduk kaya gini didepan kamu"
Tanya Adnan dengan tatapan tajam nya menatap Aera, dengan merangkul mama untuk dibantu nya bangun.
Mama menepis tangan Adnan yang akan membantu nya bangun.
"Om ini siapa? Bener sekedar rekan kerja mama, pacar mama atau apa kenapa Om selalu ikut campur urusan aku sama Mama?"
Tanya Aera ikut menatap Adnan dengan tajam nya.
Adnan bangun membiarkan mama berada dengan posisi nya.
"Kenapa? Salah emang nya? Saya, Kaka nya Nayara, Adnan"
Perjelas Om Adnan dengan perasaan geram nya.
"Adnan"
Seru Mama menjadi bangun dari posisi nya, menatap Adnan dengan tajamnya.
"Apa lagi ini ma? Kenyataan apa lagi ini? Seberapa banyak hal yang Aera ngga tau?"
"Ngga gitu Aera, mama bisa buat jelasin"
"Ma.. Aera kecewa ma, mama lagi dan lagi matahin Aera seperti ini"
Gumam Aera sebelum berlari pergi meninggalkan mama dan Adnan.
"Aera, nak denger penjelasan mama dulu"
Teriak mama dengan Aera yang pergi meninggalkan nya.
"Kamu ini apa apaan sih nan"
Kesal mama menatap Adanan dengan tajam nya.
"Aku geram dengan Aera yang memperlakukan kamu kaya tadi, salah memang nya, seharusnya dia bisa lebih buat ngertiin kamu"
Perjelas Adnan dengan alasan nya mengatakan semua kepada Aera.
"Kamu ngga tau dengan apa saja yang tengah dia hadapi sendiri"
Mama meninggalkan Adnan dan masuk mengunci diri di dalam kamar nya.
Begitu pun dengan Aera duduk menggeletakan album foto yang sedari tadi di bawanya di lantai. Aera tersandar didalam kamar dibalik pintu nya yang terkunci. Menangis dalam tundukan diantara sanggaan kedua lengan yang diletakan di antara kedua lututnya.
Menangis terhisak hisak, lagi dan lagi.
Setelah cukup lama berada menangis dalam tundukan nya, sampai akhirnya Aera terlelap tidur dalam posisi tundukan nya.
Kedatangan Caca kerumah Aera dengan mengetuk pintu terlebih dulu, baru akan mengetuk pintu, pintu rumah Aera sudah lebih dulu dibuka dengan seorang pria yang keluar.
__ADS_1
Adnan yang baru akan pulang menghentikan langkahnya dengan keberadaan gadis cantik di hadapan nya.
"Siapa ya?"
Tanya Adnan memastikan.
"Saya Caca Om, temen sekolah nya Aera. Aera nya ada Om?"
Caca dengan memperkenalkan dirinya sekaligus menanyakan keberadaan Caca.
"Ada, cuman kayanya buat ketemu Aera ngga bisa sekarang deh"
"Kenapa memang nya Om"
"Mmmm, Aera tengah dalam keadaan berduka"
Caca melebarkan tatapan nya dengan apa yang dikatakan seseorang di hadapannya, menjadi terkejud akan kata berduka yang di dengar nya.
"Berduka untuk apa Om?"
"Mmmmm, beberapa hari yang lalu pengasuh sekaligus ayah kandung nya meninggal bersamaan"
Jelas Adnan yang semula ragu, takut jika perkataan nya kali ini bisa menjadi kesalahan seperti sebelumnya.
Dibuat menjadi benar benar terkejud dengan apa yang baru saja Caca tau.
"Saya ngga tau Om, saya bener bener minta maaf"
Caca dengan rasa tidak enak nya.
Adnan hanya tersenyum tipis mengangguki.
"Saya turut berduka cita ya Om"
"Terimakasih ya"
"Kalo gitu saya pamit, permisi Om"
Setelah cukup lama terlelap dalam tidur Aera terbangun dengan hidung nya yang dirasa menjadi tidak nyaman, dan kepala yang dirasa menjadi berat dan pusing.
Aera beranjak bangun membawa album foto untuk dipindahkan di atas meja bersebelahan dengan kotak yang mba Ana berikan.
Aera duduk di depan meja dengan cermin yang memperlihatkan sosok nya saat ini.
Sekedar melihat dirinya yang tampak berantakan, dan sangat tidak baik baik saja.
"Apa Aera boleh mba, untuk benar benar melepaskan sampai menjadi pasrah membiarkan semua nya, terserah akan menjadi seperti apa, Aera terlalu lelah untuk terus mencoba keluar dari tempat yang semakin lama mengikat Aera dengan lebih erat"
Gumam Aera lemas, dan sayup dengan tatapan kosong dan wajah pucat.
Aera mengalihkan tatapannya, membuka kotak pemberian mba Ana dengan mengeluarkan buku catatan yang belum selesai Aera baca.
Aera membuka halaman ketiga.
-------------------------------------------
Menjadi tetap utuh didalam tempat yang masih begitu asing bersama orang orang baru di dalam nya.
Tidak lagi menjadi sesak karna terluka, sudah berlari jauh dan mengubur semua nya. Tidak lagi ingin berada menyimpan nya seorang diri, hanya sekedar akan membuat terluka dan sesak.
Dan aku juga ingin menjadi tempat yang baru, menjadi pelarian untuk gadis itu. Gadis yang sesekali tersenyum menjadikan nya tampak begitu cantik.
Aneh nya ada yang menjadi menyenangkan disetiap kali melihat nya tersenyum. Ada yang menjadi sesak dan tidak menyenangkan setiap kali melihat nya diam kesepian, terlebih jika sampai menangis, seperti ikut patah merasakan nya.
Setelah ini ingin menjadikan nya terus tersenyum dengan begitu aku pun akan menjadi baik baik saja.
----------------------------------------------
Kedua mata yang sudah dengan kacaan penuh di matanya dengan haru dan kesedihan yang kembali dirasakan Aera saat dan setelah Aera membaca tulisan mba Ana. Gadis itu adalah dirinya, buku catatan nya lagi lagi berisikan akan dirinya. Sejak awal mba Ana sudah berada sibuk memikirkan Aera, menjadikan Aera untuk bahagia.
__ADS_1
Aera menahan dirinya, tersenyum dengan lebarnya, untuk menjadi dengan seperti apa yang mba Ana inginkan.
Pasrah dan menjadi kalah dengan seperti sebelumnya, Aera ingin mengakhiri semua. Namun setelah membaca tulisan mba Ana, Aera seperti diberi nasihat seperti saat saat mba Ana ada di dunia yang sering kali memarahi Aera, menasihati nya disaat ada yang salah dan menjadi keliru.