Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
52


__ADS_3

Aera adalah Aera. Aera Anindira, hidupnya adalah tentang nya jadi semua yang terjadi akan dapat dikendalikan nya. Setelah ini setelah dengan sulit keluar dari celah yang diperuntukkan untuk nya membuat Aera begitu semangat dan percaya diri akan hari hari berikutnya.


Tidak akan lagi membiarkan dirinya dikalahkan oleh keadaan maupun takdir sekalipun. Yang diperlukan untuk hari hari patah yang luka berikutnya adalah kuat dan percaya akan setiap keputusan yang sudah dibuat dan dipertimbangkan nya. Tidak akan lagi terpaku diam dengan ketakutan dan rasa sakit, setelah ini.


Terimakasih untuk Sia karna dia seseorang yang sudah ada, berada, tinggal dan menetap dan memberikan banyak kekuatan untuk Aera. Malam ini dinikmati dengan sangat baik, tempat tidur pun dapat dirasakan dengan begitu nyaman, kasur yang empuk dan selimut yang lembut.


Dengan rutinitas yang sama untuk mba Ana membangunkan Aera di setiap pagi dengan lebih dulu membuka hordeng jendela, memberikan ruang Aera dengan banyak cahaya.


Aera dengan posisi yang membelakangi kaca membuat nya tidak segera bangun dengan cahaya yang sudah memenuhi kamarnya.


Mba Ana duduk di sisi Aera yang tengah tertidur, mengusap rambut Aera.


Aera merasakan sebuah tangan yang tengah mengusap rambutnya.


Tidak segera bangun sekedar untuk menikmatinya lebih lama.


"Kenapa harus sekhawatir ini Ra"


Mba Ana dengan begitu sedihnya, terpuruk akan sesuatu yang menjadi ketakutan nya.


Aera menoleh dengan suara sendu yang didengarnya.


"Khawatir untuk apa? Aera udah disini"


Mba Ana melebarkan tatapan nya setelah Aera menoleh menatap nya mendengar dengan apa yang dikatakan nya.


"Aera, mba baru aja mau bangunin kamu"


Mba Ana kembali canggung, takut jika ada yang dipahami dengan apa yang dikatakan nya.


Aera bangun,duduk untuk lebih dekat dengan mba Ana. Mengusap pipinya, terlalu sering pipinya yang diusap oleh mba Ana membuat nya tidak pernah membalas mba Ana dengan usapan tangannya.


"Maafin Aera ya mba udah buat mba khawatir"


Mba Ana tersenyum menikmati usapan tangan yang begitu lembut yang tengah mengusap pipinya.


"Mba tau kan gimana ngga enak nya rasa khawatir itu, jadi jangan buat Aera merasakan sesuatu yang mba rasakan kemarin"


Mba Ana terpaku diam dengan tatapan nya kepada Aera setelah kata kata yang didengarkan nya, begitu menggerutu dihatinya.


"Mmm semua akan baik baik aja kedepan nya"

__ADS_1


Mba Ana tersenyum menarik tangan Aera dari pipinya untuk dapat digenggam nya.


Akan baik baik saja ada nya Mba Ana ataupun tidak. Mba Ana hanya sekedar pengasuh dan pembantu tidak lebih. Dengan itu semua yang telah diterima nya dari Aera sudah jauh lebih cukup dan sangat berarti.


Aera tersenyum memandangi mba Ana, bagaimana bisa tidak begitu bersyukur dengan setiap patah yang menghadirkan orang-orang untuk menguatkan nya.


Mba Ana Aera berterimakasih akan kehadiran dan ketulusan yang Aera dapatkan dengan mba yang memberikan nya dengan penuh arti.


"Udah mandi gih, mba mau siapin sarapan"


"Mmm"


Aera mengangguki nya dengan tersenyum.


Aera menuruni tangga dengan langkah yang ringan dan dengan iringan rasa bahagia.


Tampak mama dan mba Ana yang menoleh tersenyum melihat Aera.


"Selamat pagi mah"


Aera tersenyum begitu hangat sebelum duduk di tempat duduknya.


"Selamat pagi Ra"


Bagaimana kehangatan seperti ini baru dirasakan nya. Sekedar hari yang terulang tetapi tampak berbeda rasanya.


Jika menjadikan hari ini dari hari hari yang sebelumnya mungkin akan lebih baik rasanya.


Setidaknya masih dapat terjadi hari hari hangat yang begitu manis diantara dua pribadi yang sebelumnya hanya dua orang asing yang hidup berdampingan.


"Selamat pagi Indirasia"


Menghampiri Sia dengan ceria nya.


Sia tersenyum sangat lebar menatap cangkang kosong yang saat ini seperti terisi sangat penuh dengan keceriaan di dalamnya.


"Pantes ini pagi berasa terang banget"


Sia dengan canda nya, menghidupkan hari ini yang sudah begitu berwarna.


Ada yang menjadi hidup hanya sekedar melihat Aera tersenyum dengan leluasa.

__ADS_1


"Iya dong, kan semua juga karna lo. Makasih ya"


Aera kembali dengan tatapan serius dalam senyuman nya.


"Makasih doang? Ah kenyang udah"


Aera tertawa dengan yang barusan didengar.


"Mau apa mau apa bilang"


"Mmm es krim deket sekolah, kedai Aa"


"Lo aja sendiri sono"


Aera menahan tawanya sekedar memperlihatkan ekspresi kesal diwajahnya.


Sia tertawa mendengar dan melihat ekspresi Aera yang sudah berbeda.


Melewati lorong-lorong kelas yang panjang lorong yang menghidupkan banyak waktu dan kenangan dalam tawa,canda dan bahagia yang sering kali tertumpahkan setiap keduanya atau sebelumnya ketiganya melewati lorong lorong kelas ini. Meski ramai tawa dan canda yang berderu tetap saja rasanya tampak berbeda. Keadaan berubah seketika begitu pun untuk kali ini, Aera dan Sia yang berpapasan dengan seseorang yang belum lama ini terjadi perselisihan, Fina salah satu akan kata kita yang pada akhirnya memisahkan diri dengan ego nya sendiri.


Ada yang tampak hilang dengan begitu jelas setelah memperhatikan dua orang yang tengah bercanda dengan tawa yang begitu ramai, dua orang yang sebelumnya disebut sebagai sahabat.


Demi cintanya Fina kehilangan kebersamaan nya setelah 3 tahun bersama. Sepanjang apapun masa lalu akan sekedar menjadi kenangan setelah berakhir.


Hanya tampak menoleh sesaat sebelum kembali berlalu, melewati Aera dan Sia begitu saja. Melihat Fina yang tampak mengabaikan mengembalikan perasaan kehilangan dengan jelas nya.


Dalam benak keduanya, bagimana Fina dapat baik baik saja dengan ini, bahkan seperti tidak terjadi apa apa.


Tapi itu lah Fina perempuan tangguh yang begitu kuat sampai orang lain tidak dapat melihat celah untuk kelemahan nya.


Berbeda untuk Fina semua terjadi dan dirasakan sebaliknya, apa yang dilihat dan menjadi anggapan orang lain tentang dirinya hanya sekedar apa yang dilihat nya mereka tidak mengerti dengan seperti apa yang didalamnya.


Terdapat dinding yang begitu kokoh yang menjadikan tidak banyak orang yang dapat memahami nya, saat akan mendekati mereka malah yang akan terluka sendiri.


Aera sudah berada di kelas, akan duduk di tempatnya tapi terhenti dengan sebotol minuman yang berada di mejanya, terdapat selembaran kertas kecil yang ditempelkan nya.


"T.N"


Aera menoleh dengan inisial yang langsung di pahami nya, Titan.


Titan tersenyum tipis dalam tundukan nya yang tengah membaca buku, tau dengan Aera yang baru saja menoleh dan saat ini tengah melihat kearah nya.

__ADS_1


Aera tersenyum menggelengkan kepala, dengan tingkah aneh yang sesekali membuat Titan menjadi orang yang berbeda. Ada rasa khawatir jika benar Titan menyukainya, bukan tanpa alasan hanya saya sejak awal Aera dekat hanya berniat untuk memberikan ruang dan tempat untuk Titan bercerita tidak lebih, lagi pula sudah terdapat orang lain di hatinya.


__ADS_2