Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
36


__ADS_3

Dalam tubuhnya yang berbaring lemas tak berdaya,kosong dan begitu hampa hujan jatuh dengan derasnya. Dingin yang begitu bising dalam suara percikan hujan yang jatuh di permukaan bumi. Seperti langit yang seolah tau dan ikut merasakan sakit yang sama dengan Aera.


Dengan Aera dan dengan semua pikiran yang sedang diupayakan sekedar untuk bertahan dalam situasi yang kembali seperti ini, tidak baik baik saja.


Matanya sesekali masih saja meneteskan air mata. Dalam upaya nya bertahan hatinya terus meretak dan meretak. Sesekali, kembali terulang kali, sering kali dan semua terjadi menjadi kebiasaan. Sesuatu yang dibiarkan sesekali malah menjadikan nya hancur untuk kesekian kali. Karna satu keputusan hari ini akan menjadi penentu akan banyak hal di waktu berikut nya.


Luka yang sekali ada dan dibiarkan mungkin saja terlihat seperti terobati dengan sendirinya tetapi kebenaran nya  luka yang di abaikan akan memperparah meski terkadang tidak dengan wujudnya. Mengabaikan karena beranggapan  ini sekedar ujian menjadikan Aera tetap ceria dan melupakan dan membiarkan semua, katanya "Biarlah semua terjadi dengan seperti apa Tuhan menentukan, biar mengalir dan berlalu dengan sendirinya" . Pasrah boleh tapi jangan membiarkan, bertahan juga memerlukan upaya dan usaha, karna setiap jalan tidaklah sama.


Sudah pukul 02:50, Aera membuka slimut yang semula menutupi nya bangun dan melangkah dengan lemas sekedar untuk membasuh wajahnya.


Aera membasuh wajah, begitu menyegarkan air yang mengalir di wajahnya. Aera menatap dirinya yang tampak begitu menyedihkan dari gambaran cermin. Tangan nya terarahkan, menyentuh cermin mengusap dengan jari jari tangan nya di pantulan cermin yang menggambarkan wajah pucat, lesu dan begitu sendu.


Aera menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kepalanya yang di anggukan beberapa kali, mengiyakan dengan apa yang menjadi keputusan batin dan pemikiran nya.


Aera tersenyum sebelum beranjak pergi untuk kembali melanjutkan tidur nya.


Dengan tubuh yang masih dirasa kaku dan kantung mata yang dirasa pegal Aera bangun beranjak membuka hordeng dan membuka kaca jendela. Cuaca pagi yang cerah setelah semalaman diguyur hujan, sejuk dan menyegarkan.


Mba Ana yang masuk memperhatikan Aera yang tengah menikmati pagi dengan sesekali memejamkan mata diantara cahaya yang mengenai nya.


Aera menoleh setelah sadar seseorang tengah memperhatikan nya.


"Pagi mba"


Sapa Aera tersenyum dengan cahaya yang kali ini memenuhi wajah Aera.


"Pagi Aera"


Balas mba Ana tersenyum dengan beberapa rasa dan hal yang mengganjal tidak nyaman, memikirkan banyak hal tentang Aera.


"Tumben hari Minggu kamu udah bangun jam segini, ada acara?"


Dengan mba Ana yang menghampiri Aera.


Aera tersenyum mengangguki nya.


"Mm, Aera mau keluar ada janji mba"

__ADS_1


"Gimana? Mmm? Baik baik aja kan?"


Tersisa senyum tipis di wajah mba Ana dengan tatapan sendu menatap Aera, dan tangan yang tidak begitu halus yang mengusap pipi Aera.


Aera melebarkan senyumannya, menyentuh tangan mba Ana yang saat ini tengah berada di permukaan pipinya.


"Selama ada mba kenapa Aera ngga baik baik aja"


Mba Ana melepaskan tangan nya dari pipi Aera dan membawa tangan Aera yang semula menyentuhnya untuk berada di dalam genggaman kedua tangannya.


"Aera terluka akan begitu untuk mba, dan sebaliknya, Aera baik baik aja, bahagia mba akan merasakan hal yang sama. Jadi jangan merasa sendiri ya ajak mba untuk berada dan ikut dalam suka maupun duka untuk Aera"


Senyum Aera meluntur dengan nya yang mendengarkan kata demi kata yang mba Ana ucapkan seperti ada yang terluluh dalam dada, membuat Aera kali ini menatap mba Ana dengan serius dan dengan tatapan nya yang berkaca. Aera melepaskan tangan nya dari genggaman mba Ana dan memeluk mba Ana dengan erat nya.


" Mba memang tau dengan baik seperti apa untuk menenangkan dan menghibur Aera"


Aera tersenyum dalam pelukan yang menuang air mata keduanya.


"Jangan pernah hilang ya mba, tetep ada buat Aera"


Lanjut Aera membuat pelukan nya semakin erat.


Setelah beberapa saat keduanya sama sama melepaskan pelukannya.


Sama sama tersenyum saling memperhatikan satu sama lain, dengan menghapus jejak-jejak air mata.


"Sebelum pergi nanti sarapan dulu ya, mba buatin sarapan buat kamu"


Aera tersenyum mengangguki nya.


"Kalo gitu mba turun, kamu siap siap"


Aera bergegas bersiap dengan selalu cantik dalam berpenampilan nya. Kali ini begitu mempesona, rok denim dengan panjang yang melebihi lutut dengan kemeja putih yang dimasukkan didalam nya, rambutnya di sanggul di atas.


Aera turun dengan membawa amplop coklat yang berisikan formulir yang di berikan mama kepada nya semalam.


Dilihat Aera mama yang tengah menikmati sarapan nya.

__ADS_1


Aera menghentikan langkahnya tepat di belakang mama, langkah nya menjadi begitu berat setelah mengingat pemikiran nya, ragu.


Aera memejamkan matanya sesaat, menghelai nafas membulatkan tekad.


Aera kembali melangkah menuju meja makan.


"Pagi Ma"


Sapa Aera tersenyum, sudah berada di hadapan mama.


"Pagi"


Mama yang menatap Aera dengan tatapan serius dan terlihat seperti  ada yang tengah di tahan nya.


"Aera sudah memutuskan"


Aera yang meletakan amplop coklat yang dibawanya tepat di hadapan mama.


Mama menatap amplop yang Aera letakan sebelum mengalihkan tatapannya kepada Aera, menunggu dengan apa yang selanjutnya Aera katakan.


"Maaf ma, tapi Aera benar benar ngga bisa. Ada saat dimana seorang anak sudah merasa dewasa dan mereka akan mengatakan, ini hidup saya dan saya yang akan menentukan bagaimana pun dan seperti apapun. Ini keputusan Aera hak mama dengan seperti apa mama akan memutuskan nya, Aera tetap dengan keputusan Aera"


Aera kali ini dengan serius nya.


"Kalo gitu Aera pamit, Aera ada janji diluar. Mama makan yang banyak dan jangan terlalu membiarkan banyak hal melelahkan pemikiran mama"


Aera terdiam menghelai nafas pelan sebelum berbalik akan meninggalkan mama.


Saat berbalik dilihat mba Ana yang tengah menghampiri meja makan dengan segelas susu yang sudah dibuat nya.


"Maaf ya mba Aera ngga sarapan dirumah udah telat soal nya"


Aera dengan tersenyum menatap mba Ana.


Aera berlalu meninggalkan mama dengan terpaku diam dan dengan mba Ana yang sudah menyiapkan sarapan.


Keputusan bulat yang sudah Aera tentukan dalam renungan nya semalam. Aera harus melalui, menghadapi dengan seperti apa yang sebenarnya Aera mau. Aera tidak akan membiarkan nya, tidak akan. Apa pun yang terjadi berikutnya Aera harus mampu memutuskan nya, bagaimanapun ini adalah hidupnya, Aera sendiri yang tau dengan benar dengan apa yang dibutuhkan nya.

__ADS_1


Kali ini Aera harus melangkah sedikit menjauh sekedar menikmati keputusan nya, meski akan mengecewakan mama.


__ADS_2