Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
119


__ADS_3

Senja di kala hujan rasa yang sudah begitu dingin menjadi lebih dingin saat


ini. Sore yang di guyur hujan di antara langit senja. Aera duduk di samping mama memperhatikan kaca jendela yang memaparkan langit keorenan yang bersejajar dengan gumpalan awan hitam menjadikan langit kali ini tampak begitu indah.



Seper empat hari sudah berlalu, mama masih terlelap tidur di atas ranjang dengan mengenakan infusan.


Dan Aera mulai merasakan tubuh nya yang lelah, mata nya yang mengantuk dan perut nya yang lapar. Semua rasa dihiraukan nya, tidak perduli apapun itu selagi belum melihat mama membuka pejaman mata dan kembali berbicara.


Melihat mama terbaring seperti sekarang ini membuat Aera ketakutan, seolah rasa kehilangan seperti berada terambang ambang menakuti nya. Apa yang sebenarnya sudah merasuki menjadikan pikiran dan hati nya menginginkan sesuatu yang salah. Kenapa Aera lupa atau ingat tapi malah mengabaikan keberadaan mama. Menciptakan keinginan itu dan berniat menjadikan nya nyata. Aera tidak membayangkan dengan sehancur apa perasaan mama jika Aera meninggalkan nya begitu saja.


Berada dengan tatapan nya diantara kaca dengan bulir air hujan yang tertinggal di antara nya.


Seperti awan hitam tidak pernah terlihat jelas saat melepaskan jutaan rintikan hujan, tau tau saja sudah sampai di bumi dan membasahi bahkan sampai menggenang dimana mana.


Layak nya keadaan Aera saat ini.


Tidak terlihat terluka apa lagi menderita tau tau sudah banyak orang yang menjadi tau dengan rasa yang sebenarnya, karna meluap dan jatuh tertumpah begitu saja.


Mama terbangun membuka pejaman mata dengan perlahan. Menoleh saat disadari akan keberadaan Aera.


Tangan nya terarahkan untuk menggenggam tangan Aera yang di letakan di atas kasur.


"Apa yang lagi kamu pikirin, nak?


Seru Mama dengan suara yang terdengar lirih dan lemas tidak bertenaga.


Aera menoleh dan melebarkan tatapan nya setelah dengan Mama yang membuka tatapannya.


"Mama udah sadar? Aera panggilin dokter sebentar ya"


Bangun dari duduk dan akan beranjak membawa doker untuk memeriksa keadaan mama sekarang.


Tapi Aera tertahan dengan Mama yang memegangi tangan nya.


Memejamkan mata dengan menggelengkan kepala.


"Mama ngga papa ko, kamu duduk disini aja temenin mama ya"


Berada dengan Aera yang tetap ada di sampingnya akan menjadi obat dan segera menyembuhkan nya. Karna untuk nya rasa sakit ini bermula dari ketakutan dengan Aera yang akan meninggal nya. Jika Aera tetap berada di samping nya tidak perduli dengan rasa sakit seperti apapun. Rasa nya menjadi tidak berarti apa apa tidak sebanding dengan sakit akan kehilangan satu satu nya permata yang dimiliki.


Aera kembali duduk dan menggenggam tangan mama dengan kedua tangan nya.


"Aera ngga akan kemana mana ma, Aera janji. Aera cuman mau panggil dokter buat mastiin keadaan mama"


"Janji ngga akan ninggalin mama?"


"Aera janji ma"


Mama mengangguki, membiarkan Aera keluar memanggil dokter.


Hanya sekedar beberapa saat Aera kembali dengan dokter juga suter yang ikut masuk, Sia dan Titan pun ikut masuk ingin memastikan nya.


"Keadaan nya sudah lebih membaik, dan stabil hanya dibutuhkan istirahat yang cukup dan makan yang teratur. Dan jangan terlalu banyak pikiran. Nanti akan saya buatkan resep obat nya ya"


Jelas dokter menerangkan setelah selesai memeriksa mama.


"Baik dok, terimakasih banyak"


Titan dan Sia tersenyum lega dengan keadaan mama yang sudah membaik, kembali keluar memberikan ruang untuk Aera dan Mama dapat berbicara.


"Maafin Aera ya ma, udah buat Mama seperti sekarang ini"


Dengan tatapan sendu, ekspresi yang berbeda dan dengan rasa bersalah yang benar dirasakan Aera.


"Kalo kamu benar minta maaf, janji sama mama. Jangan pergi kemana mana, jangan tinggalin mama dan buang jauh jauh pemikiran dan keinginan itu semua"


Berharap begitu besar akan Aera melupakan keinginan itu semua. Akan seperti apa dirinya tanpa Aera.


Menggenggam begitu erat tangan Aera.


Aera tersenyum tipis mengangguki, anggukan yang menjadikan kacaan nya terjatuh.


"Aera ngga akan kemana mana, keinginan dan pemikiran itu Aera akan buang jauh jauh. Dan mama bisa menganggap itu tidak pernah terjadi"


"Mm"


Mama tersenyum mengangguki, ikut menjatuhkan kacaan air mata.


"Kamu janji?"


"Aera janji ma"

__ADS_1


Aera yang kemudian memeluk mama yang tengah terbaring di atas ranjang nya.


Pergi keluar membiarkan mama untuk kembali beristirahat, setelah meminum obat sesuai dengan resep yang dokter anjurkan.


"Kalian berdua pulang aja ngga papa"


Seru Aera setelah keluar dan menutup pintu, memperhatikan Titan dan Sia yang tengah duduk terdiam satu sama lain.


Titan dan Sia bangun dari duduk nya menghampiri Aera.


"Gua mau disini nemenin lo"


Seru Titan, tidak dapat membiarkan Aera seorang diri menjaga mama dirumah sakit.


"Gua juga Aera, gua mau disini temenin lo"


Lanjut Sia menambahi, yang juga tetap ingin tetap berada disini.


"Tante sama Om nanti khawatir nyariin lo Sia, ini udah malem lo balik aja"


Seru Aera tidak ingin Sia bermalam disini, menjadi lelah dan repot karena dirinya.


"Ngga papa Sia lo pulang, besok pagi lo bisa kesini. Aera biar gua yang jagain"


Titan ikut bicara, memahami Aera yang tidak ingin membiarkan Sia bermalam dan tidur di rumah sakit.


Sia pun tampak bingung, tidak ingin meninggalkan Aera tapi di sisi lain mama dan ayah nya pasti tengah menunggu dan menghawatirkan nya, secara tidak ada yang dibawa Sia selain uang saku di kantong seragam yang dikenakan nya.


"Yaudah kalo gitu balik ya Aera, besok pagi gua kesini bawain lo baju ganti"


Aera tersenyum mengangguki.


Sia mendekat dan memeluk Aera.


"Baik baik ya, karna sebentar lagi semua akan membaik seperti seharusnya"


Usap Sia di punggung Aera, memberikan kekuatan dan semangat dengan sekedar kata kata yang di ucapkan nya.


Aera tersenyum, membalas pelukan Sia dan mengangguki.


"Mm, makasih banyak Sia"


"Kalo gitu gua pergi ya. Titan gua titip Aera, jaga dia baik baik"


Titan mengangguki dengan ekspresi datar nya.


"Lo tenang aja"


Sia tersenyum dan beranjak pergi meninggalkan yang lain nya.


Aera duduk berdampingan dengan Titan. Titan yang baru saja ikut duduk kembali bangun dari duduk nya.


"Gua ke toilet sebentar ya, Aera"


Aera mengangguki nya.


Duduk sendiri menyandarkan kepalanya dengan senyum tipis yang di uraikan.


Ada yang disesali dan ada yang di syukuri dengan ini.


Aera menyesal dengan semua yang terluap, seharusnya Aera lebih menahan diri dan tetap bungkam dengan semua. Dengan begitu dirinya tidak akan memberontak dan berkoar seperti sekarang ini, sampai akhirnya mama menjadi terluka.


Tapi ada yang di syukuri dengan ini, ada beberapa orang, orang orang yang di sayangi yang pada akhirnya tau dan mengerti dirinya dengan sebenernya dan apa adanya.


Titan kembali dengan kantong plastik hitam yang dibawa dan dua cup kopi. Kembali duduk membiarkan satu kursi yang berada di tengah kosong.


Meletakkan dua cup kopi di kursi yang di kosongkan yang berada di tengah. Titan mengeluarkan isi di dalam kantong.


Dikeluarkan nya dua botol air mineral dan dua bungkus roti dan ciki ciki.


"Apa ini?"


Tanya Aera dengan banyak nya makanan yang sudah di tata Titan di kursi.


"Lo kan belom makan dari siang, lo makan ya, nih"


Menjawab dengan membukakan satu bungkus roti yang kemudian di sodorkan Titan kepada Aera.


Aera tersenyum dan meraih nya.


"Makasih. Bahkan sampai saat ini lo masih ada buat gua"


Tersenyum, dengan tatapan hangat yang terisikan ketulusan.

__ADS_1


Titan tersenyum, dan membuka satu bungkus roti untuk nya.


"Jadi atas keinginan konyol itu, lo tega ninggalin gua setelah dengan semua yang gua lakuin"


Seru Titan sembari memakan roti yang sudah selesai dibuka nya.


Aera melebarkan tatapan di tengah mulut nya yang tengah mengunyah roti, terhenti sesaat untuk Aera menatap Titan dengan tatapan penuh.


"Lo ngungkit?"


"Apa ini ngungkit? Ya apapun itu, intinya gua ngga mau semua yang udah gua lakuin malah menjadikan sesuatu yang mengantarkan lo pada kematian."


Aera menghelai nafas dengan begitu pelan nya, menjadi tersenyum dengan tatapan nya yang berbeda.


"Gua juga udah sadar dengan apa yang udah gua pikirin dan menjadi keinginan gua. Memang konyol, sampai gua lupa memikirkan perasaan mama, lo dan mungkin Sia"


Begitu pun untuk Titan tatapan nya menjadi berbeda setelah memahami Aera, tidak menyalahkan atau menjadikan Aera seperti orang bodoh atas apa yang sempat di pikir nya. Karna untuk seseorang yang berada di posisinya mungkin akan melakukan hal yang sama atau malah lebih dari pada apa yang Aera lakukan.


Titan mengulurkan tangan kepada Aera dengan telapak tangan yang dibuka nya


Aera menatap dan memperhatikan dengan uluran tangan Titan, memahami dengan apa yang tengah dilakukan nya. Aera tersenyum saat sadar apa yang harus dilakukan nya.


Meletakkan tangan nya untuk berada di telapak tangan Titan yang terbuka. Dan akhirnya keduanya saling berpegangan.


"Bukan nya lo punya gua, lantas kenapa masih bersusah payah menghadapi ini semua sendirian. Mulai sekarang lo harus terbuka, cerita semua nya sama gua"


Aera tersenyum mengangguki.


"Dengan itu berarti lo harus siap untuk terbebani"


"Beban yang lo kasih ke gua adalah bentuk kepercayaan lo sama gua. Dengan begitu gua jadi percaya dengan keberadaan gua yang berarti buat lo"


Aera bangun dari duduknya berdiri di hadapan Titan dengan membuka kedua tangan yang di telantangkan secara terbuka.


Titan tersenyum meletakkan roti yang tengah di makan nya, dan segera bangun memeluk Aera.


"Apa ini?"


Tanya Titan setelah berada memeluk Aera.


"Pelukan"


Seru Aera menjelaskan.


"Iya tau, tapi dalam rangka apa?"


"Pengin peluk aja, rasanya selalu menjadi nyaman setiap ada di pelukan lo"


Perjelas Aera dengan alasan nya ingin di peluk Titan.


"Kalo gitu gua boleh dong peluk lo sesuka gua"


Seru Titan dengan wajah yang dipenuhi senyuman nya.


Aera menyipit kan mata dan menatap Titan dengan tajam.


"Kan kata nya lo selalu nyaman setiap di dalam pelukan gua"


"Iya tapi kan ada waktu nya"


Perjelas Aera tersenyum. Kembali duduk.


"Hhhhe.."


Titan menggali tawa.


Dan menjadi lega Aera dapat tersenyum setelah ini, tidak perduli itu benar dengan ketulusan atau bukan. Karna setelah ini dirinya sendiri yang akan menjadikan Aera tertawa bahagia tulus dengan yang dirasakan nya.


"Makasih banyak ya Tan"


Seru Aera dengan senyum tipis dan tatapan serius nya.


Titan tersenyum mengangguki.


"Sama sama Aera"


Setelah menghabiskan banyak makanan kedua nya terlelap tidur, dengan Aera yang berada tersandar di pundak Titan.


Mama yang terbangun mencoba keluar dengan membawa infusan nya. Sekedar memastikan keberadaan Aera tetap berada di dekat nya.


Mama tersenyum dengan Titan yang bersedia menjadi tempat untuk Aera terlelap dalam pundak nya, dan dengan Titan yang sering kali menemani Aera dari apa yang di ketahui nya.  Ada cinta diantara keduanya, itu yang mama tau dengan jelas dari cara kedua menatap satu sama lain.


Lega ada beberapa orang yang tulus berada di samping Aera. Mama berharap setelah ini Aera benar dapat menjadi baik dan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2