
Setelah keluar dari rumah sakit, berdiri di pinggir jalan untuk menunggu taksi.
Aera merogoh kantong baju mengeluarkan Handphone nya untuk menelfon Azka.
Setelah panggilan pertama tidak di angkat nya, baru lah diangkat Azka setelah Aera mencoba untuk kembali menghubungi nya.
"Hallo Ka?"
Setelah panggilan tersambung.
"Hallo Aera?"
"Sekarang dimana? Gua mampir ke cafe boleh?"
Aera yang ingin meminum cofe buatan Azka sekedar meredakan rasa lelah dan penat nya.
"Yah sorry banget Ra, gua baru aja keluar buat nemuin temen gua"
Azka tidak sedang berada di cafe sedang berada di sebuah toko kue, membelinya untuk menjenguk Sia dirumah sakit.
"Mmm .. gitu ya, yaudah deh ngga papa, next time aja"
Dengan ekspresi yang sudah berbeda, ada sedikit rasa kecewa yang dianggap Aera tidak berdasar perasaan nya saat ini. Jika Azka sibuk apa yang dapat di salahkan nya.
"Sorry banget ya Aera sekali lagi, nanti deh atau ngga besok ya, gimana?"
Azka kembali dengan rasa bersalah nya, seperti keadaan yang berlanjut menjadi seringkali dirinya mengecewakan Aera.
"Mmm nanti kabarin aja,udah ya, tut.."
Dengan taksi yang sudah datang.
Aera menyadarkan kepala nya di dalam taksi, memiringkan posisi kepalanya sekedar dapat memperhatikan banyak hal yang dilaluinya. Aera terdiam dalam beberapa hal yang kembali merasuk kedalam pikiran nya. Ingat dengan apa yang dikatakan siswa baru bernama Caca, akan apa yang menjadi cita cita Aera.
"Cita cita, keinginan"
Gumam Aera dengan pelan nya.
"Mengartikan lebih dulu apa itu cita cita"
Lanjut gumam Aera pelan, dengan kata kata yang pernah mba Ana katakan.
"Keinginan untuk menjadi apa di masa depan"
Jelas Aera masih dengan suara pelan nya. Dengan apa yang dipahami akan arti cita cita itu sendiri.
Sesekali supir taksi memperhatikan Aera dari kaca depan, dengan suara suara pelan yang Aera katakan sendiri.
Memikirkan hari ini dan besok saja sudah sangat melelahkan bagimana jika harus ditambahi untuk memikirkan sebuah cita cita masa depan, bagaimana bisa Aera memikirkan nya? Yang terlintas bahkan berada dalam pikirannya bukan cita cita akan menjadi apa dimasa depan nanti. Yang terpikirkan keinginan akan semua perkara yang ada, ingin lupa. Menghilangkan sebagian ingatan akan hal hal mengerikan yang tersimpan begitu baik dalam ingatan.
"Sudah sampai Ka"
Setelah taksi berhenti dan Aera masih saja terdiam membuat pak supir harus memberitahu nya.
"Ah iya, maaf ya pak saya bengong soal nya"
Aera dengan mengeluarkan uang 50an menyodorkan nya kepada pak supir, dan turun bergegas turun dari taksi.
"Masih anak SMK ko udah ngomong ngomong sendiri, bengong sampe segitu nya lagi, hadeh anak jaman sekarang"
Gumam pak supir setelah Aera turun, sebelum melaju pergi.
Sudah berada di depan rumah bukannya langsung masuk Aera malah berbalik menjauh pergi.
Sudah gelap, waktu sudah cukup malam,terlebih lagi langit kali ini terlihat mendung, terdengar suara gludug petir beberapa kali.
__ADS_1
Aera berjalan di jalanan yang sudah cukup sepi,masih dengan seragam sekolah, lengkap dengan perut kosong nya. Entah akan kemana sekedar berjalan-jalan dan mencari suasana baru akan mengembalikan moodnya untuk lebih baik lagi. Saat akan menyebrang tengah sibuk dengan apa yang saat ini di perhatikan nya, petasan yang menjulang tinggi di langit dan terbuyar menjadi layak nya bunga di langitan. Tanpa menengok kanan dan kiri tiba tiba motor besar yang melaju dengan cepat, hampir menabrak Aera, untung lah pengendara motor tersebut bisa mengerem dengan baik.
Aera jatuh terkejud, menunduk dengan tangan yang memegangi dada nya. Rasanya benar benar mengejutkan membuat detak jantung nya berdetak jauh lebih kencang. Aera mengatur pernafasan untuk membuat detak jantung nya kembali stabil.
"Uuuhhhh..hhhhh..hhhh"
Pengemudi motor tersebut menghampiri Aera.
"Ada yang terluka? Perlu saya antar kerumah sakit?"
Merasa tidak bersalah pengemudi tersebut tidak meminta maaf, melainkan memastikan keadaan Aera baik baik saja atau tidak.
Aera yang masih duduk menunduk dengan tangan yang di letakan di atas dadanya,hanya menggelengkan kepalanya dan meminta maaf.
"Saya minta maaf_"
Belum selesai dengan ucapan nya pengendara motor tersebut mengulurkan tangan nya, berniat untuk membangunkan Aera.
Aera hanya memperhatikan uluran tangan tersebut sebelum akhirnya Aera meraih tangan tersebut dan bangun dari duduk nya karna tarikan tangan si pengemudi tersebut.
Saat sudah berdiri, kedua nya saling berhadapan, saling terarahkan untuk saling memperhatikan.
Aera tidak dapat melihat wajah sipengemudi hanya helem hitam yang dikenakan, dengan jins hitam dan jaket hitam nya.
" Aera"
Seru sipengemudi yang wajahnya tertutup dengan helem hitam.
Aera melebarkan tatapannya dengan sipengemudi yang mengenalinya.
"Kenal saya?"
Tanya Aera memastikan.
Belum dengan jawaban nya, hujan turun dengan derasnya membuat Aera dan sipengemudi berlari berlari kesisi halte untuk berteduh.
Aera semakin melebarkan tatapannya dengan seseorang yang saat ini ada dalam pandangan nya, seseorang yang baru beberapa saat lalu di kenal nya.
"Caca"
Seru Aera yang ternyata seseorang yang baru saja melepaskan helem memperlihatkan wajahnya.
"Aera"
Seru Caca, tersenyum.
Aera memperhatikan Caca dari ujung kaki sampai ujung kepala. Benar-benar berbeda dari Caca yang berada di sekolah. Caca yang saat ini berada dihadapannya seseorang dengan wajah natural begitu cantik juga dengan penampilan yang cukup berbeda dari perempuan pada umumnya.
"Lo beneran Caca"
Masih dirasa asing dan tidak mempercayai keberadaan seseorang dihadapan nya saat ini adalah Caca siswa baru di sekolah nya.
"Iya gua Caca Aera, kenapa gua beda ya?"
Jelas Caca. Bahkan untuk gaya bicara dan kata kata yang di ucapkan tampak berbeda.
"Hhhhh...."
Aera menghelai nafas tidak memahami dengan apa yang saat ini berada di hadapan nya.
"Bukan kah setiap orang punya rahasia? Jadi anggep aja karakter yang saat ini lo lihat dari gua adalah rahasia gua"
Jelas Caca tersenyum dengan tatapan serius nya.
Aera mengangguki tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Terus? Kalo emang ini rahasia lo, kenapa lo perlihatin ke gua?"
Aera yang terus dipenuhi dengan pertanyaan dengan banyak hal yang saat ini benar-benar belum dimengerti nya.
"Entah lah, feeling gua percaya sama lo, kalo lo beda"
Aera membuang tatapan nya dari Caca mencoba membantu dengan apa yang dijelaskan Caca kepadanya. Bukan hal yang seharusnya di pusingkan tapi itulah Aera terlalu sibuk dengan sesuatu yang berada dalam pikirannya.
Caca mengulurkan tangan nya kepada Aera.
Aera melebarkan tatapannya, tidak memahami untuk apa uluran tangan Caca dihadapan nya.
"Buat apa?"
"Pertemuan kita yang kurang baik, dan buat hal yang baru aja terjadi"
Caca dengan selalu dipenuhi senyum di wajah cantik natural nya.
Aera meraih nya menatap dan memperhatikan Caca tanpa ekspresi. Orang asing yang sudah berani berani nya membuatnya bertanya tanya.
Caca tersenyum begitu lebarnya, membuat Aera ikut tersenyum terbawa suasana.
"Gua harap setelah ini lo ngga akan lagi bikin gua emosi"
Jetus Aera setelah melepaskan genggaman tangan keduanya.
"Mmmm, ngga akan"
Keduanya, Aera dan Caca duduk bersebelahan dibawah teduhan Halte.
Sesekali keduanya saling menoleh dan akhirnya tersenyum bahkan menghelai tawa satu sama lain.
"Jam segini lo masih oake seragam sekolah?"
Caca memperhatikan Aera yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap dengan tas yang masih dibawanya.
"Gua habis mampir kerumah sakit jenguk temen gua yang lagi dirawat"
Jelas Aera.
"Satu sekolah sama kita?"
"Mmm, tapi beda kelas dia 12 Akuntansi 2 atau B"
"Gua anter balik yuk"
setelah hujan reda setelah beberapa saat dengan begitu derasnya.
"Ngga usah deh gua balik sendiri aja"
Aera yang sudah bangun dari duduknya.
"Ngga bagus Ra perempuan balik sendiri"
Aera tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"Emang lo bukan perempuan?"
"Orang mana tau kalo gua perempuan kalo tampilan gua begini"
"Hhhh..."
Aera menghelai tawa dengan Caca yang ternyata sangat menyenangkan.
"Mmm"
__ADS_1
Aera yang akhirnya mengangguki, mau untuk diantar pulang oleh Caca.