Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
35


__ADS_3

Aera yang masih dengan senyum senang nya terkejut dengan Mama yang tengah duduk di ruang tamu ditemani mba Ana yang berdiri di samping mama.


"Mama"


Aera dengan menghampiri mama.


"Mama tumben jam segini udah dirumah"


Tanya Aera yang sudah berada di hadapan mama.


Mama masih diem dengan tatapan yang belum tertuju pada Aera.


"Ma?"


Aera yang memastikan dengan Mama yang hanya diem.


Mama menghelai nafas pelan sebelum benar-benar menatap Aera.


"Kamu dari mana?"


"Aera dari luar ma habis pergi sama temen?"


Jawab Aera dengan tersenyum.


"Udah makan?"


Mama masih dengan tatapan serius yang juga memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


"Udah, Aera udah makan diluar"


"Kamu isi salah satu formulir dan kasih ke mama ya"


Dengan Mama yang bangun dari duduknya menghampiri Aera, menyodorkan sebuah amplop coklat berisikan lembaran kertas.


Aera membuka amplop tersebut dan mengeluarkan nya tertera dibagian atas surat 'registration form'.


"Ini formulir untuk apa ma?"


Aera menolehkan tatapan nya menatap mama dengan bingung nya, menunggu mama untuk menjelaskan.


"Ada tiga universitas bagus diluar negeri, kamu bisa pilih salah satunya dan kasih kemama dan Mama akan mengurusnya"


Jelas mama menahan tangis di mata berkaca nya.

__ADS_1


"Hah? Maksudnya apa ma? Sekolah Aera aja belom selesai"


Aera yang sudah dengan emosi nya tetapi masih dapat di tahan nya.


"Apa salahnya kalo kita urus dari sekarang"


"Tapi Aera belom tau akan lanjut kuliah atau engga, kalaupun lanjut Aera belum tau akan ambil jurusan apa"


"Kamu harus kuliah, untuk masalah jurusan kamu tinggal melanjutkan seperti dengan jurusan kamu saat ini"


"Ngga semudah itu mah"


Aera sudah dengan begitu lemas nya, dengan keputusan mama yang begitu mengejutkan, belom lagi dengan emosi dengan dirinya yang menolak keras akan keputusan mama.


Mama berbalik mengabaikan Aera dan akan meninggalkan nya begitu saja. 


"Ma? Apa mama sayang sama Aera?"


Aera dengan menahan tangis dengan air mata yang sudah dibendung nya.


Pertanyaan Aera yang menghentikan langkah mama, membuat air mata mama kali ini benar-benar menetes.


"Jangan terlalu lama membuat Aera menunggu karna sudah banyak prasangka di kepala Aera"


"Bukan penjelasan seperti ini yang Aera mau ma!!"


Teriak Aera dengan air mata yang terbendung penuh.


Apa yang salah dari Aera sampai mengabaikan Aera belum juga cukup. Sampai mama benar-benar harus mengasingkan Aera. Aera cuman punya mama, tapi kenapa harus perlakuan Aera seperti ini. Setelah tinggal dengan nenek Aera tinggal dengan Mama selama 5 tahun, Aera pikir akan menjadi waktu yang paling membahagiakan bisa tinggal dengan seseorang telah melahirkan Aera. Tapi apa kenyataan nya? Aera dibuat dan diperlakuan seperti ini.


"Apa salah Aera ma?"


Aera dengan panjang nya dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya dengan kata-kata yang di ucapkan diikuti suara tangisan.


Begitu pun dengan Mama yang sudah dengan derasnya air matanya terjatuh.


Tidak tahan dengan tangisan nya Mama berlalu meninggalkan Aera begitu saja.


"Tamparan mama cacian mama tidak sebanding dengan ini ma!!!" Teriak Aera dengan tangisan nya, mama sudah meninggalkan Aera tapi teriakan nya masih di dengar mama dengan baik.


"Aaaaaaa....."


Aera yang terjatuh dengan kedua kakinya yang dirasa begitu lemas. Aera berteriak  dengan emosi dan sakit yang benar-benar dirasakan nya. Menangis dengan deru suara yang begitu menyedihkan.

__ADS_1


Mba Ana bergegas menghampiri Aera ikut berjongkok di hadapan Aera dan memeluk Aera dengan sangat kencang.


Aera menangis dengan hebat nya dalam pelukan mba Ana, suara tangisan yang sampai di dengar mama dari dalam kamar. Mba Ana pun ikut menangis merasakan sakitnya Aera yang diperlukan seperti ini.


Sedangkan mama yang memulai semua pun ikut tersiksa dan terluka. Bersandar di pintu memegangi dadanya yang terasa sesak dengan tangisan nya.


"Aera ngga mau pergi mba, Aera mau tetep disini"


Suara serak Aera dalam pelukan mba Ana.


"Iya sayang, udah jangan nangis"


Mba Ana dengan mengusap usap punggung Aera.


Setelah jauh di atas seketika dibuat roboh dan di jatuhkan begitu saja, rasanya memalukan, perih, teramat sakit dan menyedihkan. Banyak hal tidak terduga selalu terjadi dalam kehidupan seseorang. Hari ini Aera baru menyadari setipis apa garis diantara kebahagiaan dengan kesedihan, dua sisi yang dibatasi Tuhan dengan sisi yang terjadi silih berganti. Tapi hari ini kebahagiaan baru yang didapatkan Aera karna Azka dibuat luntur seketika dengan ketentuan yang begitu menyakitkan.


Aera sampai di kamar dengan diantar dalam rangkulan mba Ana. Aera membuang amplop dengan lembaran kertas yang masih di pegangi nya, dibuat berhamburan di lantai kamar nya.


Mba Ana mendudukan Aera di tempat tidur dengan Aera yang tampak begitu sendu, kosong dan begitu tidak bersemangat bahkan seperti orang tidak bernyawa.  Aera terdiam dalam batin nya yang sudah begitu lelah seolah tengah mengalah untuk pasrah, benar-benar hampir tidak berdaya. Jika terus seperti ini terus dengan kesulitan dan takdir yang menyakitkan Aera tidak mengerti dengan alasan apalagi dirinya harus bertahan.


Mba Ana memperhatikan Aera dengan sering kali air matanya menetes. Hatinya seolah ikut terluka melihat Aera dengan apa yang baru saja dihadapi nya. Harus seperti apa mba Ana menganggapnya harus dengan apa mba Ana memberikan kekuatan untuk Aera.


Aera merebahkan tubuhnya dengan lemas, masih tampak begitu kosong.


Mba Ana melangkah pelan meninggalkan Aera, sekedar memberikan ruang untuk Aera dapat menenangkan dirinya sendiri.


Untuk Aera dapat memahami situasi yang tengah terjadi dan Aera tau bagaimana harus menanggapi dan menghadapi nya. Mba Ana tau Aera tetap lah perempuan yang tegar dengan sekeras apapun jeritan dan tangisan nya.


"Maaa?" Keluh Aera pelan.


Mba Ana baru saja menutup pintu, suara Aera di dengar dengan begitu pelan tapi masih terdengar jelas.


"Jika diperlukan seperti ini, kenapa Aera harus ada. Apa mama tau seberapa lama  Aera menahan diri untuk bertahan. Aera hampir gila ma"


Lanjut Aera dengan kembali tetesan air mata mengalir dengan deras nya.


"Aera cape Ma? Apa boleh Aera akhiri ini semua sendiri"


Mba Ana menutup mulut menahan suara tangisan nya dengan air mata yang sudah begitu deras nya.


Dada nya seperti sesak dan begitu sakit mendengar semua ucapan Aera.


ingin rasanya mba Ana menerobos masuk dan memeluk mendekap Aera dengan sangat erat. Memperjelas bahwa masih ada dirinya yang akan tulus menyayangi dan mencintai Aera seperti adik kandung nya sendiri.

__ADS_1


Mba Ana berlari pergi dengan sesak dan tangisan nya.


__ADS_2