
Jadi seperti ini rasanya berada mencintai seseorang yang sama dengan sahabat sendiri. Dengan keduanya yang sama sama mencintai dan keberadaan dirinya seperti seseorang yang bergelantungan di antara keduanya, tidak menjadi berarti apa apa.
Dengan pertama kalinya Sia merasakan kegilaan dengan posisi seperti sekarang ini. Jadi apa yang seharusnya Sia lakukan disaat perasaan nya kepada Azka sedah begitu dalam. Disisi lain persahabatan nya yang bukan sebentar dengan banyak hal yang sudah di lalu.
Sampai akhirnya Sia memaksa tubuhnya yang semula kaku untuk berbalik pergi memalingkan dirinya untuk tidak berlama lama menyaksikan apa yang menjadikan hatinya sakit.
"Mmm Sia"
Teriak Caca akan keberadaan Sia dan Fina yang dilihat nya.
Aera melepaskan pelukannya dari Azka dengan mengusap air mata yang berada dipipinya.
Sia yang baru akan berbalik pergi menahan diri dan menjadikan dirinya menghampiri Aera.
"Tadi nya gua cuman mau mastiin, tau lo baik baik aja sekarang gua bisa pergi. Gua jadi ngga perlu nunggu notif balasan dari lo"
"Sia"
Seru Azka menatap Sia.
Sia menoleh membalas tatapan Azka kepada nya.
"Havean ya buat kalian, buat lo Aera, buat cinta dan temen baru lo"
Ucap Sia sebelum berbalik pergi.
"Sia? Lo mau kemana? Sorry udah bikin lo khawatir dan nunggu. Maksud lo cinta dan temen baru, apa Sia?"
Tanya Aera dengan Sia yang menjadi berbeda, dengan tatapan dan cara berbicara nya.
Sia kembali berbalik menatap Aera.
"Bukan apa apa"
Perjelas Sia tersenyum tipis dengan tatapan tajam nya.
"Sia, lo kenapa?"
Tanya Aera dengan Sia yang terlihat jelas menjadi berbeda.
"Aera, biar gua yang jelasin"
Lanjut Fina ikut berbicara.
"Ngga perlu Fin, kita pergi sekarang"
Seru Sia melaju pergi.
"SIA!"
Teriak Aera.
"Apa?"
Sia kembali menghentikan langkahnya, dan kembali berbalik menatap Aera. Rasanya seperti ada magnet yang selalu dapat membuat Sia berpaling menatap Aera setiap kali Aera memanggil nya. Mungkin karna hari hari sebelumnya, saat Sia memutuskan dirinya untuk selalu berada di hadapan nya setiap kali Aera memanggil dan membutuhkan dirinya.
Dalam pikiran nya, Sia benar benar menjadi malu dengan persahabatan nya yang dirasa mulai tidak baik hanya karna mencintai satu orang yang sama.
Tetapi dalam batin nya terdalam, rasa kecewa dirasakan benar-benar jelas, nyata dan begitu menyakitkan.
Kedua nya terdiam saling mempertemukan tatapannya satu sama lain.
" Aera asal lo tau, cowo yang baru aja lo lepasin pelukan nya adalah seseorang yang Sia suka, dan pada akhirnya apa yang sebelumnya lo lakuin ke gua, lo lakuin juga ke Sia. Gila sih emang, ngga punya perasaan . Seseorang yang selama ini ada buat lo, suport lo tapi malah lo giniin. Terlebih lagi dengan siswa baru yang sekarang menjadikan lo lupa dengan keberadaan Sia"
Jelas Fina yang menjadi tidak suka dengan Sia dan Aera yang menatap satu sama lain, menjadikan keberadaan nya dirasa terabaikan.
"Fina!"
Seru Sia. Niat nya semua akan berada di simpan dan dirasakan sendiri, dengan Aera yang dipikir nya tidak lagi peduli dengan keberadaan dan dengan perasaan nya.
Aera melebarkan tatapan nya, terkejud juga tidak percaya dengan apa yang baru saja Fina katakan. Dengan Sia yang juga menyukai Azka. Dalam pikir nya.
"apa mungkin Azka adalah tetangga Sia, seseorang yang selama ini Sia ceritakan"
Dan Aera menoleh menatap Azka, dalam batin nya Aera kembali berbicara.
__ADS_1
"Jadi sia temen yang selama ini lo jagain di rumah sakit, seseorang yang sampai membuat Azka mengabaikan nya dengan alasan akan menjemput seseorang di rumah sakit, Beberapa rencana yang dijelaskan Azka, adalah rencana nya bersama Sia"
"Sia?"
Seru Azka menatap Sia ikut menjadi terkejud dengan apa yang didengar nya.
Sia membalas tatapan Azka kepada nya dengan tatapan yang menjadi berkaca-kaca.
"Kenapa Za? Apa salah gua punya perasaan ini sama lo?"
"Tapi gimana bisa?"
Tanya Azka dengan kenyataan Sia yang menyukai dirinya.
"Kenapa bisa lo tanya?"
Kesal Sia dibuat dengan pertanyaan Azka yang dirasa tampak benar benar polos.
"Lo menghampiri gua, tersenyum menatap gua, ada di sisi gua, menjaga gua, berlari mengejar gua, khawatir sama gua, apa semua yang lo lakuin salah menjadikan gua suka dan sayang sama lo?"
Tegas Sia menjadikan dirinya untuk kali pertama nya menangis di hadapan orang lain.
"Dan lo Aera, gua kecewa buat semua nya, dengan lo yang sibuk dengan temen baru lo sampe lo mengabaikan gua. Gua ngga nyalahin lo karna lo suka sama Azka karna kita suka sama Azka, tapi aneh nya gua ngga bisa buat ngga kecewa dengan ini"
Lanjut Sia yang mengalihkan tatapannya menatap Aera.
"Dan lo Azka! Ngga perlu peduliin gimana perasaan gua, ini perasaan gua dan gua yang akan mengurus nya"
Kembali Sia menjadikan tatapan nya berada untuk Azka.
"Sia, gimana bisa gua ngga peduliin perasaan lo. Lo tau seperti apa rasa bersalah gua saat ini udah bikin lo kaya gini"
Ucap Azka yang merasa bersalah dengan apa yang saat ini diketahui nya. Semua bermula karna dirinya, lantas bagaimana bisa dirinya tidak merasa bersalah dengan Sia.
Aera menatap Azka dengan tatapan tajam dan tidak habis pikir dengan Azka yang mampu mengatakan kata kata seperti itu di hadapan nya tanpa berfikir jika Aera akan merasa tersinggung dengan Azka yang memperdulikan Sia dengan jelas di hadapan nya. Lantas apa ini? Dengan siapa sebenarnya Azka mencintai.
"Sorry Sia, tadinya gua mau cerita banyak hal sama lo tapi setelah ini gua jadi ngga tau harus gimana. Terlebih dengan prasangka dan pemikiran lo saat ini. Dan sorry gua ngga bisa jelasin apa apa, lo bisa tanya Azka dan Caca langsung apa yang lo mau tau, apa yang menjadi pemikiran lo"
Gumam Aera menjelaskan dan setelah nya berlalu melewati mereka, pergi meninggalkan mereka begitu saja.
Seru Azka dengan Aera yang meninggal kan dirinya. Ingin berlari mengejar Aera, tetapi tertahan dengan memikirkan keberadaan Sia. Aneh nya Azka tidak ingin menyakiti keduanya, menjadikan kedua nya terluka.
"Aera!"
Teriak Caca menyusul Aera.
"Kalo gitu, gua juga duluan ya Sia"
Lanjut Fina ikut pergi meninggalkan Sia dan Azka.
"Kenapa, lo mau pergi juga ngejar Aera? Silahkan gua ngga akan nahan lo buat sama gua ko"
Seperti memahami dengan Azka yang menjadi kebingungan.
"Sorry ya Sia"
Dengan Azka yang akhirnya melaju akan meninggalkan Sia.
Brkkk...
Azka menghentikan langkahnya disaat suara didengar nya. Saat menoleh dilihat nya Sia yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri.
Dengan kondisi nya yang belum sembuh sepenuhnya, menjadikan Sia pingsan terlebih setelah dibuat terkejud.
Azka mengurung kan niat nya untuk mengejar Aera, dan membawa Sia untuk pergi kerumah sakit.
"Aera?"
Teriak Caca sekali lagi untuk menghentikan Aera.
Aera menghentikan langkahnya dengan perasaan kacau yang saat ini dirasakan nya.
"Lo mau kemana? Biar gua ikut sama lo ya?"
"Ngga perlu Ca, biarin gua sendiri ya"
__ADS_1
Aera menolak Caca untuk ikut bersama nya, dengan perasaan kacau yang benar benar dirasakan terkuak ramai saat ini.
"Gua khawatir sama lo Aera"
Perjelas Caca dengan alasan nya bersikeras untuk ikut menemani Aera.
"Mmm, terserah lo kalo gitu"
Dengan Aera yang akhirnya membiarkan Caca untuk mengikuti dirinya.
Tiba tiba Fina datang dan menarik tangan Aera dengan kencang nya untuk berada dibawa dihadapan nya.
"Apaan sih lo"
Dengan Caca yang menahan tangan Aera dan menarik tangan Fina untuk melepaskan tangan Aera dari genggaman nya.
"Oke gua lepas, gua cuman mau ngomong sama temen lo yang satu ini"
Perjelas Fina menatap Caca dengan tajam nya.
"Apa lagi?"
Tanya Aera menjadi geram dengan Fina yang disadari mencoba untuk mengadu domba dirinya dengan Sia.
"Hhhh... gimana kejutan nya? Kaget sih pasti nya ya? Tapi ini sih yang pantes yang seharusnya emang lo dapetin. Akhirnya lo merasakan dengan apa yang sebelumnya gua rasain. Gimana rasanya terlalu ngga enak bukan?"
Dengan tatapan tajam Fina yang berada menatap Aera, dengan senyum sinis yang diperuntukkan untuk Aera.
"Kenapa lo sampai sejauh ini Fin? Apa saat itu gua sengaja ngebuat lo seperti saat itu? Ngga kan! Terus apa ini? Kenapa lo buat gua kaya gini, kenapa lo baut hancur ini semua"
Gretu Aera tidak terima, tidak dapat memahami dengan apa yang Fina lakukan kepadanya.
"Gua juga sebenarnya ngga mau lakuin ini tapi gua harus lakuin biar lo bisa belajar bisa tau gimana rasanya dengan apa yang saat itu gua rasain. Lagi pula lo ngga bisa salahin gua atas ini, toh semua terjadi karna diri lo sendiri kan"
"Hhhhh...."
Aera mengehelai nafas, menjatuhkan air matanya.
Menjadi terluluh dan iba dengan Aera yang menjadi menangis di hadapan nya.
"Apapun itu yang menjadi berantakan dan kacau saat ini itu bukan karna gua tapi karna hukum karma"
Dengan Fina yang berbalik pergi meninggalkan Aera.
Aera menjatuhkan dirinya, tertunduk, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya menangis dengan histeris nya.
Lagi, dan lagi hal tidak baik menghampiriku Aera. Membumbui perasaan luka dan patah sebelumnya, menjadikan hatinya semakin hancur.
Caca ikut berjongkok mengusap usap punggung Aera, terdiam tidak tau dengan seperti apa yang harus dilakukan dan dikatakan nya.
"Aera?"
Seru Caca lirih dengan Aera yang sudah cukup lama berada menangis dalam tundukan dan dalam wajahnya yang ditutup rapat.
Aera membuka wajahnya, mengusap dan menghapus jejeka jejak air mata yang berada membasahi pipi nya.
Tersenyum menatap Caca.
"Mmm"
Singkat Aera bangun dengan Caca yang membantunya.
"Lo baik baik aja?"
Tanya Caca memastikan dengan Aera yang berada di hadapan nya, dengan hidung dan kedua mata yang menjadi merah.
"Hhhhh.."
Aera menghelai nafas, membuat lega dirinya. Tersenyum menatap Caca.
"Gua baik baik aja ko"
Caca tersenyum mengangguki nya.
Meski sebenarnya tau Aera sedang tidak baik baik saja, begitu tidak baik.
__ADS_1