Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
90


__ADS_3

Aera masuk kedalam kamar dengan tubuh nya yang dirasa lelah dengan kepalanya yang dirasa penat, menggeletakan coklat yang Titan berikan di atas meja.


Beberapa saat setelah tubuhnya direbahkan Aera kembali bangun setelah menoleh kepada ikan kecil di samping tempat tidurnya, Aera lupa memberikan makan seharian ini. Aera menaburkan cukup banyak makanan ikan pada akuarium.


Dengan lesuh nya, dengan lemas nya Aera kembali keluar untuk mengambil minum dan memastikan keberadaan mama, yang sudah lelah seharian mengurus acara tahlilan sendirian.


Aera memperhatikan mama dari sela pintu yang belum tertutup sempurna. Mama yang tertidur masih lengkap dengan kerudungan yang masih berada di pakai nya.


Aera masuk dengan begitu pelan agar tidak membangunkan mama, sekedar untuk menarik slimut untuk menutupi mama.


"Maafin Aera ma"


Gumam Aera pelan yang melihat mama yang terlihat begitu kelelahan.


Untuk beberapa saat Aera menatap dan memperhatikan mama, sampai tidak disadari air matanya menetes.


Aera menutup pintu dengan sempurna, beranjak kedapur untuk membereskan tumpukan piring yang begitu berantakan.


Setelah cukup lama Aera mencuci piring Aera meminum segelas air dingin yang di dituangnya dari sebotol air yang diambilnya dari dalam kulkas.


Aera meminum air tersebut dengan tatapan yang tiba tiba terarahkan kepada kamar mba Ana yang tertutup rapat.


Aera meletakan gelas di meja dan beranjak masuk kekamar mba Ana.


Baru berada di depan pintu langkahnya terhenti dengan sesuatu yang kembali dirasakan jelas, akan kenyataan mba Ana tidak lagi berada mengisi kamar dan rumah ini lagi.


"Hhh..."


Aera menghelai nafas dengan air mata yang kembali terjatuh, mendorong pintu kamar mba Ana dengan lebarnya.


Setelah Aera berada masuk memperhatikan semua barang-barang yang tertata rapih dan bersih, menyisakan keberadaan mba Ana disetiap sisi nya, Air mata tertumpah dengan begitu derasnya.


Aera duduk di tempat tidur mba Ana untuk merasakan keberadaan mba Ana, Aroma wangi dari Mba Ana, seruan suara yang seolah memanggil manggil Aera, deruan tawa yang begitu ceria semua berada nyata saat ini dirasakan Aera.


Dengan dadanya yang menjadi sesak dan begitu sakit, Aera memegangi dadanya dengan tangis yang pecah, menahan deruan histeris agar tidak membuat mama mendengar nya.


Terseguk seguk sampai hampir kehilangan suara dengan nafas yang menjadi tidak beraturan.


Entah sudah seberapa banyak air mata yang tumpah akan kesedihan ini.


Entah sedalam apa luka yang berada untuk Aera saat ini.


"Mba Ana"


Seru Aera pelan dalam tangis dan suara serak nya.


Kehilangan banyak tenaga dan kekuatan sejak tadi malam sampai saat ini Aera terus saja menangis. Menyisakan Aera yang tampak lusuh, berantakan, sebam diantara kedua matanya, pucat dan benar-benar redup tidak bersemangat.


Setelah mencoba menenangkan dirinya tiba tiba tatapan Aera terarahkan kepada sebuah surut yang tergeletak di atas meja. Aera meraih dan segera membuka nya.


------------------------------------

__ADS_1


Untuk Aera Anindira.


Hai cantik apa kabar sayang?


Jika surat ini sudah Aera baca itu artinya mba sudah tidak ada di samping Aera, mba sudah pergi jauh di atas sana, di tempat yang indah.


Maafkan mba yang pergi begitu saja, semua yang terjadi bukan salah Aera, ini hidup mba jadi mba yang memutuskan nya, maafkan mba karena akhirnya membuat Aera terkejud dan terluka.


Bersedih lah antar mba dengan tangisan dan rasa kehilangan dengan begitu mba akan merasakan ketulusan yang sebenarnya. Tapi jangan berlarut-larut Aera, setelah nya lepaskan dan biarkan semua berlalu seperti dengan seharusnya.


Terimakasih banyak telah menerima keberadaan mba Ana dengan sangat baik dan begitu hangat. Maafkan mba karna belum dapat memberikan banyak hal untuk Aera. Beberapa hadiah kecil mba persiapan untuk Aera di laci lemari mba yang paling bawah. Semoga Aera menyukai nya ya.


Selamat tinggal sayang.


-----------------------------------------


Meretak, patah, hancur begitu saja, lagi dan lagi.


Air mata kembali dan kembali berjatuhan ikut membasahi surat yang baru selesai Aera baca.


Deru menjadi kencang tidak lagi dapat ditahan nya. Aera menjatuhkan dirinya, mengelemprak terduduk di lantai.


Kali ini Aera tidak dapat mengendalikan kesedihan dan emosi nya, terlepas dan tercurahkan semuanya.


"Seharusnya mba ngga pergi, seharusnya kalo mba tau sejak awal mba sakit mba bilang sama Aera ngga nutupin ini semua sendiri. Aera tau ini hidup mba tapi apa Aera ngga berarti apa apa buat mba?"


Gretu Aera dengan kemarahan nya.


"Mba Ana"


Seru Aera sampai tertunduk tunduk dalam tangisannya.


Aera terjatuh, tergeletak diantara lantai yang dingin. Kepala nya pusing,tatapan nya mulai kabur, disaat saat Aera mulai kehilangan kesadaran sosok mba Ana tiba tiba berada dengan pakaian putih yang sama yang dikenakan mba Ana saat berada dalam mimpinya.


Mba Ana duduk mengusap rambut Aera dengan tersenyum begitu cantik.


Aera tersenyum merasakan usapan lembut dan senyum yang dilihat nya sebelum akhirnya Aera benar benar kehilangan kesadaran nya.


Mama terbangun, sadar dengan selimut yang tiba tiba berada menutupi nya.


"Aera"


Seru Mama, tau dengan siapa yang menutupi nya dengan selimut.


Mama keluar pergi kekamar Aera sekedar memastikan Aera sudah dapat beristirahat dengan baik.


Setelah berada di depan kamar Aera, pintu nya tidak tertutup. Tetapi mama tetap mengetuk pintu kamar nya lebih dulu.


"Tok.tok... Aera"


Panggil mama pelan.

__ADS_1


"Nak? Kamu udah tidur?"


Seru Mama sekali lagi memastikan.


Tidak dengan balasan atau suara yang didengar, mama menerobos masuk karna khawatir terjadi apa-apa dengan Aera.


Setelah melihat memastikan disetiap sudut ruangan tidak didapati Aera berada di kamar.


"Aera, Aera"


Panggil mama menggeledah sampai mengecek nya kekamar mandi. Tapi kosong yang didapati.


"Hhh..hhh..."


Jantung mama berdegup kencang, dengan khawatir dan ketakutan yang dirasakan nya saat ini.


Mama bergegas turun mencari disetiap sudut rumah dan ruangan dengan meneriaki nama Aera, mencari dimana keberadaan nya.


"Aera, sayang kamu dimana?"


"Aera.. Aera"


Setelah semua ruangan dan sudut rumah di pastikan satu persatu, tersisa kamar mba Ana yang belum mama periksa.


Dirasa benar dengan Aera yang berada di kamar mba Ana. Setelah berada di depan kamar mba Ana pintu kamarnya terbuka dengan begitu lebar.


Mama menerobos masuk tanpa dengan nama Aera yang panggili nya.


Mama terkejud akan keberadaan Aera yang terbaring tidak sadarkan diri di lantai.


"Aera"


Teriak mama, berlari menghampiri Aera.


Mama memidahkan Aera untuk berada di tempat tidur mba Ana. Karna tidak mungkin akan sanggup membawa Aera seorang diri naik ke kamar nya.


Setelah menyelimuti, mama mengusap tangan Aera dengan tetesan air mata yang berada terjatuh dipipinya.


"Mama pernah menjanjikan akan penjelasan dari semuanya, tetapi belum sempat mama menjelaskan nya, keadaan sudah lebih dulu memberi tahu dan menjelaskan nya kepada kamu nak"


"Ada kisah panjang yang menjadi masalalu akan keberadaan kamu"


"Setelah kamu siap dan lebih kuat mama akan menjelaskan semuanya"


Mama memejamkan kedua matanya merasakan tangannya yang saat ini tengah mengusap satu tangan Aera yang berada dalam genggaman nya. Merasakan butiran hangat yang terus saja menetes.


Mama mengusap rambut Aera sebelum bangun dari duduknya.


"Istirahat ya sayang. Selamat malam Aera"


Mama bangun dan meninggalkan Aera untuk tertidur dan beristirahat di kamar mba Ana.

__ADS_1


Jika berada menjadi begitu tenang setiap kehilangan kesadaran, terjatuh pingsan atau terlelap dalam tidur. Maka apa boleh Aera menginginkan untuk tidak lagi terbangun dan menjadi tidak sadar untuk waktu yang panjang. Setidaknya sampai Aera melepaskan semua keterlukaan, kesedihan dan takdir yang tidak begitu baik yang dimiliki nya. Apa boleh Aera menginginkan itu, atau bahkan menciptakan nya sendiri untuk dapat menyusul keberadaan mba Ana ditempat yang begitu jauh. Dirasa semua sudah sangat menyakiti dan membuat nya begitu lelah.


__ADS_2