
Di perjalanan pulang Aera terus merasakan sesak dengan apa yang dilihat, Titan dengan papa nya.
Seperti tau dengan baik bagaimana rasanya dibuat terluka dengan seseorang yang sangat kita sayangi.
Jalanan yang ramai, bising nya kendaraan benar bener tidak di hiraukan, sekedar keheningan yang saat ini mengisi ruang.
Jalan yang panjang memang sering kali melelahkan.
Aera berhenti di sebuah halte duduk dengan memasang handset, mendengarkan lagu.
"Jika setiap anak dapat memilih dengan rahim siapa dia akan dilahirkan, mungkin semua akan jauh lebih baik"
Gumam Aera pelan, dengan diri sendiri. Semua sedang terkuak ramai, dengan perasaan sendiri juga dengan apa yang dilihat nya. Bukan dirinya yang merasa sepi setelah dilahirkan di bumi, bukan hanya satu,dua atau tiga mungkin lebih dari itu orang yang merasakan hal yang sama dengan Aera, kesepian dan kesedihan.
Satu persatu keterlukaan nya menjadi kan bumi tempat yang menakutkan juga melelahkan.
"Jika ada orang yang saat ini mendengar semua ocehan ini, mungkin akan di anggap gila"
Lanjut Aera, kembali bergumam pelan.
Dengan seseorang yang sudah sedari tadi berdiri di sisi dengan sedikit di belakang Aera, mendengarkan dan memperhatikan Aera, sesekali terdiam dengan ekspresi serius nya dan sesekali tersenyum mendengar kan ocehan nya.
"Sia?"
Dengan Sia yang memberhentikan motor nya di hadapan Aera.
Menatap dengan kesal.
"Dicariin juga, ngga jelas banget deh"
"Gua kira lo udah duluan"
Jelas Aera dengan lesu.
"Kenapa?"
Tanya Sia melembut, memahami ekspresi Aera.
Aera langsung bangun dan duduk di belakang Sia.
Sia memberikan helem kepada Aera yang sudah menyenderkan kepala di pundak nya.
Aera menggeleng, menolaknya. Tidak ingin mengenakan helem karna akan membuat nya tidak dapat bersandar di pundak Sia.
Sia tidak memaksa, sekedar menghelaikan nafas menyaksikan Aera, sebelum menyalakan kembali motor dan kembali melaju.
"Kemana ke, ngga mau balik dulu"
Ucap Aera pelan, masih menyandarkan kepalanya kali ini lengkap dengan kedua tangan yang memeluk Sia.
"Lepas dulu ke ini, orang ngliatin nya aneh Ra disangka gimana gimana lagi"
Sia yang mencoba melepaskan tangan Aera yang di kaitkan kencang di perut nya.
__ADS_1
Aera akhirnya melepaskan tangannya dan mengangkat kepalanya, memperhatikan sepanjang jalan yang dilewati.
"Kerumah gua aja gimana?"
Tanya Sia, menawarkan. Memperhatikan Aera sesekali dari kaca spion motor yang diarahkan kepada Aera.
Aera hanya mengangguki, tanpa menatap Sia.
Sia masuk kerumah, dengan pintu yang dibukakan mamanya Tante Yan.
Aera ikut masuk membuntuti Sia.
"Kemana aja Ra baru maen lagi"
Sambut Tante Yan dengan begitu ramah.
Aera tersenyum dengan lebar nya.
"Ama Sia nya ngga di bolehin kerumah Tan"
Jawab Aera dengan candaan nya.
"Bener Sia?"
Tatap Tante Yan serius kepada Sia yang sudah duduk di sofa.
"Iya lah ngapain juga sering sering ngajakin dia kerumah, ribet"
Jawab Sia dengan serius
Sedikit kesal ekspresi Tante Yan dengan jawaban Sia.
Sia hanya melebarkan tatapan nya dengan tersenyum.
"Ngga usah di dengerin Sia mau ngomong apa juga"
Kembali kepada Aera tatapan Tante Yan selalu begitu hangat dan ramah.
Tidak jauh berbeda dari Sia Tante Yan suka bercanda dan kadang ada saja tingkah nya tetapi itu yang menyenangkan dari mereka bahkan dari keluarga ini.
Aera tersenyum merekah tawa dengan memperhatikan keduanya.
"Ngga papa Tan udah biasa ko, kebal"
Tante Yan ikut tertawa begitu pun dengan Sia.
"Ayo langsung kemeja makan aja, Tante baru selesai masak"
"Tante tau aja Aera laper"
Aera dengan memperlihatkan deretan giginya.
Sia memperhatikan Aera yang tengah tersenyum dengan tawa nya.
__ADS_1
Tatapan nya dengan maksud.
"Terlalu sulit semua buat lo Ra"
Gumam Sia pelan sebelum membuntuti keduanya kemeja makan.
Langkah nya menuju meja makan Aera memperhatikan dinding dinding rumah Sia dengan begitu banyak warna.
"Baru di cet ya Tan?"
Tante mengangguki ikut memperhatikan kemana tatapan Aera berada.
"Mmm, Ayah nya Sia iseng. Aneh ya?"
Aera menggeleng kan kepala, masih sibuk memperhatikan dinding dinding berwarna.
"Bagus, sesuai, jadi lebih hidup dan rami kaya keluarga ini"
Ada yang menjadi berarti untuk hidup seseorang, sesekali atau beberapa kali keberartian dalam hidup seseorang itu malah yang di dambakan orang diluar sana, menjadi sesuatu yang sedang di mimpikan atau malah di usahakan.
Dan seseorang selalu memiliki batasan dalam hidup. Sesuatu yang tidak akan di lampaui nya.
Untuk Aera mimpi dan usaha nya adalah sebuah keluarga yang indah dan lengkap, penuh cinta dan kasih di dalamnya. Akan tetapi batasan dalam hidup nya adalah semua sekedar ingin dan harap yang belum terwujud sampai saat ini dan mungkin tidak pernah akan terwujud.
Tawa yang merekah dan candaan yang meriah semua tertuang begitu saja di tempat makan dengan keluarga Sia, tetapi ada yang bergumam dalam hatinya ada yang berbeda dari sorotan mata Aera.
Setelah makan dengan cukup lama berbincang dan bercanda gurau, Aera dan Sia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur di kamar Sia. Kamar dengan lampu yang redup dengan dipenuhi lampu lampu tumblr, jika dilihat dengan mata yang di sipitkan akan terlihat seperti hamparan langit yang dipenuhi bintang.
"Mau dong lampu tumblr kaya gitu"
Minta Aera masih memperhatikan lampu lampu tumblr yang di pasang di langit-langit kamar Sia.
"Mau berapa bilang, gua beliin buat Aera mah"
Sia dengan memperhatikan Aera.
"Yang banyak"
Singkat Aera masih sibuk memperhatikan lampu tumblr.
"Buat apaan banyak banyak"
"Biar bagus, biar terang biar ngga sepi"
Jelas Aera,menoleh mantap Sia.
Sia terdiam sesaat ada yang dipahami dari ucapan Aera barusan.
"Mm, kalo mau rame mah setel aja dangdutan"
Cetus Sia meramaikan suasana.
"Lo yang joget ya?"
__ADS_1
Aera dengan senyum tipis nya.