
Seperti tiada hari untuk Aera tidak tampil cantik dan mempesona meski sekedar dengan jens pendek dan kaos yang dilengkapi dengan switer.
Deringan telfon masuk di handphone nya berbunyi dengan sebuah nama yang tertera yang menelfon nya, Titan.
"Gua udah ada di depan"
Jelas Titan setelah telfon di angat oleh Aera. Dengan Titan yang sudah sampai di depan rumah Aera.
"Gua turun sekarang. Tut..."
Aera memasukan handphone kedalam saku switer nya, sedang tidak membawa tas ransel nya.
Titan sudah berada bersandar pada pintu mobil nya menunggu Aera yang tengah menghampiri nya.
Aera menarik kedua sudut bibirnya untuk menyapa keberadaan Titan. Titan pun ikut membalas tersenyum tipis dalam ekspresi wajahnya yang sering kali dingin dan begitu kaku.
"Pergi sekarang?"
Tanya Titan memastikan sebelum membukakan pintu untuk Aera.
"Mmm"
Aera mengangguki, melebarkan tatapannya dengan Titan yang tiba tiba membukakan pintu untuk nya.
"Silahkan"
Singkat Titan kembali dingin tanpa ekspresi.
"Hhh.."
Aera menghelai pelan dengan Titan yang memberikan hal hal manis yang tidak terduga, diluar dari pada kepribadian nya.
"Makasih"
Aera tersenyum, diperlakukan istimewa siapa juga yang tidak akan senang.
Sudah cukup jauh melaju dengan diam keheningan yang terjadi diantara keduanya Titan dan Aera.
Sesekali Titan menoleh menatap Aera, kembali ingat dengan Azka yang Aera sukai. Benak dan pikiran nya seperti dipenuhi akan keduanya.
Aadalanya benak lebih baik dibiarkan kosong dari pada dibiarkan terisi akan keberadaan yang malah ada untuk melukai diri sendiri.
Begitu pun Aera sesekali menoleh menatap Titan dengan perasaan yang mulai aneh dirasakan nya. Apa benar dengan Titan yang mulai menerobos masuk kedalam hatinya, lantas bagaimana dengan keberadaan Azka.
Bukan kah hati seorang perempuan hanya dapat tulus akan satu cinta untuk satu laki laki. Atau semua yang terjadi hanya sekedar perasaan belaka, perasaan seorang gadis remaja bukan sebuah cinta dengan ketulusan, hanya sekedar suka dan menganggumi dengan hati yang dibuat luluh.
"Mau kemana"
Titan yang akhirnya menoleh memperhatikan Aera yang tengah terdiam dengan tatapan kosong nya.
"Entahlah"
Gumam Aera dengan apa yang tengah dipikirkan dipenuhi keberadaan Azka dan Titan dalam hati dan pikirannya.
Terucap setelah Titan bertanya.
"Mmm?"
Titan memastikan dengan jawaban Aera barusan.
"Hah?"
Aera yang menoleh dengan Titan yang saat ini berada memperhatikan nya.
__ADS_1
"Kenapa?"
Tanya Aera setelah sadar dalam lamunan nya.
"Kita kau kemana?"
Jelas Titan kembali dengan pertanyaan nya.
"Lo udah makan? Gua laper soal nya"
Lanjut Aera, mengajak Titan untuk keluar bersama nya tapi belum dengan tempat yang ditentukan nya. Untung lah perut kosong nya memberikan jalan keluar.
"Mau makan dimana?"
"Makan bakso, ngga jauh di depan nanti ada tukang bakso kita makan disana ya"
Titan mengangguki dengan lebih kencang menginjak gas untuk lebih cepat melaju. Tidak ingin Aera terlalu lama dengan perut lapar nya.
Sementara Aera ingin menikmati waktu bersama Titan dan mengesampingkan rasa penasaran dengan bagaimana Titan dan Azka bertemu dan apa saja yang sudah keduanya bicarakan.
Titan memarkirkan mobilnya diseberang jalan tepat di pinggir jalan.
Aera ingin menyebrang dengan kedai bakso yang berada di seberang, setiap akan menyebrang kendaraan tidak ada habisnya melaju.
Titan meraih tangan Aera untuk dituntun nya dan ikut menyebrang bersamaan dengan kedua tangan yang saling mengaitkan. Titan tertunduk dengan Aera yang ikut mengeratkan tangannya dengan tangan Titan.
Titan tersenyum dengan tangan yang dirasakan hangat akan keberadaan tangan Area yang begitu lembut berada ikut memegangi tangannya.
"Tan lo mau bakso atau mie ayam?"
Aera menoleh dengan tangan yang masih menggandeng diantara keduanya.
"Bakso pakai mie kuning nya aja"
"Lo duduk disana ya, gua pesen bakso nya dulu"
Aera yang akhirnya melepaskan tangannya dari Titan menunjukkan tempat duduk yang tersisa yang masih tampak kosong.
"Mmm"
Titan mengangguki, tidak bersemangat dengan tangan Aera yang sudah terlepas dari tangan nya.
Aera menghampiri Titan setelah selesai dengan apa yang dipesan nya.
Aera dan Titan mempertemukan tatapannya tanpa ekspresi, seperti sedang menikmati keberadaan satu sama lain.
"Kenapa Ra?"
Tanya Titan memastikan dengan Aera yang tidak biasa hari ini. Mengajak nya bertemu dengan tiba tiba tanpa alasan, ikut menggenggam tangan nya, dan saat ini ikut menatap dan memperhatikan nya.
"Apanya?"
Aera yang tidak memahami dengan pernyataan Titan.
"Lo nya"
"Gua?"
"Mmm.. lo, kenapa?"
Jelas Titan.
Aera terdiam setelah memahami maksud dari pertanyaan Titan.
__ADS_1
"Aneh ya gua hari ini?"
Aera yang balik bertanya sekedar memperjelas pertanyaan Titan yang sudah di pahami nya.
"Lo aneh, beda dari pada biasanya"
Tegas Titan memperjelas.
"Gua pun merasakan nya, entah lah ada yang lagi ngga beres aja sama diri gua. Jadi jangan di ambil serius ya"
Aera mengutarakan nya,memperjelas dengan rasa bimbang yang tengah dirasakan dalam dirinya, akan keberadaan Azak dan Titan yang tinggal bersamaan dihatinya.
"Karna Azka dan gua?"
Titan menerka seolah tau dengan apa yang tengah menjadi kebingungan untuk Aera.
Aera terdiam, tidak dapat mengelak karna apa yang ditanyakan Titan benar adanya, tetapi tidak juga mengiyakan akan tampak seperti orang bodoh dan murahan. Bagaimana mungkin seseorang menyukai dua laki laki sekaligus.
"Kenapa? Keberadaan gua udah mulai ada di hati lo? Dan lo bimbang akan Azka yang sudah lebih dulu menetap"
Jelas Titan yang benar-benar memahami nya, terlebih dengan Aera yang diam seolah mengiyakan memberikan jawaban dengan pertanyaan nya.
"Kalo gua bilang iya, apa yang akan lo lakuin"
Seperti dibuat buntu dengan alasan apa yang dapat dikatakan nya untuk dapat membuat Aera mengelak menyalahkan dengan apa yang Titan jelaskan.
"Gua akan buat hanya gua satu satunya yang akan menetap di hati lo Ra"
Dengan tatapan serius dan kesungguhan Titan dengan apa yang dikatakan nya.
"Oke, kalo gitu lakuin, jangan biar gua berada bimbang dengan keberadaan lo dan Azka"
"Pasti, ngga akan gua biarin dia memiliki apa yang seharusnya gua miliki"
Aera dan Titan terpaku dalam tatapan satu sama lain yang sama dalam nya.
Pelayan datang mengantarkan pesanan keduanya, membuat Aera dan Titan akhirnya tersadar dan mulai tertuju dengan pesanan nya masing-masing.
Titan memperhatikan mangkuk nya dan mangkuk pesanan Aera tampak berisi dengan apa yang disukai nya, hanya bakso dengan mie kuning nya saja.
"Kesukaan kita sama, gua juga suka bakso sama mie kuning nya aja"
Jelas Aera memahami dengan Titan yang memperhatikan dan membandingkan mangkuk Aera dengan mangkuk nya.
Titan tersenyum menatap Aera.
Aera menumpahkan beberapa sendok sambel kedalam mangkuk bakso nya, untuk mendapakan rasa pedas kesukaan nya.
"Nanti sakit perut Ra"
Titan yang merasa ngilu dan mengkhawatirkan Aera dengan banyak nya sambal yang dicampurkan kedalam mangkuk bakso nya.
Aera tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Ngga akan ko udah biasa tenang aja, lo mau pake juga"
Aera menyodorkan tempat sambal kepada Titan.
Titan menggelengkan kepalanya.
"Gua ngga suka pedes"
Keduanya menikmati pesanan dengan Aera yang berkeringat dengan rasa pedas yang dirasakan.
__ADS_1
Titan terus memperhatikan Aera yang begitu bersemangat menikmati baksonya yang tampak begitu pedas.