
Menunggu, bertahan di tempat akan suatu alasan,akan suatu kehadiran atau keberadaan. Sama halnya dengan yang tengah Sia lakukan. Setelah sibuk untuk pertama kalinya mencari baju menata rambut dan bahkan sampai menggunakan parfum, tidak seperti biasanya. Alasan nya karna akan pergi bersama dengan Azka, seseorang yang mulai tampak istimewa dimatanya. Kali pertama rasanya akan lawan jenis dihargai dengan diperlukan nya sangat baik. Tampak bodoh dan bertolak belakang dengan karakter pada biasanya.
Sudah duduk didepan rumah menunggu Azka. Hampir satu jam berlalu tapi tidak juga datang.
Azka tengah sibuk mengantarkan Aera dengan mampir lebih dulu ke kedai es krim deket sekolah.
"Eh Aera"
Sapa Adong begitu girang nya dengan kedatangan Aera yang diikuti Azka dibelakang nya.
Aera tersenyum mengalihkan tatapannya untuk memilih toping untuk es krim yang akan di pesan nya.
"Ko sendiri temen kamu yang itu kemana"
Aera kembali menatap Adong dengan toping yang sudah menjadi pilihannya.
"Udah pulang duluan, ini ngga sendiri ko sama dia"
Dengan Aera yang memegangi lengan tangan Azka dan menarik nya untuk diperlihatkan kepada Adong dan untuk Azka berdiri disampingnya.
"Oooooooohhhh.."
Adong melemas tidak semangat dengan pria yang dilihat nya berada di samping Aera. Perempuan yang telah mengoyak hatinya pada pandangan pertama. Tetapi di patahkan begitu saja setelah tatapan akan pertemuan nya ini. Menyedihkan.
"Mau satu es krim coklat dan satu es krim vanilla dengan toping oreo"
Lanjut Aera dengan pesanan yang sebelumnya sudah di sepakati dengan Azka.
Ada yang menjadi lega untuk pergi ke kedai es krim ini tanpa harus di kejar Adong, dengan sangat mengganggu nya. Bukan tidak menghargai perasaan Adong. Atau bukan karna Adong yang tampak tidak biasa seperti pria pada umumnya. Hanya saja jika terus menempel dengan sesuatu yang sedang Aera nikmati itu akan sangat mengganggu dan Aera tidak menyukai nya. Aera tidak suka kebebasan nya menjadi terbatas karna keberadaan seseorang. Seperti pada wanita pada umumnya, dia ingin di cintai, disukai di usakan dengan cara yang menyenangkan dan tidak menganggu, tidak membuat nya tidak nyaman, apalagi sampai menyinggung nya.
Adong diam terpaku memperhatikan Aera dengan sendu dan ekspresi yang sudah berbeda.
"Hah.. kenapa?"
Dengan Adong yang sudah berkaca-kaca.
"Mmmm?"
Aera melebarkan tatapannya tidak memahami dengan apa yang Adong katakan.
Azka diam tersenyum senyum menahan tawa dengan Adong yang tampak kecewa dengan Aera yang bersama dengan nya.
"Aku buatin pesanan kamu sama pacar kamu"
__ADS_1
Judes Adong menahan kacaan air matanya.
Aera terus saja dibuat melebarkan tatapannya. Benar benar tidak dapat di pahami. Aera menoleh mempertemukan tatapannya dengan Azka, keduanya tertawa dan menggelengkan kepala.
Aera duduk di deket kaca ditempat yang sama dengan nya duduk bersama Sia waktu pertama kali datang.
" Itu orang suka Ra sama Lo"
Jelas Azka dengan apa yang dipahami nya, merekah senyum nya dengan tingkah laku Adong.
"Mmmm, kayanya"
Aera yang mengangguki tanpa ekspresi. Menyadari dengan Adong yang begitu berlebihan dengan nya.
Adong mengantarkan dua mangkuk es krim pesanan Aera masih tersedu sedu dalam tatapannya berkaca nya. Menatap Aera dengan tatapan yang memperjelas dirinya yang tengah dicampakkan.
Aera ikut menahan tawa dengan melihat Azka yang tengah menahan tawa.
"Silahkan"
Singkat Adong sebelum berlari dengan gayanya, meninggalkan keduanya.
Langit yang sudah mendung membunyikan guruhan petir sebelum akhirnya hujan turun dengan derasnya.
Aera menoleh dengan sesuap es krim yang tengah mencair begitu manis dirasakan. Memperhatikan derasnya hujan yang terjatuh berada di permukaan bumi. Sering kali jatuhnya kembali terpantul diantara permukaan bumi sebelum akhirnya benar benar terjatuh. Cuaca menjadi dingin terlebih dengan es krim yang tengah dinikmati nya, tapi rasa dingin itu semua mengalahkan rasa hangat dengan keberadaan Azka berada duduk di hadapannya.
"Kenapa Ra?"
Dilihat nya Aera yang terdiam memperhatikan derasnya hujan.
Aera tersenyum tanpa menoleh menatap Azka.
"Cuman suka aja, menyenangkan diperhatikan nya"
Gumam Aera, ada yang kembali disadari akan dirinya. Jatuh hati kepada banyak nya tetesan hujan yang jatuh, terpantul di antara permukaan dan kembali jatuh benar benar jatuh, mengalir atau tertinggal diantara permukaan yang berlobang.
Azka ikut menoleh dengan apa yang tengah diperhatikan Aera.
Ikut memperhatikan setelah Aera mengatakan jika menyukai nya.
Rasanya ingin tau lebih banyak akan hal hal yang menjadi kesukaan Aera.
"Kenapa mudah banget sih Ra buat lo suka dengan sesuatu nya?"
__ADS_1
Tanya Azka kembali memperhatikan Aera.
Aera ikut menatap Azka dan memperhatikan nya. Terbawa dengan pertanyaan yang Azka katakan.
Pertanyaan yang tanpa sadar sudah memberi tau Aera betapa mudah hatinya terpaku jatuh hati atau sekedar menyukai banyak hal. Mungkin karna terbiasa dengan keterpurukan dan ketakutan menjadikan kebebasan dengan hal didalamnya tampak menyenangkan dan memukau setiap Aera menoleh sekedar memastikan atau menatap nya.
"Mmmm.. mungkin karna terlalu banyak ruang kosong di hati gua, jadi gua bisa memasukkan banyak hal untuk menjadi apa yang gua suka"
Jawab Aera tersenyum menatap Azka.
"Termasuk lo Ka, ruang kosong di hati gua terisi dengan keberadaan lo, dengan gua yang menyukai lo"
Gumam Aera dalam hati, tersenyum menatap penuh arti.
"Ada gua diruang hati lo yang kosong?"
Tanya Azka dengan senyum nya yang mereda dengan tatapan serius menatap Aera.
"Mmm ada lo"
Jawab Aera dengan kejujuran ny. Begitu tenang dengan tatapan Azka yang memberikan banyak kekuatan untuk nya.
Keduanya saling tersenyum bahkan menjadi tertawa. Dengan rasa yang tengah menggelitik hatinya masing-masing.
"Eh iya urusan lo gimana"
Aera yang ingat dengan Azka yang memiliki urusan dengan seseorang.
Azka tercengang terkejud, bener bener menjadi lupa setiap bersama dengan Aera.
"Oh iya, bentar gua kabarin orang nya dulu"
"Mau lo batalin?"
Tanya Aera memastikan nya. Menjadi tidak enak dan bersalah, berniat mengantar nya pulang malah terhanyut sampai mengajak Azka mampir untuk makan es krim bersama nya.
"Mmmm"
Azka mengangguki dengan telfon yang sduah berada di tempelkan ditelinga nya.
Tidak juga di angkat, Azka kembali mencoba nya beberapa kali tapi tidak juga ada jawaban. Akhirnya Azka mengirim pesan. Setelah selesai Azka meletakkan handphone dan kembali tertuju kepada Aera.
"Sorry ya gara gara gua urusan lo harus ngga jadi"
__ADS_1
Aera dengan rasa bersalah nya.
"Bukan karna lo Ra, lagi juga kalo emang ngga ketemu lo pun akan tetep ngga jadi karna ujan"