
Setelah dengan Fina Aera menuju cafe Azka sekedar untuk meminum secangkir kopi yang akan membuat penat nya sedikit terobati. Duduk dikursi tempat biasa, didekat kaca.
"Mba Aera"
Sapa pelayan yang akan melayani pesanan Aera.
Balas Aera tersenyum.
"Azka ada?"
"*Mas Azka lagi keluar mba"
"Mm , kalo gitu mau latte nya satu*"
Dengan pesanan Aera.
"Kalo gitu tunggu sebentar ya mba"
Pelayanan berlalu membawa pesanan Aera.
Aera mengeluarkan Handphone dan handset untuk mendengarkan lagu lagu kesukaannya.
"Melelahkan"
Ucap Aera hanya dengan pelafalan tanpa suara. Tatapan mata yang menjadi berkaca, banyak rasa yang kembali terkuak terpapar jelas bagimana rasanya.
Sudah berada di depan cafe, baru akan masuk langkahnya terhenti dengan tatapan nya yang tertuju kepada seseorang. Terlihat dari tembusan kaca yang bening, tampak Aera tengah tertunduk dengan handset yang sedang dikenakan nya. Azka terpaku diam memperhatikan Aera yang sesekali terlihat menarik nafas panjang dengan tangan nya yang memegangi dada.
Pelayan datang dengan nampan yang berisikan secangkir kopi latte yang Aera pesan.
Aera melepaskan satu handset dari telinganya.
"Silahkan dinikmati"
Dengan pelayanan yang meletakan secangkir latte di hadapan Aera.
"Terimakasih"
Aera tersenyum ramah kepada pelayan, sebelum kembali memasang satu handset nya di telinga.
Aera meraih secangkir pesanan nya, dinikmati pelan sembari menoleh kesisi kanan menikmati suasana luar yang tampak begitu ramai, meski dengan perasaan nya yang tengah sepi.
Aera menoleh dengan sebuah tangan yang menyentuh pundaknya.
Aera kembali melepaskan handset setelah dilihatnya Azka yang tengah berdiri di belakang nya.
"Azka"
Aera menatap hangat dengan tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
Azka tersenyum tidak kalah hangat dan indahnya dengan Aera. Ikut duduk di hadapan Aera.
"Maaf dan makasih buat yang kemaren, sampe repot gendong gua"
Senyum yang merada, tersisa perasaan tidak enak nya terhadap Azka.
"Lo berat tau"
Azka yang ikut melunturkan senyum nya.
"Mmmm?"
__ADS_1
Melebarkan tatapan nya terkejut mendengarkan nya.
"Bercanda bercanda"
Azka yang kembali tersenyum dengan tawanya.
"Iya ngga papa Ra, pintu maaf ku terbuka lebar untuk mu"
Dengan Azka yang tampak begitu mempesona, candaan dengan wajah tampan yang selalu tersenyum.
"Baik banget ya, jadi kalo besok besok minta gendong lagi ngga keberatan dong? kan katanya maaf buat gua terbuka lebar"
Azka berdiam tanpa ekspresi.
"Bercanda ko"
Aera setelah memperhatikan ekspresi Azka tampak berbeda.
Azka kembali menarik sudud sudut bibirnya, menciptakan garis garis tawa di wajahnya.
"Mau di gendong sekarang juga boleh"
Aera tertawa di ikuti dengan Azka, keduanya tampak begitu senang menikmati obrolin penuh canda atau dengan maksud didalamnya.
Terlebih untuk Aera yang menepis perasaan tidak menyenangkan yang sebelumnya dirasakan.
Aera menatap Azka dengan tawa yang diselipi maksud didalamnya.
Bagaimana mungkin pria yang semula hanya orang asing sekarang menjadi seseorang yang tampak begitu berarti. Segala berat menjadi mudah, segala hal dibuatnya menyenangkan, terlebih dengannya yang sering kali memahami.
Aera mulai mengakui perasaannya, suka dan bahkan jatuh cinta dengan Azka.
Begitu pun dengan Azka, tatapan nya penuh maksud dengan pertanyaan pertanyaan didalam nya tentang Aera.
Tampak begitu ceria dan baik baik saja setiap berada di hadapan nya, setiap berada di tatapan orang yang menatap nya tetapi menjadi berbeda saat sendiri saat tidak ada yang memperhatikan nya.
Tampak kosong, sepi dan begitu menyedihkan, seperti itu lah Azka yang menatap Aera di saat saat kesendirian nya.
Aera kembali menikmati secangkir kopi pesanannya, dengan di perhatikan Azka dan dengan balik memperhatikan nya.
"Mau jalan jalan?"
"Mmm"
Aera tersenyum mengangguki nya dengan semangat.
Berjalan beriringan dengan langkah yang sama pelan nya menikmati hembusan angin dan suara suara kendaraan yang ramai.
Aera dan Azka menghentikan langkahnya bersandar di sisi JPO menikmati suasana, memperhatikan hamparan langit berbintang dengan sesekali memperhatikan jalanan yang ramai.
"Kalo di setiap tempat lo berada lo diminta buat pergi, lo akan gimana Ka?"
Aera menoleh memperhatikan Azka dengan tatapan
"Mmmmm..?"
Pikir Azka memahami pertanyaan Aera mencoba untuk menjadikan nya seolah berada di posisi seperti yang Aera pertanyakan.
"Tergantung"
Singkat Azka menoleh mempertemukan tatapan nya dengan tatapan sendu Aera.
__ADS_1
"Tergantung gimana?"
Aera memperhatikan menunggu dengan apa yang akan Azka jelaskan.
Azka tersenyum sebelum menjelaskan maksudnya, mengalihkan tatapannya untuk kembali memperhatikan hamparan.
"Akan bertahan. Karna itu tempat gua, gua akan tetap tinggal ataupun pergi itu tergantung dengan apa yang gua mau"
Jelas Azka.
"Tapi ngga semua orang bisa dengan prinsip kaya lo"
Lanjut Aera membuat Azka kembali menoleh untuk menatap nya.
"Mmm bener ngga semua orang bisa dengan prinsip seperti itu, gua menjawab karna pertanyaan lo sekedar tertuju buat gua"
"Ah iya ya"
Aera tersenyum masih dengan tatapan nya yang sama.
" Bertahan lah kalo emang mau bertahan, pergi lah kalo emang mau pergi. Jangan terlalu dengerin orang"
Lanjut Azka dengan tatapan serius nya.
Aera menarik paksa sudut sudut bibirnya untuk tersenyum, menahan sesuatu yang dirasa akan meluap, terhanyut dengan ucapan Azka barusan.
"Kalo dengan apa yang menjadi keputusan, gua tersesat dan sendiri, harus gimana?"
Aera dengan setetes air mata yang menetes begitu saja, dan langsung di usapnya.
Azka kembali bertanya tanya dengan apa yang tengah terjadi dan dengan kesulitan apa yang tengah berada membebani Aera.
"Gua boleh peluk lo?"
Aera melangkahkan kakinya memeluk dengan erat nya menjatuhkan beberapa tetes air mata di pundak Azka.
Dalam pelukan nya Azka menepuk nepuk pelan punggung Aera sekedar memberikan ketenangan.
Setelah cukup lama berada dalam pelukan Aera melepaskan kan nya, dengan kedua tangan Azka yang mengusap kedua pipi Aera menghapus jejak-jejak air mata nya.
"Buat kesekian kalinya dengan tiba tiba gua menjadi aneh di hadapan lo"
Aera menatap Azka.
"Jauh lebih baik dengan seperti ini Ra, dari pada lo harus mendem semuanya sendiri"
"Mmm, Makasih ya udah ngertiin dan memahami gua"
Aera dengan senyum tipis di wajahnya.
Azka tersenyum dengan lebar nya, mengangguki.
"Udah makin dingin gua anterin pulang ya"
Ada yang menjadi berharga untuk orang orang yang terluka, sekedar pelukan dan pengertian. Aera memahami setelah merasakan, karna Azka lukanya seolah terobati dengan baik.
Azka mulia menjadi yang berarti dalam hidupnya, rasanya mulai tumbuh ketakutan akan kehilangan nya.
Dunia nya yang disinggahi Azka tampak lebih berbeda dan berwarna.
Pribadi dan ketulusan yang diperlihatkan Azka menjadikan Aera menatap nya dengan begitu sempurna.
__ADS_1