Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
42


__ADS_3

Aera turun sudah dengan penampilan yang tertata rapih dan begitu cantik.


Dalam langkah langkah nya menuruni tangga Aera kembali ingat dengan pelukan nya dengan Azka dan kata kata yang Azka katakan, benar benar menguatkan nya.


Aera yang sudah berada dekat di kursi nya,berhadapan dengan Mama. Menatap mama yang membuat Aera tersenyum. Ingat dengan apa yang sempat terjadi dengan Mama, sat itu Aera memutuskan dengan apa yang menjadi keputusan nya, dan akan sama dengan apa yang terjadi dengan nya dan Fina.


"Pagi mah"


Sapa Aera tersenyum begitu ceria, sebelum duduk di kursinya.


"Pagi"


Singkat mama ikut tersenyum.


"Pagi mba Ana"


Dengan mba Ana yang meletakan segelas susu dihadapan Aera.


"Pagi"


Jawab mba Ana ikut tersenyum senang melihat Aera yang tampak begitu ceria.


Aera menyelesaikan sarapannya dengan cepat, bergegas bangun menghampiri mama.


"Aera berangkat ya ma"


Aera dengan mengulurkan telapak tangannya yang dibuka untuk berjabat tangan dan mencium tangan mama.


Mama melebarkan tatapan nya tercengang dengan Aera yang saat ini dihadapan nya.


Mama menyatukan tangan nya dengan tangan Aera dengan canggung.


Terpaku saat tangan nya di cium oleh Aera.


Aera bergegas dengan di antar mba Ana sampai di depan pintu.


Mama diam begitu kaku dengan matanya yang berkaca, apa yang Aera lakukan barusan membuat nya menjadi terluka dengan kesalahan yang telah dilakukan nya kepada Aera, menjadi sangat bersalah.


"Keliatan nya lagi bahagia banget, kenapa coba cerita dong"


Aera tersenyum memperlihatkan deretan giginya.


"Mba kepo"


"Mmm gitu ya sekarang, maen rahasia rahasiaan sama mba"


"Iya nanti cerita ko. Mba lagi kenapa?"


Aera dengan mengalihkan pembicaraan, dengan tatapan serius memperhatikan mba Ana.


"Kenapa apa nya?"


Jawab Mba Ana tersenyum.


"Akhir akhir ini Aera perhatian mba keliatan pucet banget loh"


Senyum mba Ana luntur seketika, tersisa gelagat nya yang menjadi aneh setelah mendengar ucapan Aera.

__ADS_1


"Ah masa sih, aa.. ini ngga papa ko"


Dengan Mba Ana yang menyentuh wajahnya.


Aera menatap curiga dengan glagat mba Ana yang menjadi aneh, seperti benar tengah ada yang disembunyikan nya.


"Tin tin"


Sia sampai di teras rumah dan langsung membunyikan klakson motor nya.


"Tuh Aera udah dateng, berangkat gih nanti kesiangan"


Aera mengangguki dengan tersenyum tipis mengesampingkan prasangka nya.


"Kalo gitu Aera berangkat ya mba, nanti Aera beliin mba vitamin"


Mba Ana tersenyum mengangguki.


"Pagi mba Ana"


Sapa Sia kepada Mba Ana.


"Pagi Sia"


"Kita jalan ya mba"


Pamit Aera sudah dengan helem yang dikenakan nya.


"Hati hati ya, Sia bawa motor nya pelan pelan ya"


"Iya mba"


"Hhhhh"


Mba Ana menghelai nafas, entah merasa lega dapat menghindar dari pertanyaan Aera atau mengehelai karna sesak telah membohongi Aera.


"Maafin mba ya Ra, mba belom bisa cerita,mba ngga mau kamu sampai khawatir"


Gumam mba Ana pelan sebelum kembali masuk.


"Giman kotak nya udah lo balikin sama Fina"


Dengan Sia yang memulai obrolan.


"Udah"


Singkat Aera menjadi tidak bersemangat karna ingat dengan kejadian semalam.


"Terus apa katanya, dia ada ngomong apa gitu?"


Aera terdiam memikirkan untuk bercerita dengan Sia atau tidak, hanya saja ini menyangkut dengan persahabatan ketiganya.


Sia memutar kaca spion diarahkan kepada Aera sekedar untuk memperhatikan nya yang diam tidak menjawab pertanyaan nya.


"*Weh kesambet lo ya, diem ditanya nya?"


"Nanti aja Sia gua ceritain semuanya di kantin*"

__ADS_1


Jawab Aera.


Keduanya berada di kantin duduk saling berhadapan dengan Sia yang memperhatikan Aera menunggu dengan apa yang akan diceritakan nya.


"Ada kejadian kurang menyenangkan yang terjadi antara gua sama Fina"


Jelas Area menatap Sia.


"Kejadian kurang menyenangkan gimana?"


Sia yang mulai serius memperhatikan Aera.


"Ternyata Fina suka sama Titan dan Titan suka sama gua, itu alasan kenapa dia pernah tanya soal cinta segitiga"


"Hah? Seriusan lo?"


Sia yang dibuat terkejut dengan penjelasan yang Aera katakan.


"Mmm"


Aera mengangguki nya.


"Terus gimana?"


"Fina minta gua buat jauhin Titan dengan gampang nya dia ngomong tanpa mikirin perasaan gua, bukan karna gua ada perasaan sama Titan, tapi cara dia menyampaikan terdengar kaya dia yang ngga peduli sama gimana guanya. Lagian gua juga yang ngga ada apa apa sama Titan, dia yang udah baik banget terus harus gua bales dengan cara kaya gini. Gua ngga tau harus yang kaya gimana? Pertahanin persahabatan dengan seseorang yang udah ngga bisa ngehargain gua atau ngejauhin Titan seperti apa yang Fina mau"


Lanjut Aera dengan panjang nya.


Sia terkekeh diam mendengarkan, memahami dengan penjelasan panjang yang Aera sampaikan.


"Lo tau sendiri kan karakter Fina yang gimana, ya kalo emang lo ngga ada perasaan sama Titan yaudah lo jauhin aja"


"Lo ngga ngerti Ra, gua punya alesan kenapa ngga bisa ngejauhin dia gitu aja"


Lanjut Aera ingat dengan Titan yang mungkin bisa dikatakan senasib dengan nya, memiliki hidup yang rumit dengan orang-orang disekelilingnya yang melukai.


"JADI APA MAU LO?"


Tegas Fina dengan emosi nya, sudah cukup sedari tadi mendengarkan obrolan Aera dengan Sia.


"Fina"


Sia semakin dibuat terkejut dengan keberadaan Fina yang tidak jauh dari meja keduanya, mendengarkan semua pembicaraan nya dengan Aera.


"Kalo lo suka sama Titan lo bilang ngga usah kebanyakan basa basi kaya gini. Lo tinggal nolak dengan apa yang gua minta"


Fina dengan nada suaranya yang keras, menghampiri Aera dan Sia.


Aera bangun dari duduknya di ikuti dengan Sia.


"Gua ngga suka sama Titan!! Gua cuman temen jadi kenapa harus ngejauhin, gua juga yang ngga akan ganggu lo berdua. Dan gua perjelas sama lo, gua sadar kenapa semalem gua ngrasa sakit, karna gua tersinggung! Ngga ada yang salah sama permintaan lo, tapi cara lo minta ke gua buat nurutin kemauan lo ngebuat gua ngrasa lo ngga lebih dulu ngehargain gua"


"Lo ngerti ngga sih lo paham kan Titan suka sama lo mau apa anggapan lo ke dia tetap beda dengan cara dia menatap lo. Tersinggung? Ngehargain? Buat apa? Kalo gua pun tidak diperlakukan kaya gitu"


"Itu hak Titan, urusan lo sebagai orang yang suka sama dia cuman memperjuangkan nya ngga perlu pake repot repot menyingkirkan orang di sekeliling dia, bukan nya respek malahan ilfil dia yang ada. Lo mau di perlakukan dengan baik? Ada ngga lo terbuka sama kita? Sahabat lo bilang? Egois nya lo ngga pantes disebut sahabat.


"UDAH CUKUP!! "

__ADS_1


Teriak Sia menghentikan keduanya.


"Bisa kan ngomongin baik baik, ngga perlu pake bacot yang nyakitin satu sama lain"


__ADS_2