
Baru akan keluar dari ruang UKS, dua perempuan yang sangat di kenali membuka pintu dan masuk begitu saja, Sia dan Fina.
"Gimana kaki lo, udah enakan"
Tanya Sia dengan memperhatikan sebentar luka di lutut Aera yang sudah di beri hansaplas.
"Udah ngga papa"
Aera dengan menggerakkan kakinya.
"Enak ya jadi punya alesan buat ngga masuk kelas"
Fina tersenyum meledek Aera.
"Iya dong, bisa tidur, bangun bangun ada yang anterin roti lagi"
Jawab Aera tersenyum menyombongkan, dengan memperlihatkan kantong yang di bawa nya.
"Dari siapa,coba liat"
Tanya Sia yang kemudian meraih dan membuka isi kantong tersebut.
"Ngga tau, ezy cuman dititipin buat ngasihin ke gua, cuman dia ngga bilang dari siapa, ada surat nya juga ko"
Sia membaca selembaran kertas kecil yang di sertakan di dalam kantong.
Fina hanya diam menyaksikan, tanpa kembali menuang canda ataupun ucapan lain nya setelah mendengar Sia yang membacakan selembaran yang berada di dalam kantong, benar benar hanya diam.
"Udah yuk makan, laper nih"
Ajak Sia kepada kedua sahabat nya, mengembalikan kantong kepada Aera.
"Makan Boci (Baso Aci) yuk"
Ajak Aera dengan keinginan nya, benar-benar ingin memakan makanan yang pedas. Rasa yang akan menjadi pelampiasan yang menyenangkan.
"Terserah"
Singkat Sia tersenyum tipis.
Baru akan bergegas, Aera dan Sia terpaku diam menatap Fina yang sedang mematung dengan tatapan kosongnya.
Fina berbalik dan berlalu meninggalkan Aera dan Sia tanpa sepatah katapun, bahkan menatap keduanya pun tidak.
Aera dan Sia hanya tercengang memperhatikan sikap aneh Fina. Biasanya akan seperti itu jika ada yang menyinggung atau membuat nya marah, tetapi ini tidak dapat di pahami oleh Aera dan Sia karna memang tidak ada sebab atau alasan untuk Fina marah.
Aera dan Sia pun bergegas mengikuti Fina yang melangkah dengan cepat.
__ADS_1
"Fin, Fina!!"
Panggil Sia sebelum akhirnya Sia yang berhasil menarik tangan Fina.
"Lo kenapa? Aneh banget!!"
Tanya Sia dengan nada kesal nya, sudah berada di hadapan Fina di ikuti oleh Aera.
"Mmm?"
Fina yang malah menatap Aera, seolah memberi penjelasan kepada siapa mood nya menjadi berantakan.
"Kenapa Fin? Gua ada yang nyinggung atau bikin lo marah"
Aera yang langsung dapat memahami tatapan Fina kepada nya, memastikan.
Fina yang kemudian malah tersenyum dan tertawa.
"Prank"
"Yah lucu lo"
Singkat Sia tersenyum dengan tatapan sinis.
"Panik banget kaya nya"
Cetus Aera tersenyum.
"Udah ah ayo, laper"
Lanjut Aera yang kemudian bergegas lebih dulu, di ikuti Sia.
Fina masih diam setelah kedua sahabat nya berlalu, seperti sedang sibuk mengendalikan diri dengan hati nya yang dirasa memanas dan tatapan nya yang terlihat marah. Setelah dirasa lebih baik barulah Fina menyusul.
Ketiga nya sudah duduk di meja yang sama menunggu pesanan yang sudah di pesan, Aera yang duduk sendiri menghadap dua sahabatnya Sia dan Fina yang duduk bersebelahan.
"Gua mau nanya deh"
Fina yang membuka obrolan di antara kedua sahabat nya yang semula tengah sibuk dengan handphone nya.
"Nanya tinggal nanya, emang biasa nya kalo mau nanya perlu ijin dulu"
Cetus Sia terdengar menjengkelkan, tapi apa boleh buat mulut nya tercipta memang seperti ini ada nya.
Aera tanpa menjawab malah sudah memperhatikan Fina, siap mendengar kan.
"Pertanyaan nya aga ngga masuk akal sih cuman ngga ada salahnya kan ya kalo gua nanyain hal ini"
__ADS_1
Tegas Fina seolah memberi kisi kisi, tatapan nya hanya di peruntuk untuk membalas tatapan Aera.
"Apa salah nya, orang cuman pertanyaan ko. Apa sih? Kaya nya serius banget"
Aera yang sudah mulai penasaran dengan tatapan dan pertanyaan yang akan Fina utarakan.
Sia pun sudah tertuju kepada Fina, siap mendengarkan.
"Kalo pada akhirnya nanti kita suka dengan satu cowo yang sama, gimana?"
Fina dengan begitu serius nya.
"Ya ngga gimana gimana, karna itu kehendak dari perasaan pribadi, pertanyaan nya bisa ngga kita tetep jaga persahabatan kita buat baik baik aja"
Lanjut Aera yang menanggapi serius, karna sendiri nya pun pernah berfikir akan hal yang sama dengan apa yang dipikirkan Fina.
Lain dengan Sia yang malah tertawa seolah hal yang terdengar lucu.
"Gua akan berpegang dengan apa yang jadi perioritas gua"
"Kenapa Fin?"
Aera yang memastikan dengan Fina yang saat ini tengah diam seolah memikirkan.
Fina hanya tersenyum menggelengkan kepala.
"Ngga ngerti sama apa yang lagi ada di pikiran lo, pertanyaan lo juga ngga salah, entah karena cowo kah atau apapun itu, yang namanya hubungan terlebih persahabatan ngga akan seterusnya baik baik aja, semua balik kekita gimana akan menanggapi dan menyelesaikan nya"
Lanjut Sia kali ini dengan begitu serius membuat kedua sahabat nya tercengang memperhatikan.
Dibalik tampilan dan sikap nya yang terkesan urak urakan Sia memang memiliki pribadi yang dewasa, kedua sahabat nya pun menyadari akan hal itu.
"Coba kalo lo nih dewasa kaya gini nih tiap saat, orang deket lu gua yakin bawaan nya ngga akan kesel Sia"
Aera dengan terkekeh menasehati setelah mendengar ucapan Sia.
Sia hanya mengangguk tersenyum manis, tertunduk sesaat setelah kembali mengangkat kepalanya sudah berubah ekspresi di wajahnya.
"Emang dasarnya punya temen dua mulut nya nyakitin banget"
"Apa kabar dengan diri sendiri"
Fina yang kembali menyatukan mood dengan suasana.
Suasana pecah dengan deru tawa yang ramai begitu meriah, sebelum akhirnya pesanan datang dan ketiga nya melahap habis dengan begitu begah kekenyangan.
Teruntuk waktu berputar lah menjadi lambat untuk setiap momen yang menyenangkan, karna itu Aera bahagia.
__ADS_1