
Bel pulang sekolah pukul 12:30.
"Tettt.. tettt..tetttttt..
"Aera..."
Aera memalingkan wajahnya melihat siapa yang memanggil nya.
"Caca"
Seru Aera menoleh dengan suara yang memanggil nya.
"lo balik sama siapa"
Caca yang sudah berada di hadapan Aera.
"Sendiri, kenapa?"
"Kalo gitu kita balik balik bareng"
Minta Caca berjalan di samping Aera.
"Gua naik bus Ca"
"Ngga papa gua juga balik naik itu ko"
Jelas Caca, sebenernya hanya ingin berada lebih lama dengan Aera.
"Yaudah terserah lo aja"
Berdampingan dengan Caca dengan Caca yang terus saja menciptakan obrolan juga dengan candaan.
Tiba tiba Caca merangkul Aera, tersenyum dengan berbisik.
"Titan cowo lo"
Dengan keberadaan mobil Titan yang tiba tiba berhenti di hadapan Aera dan Caca.
Aera menoleh menatap tajam dibuat terkejud dengan apa yang dibisikkan Caca.
"Bukan Ca, ngga usah mikir yang ngga ngga deh lo"
Dengan mendorong pelan tangan Caca yang berada dalam pundaknya.
"Gua anter pulang ayo Ra"
Tawar Titan dari dalam mobil dengan kaca mobilnya yang dibuka.
Caca kembali merangkul dan membisikan sesuatu di telinga Aera.
"Kenapa ngga pacaran aja, ganteng banget juga"
Bisik Caca dengan melirik Titan
"Mmm emang ganteng sih"
Gumam Aera pelan.
"Tuh kan bener, sukak kan lo sama Titan, terus kenapa ngga pacaran aja? Mau gua aja yang bilang ke Titan?"
Aera menoleh menatap Caca dengan tajamnya.
"Ngga Tan gua balik sama Caca, jadi lo duluan aja"
Ucap Caca kepada Titan.
"Kenapa lo suka, mau saingan sama gua"
Gurau Aera dengan pelan nya kepada Caca.
"Ngga aah, kasian lo nya,nanti yang ada Tidak Titan suka nya sama gua lagi"
Jelas Caca masih dengan memperhatikan Titan.
"Beneran ngga mau gua anterin?"
Tanya sekali lagi memastikan nya.
"Mmm dia mau balik sama gua Titan, takut nanti yang ada lo suka nya sama gua, nanti Aera nya cemburu, ngga suka ada perempuan lain di mobil lo. Secara kalo Aera di anterin sama lo gua juga harus di anterin"
Crocos Caca sudah memundurkan langkahnya menjauhkan posisi nya dari Aera.
Aera menoleh menatap tajam Caca dengan apa yang dikatakan nya.
Caca akhirnya berlari kencang menghindari kemarahan Aera.
Aera tersenyum malu dengan Caca yang seolah sudah memperlakukan dirinya didepan Titan.
"Ngga usah lo dengerin ya tuh orang, emang kadang-kadang dia"
Titan tersenyum memperhatikan Aera yang menjadi malu dan salah tingkah di hadapan nya.
"Udah dulu ya, gua duluan Tan"
Pamit Aera meninggalkan Titan begitu saja.
__ADS_1
"CACA!"
Teriak AerA kesal dengan candaan Caca kepada nya.
Aera dan Caca duduk di halte, memainkan kedua kakinya dengan kepala keduanya yang ditundukan untuk memperhatikan gerakan kakinya. Kedua tangan nya ditaruh di sisi kanan dan kiri, menyangga tundukan nya masing masing.
Aera mengangkat kembali kepalanya tidak lagi memainkan kaki nya,tangan nya masih di sisi kanan dan kiri. Memperhatikan jalanan yang di padati, dilalulalangi begitu banyak kendaraan. Pikiran nya pun sama padat nya dengan apa yang sedang diperhatikan, sesekali bahkan terdiam dalam lamunan.
Aera ingin menarik nafas panjang namun teralalu banyak polusi, hingga hanya helaian nafas yang sedikit meluapkan lelah dalam dirinya. Memaksa bibirnya untuk tersenyum,dan akan selalu begitu.
Tidak baik baik saja itu Aera. Menggambarkan seperti apapun yang sedang dirasakan nya belum tentu dapat membuat orang lain ikut untuk merasakan nya, di tertawai bisa jadi.
Caca sudah memperhatikan Aera sedari tadi. Bukan tanpa alasan keberatan nya dengan Aera yang menjadi dekat sekedar waktu yang singkat untuk menjadi awal perkenalkan keduanya.
"Lo kenapa Ra?"
Tanya Caca setelah dilihatnya Aera yang menghelai nafas.
"Kenapa apanya?"
Tanya balik Aera untuk memastikan.
"Lo menjadi sedikit berbeda setiap lo berada dalam diam"
Jelas Caca. Aera menjadi seseorang yang tampak menyedihkan ketika Aera terdiam sekedar sibuk memperhatikan sesuatu nya terlebih ketika diam dalam lamunan nya, tampak jelas kekosongan yang ada dari tatapan nya.
"Ngga papa Ca"
Aera bangun dari duduk setelah dilihatnya kopaja sudah dekat. Di ikuti oleh Caca yang ikut bangun dari duduknya. Dalam kopaja dilihat Aera tempat duduk sudah penuh di duduki.
Membuat Aera dan Caca kali ini atau sering kali harus berdiri dan mengaitkan tangan nya di atas pegangan di dinding kopaja. Bergelantungan dan bahakan sering kali berdesak desakan, namun ini yang unik untuk Aera. Tidak menyenangkan namun masih banyak yang meminati, alasan nya sederhana karna terpaksa atau kebutuhan, alasan lain nya terlalu beragam.
Yang dicintai namun tidak dibutuhkan malah yang sering kali terabaikan.
Sudah dengan posisi nya Aera menghadap kaca jendela dari kopaja, memperhatikan apa yang terlihat. Beberapa kali terlalu serius memperhatikan nya membuat tatapan nya lelah dan akhirnya menjadi kosong dalam lamunan.
Lamunan, diam dengan pikiran, lelah jika di jelaskan. Namun semua seperti paksaan atau layaknya kewajiban yang terus menjadi kebiasaan untuk Aera.
Caca kembali memperhatikan Aera terdiam tenggelam dalam lamunan nya.
Caca dengan sengaja menyenggol lengan Aera untuk menyadarkan nya dari lamunan nya.
"Kenapa Ca"
Tanya Aera setelah Caca menyenggol nya.
"Kedorong Ra sama yang di belakang"
Caca mengarahkan dengan lirikan matanya dengan padanya tepat di belakang Caca.
Aera memberi respond dengan tersenyum tipis sebelum kembali mengabaikan nya.
Pria tersebut tanpa membalas senyuman Aera malah kembali tertunduk kepada Hp nya, dengan sebuah artikel yang sedang dibaca nya. Dan setelah nya kembali lagi memperhatikan Aera.
Aera menggeser posisi berdirinya,berfikir Aera membuat pria tersebut merasa kurang nyaman. Jika Aera berdiri tepat dihadapan nya.
Namun alasan pria itu terus memeperharikan Aera,
Pria itu pun seketika bangun dari duduknya,berdiri menghadap dan menatap Aera. Aera ikut membalas tatapan pria itu. Pria yang tampak mencurigakan dengan tatapan nya.
"Mau duduk?"
Pria ini menawarkan tempat duduk dengan wajah yang disodorkan ke arah tempat duduk itu.
Tawaran dengan ekspresi datar nya.
"Ngga usah,makasih mas nya aja yang duduk"
Sela Caca berada di depan Aera memahami dengan pria yang sudah sedari tadi memperhatikan Aera dengan tatapan mesum nya.
Pria ini kembali menyodorkan kepalanya ke tempat duduk.
Yang mengartikan mempersilahkan Aera untuk duduk. Terlihat wajah nya dari pundak Caca yang tidak terlalu tinggi.
"Silahkan ngga papa ko"
Pria tersebut akhirnya tersenyum.
Aera melirik sekilas tempat duduk yang ditawarkan untuk nya, lalu menatap kembali pria ini.
"Mas nya ngerti ngga usah, ngga usah ya ngga usah jangan sampe terjadi keributan yang tidak di harapkan disini"
Caca menginjak kaki pria tersebut dengan tangan nya yang mencubit kencang paha pria tersebut.
Aera memperhatikan dengan tatapan penuh dan keheranan nya. Bagaimana mungkin gadis kecil dan tampak polos seperti Caca dapat menjadi menakutkan di saat saat seperti ini.
"Iya iya maaf maaf, saya diam"
Pria tersebut yang kembali duduk dengan membuang pandangan nya dari Aera dan Caca.
"Hhhhh..."
Aera menghelai tawa dengan apa yang dilakukan Caca.
"Wah.."
__ADS_1
Singkat Aera kepada Caca.
"Kenapa salut lo sama gua"
Caca yang menyombongkan dirinya.
"Bang turunin saya di depan ya"
Tempat yang di tuju pria tersebut hampir sampai, pria tersebut memasukan ponsel dalam saku nya, melirik Caca dengan ketakutan sebelum beranjak turun.
Pemberhentian berikutnya Aera dan Caca turun.
"Mau mampir kekosan gua dulu ngga Ra?"
Tawar Caca sebelum memisahkan diri dari Aera.
"Mmmm.."
Aera berdiam memikirkan nya sesaat sebelum akhirnya mengangguki nya.
Apa salahnya mengenal Caca lebih baik setelah hari ini sudah banyak di tolong oleh Caca.
Aera dan Caca tiba di sebuah kamar kos, kosan yang memiliki beberapa lantai, seperti rumah susun tapi ini tidak sepadat dan seramai rumah susun. Dihuni oleh banyak orang dengan beragam profesi, ada seorang karyawan perusahaan ternama, ada banyak mahasiswi , ******* pun ada dan masih banyak lain nya.Satu penguhi kos dengan penghuni kos lain sangat jarang berbaur, mereka jarang menyimbrung satu dengan yang lain nya, karna kesibukan masing masing. Itu yang membuat kosan ini menjadi begitu tenang.
Kos ini hanya memiliki dua petak ruang, satu petak ruang dapur dengan kamar mandi, dan satu petak lagi ruang depan untuk tidur.
Kosan Caca cukup berantakan, dengan tempat tidur yang hanya dapat ditiduri dua orang, dengan meja belajar dan dengan dinding yang di penuhi kertas dimana mana, kertas yang berisikan tulisan tulisan dan puisi puisi nya dan meja yang dipenuhi makeup.
"Lo tinggal sendiri di sini"
Tanya Aera dengan melepaskan sepatunya.
"Mmm gua sendiri nyokap bokap gua diluar negeri"
Jelas Caca tersenyum memperhatikan Aera.
Aera terdiam dengan rasa penasaran yang semakin besar akan banyak hal tentang Caca.
"Apa lo ngeliatin gua pake tatapan kaya gitu"
Ketus Caca dengan Aera yang memperhatikan nya dengan tatapan iba.
"Lo pikir gua mengasihani lo? Ngga ya, hidup gua jauh lebih sulit dari pada yang lo kira, ngga ada waktu gua buat mikirin lo"
Tegas Aera.
Aera dan Caca merebahkan dirinya di atas kasur. Dengan Aera yang memandangi kertas kertas yang memenuhi ruangan itu.
Tatapan nya terjeda di kertas yang di tempel di dinding, dengan gambar sebuah sketsa wajah, dengan mata yang meneteskan air mata namun bibirnya tersenyum.
Aera menggeserkan tatapan nya kepada kertas karton putih yang cukup lebar yang di tempel juga pada dinding. Di tulisi dengan spidol warna hitam. Begitu banyak penjelasan di kertas karton putih itu. Penjelasan tentang Caca dan semua nya.
Aera menoleh memperhatikan Caca yang tengah memejamkan matanya.
"Lo yakin bawa orang asing ke kosan lo"
Tanya Aera memastikan.
"Lo bukan lagi orang asing Ra, lo temen gua sekarang"
Jelas Caca dalam pejaman nya.
Setelah lama rebahan Caca dan Aera beranjak.
Keluar menikmati udara sore hari dengan sajian matahari terbenam.
Di teras,di lantai atas. Masih dengan seragam sekolah Aera dan Caca menikmati senja sore ini.
Seseorang dengan cantiknya, Caca berdiri di samping Aera.
"Begitu tenang, bukan kah cantik?"
Gumam Caca memperhatikan Senja.
Aera memalingkan wajah nya.
Tersenyum dengan mengiyakan.
"Cantik dan sangat menarik"
"Apa yang menjadi menarik?"
Tanya Caca memperhatikan Aera.
"Iya menarik, siang hari akan sangat sulit memperhatikan nya dengan mata terbuka, tapi sore hari membuat mata ini dapat menikmati nya"
Jelas Aera masih dengan memperhatikan senja.
Caca tertawa setelah mendengar ucapan Aera.
"Hhhe,iya iya bener juga ya"
Aera kembali memalingkan wajah nya memperhatikan perempuan yang berdiri di samping nya. Perempuan cantik yang saat ini dipenuhi tanda tanya didalam dan diluar dari pada dirinya.
__ADS_1