Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
51


__ADS_3

Setelah hampir seharian menikmati kebersamaan dengan Sia, Aera diantar pulang seperti pada biasanya.


Aera tidak dulu masuk kedalam kamar kosan nya. Berada di lantai 3 membuat beberapa hal dapat dinikmati nya, terlebih dengan semilir angin sejuk yang melewati dan mengenai nya.


Aera kembali tenggelam dalam lamunan sekedar berada didalam perasaan nya untuk lebih tau dengan apa yang sebenarnya Aera inginkan. Apa yang dikatakan Sia membuat nya banyak berfikir.


Kebingungan, frustrasi yang telah menyelimuti nya untuk beberapa waktu akhirnya meluntur dengan kalimat-kalimat yang didengar oleh Sia yang mengatakan nya. Beberapa kali membayangkan Sia membuat nya tersenyum, sesekali perempuan yang begitu menyebalkan tampak begitu dewasa dengan tatapan serius dan kata kata bijak yang begitu mendasar.


Kembali dengan keheningan yang membuat nya mencari cari seperti apa dan dengan apa kali ini Aera akan menghadapi nya.


Aera mengeluarkan handphone dari dalam tas ransel nya, melihat 17 panggilan tidak terjawab dan 12 pesan masuk semuanya dari Mama.


Bimbang dengan keputusan yang ditetapkan hatinya. Ragu jika saja keputusan yang telah dibuat nya adalah sesuatu yang salah dan nantinya akan lebih membuat semuanya menjadi rumit.


Banyak akal dan perasaan yang luas, kata kata yang Sia ucapka dan kembali Aera dengarkan lagi dan lagi dalam pikirannya.


"Mmmm, akan baik baik aja"


Setelah diam untuk kembali mempertimbangkan Aera menetapkan dengan apa yang menjadi keputusan nya.


Aera menarik nafas panjang dan menghembuskan nya pelan dalam pejaman matanya menguatkan hati dengan apa yang akan di lakukan nya.


Aera berbalik memantapkan hati dengan keputusan nya, bergegas kembali kekamar kosan.


Aera meletakan koper di atas tempat tidurnya dengan terbuka dan memasukkan semua baju dan barang barangnya untuk di kemas.


Setelah menutup dan mengunci pintu kosan kamarnys Aera menarik koper nya.


Menuruni tangga dengan bergegas.


Detikan waktu yang berlalu membuat nya semakin ingin bergegas lebih cepat sebelum keraguan kembali memudarkan kepercayaan atas keputusan yang kali ini telah dibulatkan.


Aera menghentikan taksi dan memasukkan koper nya di kursi penumpang agar tidak memakan banyak waktu.


"Bawa mobil nya baruan ya pak"


Minta Aera seperti seseorang yang tengah dikejar-kejar.


"Baik Mba"

__ADS_1


Menuruti permintaan pelanggan nya, pak supir pun menginjak gas nya dengan kuat.


Setelah memberikan ongkos nya Aera turun dengan mengeluarkan kopernya lebih dulu.


Terdiam di tempat belum dengan satu langkah pun beranjak setelah turun dari taksi. Ada keraguan yang tiba tiba muncul tidak terduga membuat Aera menjadi gelisah.


Aera menarik nafas panjang sampai memenuhi diafragma nya, menghembus nya dengan begitu pelan mengendalikan dirinya untuk tetap tenang.


Aera melangkahkan kakinya setelah siap dengan tekad nya yang telah selesai ditata.


Tidak perlu mengetuk pintu karna pintu rumah sudah terbuka lebar.


Terlihat mama yang duduk dan tertunduk yang ditemani mba Ana disamping nya.


"Jadi mama punya kebiasaan tertunduk dalam kegelisahan"


Aera yang telah berada di depan pintu, memperhatikan mama yang selalu tertunduk, didalam kamarnya yang sesekali dilihat Aera dari pintu kamar Mama yang terbuka, di cafe, dan saat sekarang ini, mama terlalu sering menunduk.


"Aera"


Mba Ana yang menoleh dengan suara yang didengarnya, suara yang begitu akrab dan sangat dikenali. Seperti diberitakan kejutan hatinya bergetar senang melihat keberadaan Aera.


"Aera"


Aera tersenyum dengan dua orang yang saat ini tertuju menatap tajam ke arah nya. Menatap satu persatu dengan tersenyum.


"Mama, mba Ana. Aera udah lama ya bikin kalian nunggu"


Mama menjatuhkan air mata menjadi begitu senang dengan Aera yang sudah berada di hadapan nya tetapi sesak juga kembali ingat telah melukai putri satu satunya.


Berbeda dengan mba Ana yang hanya dapat menahan tangis nya. Begitu terharu diantara rasa senang yang dirasakan dengan Aera yang pulang. Tapi begitu kecewa dengan nya yang hanya dapat tersenyum tanpa menunjukkan dengan leluasa tangisan dan marah nya akan apa yang sudah Aera lakukan, benar benar membuat nya khawatir juga ketakutan.


Mama menghampiri Aera dan segera memeluknya dengan begitu erat.


Aera tersenyum dengan menjatuhkan air matanya, betapa senangnya dengan apa yang saat ini tengah dirasakan, disambut dan dipeluknya.


"Akhirnya setelah sekian lama mama bisa peluk Aera"


Aera mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Mama minta maaf Ra, maafin mama sayang"


Mama dengan suaranya yang menjadi tidak seperti biasa karna deruan tangisnya.


Aera melepaskan pelukan mama menatap mama dengan serius nya.


"Mama sayang sama Aera?"


Mendengar pertanyaan yang Aera katakan membuat nya semakin sesak, menyadari seburam apa perasaan sayang yang telah diberikan nya kepada Aera. Dirasa Aera tidak menyadari sebesar apa perasaan sayang dan cinta kepada nya. Mama memahami semua terjadi karna dirinya yang tidak dapat memaparkan dengan jelas perasaan nya.


"Mau seperti apapun perlakuan mama ke kamu, kamu tetep anak mama, mama sayang sama kamu Ra, sayang banget Ra"


Perjelas mama dengan perasaan nya.


"Hhhhh"


Aera tersenyum menghelai dengan leganya, apa yang menjadi ketakutan nya dari awal tidak benar adanya.


"Kalo gitu Aera maafin mama"


"Tapi mama belum bisa jelasin apapun ke kamu Ra"


"Ngga masalah, selagi mama beneran sayang sama Aera. Untuk penjelasan nya itu nanti kalo emang mama udah siap buat jelasin semuanya, tapi jangan terlalu lama buat bikin Aera nunggu ya ma"


Mama mengangguki tersenyum tipis dan kembali memeluk Aera dengan sangat erat. Semua takut dan khawatir nya membuat nya menutup diri akan sayang dan cintanya kepada Aera. Tangisan menderu kencang dan deras diantara pelukan keduanya, Aera dan mama.


Lama dalam pelukan keduanya mba Ana tersenyum memperlihatkan nya.


Aera menghampiri mba Ana dan tersenyum.


"Ngga ada niatan buat peluk Aera?"


Mba Ana menoleh menatap majikan nya, akan sangat tidak sopan memeluk Aera di depan nya.


Mama mengangguki mengijinkan mba Ana untuk memeluk Aera, bagimana pun dari awal mama tidak keberatan dengan perlakuan seperti apapun yang mba Ana lakukan jika itu dapat memberikan kenyamanan untuk Aera.


Mba Ana tersenyum dan memeluk Aera yang telah siap membuka kedua tangan nya.


Suasana menjadi tampak hangat dan melegakan untuk Aera, apa yang tidak pernah terjadi akhirnya menjadi sesuatu yang baru dengan keputusan yang dibuatnya.  Setelah ini Aera tidak akan diam terlalu lama pada keterpurukan, akan dilaluinya dengan baik.

__ADS_1


Keputusan satu kata yang bisa menjadi jalan keluar untuk Aera. setelah ini harus lebih baik dan lebih berani dengan apa pun yang nantinya menjadi keputusannya.


__ADS_2