
Mama bangun dari tidur, tampak kacau dan begitu berantakan dirinya saat di tatap dari cermin.
Mama membasuh wajah dan membersihkan nya.
"Ana.. Ana"
Panggil mama keluar kamar dengan mencari mba Ana.
"Iya Bu"
Mba Ana yang mendekatkan diri menghadap mama setelah mendengar dirinya di panggil.
"*Buatkan saya teh ya"
"Baik Bu*"
Mba Ana kembali dengan secangkir teh yang dibawanya di meja makan.
"Semalam saya kenapa ya?"
Tanya mama saat mba Ana meletakan teh di meja.
Hampir saja tertumpah terkejut dengan pertanyaan majikan nya.
"Maaf Bu saya ngga sengaja"
"Apa yang terjadi tadi malam?"
Mama yang menjadi lebih penasaran setelah melihat mba Ana yang menjadi terkejut dengan pertanyaan nya.
"Mmmm, ibu bener ngga inget apa apa?"
Tanya mba Ana dengan memperhatikan mama.
Mama menggelengkan kepalanya.
"Emang apa yang terjadi"
"Ibu menampar non Aera tadi malam dengan melontarkan kata-kata"
Mba Ana menjelaskan dengan tatapan nya yang menjadi sedih karna ingat dengan apa yang dilihat nya.
"Saya? Saya menampar Aera?"
Tanya Mama tidak percaya.
Mba Ana mengangguki dan kemudian berbalik pergi.
Mama terdiam tengah mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
Seketika mama terkejut setelah ingat semua nya. Tamparan dan ucapan nya kepada Aera.
"Hah.. Apa yang udah aku lakuin"
Mama dengan terkejut juga dengan rasa bersalah nya.
Mama memejamkan matanya seketika dengan menyangga kening nya dengan jari tangan.
Seketika mama meneteskan air mata dengan rasa bersalah, dan iba membayangkan bagaimana perasaan Aera saat ini.
Hari ini mama memutuskan untuk tidak bekerja dan akan menunggu Aera pulang sekolah, sekedar memastikan bagimana keadaan nya.
Lelah seperti terus lari dari kenyataan.
__ADS_1
Sibuk mencari pelarian dan kesibukan sekedar membuat waktunya yang panjang tidak menjadi kosong karna kesedihan. Bukan hanya Aera saja yang sepi sendiri Mama pun merasakan hal yang sama. Terlebih dengan rasa bersalah atas perlakuan nya kepada Aera semua yang terjadi dan dilakukan nya bukan tanpa alasan. Menyesalinya tetapi tidak mengerti tidak tau harus dari mana untuk kembali mengulangi nya setelah sangat jauh semua terjadi.
Hari panjang penuh penyesalan dan rasa bersalah seperti di paksa melangkah di atas banyak nya jarum jarum kecil yang menusuki nya.
Dunia nya di penuhi dengan tuntutan dan tanggung jawab. Segala sesuatu yang seharusnya menguatkan malah menghilang meninggalkan.
Sayang itu pasti, tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anak nya. Memang adakalanya orang tua enggan untuk memperlihatkan nya, atau malah tidak tau cara menunjukkan nya dan ada juga orang tua yang sibuk menata tanggung jawab sampai lupa mengakui rasa sayang nya dan juga beberapa melangkah di titik yang salah sampai akhirnya lupa dengan rasanya dan melakukan suatu kesalahan. Semua terjadi bukan tanpa alasan kan?
Tidak ada salahnya pula untuk seorang anak terobsesi atau malah memberontak akan sesuatu yang belum di miliki atau dengan apa yang di inginkan nya, terlebih tanpa seseorang yang mampu menuntun dan berbicara. Akan tersesat dengan perasaan nya yang belum stabil.
Mama, Aera, entah akan seperti apa keduanya nanti. Dua manusia yang terikat takdir, hidup berdampingan namun tersisih di sisinya masing masing.
Jangan biarkan waktu keduanya habis hanya karena satunya terus saja menyesali dan tidak bisa lupa akan kesalahan nya, sedangkan yang satunya lagi sibuk mencari jawaban akan banyak nya pertanyaan.
Siapa dulu kah sebenarnya yang harus mengawali sebuah dekap pelukan, seorang anak kah, ibu kah atau keduanya?
Kembali ke Aera.
Aera masih menikmati suasana UKS yang hening dengan menyandarkan kepalanya dipundak Sia.
"Bertahan kendalikan keadaan, jangan keadaan yang mengendalikan lo"
Ucap Sia sembari mengusap kepala Aera.
Sia yang tidak mengerti dengan kejadian sebenarnya pun dapat benar-benar memahami Aera.
Fina menerobos masuk setelah mendengar Aera berada di UKS.
"Lo kenapa?"
"Ngga papa Fin kurang tidur aja"
Aera dengan kembali meluruskan posisi nya.
"Tumbang lagi aja"
Balas Sia kepada Fina.
"Yah lucu lo anjirr"
Aera pulang dengan di antar oleh Sia.
Saat masuk dilihat Aera mama yang tengah duduk di sofa dengan pintu yang dibuka.
"Aera"
Panggil mama dengan bangun dari duduknya.
"Mama"
Aera menatap mama dengan sedih nya.
"Mama ngga kerja?"
Aera dengan tersenyum lebar menahan diri. Teringat dengan ucapan Sia untuk Aera dapat mengendalikan dirinya.
"Hari ini mama libur?"
Masih dengan memperhatikan Aera.
"*Bagus deh, terlalu sibuk kerja juga ngga baik buat kesehatan"
"Udah makan*"
__ADS_1
"Aera udah makan ma"
"Mm Aera naik dulu ya mau bersih bersih"
Mama diam tanpa menjawab nya. Memperhatikan Aera yang melangkah meninggalkan nya. Kenapa rasanya begitu sulit sekedar meminta maaf kepada Aera.
Aera mengurung diri di kamar dengan berbaring masih dengan kepalanya yang di rasa pusing.
Mama menghampiri Aera mengetuk pintu. Sejak dari pulang sekolah sampe malam seperti ini Aera belum juga keluar kamar.
"Tok..tok.."
Mama dengan mengetuk pelan pintu kamar Aera.
"Masuk mba pintu nya ngga di kunci"
Aera yang mengira mba Ana yang mengetuk pintu.
Mama membuka pintu dan masuk membuat Aera sedikit dibuat terkejut.
"Mama, maaf ma Aera kira mba Ana"
"Mama boleh masuk?"
Aera mengangguki nya.
"Duduk ma"
Dengan Aera yang bangun dari rebahan nya.
Mama duduk di tempat tidur Aera tidak terlalu dekat jarak keduanya.
"Kamu ngga keluar kamar? karna ada mama?"
Aera menggelengkan kepala dengan senyum tipis nya.
" Aera cuman lagi ngga enak badan ma"
"Mama udah berpikir yang ngga ngga,yaudah kamu lanjutin istirahat nya nanti biar mama suruh mba Ana buat anterin minum"
Dengan sedikit senyum tipis mama bangun dari duduknya menatap Aera sesaat sebelum berbalik membelakangi Aera.
"Salah ngga sih ma? Kalo Aera berharap mama minta maaf sama Aera. Dengan begitu satu perasaan yang tidak menyenangkan bisa luntur dari dada Aera"
Aera tidak lagi dengan senyuman nya sekedar tatapan sendu yang saat ini sedang menatap punggung mama.
Mama memejamkan matanya menahan tangis dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Mama berbalik menatap Aera.
"Maafin mama"
Singkat mama benar dengan rasa bersalah nya.
"Kalo pun emang Aera ngga keluar kamar karna mama karna mungkin Aera ngga siap dengan rasa canggung ini karna kita berdua benar benar seperti orang asing Ma"
Mata Aera yang menjadi berkaca-kaca.
"Kamu berhak marah dan kecewa karna sudah seharusnya seperti itu. Nanti akan ada saat nya kamu mengerti"
Mama pun ikut berkaca kaca dan kembali berbalik membelakangi Aera.
Suasana menjadi lebih serius dan sedikit menyedihkan.
__ADS_1
"Jangan terlalu lama bikin Aera nunggu Ma, sudah terlalu banyak prasangka di kepala Aera"
Mama yang berlalu setelah mendengarkan nya, bergegas dengan membawa tetesan air mata.