
Beranjak lah, entah sekedar berpindah tempat atau benar benar lari untuk pergi.
Jangan diam diri ditempat dimana hanya luka yang didapat, hidup terlalu singkat sekedar untuk menerima kekecewaan dan rasa sakit. Jika tidak ada yang mengulurkan tangan sekedar membawa pergi dari tempat yang teramat perih, beranjak lah seorang diri meski sepi itu jauh lebih baik.
Aera sampai di rumah, bergegas cepat menaiki tangga dengan Azka yang menunggu di luar.
Aera turun dengan sebuah koper berukuran sedang dan tas ransel nya.
Mba Ana melihat Aera yang tengah menuruni tangga dengan koper yang dibawanya.
"Mau ngapain Ra? Bawa koper segala"
Dengan ekspresi mba Ana yang sudah berbeda. Menatap Aera tampak berantakan dengan mata sembab nya.
"Aera mau pergi sebentar ya mba"
Aera tersenyum menahan tangis dan sesek di dadanya.
"Pergi kemana Ra"
Mba Ana memegangi tangan Aera sekedar menahan nya sebelum Aera memberikan penjelasan.
"Aera udah urusan mba, udah ya nanti Aera jelasin dari telfon"
Aera melepaskan dengan pelan tangan mba Ana yang memegangi tangannya.
Aera bergegas menarik kopernya, langkah nya terhenti dengan mama dan Om Adnan yang sudah berada beberapa jarak dihadapan nya.
"Aera, mama minta maaf sayang"
Mama menghampiri Aera dengan tangisan dan lemas nya.
"Brenti!"
Tegas Aera mengehentikan mama untuk menghampiri nya.
"Biarin Aera pergi, itu juga kan yang mama mau, tapi Aera pergi ngga akan lama ko"
Dengan Aera yang berlalu begitu saja mengabaikan dan meninggalkan Aera.
"Aera!! Aera mama minta maaf nak"
Teriak mama kembali jatuh kehilangan keseimbangan nya.
Mba Ana dan Om Adnan yang semula hanya diam memperhatikan, menghampiri mama untuk membantu nya.
Aera bergegas dengan kembali tenggelam dalam tangisan.
Azka yang membawakan koper Aera disatu tangannya, meraih tangan Aera dengan satu tangan yang lain nya sekedar menuntun Aera.
Aera menoleh menatap tangan nya yang digenggam dan mengalihkan nya untuk menatap Azka. Mengusap air mata dipipinya dan tersenyum tipis menatap Azka.
Sudah berada di sebuah kos yang hanya berukuran 1 petak, kosan bersusun dengan 5 lantai yang tidak begitu jauh dari cafe Azka.
"Yakin ngga papa sementara disini?"
Azka meletakan koper Aera dengan memastikan setelah memperhatikan ruang yang berukuran kecil.
"Mmm,ngga papa lagi juga kan sendiri"
__ADS_1
Aera yang mengangguki nya.
"Kalo butuh atau mau apa apa telfon aja ya, sekarang lo istirahat"
"Iya Ka, Makasih ya"
"Kalo gitu gua tinggal"
Aera mengantarkan nya sampai di depan pintu.
"Engga nganterin sampe bawah ya Ka ngga papa kan"
"Engga papa udah sana masuk"
Aera menutup pintunya terjatuh bersandar pada pintu tertunduk dalam tangisan nya yang lebih deras.
Azka yang belum beranjak pergi pun mendengarkan nya dengan sangat jelas.
Seolah ada yang ikut melukai nya dengan melihat Aera yang terluka seperti ini.
Malam panjang yang menyedihkan kembali terulang,lagi dan lagi.
Bungkam dalam keadaan yang seolah baik baik saja benar benar melelahkan.
Aera bangun beranjak ketempat tidur, berbaring dengan menutupi nya dengan slimut sampai di dada. Matanya sudah begitu berat dirasa dengan banyaknya air mata yang tumpah dengan hari ini. Dadanya pun dirasa pengap setelah ikut menyesak dengan deruan tangis yang panjang.
Deringan telfon masuk terus saya berbunyi sampai akhirnya Aera terbangun mengangkat dengan sebuah nama yang tertera 'Sia'.
"Hallo Ra, lo dimana dirumah ngga ada? Gua udah di depan rumah lo tapi kata mba Ana lo pergi dari rumah semalem, lo dimana"
Crocos Sia begitu terangkat telfon nya.
"Yaudah buruan"
Tut...
Sambungan terputus dengan Aera yang mematikan nya.
Aera mengirimkan chat kepada Sia yang berisikan alamat keberadaan nya saat ini.
Kurang dari 20 menit Sia datang mengetuk pintu, Aera membukakan nya, dilihat Aera Sia yang mengenakan seragam lengkap seperti seseorang yang siap berangkat sekolah.
Tampak begitu lesu, berantakan dan menyedihkan seperti itu Aera saat ini di hadapan Sia.
"Eh sumpah lo kaya gembel banget"
Aera tersenyum mengusap rambutnya yang berantakan setelah bangun tidur.
"Ngga ada gembel kaya gini cantiknya Sia"
"Mandi mandi ngga usah kebanyakan ngomong deh, kaya bukan Aera tau ngga sih"
Perintah Sia dengan tatapan sinis nya.
"Terus lo mau disini aja ngga sekolah?"
"Mana bisa gua sekolah dengan keadaan lo yang kaya gini"
Aera tersenyum kepada Sia, tampak begitu manis dan lebih bertenaga setelah hal hal kecil yang Sia katakan. Aera bangun untuk bergegas mandi. Dengan menunggu Aera selesai mandi, Sia membereskan tempat tidur Aera yang begitu berantakan dengan sampah sampah tisu yang berserakan.
__ADS_1
"Hhhhhh.."
Sia menghelai nafas dengan tisu yang di pungutinya.
Dalam benak nya, semalam Aera menghabiskan malamnya dengan tangisan yang pasti membuat nya begitu lelah.
Sia meraih handphone yang tergeletak di kasur untuk dipindahkannya tetapi tiba tiba notif pesan masuk berbunyi, Sia membuka sekedar memastikannya. Begitu banyak pesan masuk dan panggilan tidak terjawab dari Mama, mba Ana dan dari sebuah nomor tidak bernama.
"Kenapa harus kaya gini sih Ra"
Gumam Aera pelan sebelum meletakan handphone Aera dan kembali membereskan nya.
Aera keluar dari kamar mandi dengan gulungan handuk di kepalanya.
"Wah udah rapih"
Aera dengan tersenyum memperhatikan ruangan nya yang menjadi bersih dan rapih.
"Bersyukur lo ada gua, kamar sih udah kaya kapal pecah"
Judes Sia.
"Mmm Makasih Indirasia"
Aera dengan tersenyum manja.
"Mana pinjem kaos dong gerah nih pake seragam"
"Cari sendiri aja di koper, ngga bawa baju banyak tapi ada ko kaos kaos mah"
Aera dengan menunjukan kopernya.
Sudah dengan Aera yang tampak cantik seperti biasa, dan dengan Sia yang sudah dengan kaos yang dikenakannya.
Duduk berhadapan di atas tempat tidur.
"Lo kenapa?"
Dengan Sia yang mengawalinya.
Aera tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Ngga papa, emang nya gua kenapa"
"Udah ngga perlu ada yang ditutup tutupin Ra"
Tegas Sia.
"Mmm tapi nanti ya gua caretinya jangan sekarang"
Sia menarik tangan Area untuk berada dalam genggaman nya, mengangguki nya.
"Cerita kalo udah ngrasa siap, cerita kalo udah ngga bisa buat nahan semua nya sendiri"
Aera tersenyum mengangguki nya.
"Makasih ya Sia"
Sekedar beberapa orang yang benar tinggal untuk memberikan kekuatan untuk Aera. Aera benar benar berterimakasih kepada Tuhan yang selalu memberikan banyak kekuatan kepada setiap luka yang Aera rasakan.
__ADS_1
setiap lelah ada tepakan langkah yang menghentikan nya sekedar untuk dapat bernafas lega dan menghembuskannya.