
✉ Indirasia
"Hari ini gua ngga masuk sekolah ya Ra jadi gua ngga bisa jemput"
Pesan masuk dari Sia.
Aera yang baru selesai mandi segera membuka setelah di dengar notif masuk.
"Kenapa ngga sekolah? Lo sakit?"
Balas Aera.
"*Ngga gua ada urusan keluarga"
"Yaudah iya ngga papa*"
Saat sampai di depan sekolah gerbang sudah lebih dulu di tutup.
"Yah pak biarin Aera masuk dong, baru telat berapa menit"
Minta Aera memelas kepada pak satpam.
"*Aduh neng bapak ngga berani"
"Ah masa bapak tega sama Aera*"
"Bukan masalah tega atau ngga nya, tapi bapak takut udah ya bapak tinggal besok besok jangan telat lagi"
Pak Satpam meninggalkan Aera begitu aja.
"Coba kalo tadi bus nya ngga lama"
Gretu Aera kesal.
Aera berbalik terlihat Titan di sebrang jalan yang baru saja turun dari mobil dan menghampiri Aera.
"Lo ngga masuk?"
Tanya Aera dengan Titan yang sudah di hadapan nya.
"Lo telat?"
Dengan Titan yang balik bertanya.
"Menurut lo?"
"Mau bolos bareng?"
Aera melebarkan tatapan nya dengan pertanyaan Titan barusan.
"Bolos? Bokap lo gimana?"
Ingat dengan Ayah nya Titan yang penuh aturan, sampai tega menampar anaknya sendiri.
"Lo sendiri kan yang bilang. Menuruti boleh tapi jangan terpaku"
Aera tersenyum dengan mengangguki pelan.
Titan pun kali ini ikut tersenyum membuat Aera kembali melebarkan tatapan nya.
Keduanya menjadi tertawa dengan Aera yang melihat Titan tersenyum dan Titan yang merasa aneh dengan tersenyum begitu saja.
Fina memperhatikan keduanya dari jarak yang cukup jauh, dengan Fina yang berada di dalam sekolah memperhatikan keduanya dari sela sela gerbang.
Keduanya menyebrang menuju mobil Titan. Titan menyalakan mobil nya dan melaju kencang dengan menyetel kumpulan lagu yang asing di dengar Aera.
"Ngga papa kan? Musik nya ngga ganggu?"
Aera kembali dibuat menatap Titan dengan tatapan penuh nya.
"Sejak kapan lo peduli sama orang"
__ADS_1
Titan mengehelai pelan. Kata-kata Aera barusan terdengar sedikit kejam, memperjelas dengan Titan yang tidak pernah memperdulikan sekitar.
"Kita mau kemana?"
Aera tersenyum, mengalihkan.
"Nanti juga tau"
Aera terlelap tidur dengan jarak yang cukup jauh dan memakan waktu.
Saat akan membangunkan Aera Titan terpaku memperhatikan Aera dengan jarak yang cukup dekat.
"Cantik"
Gumam Titan pelan.
Dan seketika melebarkan tatapan nya terkejut dengan kata yang baru saja di ucapkan nya.
"Aera? Bangun udah sampe?"
Titan dengan menepuk pelan lengan Aera.
"Mmm"
Dengan Aera yang membuka matanya.
Saat di buka matanya sebuah pemandangan dari dalam mobil membuat Aera dengan cepat menjadi tersadar sepenuhnya.
Dilihat Aera hamparan perumahan dengan terlihat hamparan pasir putih bersisi dengan gelombang air laut yang biru. Berada di atas ketinggian dengan banyak hal yang Aera nikmati dari dalam mobil.
"Kita dimana Tan?"
"Puncak di Bogor"
Singkat Titan dengan polos nya.
Semula yang tengah terpukau menikmati pemandangan terkejut menoleh menatap tajam Titan.
"Lo kan ngga ada bilang nolak?"
"Ya karna lo ngga bilang ke Bogor"
Tegas Aera kesal.
''Terus, gimana?"
Aera menghelai nafas pasrah.
"Yaudah mau gimana"
Aera turun dari mobil dan melihat lihat pemandangan yang begitu menakjubkan. Kesal nya mereda Aera tidak dapat membohongi dirinya sendiri betapa menyukai nya Aera dengan yang saat ini memenuhi ruang matanya.
Aera memejamkan matanya dengan menarik nafas panjang menikmati udara yang begitu sejuk dihirupnya.
Titan turun dengan memberikan sepotong roti dan sebotol minuman yang sempat dibelinya tadi di tengah perjalanan.
Keduanya duduk di atas mobil menikmati sajian alam yang Tuhan ciptakan dengan begitu indah nya.
"Gimana, suka?"
Tanya Titan memperhatikan Aera.
Aera mengangguki nya.
"Mmm tapi bukan berarti bisa bawa gua pergi se'enak nya"
"*Iya maaf"
"Mm tapi makasih, gua suka"
"Kenapa*?"
__ADS_1
"Kenapa apa nya?"
Aera yang tidak memahami pertanyaan Titan.
"Di atap sekolah dan disini lo begitu menikmati pemandangan dari atas"
Titan memperjelas maksudnya.
"Entah lah, mungkin karna dari atas membuat gua lebih banyak melihat sesuatu nya, seperti termuat lebih banyak dalam pengelihatan"
Jelas Aera dengan mengunyah roti yang tengah di makan nya.
Aera menoleh memperhatikan Titan sesaat, ada yang bersinggah dalam prasangka nya saat ini.
"Apa Titan sengaja kesini karna tau gua akan suka? Tapi buat apa?"
Gumam Aera dalam hati.
"Kecewa itu apa sih buat lo Ra?"
Titan dengan serius nya tenpa menoleh menatap Aera. Tatapan nya tengah sibuk memperhatikan pemandangan.
"Kecewa? Mmm apa ya? Perasaan terluka, marah dan sedih"
Aera dengan berfikir mengingat akan rasanya sendiri.
"Lo pernah ngalamin itu?"
Titan dengan menoleh memperhatikan Aera.
"Mmm pernah, kadang, sering atau bahkan jadi makanan sehari-hari"
Aera dengan menarik kedua sudut bibirnya.
"Perasaan itu tidak menyenangkan, dan melelahkan"
Lanjut Aera dengan tatapan kosong dan mata yang berkaca.
"Gua kira cuman gua yang tampak menyedihkan"
Titan yang memperhatikan Aera.
Aera tersenyum menyadarkan diri yang terbawa suasana.
"Jadi lo jangan merasa jadi yang paling menyedihkan karna diluar sana banyak orang yang lebih patah dari pada lo. Jangan mau dikendalikan keadaan, lo yang menjalani lo juga yang mengendalikan"
Aera mengutarakan kata kata yang sempat Sia katakan kepadanya. Sama hal nya dengan Aera yang menjadi kuat, Aera pun ingin Titan lebih tegar.
Titan tersenyum dengan perempuan di samping nya dalam pandangan nya. Aera memahami dan mengerti lantas sekarang menguatkan nya. Dari awal dia tidak salah memilih untuk bercerita dengan Aera.
"Kalo sering senyum gini kan bagus"
Aera dengan memperlihatkan deretan giginya.
"Gua bersembunyi dalam diam. Pribadi gua yang cuek dan pendiam itu bukan gua yang sebenarnya. Banyak alasan kenapa gua diam. Tapi setelah ketemu lo dunia gua jadi sesuatu yang baru lagi"
"Kalo gitu lo mau cerita dan ngeluh apapun gua siap buat dengerin nya. Jangan sungkan buat dateng ke gua"
Aera yang kemudian turun dari atas mobil dan memberikan handphone nya kepada Titan.
"Fotoin gua dong"
Titan meraih handphon Aera dan melebarkan tatapan nya yang kemudian tersenyum menghelai tawa.
Seasing apapun dunia atau tempat yang dipijak akan tampak baik-baik saja dengan tawa dan bahagia yang dicipta dan dirasa. Hargai dan nikmati setiap rasa yang dimiliki karna mungkin rasa yang saat ini ada tidak bertahan untuk waktu yang lama.
Diperjalanan pulang hamparan langit senja yang begitu indah dan mempesona begitu menkjubkan.
Hari ini tampak panjang namun begitu singkat dirasakan. Berpergian dengan seseorang yang bisa dikatakan memiliki rasa sakit yang sama. Bersinggah dan kembali melewati jalanan yang tampak indah, benar benar sempurna.
__ADS_1
Adakalanya sesak dan sakit menjadi terlupa dengan singgah ditempat yang indah. Disajikan dengan sesuatu yang menjadikan mata jatuh cinta. Tidak mengobati luka tapi setidaknya dapat sedikit meredakan rasa sakit nya.